Monday, December 15, 2014

Surat Cinta; Nak, Bunda sedih

Nak, sedang apa kau di surga sana? Bermain-kah? Kurasa disana tak ada kesedihan seperti disini, ya, sayang, aku yakin Tuhan sangat menjamin kebahagiaanmu. Berjanjilah jangan nakal disana.

Nak, maaf kehadiranmu di rahimku agak tertunda, entah sampai kapan. Kekasihku kemarin memang mungkin bukan calon ayahmu. Beliau tak sungguh-sungguh berniat menjadikan aku istri dan ibu bagi anak-anaknya kelak. Aku mungkin masih belum pantas untuknya sehingga dia memilih pergi meninggalkanku dan berhenti memperjuangkanku.

Sudahlah, kamu jangan kecewa. Tuhan pasti sudah mempersiapkan pria terbaiknya untuk jadi ayahmu. Pria yang pasti menomor satukan kamu dan aku. Pria yang selalu merapalkan nama kita dalam doa-doanya. Pria yang menegaskan dirinya bahwa ia adalah seorang ayah yang baik bagimu dan suami yang penyayang bagiku.

Nak, beberapa waktu lalu aku menggendong sepupumu. Dia bernama Akmal. Menggendongnya sungguh membuat aku merasa menjadi ibunya. Barangkali seperti itu jika kau hadir dalam pelukanku. Kadang menangis manja. Kadang merengek minta susu. Kadang tertawa lucu. Tapi aku bahagia, kamu anakku (kelak).

Nak, sebenarnya kali ini aku sedang bersedih. Entah kenapa aku begitu takut kakekmu ataupun nenekmu tak bisa melihatku berjuang melahirkanmu. Padahal kamu adalah hal yang begitu mereka mimpikan. Nak, doakanlah kakek nenekmu sehat selalu. Agar aku bisa mewujudkan segala harap mereka dipundakku.

Ini memang tak mudah bagiku. Aku berdiri diantara harap kedua orang tuaku. Untuk bisa menikah, dan juga melahirkan. Aku pikir, aku bisa berbagi beban ini dengan kekasihku. Aku pikir dia memang calon terbaikku. Aku salah, nak, salah besar. Baru saja dia di tanya soal pernikahan, dia sudah memilih menyerah. Dan lagi-lagi aku harus berkorban hati dan terluka.

Tapi tak apa, nak, aku pasrahkan saja. Aku lelah. Kali ini kuserahkan calon ayahmu pada Tuhan. Biar Tuhan yang memilihkan.

Nak, aku tak bermaksud membebani kamu. Aku hanya ingin bercerita karena jika harus kukeluhkan pada nenekmu, aku takut beliau sedih. Dan aku tak kuat jika beliau menyaksikan aku meneteskan air mata. Air mataku adalah luka bagi beliau.

Nak, aku rasa sudah dulu keluh kesahku. Maafkan bunda yang belum bisa menghadirkan kamu bersamaku.

Peluk cium dariku,

Bunda
16 Desember 2014
@achynova

Sunday, December 14, 2014

Kekasih Terbaik

Teruntuk pria yang pernah menjadi ksatria pujaanku.

Aku menulis ini ketika rasa lelah menderaku. Kelelahan yang berhasil menguras habis hati dan jiwaku. Dan ini tak pernah kurasakan saat bersamamu, dulu.

Sayang, bersamamu dalam kurun waktu tiga tahun itu bukanlah hal yang bisa kulupakan begitu saja. Apalagi jika harus kuberikan peringkat diantara semua kekasihku, kau adalah yang menduduki juara umum. Kau baik, mereka juga baik, tapi kau berbeda, kau lebih tau cara membuatku tertawa. Kau selalu tahu jika ada hal darimu yang membuatku kecewa. Langsung saja kau meminta maaf dan tak pernah kau ulangi lagi hal yang membuatku kecewa itu.

Kau begitu paham cara meredam aku yang terkadang uring-uringan ketika merindukanmu. Kau selalu bilang padaku, "tunggu sayang, hari jumat masih dua hari lagi. Tolong bersabar sejenak, cinta kita memang memakan jarak ratusan kilo." Dan kata-kata itu selalu membuatku belajar memahami kalau kau dan aku memang sedang menjalankan kisah dimana jarak menjadi pembatasnya.

Seingatku, kau tak pernah tiba-tiba menghilang. Sebisa mungkin kau akan mengabari meski hanya sambungan telepon disela makan siangmu. Jika kau harus bekerja ekstra waktu, kau akan meminta maaf tak bisa menemani aku sampai aku terlelap dibuai mimpi melewati telepon. Padahal setiap malam, kau selalu bernyanyi A Thousand years sampai aku tertidur.

Aku selalu merindukan itu, sayang, selalu. Jika aku mengingatmu, aku selalu ingat jadwal lari yang biasa kau lakukan sewaktu di Bandung. Setiap selasa sore dan sabtu pagi kau pasti bilang padaku akan lari jika sempat. Aku tak pernah bisa menemani, padahal aku sangat ingin bisa lakukan itu. Dan sayangnya, sampai kau harus hijrah ke jakarta, aku masih belum bisa mewujudkannya.

Sayang, padahal kita tak mudah melewati kisah itu. Tapi, semua terasa sangat indah bahkan jika di banding kisahku kali ini yang tak berjarak. Kau lebih memahami daripada dia. Kau lebih nice daripada dia. Kau lebih wise daripada dia. Aku tahu kalian tak sama dan tak akan pernah sama, tapi dia memang tak pernah manis sepertimu, dia tak sepenuhnya mencintaiku.

Mungkin saja jika restu itu bisa kudapatkan dari ibumu, kita mungkin sudah menikah saat ini. Aku mungkin baru saja melahirkan anak kita. Dan ironinya ini hanya mimpi yang sudah menguap begitu saja.

Sayang, aku menulis ini, karena aku ingat kamu yang memang kekasih terbaik. Dan jika kamu mengerti, bisa kamu simpulkan bahwa kekasihku saat ini tak seperti kamu.

With love for you :')

@Achynova
15 Des 2014

Saturday, December 13, 2014

Aku hanya takut, Ayah...

Ayah, belum pernah aku merasakan ketakutan seperti ini. Belum pernah aku merasakan bayangan kehilangan seperti ini. Ini baru terjadi. Kali ini.

Ayah, semoga di sisa waktumu, aku bisa merasakan bagaimana saat kelak kau menggenggam tangan pria yang akan kusebut suami. Kau merapalkan namaku pada ijab kabul yang kelak berlangsung. Meski dengan terbata, kau tetap berusaha agar semuanya berjalan lancar.

Duduk diantara kita, ada perempuan cantik yang setia menunggu di barisan lainnya. Menahan haru karena bisa menyaksikan putri kecilnya bersanding dengan pria terbaik dari Tuhan. Perempuan yang selama beberapa dekade mengabdikan dirinya padamu, dan dengan penuh kasih sayang membesarkanku.

Ayah, ibu, berjanjilah kalian akan bertahan sampai aku bisa mewujudkan keinginan itu. Doakanlah aku agar keberkahan selalu menyertaiku.

Perihal pria yang baru saja menyakiti hati putrimu ini, berjanjilah untuk tak membencinya. Dia hanya belum siap menjadikan putrimu ini sebagai istrinya. Dia mungkin lebih mendamba gadis lain untuk menjadi istrinya, bukan aku. Tak apa, ayah, aku percaya, kelak tangan pria yang tepat yang akan mencium punggung tanganmu, kemudia dia akan berkata padamu, "izinkan aku menjaga putrimu dan menjadikannya istri juga ibu dari anak-anakku".

Ayah, sekarang aku senang memperhatikan tawa lepasmu saat sedang menyaksikan acara TV favoritmu. Agar kelak ketika aku merindukanmu, aku bisa mengingat tawa itu, walaupun mungkin kuingat dalam balutan tangis yang tak henti.

Ayah, aku hanya takut. Aku sedang sangat takut. Takut kehilanganmu. Takut kehilangan rasa cemasmu yang terkadang berlebihan dan menyebalkan. Takut jika Tuhan mengambilmu dariku.

Aku hanya takut, Ayah...

15 Desember 2014

@AchyNova

Thursday, December 11, 2014

Terbalik

Tiga hari sudah aku tak berstatus kekasihnya lagi. Ada kelegaan yang membuncah tatkala aku memutuskan untuk melepaskannya. Gadis yang empat bulan lalu menjadi kekasihku itu kulepaskan sudah. Aku memang tak terlalu mencintainya. Apalagi setelah saat dimana kakeknya secara tak langsung menyuruh kami segera untuk menikah, aku mulai merasa jengah padanya.

Ini memang bukan kali pertama aku merasa jenuh padanya. Di bulan pertama menjalin kasih dengannya pun aku sudah merasa jenuh. Hanya saja jika aku putuskan untuk meninggalkannya aku tak tega. Dia sudah menyukaiku cukup lama, aku tahu itu, hampir satu tahun lamanya. Dan saat waktu mempertemukanku lagi dengannya, aku berpikir tak ada salahnya mencoba menjalin hubungan dengan dia. Sekedar mengisi kekosongan saja.

Beberapa kali dia menghubungiku, kuacuhkan dia. Pesan BBm nya pun tak pernah aku baca. Kubiarkan saja semuanya. Aku muak padanya. Saat libur kerja pun, sengaja aku tak menghubunginya. Aku lebih suka diam dirumah dan menghabiskan waktu untuk main PES saja. Aku tahu, disana dia pasti sedang harap cemas menanti kabar dariku. Ah, aku tak peduli sama sekali.

Namun, entah kenapa, perasaan menyesal kini sedang menghantuiku. Aku merasa ada yang hilang setelah aku memutuskan sebelah pihak cintanya. Apalagi biasanya jika saat waktu kosong, aku sering menghabiskan waktu bersamanya.

Dulu, jika aku sedang olah raga lari, dia selalu ada menemaniku. Sambil duduk dan menunggu tas milikku, dia fokus memperhatikanku. Jika tanpa sengaja kami saling bertatap, dia tersenyum padaku dan menanyakan sudah berapa putaran aku berlari. Namun kali ini berbeda. Dia tak ada disana.

Aku ingat, bagaimana dia dengan telaten merawat wajahku. Dengan senang hati dia membersihkan wajahku dan memberikan masker wajah yang biasa ia gunakan. Tak jarang juga dia mau memijit kepalaku dengan lembutnya. Dia pun mau mencatok rambutku ketika baru selesai keramas di rumahnya.

Dia tahu jika kesukaanku adalah susu putih panas. Jika aku kerumahnya segelas susu itu selalu disajikannya dengan keikhlasan. Jika ada tukang bakso tahu lewat, dia selalu menanyakan apakah aku mau makan itu atau tidak. Jika iya, sepiring siomay, dengan beberapa kentang dan kol rebus dia belikan untukku. Dia tahu semua kesukaanku termasuk aku yang tak suka pedas.

Barangkali dia adalah kekasih yang secara sikap sangat memahami aku. Tapi entah kenapa aku malah menyakiti dia terus menerus. Tak ada kekasih yang sebaik dia saat mengurusku. Tak ada kekasih yang tahu aku lebih baik seperti dia. Tak ada kekasih yang demi aku mau mengorbankan idealismenya seperti dia. Dia memang baik, tapi aku bodoh melepaskannya. Dia memang baik, tapi aku bodoh menyia-nyiakannya. Inilah ketololan terbesarku. Inilah kesalahan yang entah apakah dia mau memaafkanku atau tidak. Yang pasti, aku menyesali semuanya.

Monday, December 8, 2014

Kisah beras dalam kantong plastik hitam

Selepas kerja segera aku bergegas pulang menuju kost ku. Dapat kubayangkan bagaimana berantakannya tempat tinggalku itu. Sudah tiga hari ayahku menginap disini. Dan baru senin ini beliau pulang ke rumah.

Sesampainya di kost ku aku bermaksud mengisi ulang wadah beras yang sudah mulai menipis. Aku tahu, dua hari yang lalu beras di masak oleh ayahku sehingga persediaan beras pun bisa dikatakan habis. Aku tak mempersoalkan beras itu sedikitpun, lagipula memang sudah waktunya aku mengisi beras lagi. Aku memang sempat agak meradang, ketika kubuka magic com masih tersisa nasi yang agak banyak. Kesal luar biasa, kenapa ayahku harus menanak nasi banyak. Ah, sudahlah, mau marah pun tak pantas. Segera saja aku bergegas ke dapur untuk mengambil wadah beras. Saat aku mengambilnya, aku sedikit heran ada bungkusan kantong hitam didalamnya. Saat aku buka ternyata isinya adalah beras. Ya Allah aku menangis sejadi-jadinya saat itu juga. Entah kenapa bayangan masa depan terasa begitu kelam di pelupuk mataku. Sedihnya lebih sedih daripada bayangan aku yang akan segera ditinggalkan kekasihku. Entah kenapa semua bayangan berseliweran di kepalaku. Bagaimana jika aku tidak bisa membahagiakan mereka? Bagaimana jika aku menikah tanpa di dampingi mereka? Bagaimana jika bukan ayahku yang menjadi wali dalam pernikahanku kelak. Bagaimana jika anak-anakku tak mengenal sosok kakek neneknya?

Seketika saja perasaan bersalah muncul. Aku merasa menjadi anak paling egois. Aku hanya memikirkan kebahagiaanku saja. Padahal orang tuaku masih saja memikirkan kondisiku di usiaku yang sudah besar ini. Benar kata pepatah, kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Dalam keadaan yang serba seperti ini pun, beliau mungkin ketakutan jika anaknya akan kelaparan karena jauh dari mereka.

Ya Allah, sebelum aku sukses membahagiakan mereka, sehat dan panjangkanlah usia mereka. Aku ingin melihat rinai kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Aku ingin mendengar kata "ini cucuku" saat aku melahirkan anakku kelak. Jangan lagi ada tangisan untukku dari mata mereka, kecuali tangisan kebahagiaan ketika melihat aku menikah dengan pria terbaik pilihan-Mu.

Ya Allah, mereka berharga untukku. Aku sayang mereka. Jaga mereka dan berkahilah kehidupan mereka. Aamiin.

Bandung, 11 Desember 2014.

@AchyNova.

P.s.
Masih berbalut air mata kutuliskan ini. Tulisan yang kudedikasikan untuk kedua orang tuaku yang hebat. Aku sayang kalian.

Aku bukan pemenang

Kepada yang terhormat,
Tuan Masa lalu.

Hai, Tuan, bagaimana kabarmu kali ini? Baik-baik sajakah? Kuharap kau bisa menjaga diri setelah bukan aku lagi yang memperhatikan dirimu. Ya, pada bagian ini bukan aku yang tak memedulikanmu, tapi keinginanmulah yang menginginkan aku berhenti untuk manjadi penghuni kerajaan dalam kehidupanmu.

Ah, siapa aku bagimu, selain hanya kau pungut sejenak dan setelah tak diperlukan lagi kau buang aku dengan sangat tidak terhormat. Padahal, kukira aku adalah perempuan yang akan kau muliakan hidupnya. Yang sejatinya akan kau jadikan istri dan ibu bagi anak-anakmu kelak. Semesta pun sepertinya tahu, kau selalu berkelakar tentang pernikahan dan anak kita masa depan, bukan aku. Kau hanya meninggikan harap lalu kau hempaskan setelah bosan.

Hebatnya dirimu, Tuan, kau menyembunyikan aku dari keramaian dunia yang (menurutmu) menyenangkan itu. Meski kau berdalih jika kau malu memiliki hubungan denganku untuk apa kau selalu mengajakku jalan keluar? Ah, bisa saja, lagipula kau membawaku pada keramaian dunia dimana yang terdapat didalamnya bukanlah orang-orang yang kamu kenal. Realitanya aku memang kau sembunyikan. Aku memang tak berarti bagimu.

Sialan!! Kenapa aku harus bertekuk lutut pada pria sepertimu. Kenapa aku harus mencintai pria yang tak pernah tulus mencintaiku. Kenapa aku harus mau direndahkan oleh pria yang selalu kuagungkan keberadaannya.

Bahkan hingga akhirnya aku menangis oleh ulahmu, kau masih bisa tertawa dan bersenang-senang. Kau samasekali tak memedulikan bagaimana merasa terhinanya keluargaku oleh kamu. Apa salah mereka padamu, padahal jelas, ibu yang melahirkanku saja dengan terang mengatakan dia menyayangimu. Ibu yang tak bersalah ini pun harus mengubur harap ketika kau yang disayanginya tak akan jadi menantunya.

Aku bisa apa? Aku tahu diri, sakitku adalah sakit ibuku. Tangisanku adalah tangisan ibuku. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku harus bermain drama didepan mereka. Aku menyembunyikan tangisan kala kuingat kau sebegitu jahat padaku, tuan.

Bahkan hingga detik ini, aku rasa-aku sudah mahir memainkan peran ini, di depan semua orang pun aku seperti orang yang tak memikirkan sakit. Padahal kenyataannya, aku masih terseok-seok untuk kembali bisa bangkit.

Tuan, tenang saja, aku sudah memaafkanmu. Tapi, bukan berarti aku tak akan mengingat semua yang sudah kauperbuat padaku. Aku tak akan membencimu. Biar bagaimanapun, kau sudah lebih dulu pernah membuat aku bahagia.

Rasanya tak perlu aku membuang waktu mendoakan keburukan untukmu. Sekedar mengucapkannya pun aku malas. Semua perbuatanmu padaku, biarlah urusanmu dengan Tuhan, aku tak akan ikut campur lagi.

Terima kasih sudah mampir dalam kehidupanku, Tuan masa lalu.

Bandung, 30 Des 2014
©achynova

Friday, December 5, 2014

Terbiasa menjadi nomor dua

Aku mulai membiasakan diri menjadi nomor dua. Terlebih dalam urusan hati. Sekarang aku sudah terbiasa, sayang, memposisikan diri menjadi bagian kedua dalam hidupmu. Siapa sih, aku? Selain hanya perempuan yang memiliki predikat kekasih tapi tak menjadi perempuan spesial yang di utamakan. Apalah arti aku untuk kamu, entahlah?

Apakah kamu tahu, sayang, kamu selalu menjadi orang yang kunomor satukan. Aku bahkan sering membatalkan janji dengan temanku ketika kamu mengatakan akan kerumah. Semua demi kamu, sayang, demi kamu! Tapi kamu sering tak melakukan hal yang sama kepadaku.

Seperti waktu itu, saat PERSIB masuk di babak final. Semua warga Bandung, berencana untuk nonton bareng, entah itu di balai kota atau juga di taman film. Temanku mengajak nonton bersama, aku dengan kamu, dan dia dengan suaminya. Dengan harapan kau mau, kau bilang kau pun memang mau nonton bareng dengan teman-teman kantormu. Darisana aku tangkap kesan kau tak ingin aku ikut. Kau sama sekali tak mengajak aku, padahal tempat kita merencanakan nonton itu ada di tempat yang sama, di Taman Film. Mungkin bagimu aku hanya akan jadi pengganggu kesenanganmu saja, atau mungkin kau malu memperkenalkan aku pada temanmu. Samasekali aku tak memaksakan diri, aku hormati keputusan kamu itu. Hingga akhirnya aku merencanakan nonton dengan temanku itu tanpa kamu di Balai Kota.
Belum kubuka pinta rumahku, kau sudah menelponku. Kau mengatakan tak jadi nonton bareng karena teman-temanmu entah dimana. Bukankah kau baru mengingat aku setelah temanmu tak menepati janjinya? Kau hanya menjadikan aku cadangan tatkala yang pertama tak bisa jadi yang utama.

Dengan berat hati kubatalkan juga rencana nonton dengan temanku. Aku memilih menghabiskan waktu dengan kamu di rumah saja. Tapi aku senang, prioritasku memang kamu. Kamu yang selalu menjadi nomor satu meski aku pasti menjadi nomor dua. Tak apa, bagiku kebahagiaanmu menjadi yang utama daripada kepentinganku.

Sayang, terkadang aku pun ingin kaujadikan nomor satu. Menurutmu, apakah aku pantas jika kau prioritaskan juga? Aku rasa iya, aku pantas, bukankah hubungan kekasih itu hubungan timbal balik? Dan aku ingin kaupun berbuat hal yang sama sepertiku. Apa kau bisa?

Aku masih belum kehilangan harap. Aku yakin kamu bisa bersikap sepertiku.

Bandung, 5 Des 2014

©achynova


Monday, November 10, 2014

Selamat Tanggal Sepuluh yang Ketiga

Sepuluh November dua ribu empat belas, bersamaan dengan dirayakannya hari pahlawan, bertepatan juga dengan berhasilnya kita melewati kisah ini selama tiga bulan. Aku akui menuju tiga bulan ini masih ada tangisan yang harus pecah. Aku harus menerima kenyataan ketika dua minggu kita tak bertemu. Aku yang berusaha keras untuk memahami sikapmu. Sikap yang entah kenapa kadang membuat aku menghela nafas berat, dan bertahan untuk tak menangis. Meski pada akhirnya aku akui, aku kalah juga; tangisanku.

Aku sempat hampir ingin menyerah. Tapi, aku tahu jika aku menyerah maka aku kalah. Aku sadar, kita bukanlah sedang menjalin kisah anak remaja, dimana jika merasa tak kuat memilih melepaskan dan mencari penggantinya. Aku serius menjalani semuanya. Aku tahu, dasar dari hubungan ini adalah pengertian dan kepercayaan. Dan aku yakin aku bisa. Aku tak mau menyerah, karena aku sayang dengan kamu.

Barangkali sikapmu saat itu adalah bentuk perwujudan dari kamu yang sedang merasa jenuh. Meski aku tak tahu kenapa hubungan yang baru berjalan dua bulan itu justru membuatmu jenuh. Mengetahui itu, meski sakit hati, tapi aku berusaha menerimanya. Aku coba berfikir logis, wajar adanya kamu merasa jenuh denganku. Mungkin gaya pacaran aku yang membosankan. Sehingga kamu pada akhirnya jenuh.

Lagipula pada akhirnya aku berhasil juga melewati semuanya. Aku bangga, bahwa aku bisa bertahan sejauh ini. Maaf,ya , sayang, jika aku terkadang masih merengek manja meminta waktumu. Jika aku terkadang meminta hal yang tak terlalu kau sukai. Jika aku yang masih mencemburui hal yang tidak jelas.

Terima kasih sudah mau bertahan sampai tanggal sepuluh yang ketiga kalinya. Tetap berjuang bersamaku hingga tanggal sepuluh yang tak berbatas.

Love you, always ��

RR

Wednesday, October 22, 2014

Karena Aku Perempuanmu

Hujan masih turun dengan setianya. Membasahi bumi pertiwi yang seakan rindu akan rintik raksasanya. Ia berhasil membuat ribuan orang terdiam. Menjegal langkah-langkah mereka menuju tujuannya. Beberapa orang ada yang menggerutu, ada pula yang terdiam bungkam dengan pandangan kosongnya melihat hujan manis ini. Dan aku dengan beberapa orang yang entah siapa justru bahagia dengan hujan ini, karena aku bisa menangis tanpa diketahui orang-orang.

Beberapa hari ini kegelisahan mulai membelai manja kebahagiaanku. Entah kenapa ia seperti sedang memberikan pertanda bahwa ada sesuatu dengan kekasihku. Sudah dua minggu aku tak bertatap mata dengannya, tak ada teguran sapa ataupun ucapan selamat pagi yang mampir di ponselku. Semua serba datar, abu-abu, dan tak lagi berwarna.

Sebagai kekasihnya aku seperti tak memiliki hak mutlak untuk merindukannya. Aku seperti di paksa untuk menahan rindu dalam diam. Di matanya aku tak lebih dari perempuan lebay dan menyebalkan jika ku-orasikan rasa rindu dan khawatirku padanya.

Perlahan juga, aku mulai terbiasa dengan kicauan pada personal messege BBm nya. Bagaimana dia dengan gamblang memuja perempuan yang itu bukan aku. Bagaimana dia berharap keadaan dimana hanya ada dia dan perempuan itu. Atau ketika dia berkata tentang ketidakmampuannya untuk bangkit jika dia masih mencintai perempuan itu.

Rasanya aku ingin menjerit sekencang-kencangnya. Aku sungguh iri pada perempuan itu. Meski sudah tak berstatus kekasihnya, perempuan itu masih memiliki tempat yang istimewa di hati kekasihku. Sedangkan aku, hanya jadi pelengkap saja ketika sepi menghampirinya.

Ini memang salahku, aku terlalu lebih mencintai dia sebelum dia mencintaiku. Sehingga mungkin rasa yang dia balas padaku tak lebih dari rasa iba melihatku, bukanlah sepenuhnya perasaan cinta.

Dalam hati aku masih berharap dia bisa menempatkan aku di posisi yang paling istimewa di hatinya. Mungkin saat ini dia hanya belum saja tersentuh dengan kebaikan dan ketulusanku saja-semoga. Barangkali perempuan itu memang memiliki pesona lain bagi kekasihku. Tapi aku percaya ketulusanku jauh di atas segalanya.

Hujan sudah mulai berhenti, kuputuskan untuk segera beranjak dari sini. Rasanya aku tak suka tangisanku mulai di ketahui orang. Mereka sepertinya mulai menyadari ada gurat tangis dalam diamku ini.

Tuesday, October 14, 2014

Pernah ada kamu di sujud terakhirku

Beberapa waktu lalu, tak sengaja kulihat kau berteman dengan kekasihku pada sosial media path. Aku tahu itu kamu, meski saat itu foto yang digunakan adalah bayi kecil mungil yang cantik. Ada debaran-debaran kecil yang kurasa, berusaha meyakinkan diri itu memang kamu. Ada hasrat yang memaksa untuk aku menambahkanmu juga sebagai temanku. Namun kuurungkan jua niat itu. Aku rasa tak perlulah kali ini aku berteman denganmu, belum tentu kamu masih ingat aku. Kita sudah empat tahun tak bertemu.

Aku seperti memutar kenangan yang sudah terjadi empat tahun silam. Aku ingat dengan jelas bagaimana tanggal dua November Dua ribu sepuluh, kita pernah bercengkerama dan bertatap dalam sekat tak berbatas. Duduk ditemani tarian-tarian ikan koi dipinggir kolam tempat kita makan. Sambil menikmati kwetiaw goreng seafood, cappucino float, dan juga cah kangkung seafood lengkap beserta nasi yang kausantap. Itu adalah moment indah bagiku, tuan.

Kau adalah keindahan yang Tuhan izinkan kunikmati. Tuhan begitu baik, sehingga tanpa sadar kusebut namamu dalam tiap akhir sujudku. Aku lupa, apakah saat kusebut namamu itu ada tangisan yang menyapa pipiku atau tidak, yang jelas aku hanya mendamba dan ingin agar Tuhan mempersatukan kamu dan aku.

Tuan, aku pernah mencintaimu selama hampir tiga tahun. Meski kau memperlakukan aku tak ubahnya seperti pengemis yang mencari-cari sesuap informasi tentang dirimu. Aku bingung, kemana lagi aku bisa menemukan kabarmu. Sedangkan nomor ponselmu saja sudah kau ganti dan tak memberi tahuku.

Ini memang tolol, aku tahu itu, gadis yang baru pertama kali bertemu denganmu itu, nyatanya sudah jauh lebih dulu jatuh cinta padamu saat masih menjadi mahasiswa. Kau mungkin tak habis pikir, bagaimana bisa si gadis dungu ini bisa menyukai kamu yang saat itu sudah berstatus kekasih orang lain.

Eh, tapi apa bedanya, ya, saat bertemu denganku pun kau tetap berstatus sebagai kekasih gadis lain yang kini menjadi istrimu.

Ah, tuan, aku terkadang aku merasa iri hati pada istrimu. Posisinya kini adalah posisi yang sempat ku impikan. Aku begitu ingin orang tuamu menjadi mertuaku. Aku begitu mendamba, menjadi adik ipar bagi kedua kakak laki-lakimu. Aku begitu bermimpi menjadi tante bagi dua keponakan laki-laki, dan satu keponakan perempuanmu yang cantik.

Dan maaf, aku sedikit memperhatikanmu kini, kenapa kali ini kau tak setampan saat kita bertemu? Kau tak terlihat lagi begitu mempesonaku? Sepertinya istrimu - jika aku tak salah prediksi, istrimu tak terlalu pandai mengurusimu. Kau terlihat lebih tua enam tahun dariku. Padahal usia kita sama dan hanya berjarak tiga bulan saja. Istrimu tak pandai memilihkan pakaian yang cocok untukmu, tuan. Maaf aku harus mengatakan ini. Ini hanya prediksiku saja.

Andai aku adalah istrimu, akan kubuat kau sesempurna mungkin. Tak akan pernah ku izinkan kau menggunakan kemeja kotak-kotak lengan pendek, itu hanya membuatmu tampak tua, sungguh. Aku pun tak akan membiarkan ada rambut-rambut halus memenuhi bagian diantara bibirmu. Kau harus menggunakan kemeja lengan panjang dengan ukuran slim fit yang pas dibadan atletismu. Kau harus terlihat lebih menarik karena kau memang menarik. Kau harus rapi tapi tidak meninggalkan kesederhanaanmu.

Ah, sudahlah, itu hanya hal yang aku sayangkan. Apapun kamu saat ini, bukan urusanku. Dan kembali pada paragraf awal, tanpa aku sangka, kau ternyata masih mengingatku. Kau ingat dengan jelas, tempat kita pernah makan berdua. Kau bahkan (pada akhirnya) mengucapkan selamat ulang tahun, pada perayaan hari lahirku.

Akhir kata, aku memang pernah menyebut namamu di akhir sujudku, dan aku tak menyesali itu. Bukankah terkadang Tuhan hanya mempertemukan saja, bukan mempersatukan. Setidaknya aku pernah mencecap rasa bahagia bersamamu. Terima kasih untuk kenangan manis empat tahun lalu. Aku bangga pernah mencintai pria sepertimu.

Bandung, 31 Desember 2014
With love for you,

@achynova™

Monday, October 13, 2014

Ketika kuasa Tuhan berbicara

"Sah!!" Begitulah suara yang bergema dari para saksi pada akad pernikahan kita. Aku masih belum percaya bahwa aku dan kamu kini sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Padahal masih jelas dalam ingatanku, bagaimana kamu untuk pertama kalinya mengajakku berbincang pada dunia abstrak tak bersekat.

Sayang, begitu manis Tuhan menautkan kita. Bahkan dengan cara yang tak kumengerti. Andai aku tahu sebelumnya jika kamu adalah jodohku, kenapa Dia tak persatukan kita saat kita masih menjejak lantai dan gedung yang sama? Kenapa kita harus dipisahkan dulu jarak, bahkan hingga detik menuju pernikahan kita. Kita harus melalui jarak jutaan mil, melewati hamparan daratan dan samudra yang membentang. Kau berlayar, dan aku terduduk di depan komputer.

Tak pernah sedikitpun aku berani bermimpi, bahkan membayangkan kita akan benar-benar bertemu, sayang. Meski kau menjanjikan pertemuan saat kau berlabuh nanti, tapi sejujurnya saja aku tak berani memegang janjimu itu. Jujur saja aku takut,  takut jika janji itu tak pernah engkau penuhi dan aku terlanjur berharap banyak.

Dan harus kuakui, kamu memang pria sejati yang memegang janjimu itu. Tiga hari sebelum kau berlabuh dan memutuskan pulang dulu ke Cirebon; kota kelahiranmu, kau mengabariku dan meminta PIN juga nomor ponselku, aku hanya mengikuti permintaanmu tanpa banyak berfikir tentang pertemuan.

Dan hebatnya kau datang tepat didepan mataku, memberi senyuman dan lambaian tangan pertanda sapaan di teriknya matahari.

"Hai, Tiara."

Seperti itulah sapaan pertamamu untukku. Uniknya, kau dan aku tak lagi kaku seperti saat dulu. Kita sudah sedikit saling mengenal, aku dan kamu.

Intensitas pertemuan kita berujung pada caramu mengkhawatirkan aku. Rasanya ada hal yang berbeda setiap kali mata kita saling beradu. Rasaku padamu dulu, kini bertumbuh lagi. Aku mencintaimu lagi,  aku mengagumimu lagi, dan aku menginginkanmu lagi.

Luar biasanya caramu membuktikan cinta padaku membuatku tak bisa menolak pinanganmu. Di sisa akhir tiga bulan cutimu, kau memperkenalkanku pada kedua orang tuamu. Kau dan keluargamu pun langsung melamarku pada orang tuaku. Padahal belum pernah sekalipun kau bilang kau mencintaiku. Dan sama sekali aku merasa tak memiliki hubungan cinta denganmu. Yang aku tahu, kita hanya dekat, namun harus disebut apa kedekatan kita? Entahlah.

Febri, enam bulan setelahnya kupersiapkan pernikahan kita sendiri. Hanya email yang membantuku untuk bisa bertukar pikiran denganmu. Bagaimana dekorasinya, design undangan, hingga gedung dan penata riasnya. Tapi, tak apa, semua memang membuatku stress luar biasa. Tapi hasilnya pun luar biasa.

Mengingat hal itu aku jadi senyum sendiri. Memang benar, ketika kuasa Tuhan bertindak, apa yang tak mungkin pun bisa jadi mungkin.

Kini, resmi sudah aku jadi istrimu. Resmi sudah ku sebut kau suamiku. Terima kasih untuk semuanya.

With love for you ;)

@achynova

Saturday, October 11, 2014

Surat cinta: TITIP RINDU UNTUK CALON ANAKKU

Hai Tuhan, bagaimana kabar surga hari ini? Pastinya lebih indah daripada di bumi, ya?

Bukan itu sebenarnya yang ingin aku perbincangkan dengan-MU. Tapi tentang rasa rinduku pada calon anakku. Tolong sampaikan surat ini pada dia, ya, semoga dia bahagia mendengar calon ibunya sudah merindukan kehadirannya.

Dear Calon buah hatiku,

Sayang, perkenalkanlah siapa aku ini. Aku adalah perempuan yang begitu rindu memilikimu. Begitu bermimpi untuk segera menimangmu dalam pangkuanku. Barangkali aku akan tersenyum ketika melihatmu dengan lahap menyedot air susuku. Tak akan kulepaskan engkau dari pangkuanku. Mungkin dengan sigap ku ganti popokmu yang basah. Meski terkantuk, kupaksakan membuka mata saat tangisanmu menggemparkan malam-malamku. Tapi tak apa, sayang, aku ikhlas. Sama seperti keikhlasanku yang meski harus mempertaruhkan nyawa untuk melahirkanmu.

Ah, baru membayangkannya saja aku tersipu sendiri. Padahal, seperti apa rasanya mengandung saja aku tak tahu, sayang.

Nak, aku tak tahu apakah kekasihku saat ini adalah calon ayahmu atau bukan, semuanya masih menggantung dalam persetujuan Tuhan.

Namun, siapapun Ayahmu kelak, dia pun pasti sangat menyayangimu. Sama sepertiku, dia akan mengorbankan sebagian waktunya demi kamu, nak.

Saat jam kerja selesai, aku yakin dia pasti tergesa untuk pulang. Setiap detiknya dia pasti amat merindukanmu. Senyumanmu, kuyakin akan selalu terbayang di pelupuk matanya. Dia bisa bertindak lebih protective dari aku, sepertinya satu nyamuk saja akan dibantainya habis-habisan jika dia berani menyentuhmu.

Tuh, kan, lagi-lagi aku tersenyum sendiri membayangkannya. Lucu sepertinya jika semua sudah terjadi. Ah, sayang, doakanlah bunda disana, ya, agar kau bisa segera terlahir dari rahimku. Agar rasa rinduku ini segera terobati untuk menimangmu.

Sayang, sekian dulu surat dari bunda. Baik-baik disana. Jangan nakal, ya. Kita sama-sama berdoa, agar aku segera menikah, dan kau segera hadir dalam keluarga kecilku kelak.

Sampaikan terima kasihku pada Tuhan, ya.

Love you, sayang.

Bunda.

Saturday, September 27, 2014

Aku rindu cinta yang berjarak

Hai sayang, tetiba saja aku ingat kamu. Sudah satu tahun lebih kita berpisah. Pasti banyak yang berubah dari kamu. Aku memang sengaja tak mencari kabarmu. Semua tentang kamu sudah kututup rapat dalam kotak masa lalu. Enggan kubuka kembali, karena aku tahu itu kelemahanku.

Selama ini aku tak bisa melupakan kamu sepenuhnya. Kenangan yang tercipta dalam kisah kita terlalu banyak sehingga sulit buatku menghapuskannya. Sayang, kali ini aku menjalani hubungan tanpa jarak. Kapanpun aku bisa bertemu dengannya. Tapi, sensasinya terasa berbeda, padahal kami masih berada di kota yang sama.

Mungkin aku belum bisa menerima kenyataan bahwa dia bukan kamu. Aku harus bisa menerima bahwa dia tak seperti kamu. Dia tak selalu mengabariku. Dia pun tak menjadikan aku tahu seperti apa kegiatannya. Dia terlalu cuek. Dan aku terkadang merasa dia tak terlalu mencintaiku.

Keadaan ini memaksaku membandingkan dia dengan kamu. Padahal aku tahu kalian sungguh berbeda. Tapi sikap-sikapnya justru menarik aku pada masa-masa saat bersama kamu. Padahal dulu tak mudah bagi kita menjalankan kisah. Melewati jarak ribuan kilo meter yang membentang kita bisa berjalan seirama. Dulu, aku harus menunggu empat belas hari supaya bisa bertatap denganmu. Setiap jam delapan malam dengan setia kita selalu bercerita via telepon, menceritakan kejadian atau hanya sekedar bersenda gurau, hingga tanpa sadar salah satu dari kita sudah tertidur lelap. Terkadang juga, kau menelpon hanya sekedar menyanyikan lagu a thousand years buatku. Dan itu sangat indah, sayang, indah.

Sekarang, aku sedang berusaha menerima dia bukan kamu. Aku pun mulai terbiasa jika dia tak mengabari aku. Dia memang bukan kamu. Tapi setidaknya mimpiku saat bersamamu sudah terselip juga bersamanya - menikah.

Entah kenapa, sayang, kali ini aku rindu cinta yang berjarak. Aku rindu saat kita saling melempar rindu dan cemas. Aku rindu!!

With love for you,


@achynova


Monday, September 8, 2014

Selamat tanggal 10 yang pertama

Hai sayang, hari ini adalah tanggal sepuluh September dua ribu empat belas. Tepat sebulan kita menjalani hubungan ini. Memang tak mudah, karena aku yakin kita masih terus beradaptasi untuk bisa saling memahami isi kepala kita yang terkadang tak sejalan.

Aku tahu, kamu pun masih sering dikagetkan dengan sikapku yang terkadang melontarkan permintaan yang menurut kamu 'gak jelas (baca: geje)' itu. Seperti hari minggu kemarin, aku memaksamu untuk membuka blog ku tepat ditanggal delapan. Kau bersikeras menanyakan alasan kenapa harus ditanggal delapan kaubuka blog-ku. Dan aku hanya menjawab "pokoknya buka aja". Kau mengernyitkan kening, tanda betapa kau merasa heran dengan sikapku itu.

Kau juga terkadang harus memahami (lagi dan lagi), ketika kepalaku mulai beranalisa tentang korelasi antara perempuan mantanmu dan kisah gadis sebungkus roti dan teh kotak di pagi hari, apakah mereka sama atau berbeda. Meski sebenarnya bukan itu maksud aku. Bukan bermaksud membahas masa lalumu, hanya sekedar ingin tahu saja. Semuanya kulakukan tak lebih supaya aku tahu wanita seperti apa mereka itu. Barangkali ada hal baik dari mereka yang bisa kuambil dan kucontoh supaya kamu senang. Meski aku tahu, aku dan mereka berbeda.

Sayang, aku pun sekarang sedang belajar memahamimu. Karena hingga detik ini, sesekali perasaan kau belum sepenuhnya mencintaiku masih ada. Apalagi saat kita tak bertatap, aku merasa kau tak mencintaiku, karena tak adanya kata2 cinta dari percakapan blackberry messengermu. Dan keraguanku pun hilang ketika kita berjalan dan menghabiskan waktu bersama, aku merasa kau memang sayang padaku.

Mungkin kamu benar, kamu bukanlah tipe lelaki yang romantis. Kamu cuek, dan memang itulah kamu. Aku harus bisa memahaminya, meski terkadang aku mendamba kamu bisa romantis padaku. Aku berusaha tak banyak menuntut apapun dari kamu. Aku terus berusaha menjadi gadis yang bisa memahami keadaanmu. Aku tak mau terlalu menuruti ego. Karena aku paham, landasan sebuah hubungan adalah kepercayaan dan saling memahami.

Sayang, barangkali bukan lagi cinta yang aku rasakan untukmu sekarang. Melainkan sebuah rasa sayang dimana aku tak mau kehilangan kamu. Dan aku harap kamu pun memiliki perasaan yang sama untukku.

Maaf untuk aku yang masih menjadi gadis menyebalkan dengan analisa-analisa anehnya. Yang terkadang meminta sesuatu hal dengan ke-lebay-annya. Tetaplah memahami aku, dan tuntun aku menjadi lebih dewasa lagi dalam bersikap.

Selamat tanggal Sepuluh untuk yang pertama kalinya. Keep love me, and I hope our relationShip will long last.

With love for you ;)

@Achynova

Saturday, September 6, 2014

Selamat satu tahun untuk pertemuan ketiga kita

8 September 2014,

Tak terasa sudah satu tahun kita melalui pertemuan ketiga kita di delapan September dua ribu tiga belas. Semuanya masih terekam jelas dikepalaku bagaimana pertemuan tahun lalu berhasil membuatku jatuh cinta pertama kalinya padamu.

Tahun lalu, dengan gagah kau menjemputku di rumah teman yang keluarganya sudah kuanggap keluargaku sendiri. Saat itu hujan turun, dia seperti mempermainkan perasaanku yang sebenarnya tengah ketar-ketir menunggu kedatanganmu. Beberapa kali aku memperhatikan jam yang berputar, menunggu kabar darimu yang saat itu barangkali sedang berteduh di bawah rintik hujan. Sambil membenahi tatanan rambutku, aku terus memperhatikan layar ponsel yang sedang tergeletak manis didepanku. Berharap ada satu pesan masuk darimu.

"Hujan, aku berteduh dulu ya sampai kira-kira bisa meluncur kesana."

"Iya, gak apa-apa, tapi jadi, kan?" Balasku kemudian.

"Jadi, sekarang aku kesana, ya."

"Oke."

Kurang lebih seperti itu percakapan kita melalui pesan singkat. Aku sedikit tenang, karena perasaan waswas itu bisa berkurang setelah mengetahui kau sedang meluncur menjemputku.

Benar saja, tak berapa lama kau menghubungiku dan mengatakan kau sudah berada di depan. Segera saja aku bangkit membenahi beberapa hal yang bisa kubenahi dan segera menemuimu.

Kulihat, di depan sedang duduk seorang pria ber-helm full face di atas motornya, sembari memegang ponsel putih di tangannya. Segera saja kuhampiri pria itu (baca: kamu) dan mengajak untuk masuk sejenak ke rumah temanku.

Tak beberapa lama, kita memutuskan untuk pergi menuju kedai ramen. Sebuah kedai ramen favorit warga Bandung yang diperlukan kesabaran bagi kita untuk akhirnya bisa mendapatkan tempat duduk. Dengan antrian yang sebanyak dan selama itu, kita bersabar, menunggu dengan harap cemas namamu di panggil. Sepanjang menunggu aku dan kamu saling bercerita. Bagaimana dengan antusiasnya kau bercerita padaku, kau sedang mengagumi dokter yang berbeda keyakinan denganmu. Tak banyak yang aku komentari, selain hanya berupa anggukan kecil dan senyum tanda aku mendengarkanmu dengan baik. Aku memang tak terlalu banyak bercerita padamu, karena posisiku saat itu aku baru saja mengalami kehancuran dalam kisah cintaku. Sedangkan aku termasuk perempuan yang tak terlalu suka menceritakan luka pada siapa pun termasuk kamu.

Namamu pun di panggil juga, setelah perjuangan panjang kita yang menunggu hampir satu jam. Kita pun duduk berdampingan dan mulai memilih menu, satu ramen all star dan jus durian sudah kamu pesan, sedangkan aku memilih ramen dengan topping sosis brockwurst dan fresh lemon. Percaya atau tidak, aku masih merekam semuanya dengan jelas hingga saat ini.

Seharusnya semua yang terjadi saat itu tak harus aku ingat. Tapi, entah kenapa aku begitu menyukai semuanya. Bahkan mungkin ketika tanpa sadar di tanggal delapan inilah aku mulai jatuh cinta padamu. Jatuh cinta pada sosok pria manis yang berhasil membuatku mengaguminya diam-diam.

Aku tahu, saat itu kamu belum jatuh cinta padaku. Sosokku belum bisa menjadi pengobat atau bahkan pengganti sosok yang saat itu barangkali kaucintai. Ah, tak apa bagiku sudah bisa menjadi temanmu pun itu sudah cukup.

Kau tahu, saat pertama kali kau menanyakan apakah aku merasa dingin, saat itu tanpa sadar rasa suka padamu baru tumbuh. Meski mungkin tawaran jaketmu tak lebih dari sekedar basa basi dan penghargaan tinggimu pada seorang wanita. Bagiku, tawaran itu sudah menunjukkan kau adalah pria baik.

Sayang, saat menulis ini banyak hal yang aku kenang, termasuk simpul senyum yang manis. Kau tak pernah tahu, aku sangat ingin memeluk tubuhmu. Tapi sebagai perempuan, aku pun tahu bagaimana menjaga kehormatanku yang bukan kekasihmu.

Kini, semua yang sempat kumimpikan setahun lalu sudah terwujud. Aku bisa memelukmu dengan hangat. Menyelipkan jari jemarika pada celah jemarimu. Menggenggam tanganmu dengan rasa cinta. Dan berjalan bersamamu sebagai kekasihmu.

Selamat satu tahun pertemuan kita yang ketiga, sayang. Semoga akan ada tahun-tahun kedepannya yang lebih indah dari tahun ini.

With love for you ;)

@AchyNova

Friday, May 23, 2014

Dari; CALON ISTRIMU YANG TAK BERHIJAB

Kepada Para Adam yang menginginkan mendapatkan calon istri yang berhijab, dengarkanlah ini:

Kau tak salah wahai pria apabila kau menginginkan paket instan perempuan untuk kau jadikan istrimu, gadis cantik yang menganggunkan dirinya dengan pesona hijabnya yang ayu. Dengan demikian kau tak perlu bersusah payah untuk menjadikan calon istrimu berhijab atas kemauanmu.

Kau tak pedulikan perasaan gadis yang tak berhijab yang mungkin dalam hatinya ingin kau muliakan hidupnya dengan kau jadikan istri. Dengan tegas kau seakan memicingkan mata dan memandangnya dengan sebelah mata. Barangkali di pikiranmu, gadis tak berhijab ini adalah gadis yang sudah terbiasa merayu banyak pria dengan kecantikan ragawi yang tak sepenuhnya di tutupi.

Pernahkah kalian mengetahui alasan pasti dibalik wanita tak berhijab itu apa wahai para Adam? Alasan yang mungkin tak kalian pahami karena gelar tak baik yang sudah dulu kalian sandingkan dengannya. Kalian ingin tau, akan kujelaskan. Bisa jadi gadis yang kau pandang sebelah mata ini adalah seorang tulang punggung keluarga yang bekerja di satu perusahaan yang tak membolehkan dirinya berhijab. Dia yang tak mampu melawan aturan yang sudah diterapkan tempat dimana dengan gigihnya ia teteskan peluhnya demi kelanjutan hidup di masa depannya.

Gadis ini sebenarnya tau, dan memiliki keinginan kuat untuk bisa menutup mahkota indahnya agar tak sembarang dilihat pria. Tapi disatu sisi, gadis ini enggan menggunakan hijab hanya pada saat dia berangkat dan pulang kerja saja.

Hey Para Adam, apakah menurut kalian gadis tak berhijab itu buruk? Apakah sebegitu hina seorang gadis tak berhijab di mata kalian? Padahal barangkali gadis ini mempertahankan kesuciannya dengan sekuat tenaga. Sementara banyak juga mereka yang berhijab dengan mudahnya melunturkan harga diri dan kehormatannya kepada kekasihnya.

Tolonglah para Adam, wanita tak berhijab ini ingin bisa kau merdekakan hidupnya. Agar dia bisa dengan leluasa menggunakan hijab tanpa ada aturan dari siapapun. Jangan kau anggap wanita tak berhijab hanya menjadi PR terbesar dan terberatmu dalam membina Rumah tanggamu kelak. Justru dengan kau memerdekakan hidupnya, bertambahlah pahala bagimu karena membantu gadis tak berhijab itu pada akhirnya berhijab setelah menikah denganmu.

Seperti itulah isi hati dari gadis tak berhijab. Seorang calon istri yang berharap engkau bisa memuliakan hidupnya dengan kegigihanmu memerdekakan keinginannya untuk berhijab.

Semoga kalian bisa memahaminya, waha para Adam.

Salam hormat,

Calon istrimu yang tak berhijab.

Tuesday, May 6, 2014

Menuliskan Luka

Luka hati wanita ini tak pernah sesakit yang kulihat. Masih dengan mata berkaca-kaca, dan ujung hidung yang memerah dia menceritakan segala lukanya padaku. Dan sebagai perempuan, dapat kupahami betul semuanya. Rasa sakitnya pasti tak akan mudah dilupakan begitu saja.

Sebejad itukah pria ini, padahal wanita ini dengan sekuat tenaganya bertahan dan memperjuangkan sesuatu yang seharusnya dia lepaskan sejak lama. Berulang kali kumarahi dia karena enggan menyerah dan terus bertahan dengan luka. Dan lagi-lagi dia berkata,"Aku akan berjuang semampuku." Ah aku benci jika dia sudah berkata demikian, karena kata-kata itu mampu membuatku akhirnya terbungkam.

Wanita ini terlihat perkasa dibalik kelemahannya. Didepan pria ini, dia bisa berubah menjadi apapun yang diinginkan pria ini. Aku memahami, karena memang pria ini adalah pria yang sudah sekian lama didambanya. Tiga tahun dia terus bersabar dan menunggu hati pria ini akan luluh. Beberapa kali dia mengalami penolakan dan pengabaian, tapi dia tetap berjuang. Kumarahi dia dengan tindakan gila dan bodohnya. Dan lagi-lagi aku meradang dengan mulut terbungkam ketika dia berkata, "kau tak memahami aku, karena kau tak pernah tahu apa itu cinta. Aku mencintainya, dan kau tak berhak melarangku."

Ah, andai wanita bodoh ini tahu, aku pun tahu rasanya jatuh cinta, barangkali dia tak akan seenak jidatnya berkata seperti itu. Sesekali aku ingin meninggalkan dia dalam kubangan luka yang dia gali sendiri. Bukankah dia tak butuh aku, karena aku tak berhak melarang dia mencintai pria gila itu. Tapi aku sungguh tak tega. Meskipun watakku yang keras aku masih punya banyak hati untuk tak begitu saja meninggalkan temanku yang bodoh ini terluka sendirian.

"Aku sedih. Sedih sekali. Dimana perasaan dia ketika untuk kesekian kalinya membuatku terluka lagi?" Dengan uraian air matanya dia terus menangis. Mulutnya tak henti menceracau keadaan dan sikap si pria yang jelas tak mempedulikannya. Kali ini aku tak banyak bicara. Rasanya pukpuk kecil jauh lebih dia butuhkan saat ini daripada sejuta nasihat yang akan meluncur dari mulutku. Ah, andai saja aku mampu, sejatinya aku ingin bilang pada gadis ini, betapa air matanya terlalu mahal untuk pria itu. Betapa seharusnya dia segera bangkit dan meninggalkan pria bodoh itu.

"Sudahlah jangan nangis lagi", hanya kata itu yang kuucapkan padanya, dengan pelukan hangat dan pukpuk kecil yang semoga saja memberikan dia ketenangan.

"Dia pergi begitu saja, meninggalkan aku sendirian. Hanya karena ada Liana, perempuan freak yang dia cintai. Aku benci, Bi, benci. Tapi aku mencintai dia. Aku tahu dia menjadikanku kekasihnya hanya karena kasihan. Dan itu sudah lebih dari cukup buatku. Apa yang aku lakukan ini benar, kan, Bi?" Tangisannya semakin pecah dengan jutaan kata yang dia teriakkan.

Aku masih tetap diam. Tak berani sedikitpun kukatakan padanya, bahwa sudah seharusnya perempuan ini menyerah dari awal.

"Cal, dengarkan aku setidaknya untuk kali ini saja. Perkara kehilangan tidak mungkin tak menyakitkan. Tapi yakinlah, kehilangan itu adalah bagian dari cara Tuhan menunjukkan bahwa dia belum bisa jadi orang yang tepat buat kamu." Entah ada angin apa kata-kata itu meluncur dengan anggunnya dari bibirku. Padahal sebelumnya aku sendiri memutuskan untuk tak mengeluarkan kata apapun.

Sebelum kulanjutkan lagi perkataanku, aku menghela nafas sejenak, memperhatikan apakah kali ini dia bisa mendengarku atau bahkan akan menolak mendengarkan perkataanku. Kulihat Calista mulai tertarik mendengarkanku. Barangkali ini kesempatanku menelaah masalahnya dengan menerapkan pengalamanku dalam menilai luka.

"Cal, dalam hal ini bukan hanya kamu yang pernah terluka. Aku pun pernah. Bahkan mungkin lebih extrim dari apa yang kamu rasakan. Kamu dengan sangat tegar menunggu Ilham berbalik arah dan melihatmu. Dan aku juga pernah dengan sangat kuat mencari cinta pertamaku. Kamu berjuang selama tiga tahun, sedangkan aku hampir enam tahun. Tak sedikitpun aku merasa lelah menemukan dia. Meski beberapa kali harus menelan kenyataan pahit bahwa aku tak tau dimana dia. Terakhir kudengar kabar dia masuk militer. Tapi kabar itu seakan menguap tanpa pembuktian apapun. Detik-detik dimana aku hampir menyerah, Tuhan menurunkan kebaikannya. Tuhan membiarkan aku menemukan dia melalui akun facebooknya. Tak ada yang berubah darinya. Semua masih terlihat sama. Lantas apakah menurutmu masalah pencarianku selesai, Cal?" Aku coba bertanya kepada Calista masalah itu, menunggu simbol jawaban yang akan dia kemukakan padaku.

"Sepertinya selesai, Bi." Jawabnya singkat disertai dengan anggukkan kepalanya.

Aku menyunggingkan senyuman. Seraya menepis jawabannya, "tidak sedemikian mudah, Cal. Iya. Masalah pencarianku memang telah selesai. Tapi keinginan menemukannya saat itu berubah menjadi keinginan untuk memilikinya. Sekuat tenaga aku berusaha membuatnya agar mau menolehku. Sama sepertimu, aku pun rela terluka berdarah-darah hanya demi dia. Untuk beberapa bulan aku merasa bisa mendapatkannya. Melihat antusias dia terhadapku yang tinggi, aku semakin tinggi hati. Itulah bodohnya aku, aku terlalu tinggi harap sehingga lupa mempersiapkan hati dengan kegagalan. Dan kamu tahu, Cal, aku justru terbunuh oleh harapanku sendiri."

"Lantas apa yang kamu lakukan, Bi?"

"Menurutku kamu beruntung, Cal, aku yang keras tak setega itu ninggalin kamu. Saat itu aku bangkit sendiri. Menyembuhkan luka sendiri. Dan buat percaya lagi cinta itu enggak gampang. Makanya, jangan kamu pikir masalahmu adalah masalah paling sulit, Cal, tiap orang punya caranya sendiri perihal luka, semoga kau paham ini. Karena jika harus kukatakan jujur, aku lelah setiap melihat penyebab tangisanmu adalah Ilham.".

"Buka mata kamu, Cal, pria tak selesai di Ilham saja. Lihat masih ada Ilham lain yang lebih pantas buat kamu. Sekarang saranku, berhenti kegilaan kamu pada Ilham, cari hal atau apapun itu yang bikin mata kamu terbuka. Sibukkan diri kamu dan satu hal lagi, coba buka hati kamu pada pria yang peduli sama kamu."

Continued...

Friday, April 11, 2014

Lovely and my memories

Dengan setia, aku terus mendengarkan suara yang dia rekam. Melalui soundcloud puisi yang dia bacakan untukku kini terus kuperdengarkan. Prosa yang lembut terus berputar di ruangan yang tak terlalu besar ini. Aku terduduk mematung menghadap jendela, entah sudah berapa lama. Entah sudah berapa ratus air mata yang jatuh menjejak tanah. Entah sudah berapa kali juga jantungku berdetak hebat secapat waktu yang berdetiknya. Aku dalam ketakutan. Bayangan kematian. Bayangan perpisahan. Bayangan kehilangan.

Tanpa sengaja waktu mempertemukan kami.

Friday, April 4, 2014

Izinkan aku memperjuangkanmu sampai Juli saja.

Hai April. Masih awal untuk segera kusongsong Juli nanti. Masih harus kulewati tiga bulan kedepan dengan perasaan yang masih tak menentu. Perasaan yang semakin mengungkung aku dalam ketidak pastian.

Bey, katakanlah padaku, apa kamu sedang bermain-main dengan hatiku? Kenapa kamu seminggu belakangan ini seolah senang menjungkir balikkan perasaanku? Bila memang kamu enggan menjalani hubungan ini, kenapa kemarin kamu mengajak aku untuk mau berkomitmen? Terpaksakah kamu? Jika iya, aku mohon bertahanlah sampai Juli saja. Sampai waktu yang sudah kita sepakati untuk bertemu. 

Jika di April ini kau tak bisa mencintaiku, setidaknya berpura-puralah sampai Juli kau mencintaiku. Berbuatlah seperti kau sedang sangat menyanjung aku. Tak apa jika kenyataannya tidak. Aku mohon sampai Juli saja kau bisa manis padaku. Jika setelah Juli kau masih tak mencintaiku, kau boleh pergi meninggalkanku. Aku berjanji, aku tak akan menghalangimu untuk pergi menjauh.

Bahkan, bila diperlukan, atau bila kau inginkan aku menganggap hubungan ini tak pernah ada, akan ku lakukan. Aku bersumpah padamu, aku akan menganggap semuanya tak terjadi dan kita hanya teman masa kecil saja. 

Tak perlu takut, aku akan menepati janji padamu. Aku tak menuntut hal aneh padamu. Yang aku inginkan hanyalah kau bisa bekerja sama denganku menjalin komunikasi yang manis. Ketika aku bilang sayang, kau pun bisa menjawabnya dengan kata sayang. Berusahalah untuk bisa memberi umpan supaya obrolan kita tidak hambar. Apa hal itu terlalu berat untukmu? Sekali lagi hanya sampai Juli saja, Bey. Jika Juli kau masih tak bisa jatuh cinta padaku, kau boleh pergi.



AchyNova ™

06042014

Tuesday, April 1, 2014

Perempuan Kedua

Tak tega rasanya melihat wanita ini. Dia begitu bahagia meskipun dia tahu predikat yang disandangnya hanyalah sebagai perempuan kedua. Bodohkah dia? Entahlah. Yang jelas dengan senyumnya dapat kulihat jelas betapa dia sedang sangat jatuh cinta pada kamu, sayang.

Seharusnya wanita ini tahu, bagaimana kamu hanya memberikan kebahagiaan yang isinya bisa jadi hanya bualan. Kau memujinya, padahal di waktu yang sama kau pun tengah memuji perempuan pertamamu. Kau mengatakan kau mencintainya, bersamaan dengan perkataanmu itu, kau juga mengatakan hal yang sama kepada perempuan pertamamu.

Padahal mungkin, setiap waktu yang berjalan hatinya selalu dihinggapi ketakutan. Ketar-ketir pasti dirasakannya. Bagaimana bila tiba-tiba kamu pergi meninggalkannya dan memilih perempuan pertamamu. Dapat kubayangkan betapa dia sangat terluka. Semoga saja dia tak akan memilih hal bodoh karena luka hatinya.

Sayang, aku ingin tanya padamu, Apakah kamu serius padanya? ataukah kau hanya ingin melambungkan angannya saja untuk kemudian kau hempaskan. Apa kau berencana akan mencampakkannya, atau memang bermaksud menjadikannya yang pertama? Berhentilah menyiksa hatinya, aku tak tahan melihatnya terluka nantinya.

Setiap hari, kulihat matanya selalu terpaku pada layar ponselnya. Ketika ku tanya, "apa yang kau lakukan?", dia hanya menjawab "menunggu kabar darimu." Pasti dia tengah menunggu sapaan hangat pagi darimu. Walaupun yang sering kulihat wanita ini dulu yang mulai menyapamu.

Beberapa kali, tanpa sengaja kulihat balasan pesan darimu mampir di ponselnya, jawabanmu terkadang sekedarnya bahkan terkesan dingin. Sedangkan kulihat setiap kali dia menyapamu, kata sayang dan cinta selalu ia sematkan padamu. Hal ini membuatku bertanya, bodohkah wanita ini?

Kuperingatkan padamu, sayang, jangan kau melukai hatinya. Kulihat wanita ini rapuh dibalik ketegarannya. Wanita ini lemah dibalik ketangguhannya. Dan wanita ini menangis dibalik senyumnya. Dia mungkin terlihat baik-baik saja, tapi aku yakin di balik itu semua dia tak akan mudah memaafkanmu. 

Jika kau memang mencintainya, berhentilah bersikap seolah hanya dia saja yang mencintaimu. Jangan kauhancurkan mimpinya dengan arogansimu. Genggamlah tangannya seperti dia yang terus menggenggam tanganmu. Jika bersama perempuan pertamamu kau lebih sering terluka, untuk apa kau terus mempertahankannya? Ibaratnya jika yang kau genggam melukai tanganmu, apa mungkin kau akan terus menggenggamnya? Barangkali wanita ini pun demikian. Ketika dia sadar dengan menggenggammu hanya luka yang dia dapatkan, bisa saja dia justru pada akhirnya akan melepaskanmu. Dan ketika dia sudah melepaskanmu, kau baru menyadari betapa dia wanita yang sebenarnya kau butuhkan untuk menjadi pelengkapmu.

Maaf jika aku terkesan mengajarimu. Karena jujur kukatakan, sebagai perempuan kedua, aku sudah mulai berfikir untuk melepaskanmu.

Monday, February 17, 2014

Day 13 : Faris, kencan yuk!

Hai Faris,
.
Pada kesempatan kali ini aku memberanikan diri menyapamu. Ya, anggap saja aku sedang bermodus bermaksud ngajak kencan, hihi *muka merah nahan malu*.
.
Faris, mau ngga kencan bareng aku? Kita jalan kemana gitu pake Toyota Agya, kayanya romantis banget. Jalan berdua di mobil yang super duper nyaman. Pastinya kalo kita jalan pake mobil keren itu, kita akan jadi pusat perhatian ketika sampai tempat tujuan. Hmmm, baru membayangkan saja aku sudah bahagia, apalagi kalau kamu benar-benar mau kuajak kencan.
.
Faris, kenapa aku ngajak kamu kencan pake Agya? Soalnya kalau dibandingkan dengan sesama city car hacthback, Toyota Agya sangat hemat bahan bakar karena teknologi mesin baru yang green dan tentunya karena cc lebih kecil. Satu liter bisa untuk 20 Km, irit banget, kan?Kemudian leg room (ruang spasi untuk kaki) lebih luas sehingga lebih nyaman buat kita.
.
Jadi gimana, Faris? Mau kan kencan bareng aku pake Agya?

Sunday, February 16, 2014

Day 12 : Untuk calon suamiku

Semoga di Kupang kau Baik-baik saja.

Calon suamiku, sudah enam bulan kau berada di Kupang, bagaimana kabarmu sekarang? Kudengar cuaca disana sangat panas. Memang kau selalu mengabariku tentang semua yang terjadi padamu. Tapi, kali ini rasa-rasanya tak salah kalau aku ingin mengirimkan surat cinta padamu.

Kemarin ibu menelponku, dia memintaku untuk segera mau kaujadikan istri. Aku belum bisa menjawab apapun, sesuai kesepakatan antara kau dan aku, aku masih belum mau meninggalkan Bandung. Kamu tahu sulit buatku jauh dari ibu dan keluarga. Apalagi jika aku mengikutimu pindah dan menetap disana, waktu yang bisa mempertemukan aku dengan beliau hanya terjadi satu tahun sekali saja, bukan?

Hal ini masih sering membuatku bingung. Disatu sisi aku tahu kodratku sebagai istri harus mengikuti suaminya. Disisi lain ibu berat melepaskan aku jika harus sampai melintas pulau.

Dulu, ibu merestui kita, tapi, tak pernah bakal ia bayangkan harus melepaskan aku jauh darinya. Aku pun tak berfikir kau akan dipindah tugaskan sejauh itu. Kukira jangkauan area kerjamu masih berada seputaran Bandung-Jakarta saja.

Tapi bukan berarti setelah ini ibu mencabut restunya. Dia masih tetap merestuimu sebagai calon menantunya. Hanya ada rasa keberatan saja jika kau membawaku jauh darinya.

Calon suamiku, maafkan aku, aku memang masih dibayangi sosok ibu. Bagaimana pun, dimata beliau aku masih gadis kecil yang harus dijaga dan dikahawatirkan. Aku pun ingin berada dekat beliau jika aku melahirkan kelak.

Aku paham kau bisa memaklumi. Tapi bagaimana caraku menjelaskan kepada ibumu? Calon suamiku, percayalah, kelak Tuhan pasti mempersatukan kita jika aku adalah jodomu.

Jaga diri baik-baik disana ya? Jaga hatimu juga dan percayalah aku ada disini selalu mencintaimu.

I love you,

Achy

Day 11 : Dear, Superman

Dear, Superman.

Ini adalah hari ke sebelas aku mengikuti project menulis surat cinta selama tiga puluh hari. Otakku buntu kali ini. Aku tak tahu, siapa yang akan kujadikan objeknya. Siapa yang harusnya mendengarkan keluh kesahnya. Aku bingung luar biasa. Akhirnya aku putuskan menulis surat padamu. Sebenarnya bukan pada superman sebenarnya aku menulis surat ini. Tapi lebih tepatnya kepada pria penyuka sosok superman.

Kepada pria itu,

Pada surat hari kesebelas ini, akhirnya aku beranikan diri untuk menyapamu. Aku hanya ingin berteman lagi, meski mungkin kau tak menginginkan itu. Diantara kamu dan aku sudah terjadi banyak kesalahpahaman, sehingga kenangan manis yang sudah terjadi diantara kita seakan tak berarti dan terkesan percuma saja.

Superman,

Kepala kita bukanlah terbuat dari batu. Tapi kenapa kita sama-sama berkeras hati dan seolah enggan saling menyapa lagi. Ego kita seolah menguasai semuanya. Aku enggan menyapa karena takut kau tak meresponku. Sedangkan alasan darimu aku sungguh tak tahu.

Superman,

Aku ingin minta maaf, barangkali ada kata-kata yang sudah menyinggung perasaanmu. Entah itu tentang bola atau mungkin tentang moto GP. Semuanya tak kumaksudkan begitu, bukankah wajar jika sesekali kuselipkan candaan untuk menghangatkan obrolan saja. Agar kau dan aku semakin akrab.

Superman, 

Kali ini aku sudah buntu. Aku bingung merangkai kata atau apapun itu. Kalau kau sempat mencerna hatimu, ingatlah bahwa aku adalah perempuan yang sebenarnya memiliki kesamaan juga padamu, sama-sama penyuka superman.

Sudahlah, mmenulis surat tak harus panjang lebar, kan?

Dari aku, perempuan yang pernah kau perkenalkan dengan antrian panjang di kedai ramen itu. 

Saturday, February 15, 2014

Day 10 : Untuk Perempuannya lelakiku.

Kepada Perempuannya Lelakiku,
.
.
Kau pasti kaget kenapa tiba-tiba surat ini bisa melenggang bebas tanpa batas ke tanganmu. Dalam benakmu pasti bertanya, siapa orang yang dengan lancangnya menulis dan mengirimkan surat ini padamu.

Tak usah risau wahai perempuan, kenalkanlah, aku adalah segumpal hati yang terbalut raga tak berdaya. Bukan maksudku mengusik hari-harimu bersama lelakiku. Aku hanya ingin... ah, anggap saja aku ingin bercengkerama denganmu saja, tidak lebih.

Aku ingin bertanya padamu, jika kau jadi aku, apakah kau akan mengirimkan surat juga padaku? Jawabannya bisa iya dan tidak, ya? Tapi tenanglah, aku tak terlalu merisaukan kau yang akan berbuat sepertiku atau tidak. Sekali lagi kukatakan, aku hanya ingin bercengkerama saja dengan perempuannya lelakiku.

Kau pasti ingin tahu aku, bukan?

Baiklah!

Aku perempuan sama sepertimu. Aku memiliki cinta sama sepertimu. Aku menyayangi lelakimu, sama sepertimu. Lelakimu adalah sama dengan lelakiku. Kalau kau tahu, sebelum mengenalmu dia adalah lelakiku. Hingga saat ini pun (seharusnya) dia masih sebagai lelakiku.

Kenapa aku bahas tentang lelakimu?

Karena lelaki yang saat ini bersamamu, adalah kekasihku. Kau hadir diantara konflik kami yang seharusnya bisa terselesaikan dengan sesuatu yang kami sebut baik-baik saja. Lelakimu adalah pria yang selalu memujaku melalui rangkaian kata yang mengalir mesra melalui tulisannya. Jika kau pernah membaca ceritanya tentang gadis penghujung senja pada blog pribadinya, wanita yang ia sebutkan itu adalah aku.

Lelakimu adalah pria yang menjadi pengisi celah sela jemariku. Lelakimu adalah pelukis terbaik yang sering menggambarkan lengkungan senyum dibibirku. Lelakimu adalah priaku yang hebat. Lelakimu adalah priaku yang luar biasa. Lelakimu adala lelakiku yang sangat kucintai. Lantas kenapa kau tega merebut lelakiku dan menjadikanmu lelakimu.

Dulu kukira kau bisa merasakan jadi aku, wahai perempuan. Kukira kau bisa menahan rasa kagummu agar tak berubah menjadi sebuah rasa cinta yang hebat padanya. Dulu kukira, kau tak akan meraih hatinya dengan semudah itu. Dan kenapa aku harus memberika lelaki berhargaku padamu.

Wanita,

Kuakui kau memang pintar. Kau memerankan peranmu mengambil hati ibu lelakiku. Kau seolah tahu bahwa tak ada restu buatku. Dengan sigap, kau luluhkan hati ibunya, kau tunjukkan diri seolah kau adalaj perempuan paling baik untuk lelakiku. Kau membuat tampilanku semakin buruk, dan memperindah tampilan palsumu. Tak apa! Aku tahu Tuhan tak tidur. Meski kau memiliki ragawi lelakiku, ketahuilah, hati lelakimu masih bersamaku.

Dari; perempuan yang menggenggam hati lelakimu seutuhnya.

Friday, February 14, 2014

Day 9: Dari Logika untuk hati.

Hai Hati,

Aku adalah logika yang selalu mencerna setiap bisikan-bisikanmu. Kamu pasti sedikit kesal denganku, beberapa kali kau memberitahuku tentang apa itu cinta, baik-tidaknya untukku, namun seringkali aku mengabaikanmu.

Hati,
Sesekali aku ingin mendengarkanmu, tapi kadang aku lebih suka berfikir dengan kenyataan yang sudah jelas ada di depan mata. Aku tak suka berkhayal, atau berimajinasi dengan hal yang belum tentu berbuah manis.

Memang tak salah, terkadang imajinasi bisa membuatku bahagia, itu betul. Tapi, untuk apa berimajinasi, karena semua imajinasi ibarat mimpi yang tak akan terjadi. Aku sebenarnya pernah mengikuti bisikanmu, hasilnya adalah aku terluka. Benarkah, kamu adalah sesuatu yang tak pernah salah. Lantas, benarkah kamu tak pernah salah? Ah, barangkali aku mungkin salah mendengarkan. Bukan kamu yang sedang kudengarkan, mungkin fikiranku yang saat itu kudengarkan.

Hati,

Seberapa sering kau kuabaikan, tapi kau selalu memberikan bisikan yang tak pernah kugubris. Mungkin,  jika aku lebih bersahabat denganmu aku tak akan seterluka sekarang. Seringkali aku berakhir menyesal karena tak perna mendengarkanmu. Aku pun sering menangis, karena bodoh tak mendengarkanmu.

Ah, hati,

Kuharap kau tak bosan mengingatkanku. Kuharap aku akan lebih menurunkan ego dan bisa bersahabat baik denganmu. Jangan bosan menjadi sahabatku, walau kadang aku sering tak menggubrismu.

Dari aku,

Logika.

Day 9: Dari Logika untuk hati.

Hai Hati,

Aku adalah logika yang selalu mencerna setiap bisikan-bisikanmu. Kamu pasti sedikit kesal denganku, beberapa kali kau memberitahuku tentang apa itu cinta, baik-tidaknya untukku, namun seringkali aku mengabaikanmu.

Hati,
Sesekali aku ingin mendengarkanmu, tapi kadang aku lebih suka berfikir dengan kenyataan yang sudah jelas ada di depan mata. Aku tak suka berkhayal, atau berimajinasi dengan hal yang belum tentu berbuah manis.

Memang tak salah, terkadang imajinasi bisa membuatku bahagia, itu betul. Tapi, untuk apa berimajinasi, karena semua imajinasi ibarat mimpi yang tak akan terjadi. Aku sebenarnya pernah mengikuti bisikanmu, hasilnya adalah aku terluka. Benarkah, kamu adalah sesuatu yang tak pernah salah. Lantas, benarkah kamu tak pernah salah? Ah, barangkali aku mungkin salah mendengarkan. Bukan kamu yang sedang kudengarkan, mungkin fikiranku yang saat itu kudengarkan.

Hati,

Seberapa sering kau kuabaikan, tapi kau selalu memberikan bisikan yang tak pernah kugubris. Mungkin,  jika aku lebih bersahabat denganmu aku tak akan seterluka sekarang. Seringkali aku berakhir menyesal karena tak perna mendengarkanmu. Aku pun sering menangis, karena bodoh tak mendengarkanmu.

Ah, hati,

Kuharap kau tak bosan mengingatkanku. Kuharap aku akan lebih menurunkan ego dan bisa bersahabat baik denganmu. Jangan bosan menjadi sahabatku, walau kadang aku sering tak menggubrismu.

Dari aku,

Logika.

Wednesday, February 12, 2014

Day 8: Yang kutemukan, yang menghilang.

Kamu; yang pernah kutemukan, dan akhirnya menghilang.

Pernah tidak kamu berpikir ada seorang perempuan yang mencari kamu dengan luar biasanya?

Menurut kamu perempuan ini waras atau tidak?

Jika jawaban kamu perempuan ini tak waras, maka aku pun berpikir sama sepertimu.

Kenapa dia mau memapah hari-harinya hanya untuk menemukan sosok pria yang tak bisa menghargai perjuangannya? Pada bagian mana dari kamu yang membuatnya bisa jatuh cinta segila itu? Sedangkan diluar kamu, ada pria lain yang juga dengan setianya menanti perempuan ini berbalik mencintainya.

Akan kujelaskan padamu seperti apa dia berjuang menemukan kamu. Dia tak berpikir bahwa kamu akan bisa berbalik merangkaikan sejuta luka dihatinya. Dia hanya ingin kamu tahu, bahwa dia pernah dan masih dengan sangat mencintaimu. Tak ada setitik keinginan dihatinya untuk memilikimu. Dia tahu, kamu dan hati kamu punya kebebasan untuk menentukan arah hidupnya.

Dia mendorong dirinya untuk berani menyapamu, dan kau hanya membalas sekenanya. Dia bersusah payah membuatmu tergerak, dan kau hanya sejengkal mau menoleh. Dia terus maju, karena dia tak mau kehilangan jejakmu lagi untuk kesekian kalinya. Dia hanya tahu, dia mencintai kamu saja, titik.

Dimana kamu yang orang bilang si baik hati itu. Sementara sikapmu padanya berbeda sekali dengan yang orang bilang tentangmu.

Tapi benar juga, kau memang baik. Kerendahan hatimu mendorong kamu menjadi sosok yang menebarkan harapan palsu pada dia. Bukankah kalian pernah menghabiskan malam kalian dengan saling bercerita melalui sambungan telepon? Bukankah kamu dengan bijaknya mengakui ketangguhannya menemukan kamu? Ah, aku rasa kamu memang hanya sekedar melambungkan asa dia saja. Semua ucapanmu itu palsu adanya.

Kamu tahu,

Gadis ini pernah menangis akibatmu. Dia tak pernah lupa membaitkan doa untukmu. Dengan sedikit menyimpan harapan yang kau tawarkan, gadis ini menggenggam namamu dalam cita-citanya. Aku kadang sebal dengannya, padahal aku tahu, kau sedang membuat galian luka hatinya lebih dalam lagi. Tapi aku sungguh tak tega memberitahunya, dia tengah dibutakan cinta padamu. Ya, aku memaklumi, biar bagaimana pun kamu adalah pria yang lima tahun dicarinya tapi tak pernah dimilikinya.

Hmmm, satu lagi yang aku sesalkan, kenapa si gadis gila ini harus AKU!!

Tuesday, February 11, 2014

Day 7: Dibalik senyumanku.

Untuk kamu;
Yang lebih sering melihatku tersenyum.
.

Tahukah kamu,

Dibalik sikapku yang selalu mengumbar senyuman, ada serpihan hati yang tengah kurekatkan perlahan. Dibalik candaan dan gelak tawaku, ada luka yang masih harus kutahan perihnya, harus kuhentikan laju darahnya, agar ia tak berhasil membuatku menangis didepanmu.

Dibalik aku yang kau lihat bahagia, tercipta sajak-sajak sendu yang mengalun sendu melalui jemariku. Kurangkaikan bait-bait kata, mengagumi keindahanmu yang tertahan di selaksa ronggaku.

Dibalik aku yang merindukan pelangi senja, ada aku yang tengah merintih merindukan pertemuan hati dibawah rintik hujan.

Dibalik aku yang melukiskan awan, ada aku yang bersajak sendu menahan keluh kesah merindukanmu.

Kemarilah,

Sejenak arahkan telingamu untuk mendengarkan lantunan syair yang khusus kupersembahkan untukmu.

Sejenak tujukanlah matamu kepadaku da lihatlah aku yang tengah berjibaku menahan sesaknya rindu yang semakin membabi buta untukmu.

Kau melihatku tersenyum, namun sebenarnya aku menangis.

Kau mendengarku bersenandung, namun nyanyianku adalah lagu rindu untukmu.

Kau tertawa bersamaku, tak tahukah kau, bahwa aku ingin memiliki tawamu.

Ini aku!

Perempuan yang menahan gejolak.cintanya dibalik sikap yang terlihat bahagia.

Aku,

Perempuan yang berpura-pura tak terluka, saat tanganmu menggenggam tangan gadis itu.

Aku,

Perempuan yang mengatakan "selamat" kepadamu, dibalik hati yang tengah menjerit berkata "aku mohon tinggalkan wanita itu untukku".

Aku,

Perempuan yang pada akhirnya sedang menangis dibalik senyumanku.

=
=

"Maafkan aku, mataku hanya melihat kamu yang selalu tersenyum tanpa kutahu hatimu sedang menangis."

Ucapanmu ketika tahu aku mencintaimu.

-perih-

Monday, February 10, 2014

Day 6: Pria asing, aku menyukaimu!

Kepada pria yang tak sengaja berjelajah di moment ku.
.
Namamu Bayu, setidaknya itu yang kutahu. Pria berkacamata yang rumahnya berada di daerah Sarijadi, Bandung.Itu yang aku tahu. Lulusan manajemen Universitas Pasundan 2008, itu juga yang aku tahu.
.
Tak usah merasa aneh kenapa aku bisa tahu itu. Karena kamu memperkenalkan dirimu sampai proses itu saja. Gaya bahasamu kaku, menggunakan kata SAYA dan KAMU. Aku memutar otak, apakah orang yang berpendidikan tinggi selalu menggunakan tata bahasa yang sekaku itu, menunjukkan tingkat intelektualitas nya.
.
Ah, sudahlah aku bukan ingin membahas tentang cara bicara atau apapun itu. Bagiku bisa cukup tahu kamu, anugrah rasanya. A Bayu, aku sedikit heran, kita sempat bertukar pin BB, tapi tak sekalipun kita bersua. Padahal aku ingin punya kesempatan lebih bisa mengenalmu. Pertanyaan yang ingin aku tanyakan pertama mungkin berapa jumlah saudaramu. Hahaha, kelihatan sekali kalau aku penuh basa basi. Aish, yang penting kan bagaimana cara aku bisa mengenalmu saja, ya, caranya agak aneh mohon dimaklumi saja.
.
Jujur saja, aku perempuan yang agak sulit mengembangkan cerita. Mungkin orang cepat bosan mengobrol denganku. Tapi sungguh, setiap orang yang dekat terus menjauh, aku hanya bisa pasrah. Ya karena itu tadi, aku tak bisa berbasa basi sehingga sangat sulit mengembangkan cerita.
.
Menulis surat kali ini agak sulit bagiku. Aku harus menulis surat kepada orang asing yang tak terlalu kukenal siapa dia. Tapi aku tak mau menyerah, aku pilih saja kamu jadi objeknya #tertawamalu *kabur*. Pasti kamu bertanya kenapa, bukan?
.
Hmmm, Baiklah aku jawab, deh. Sekali melihat fotomu saja aku jatuh cinta, bagaimana kalau aku lihat aslinya ya. Kamu itu seperti pria yang sering muncul di mimpiku. Atau tepatnya kamu pria idamanku. Tampan, berkaca mata, bentuk wajah yang simetris dengan tulang rahang, dan apalagi ya, cukup dulu deh. Hmmm, klo kamu baca, coba hubungi aku melalui we chat ya, supaya kamu tahu semenyenangkan apa perempuan yang sedang sangat mengagumimu ini.

Achy

Sunday, February 9, 2014

Day 5: Kepada pria yang menggenggam janjinya.

Hai, pria.

Sudah bisakah kau lepaskan KITA? Biarkanlah KITA yang dulu terurai menjadi AKU dan KAMU saja. Tak perlu tangisi yang sudah terjadi kali ini, ya.
.
Pria,
.
Kala surat ini kutulis, barangkali kita masih melakukan kebiasaan gila kita, memandangi langit senja yang berwarna jingga hingga warnanyapun berubah menjadi gelap dan berkelipkan bintang. Atau kau sudah tak melakukannya lagi barangkali? Jujur saja aku masih melakukannya saat hujan tidak turun, karena hingga saat ini kamu dan kenangan bersamamu selalu berhasil membuatku rindu.
.
Pria,
.
Tolong katakan padaku, pada bagian mana cinta menjatuhkan kesalahannya. Bukankah kita tak pernah menginginkan untuk bisa saling mencintai pada akhirnya? Kita hanya mengikuti skenario yang ada. Aku dan kamu bertemu, saling memandang, saling mengagumi, berkenalan, semakin dekat, saling jatuh cinta, hingga akhirnya saling mencinta. Dimana sebenarnya kesalahan cinta?
.
Pria,
.
Untuk sesaat, aku merasakan bagaimana kamu yang meradang saat kuucapkan kata perpisahan. Kamu marah, memakiku, membentak padaku, bahkan tamparan keras tanganmu mendarat di mejaku. Saat itu aku takut. Kau tak pernah semenakutkan itu. Tapi, rasa takutku berubah menjadi kepiluan yang menyakitkan, kau menangis, sedangkan aku tak tahu apa yang harus kuperbuat padamu.
.
Pria,
.
Itulah kali pertama aku melihat seorang lelaki menangis karenaku. Luar biasanya, aku justru merasa menjadi perempuan paling jahat yang sudah menyakitimu sebanyak itu. Kamu, pria yang selalu melengkapi sela jemari tanganku, justru kubuat terluka oleh keputusanku. Kamu, pria yang selalu merangkulku hangat, harus kubuat menangis karena egoku.
.
Pria,
Maafkan aku, janji yang sudah kita ucapkan belum bisa kupenuhi sekarang. Alasannya tak bisa kujelaskan. Namun, bila Tuhan berbaik hati menyatukan kita, aku pasti akan menceritakan dan juga membayar janji padamu.
.
Pria,
.
Aku percaya, kau adalah pria yang akan terus menggenggam janji dengan setianya. Aku mohon kali ini dengarkan aku, jangan kau tulikan telingamu untuk enggan mendengar keinginanku ini. Jangan kau butakan matamu hanya karena enggan melihatku memohon dan mengiba padamu. Aku mohon, berjalanlah terus kedepan, jangan menoleh ke arahku lagi. Biarkan hanya mataku yang melihat punggungmu pergi semakin menjauh dariku. Maafkan aku, kali ini aku ingin putus.

Dari,

Aku!!

Saturday, February 8, 2014

Day4: Please forgive me, Paras

Selamat pagi, Paras.
.
.
.
Seperti apa kotamu disana? Apakah hingar bingarnya masih sama seperti awal perkenalan kita. Melalui surat yang entah keberapa kalinya kutulis ini, aku harap kali ini kau mau membalasnya. Aku harap kali ini suratku bukan hanya mampir ke tanganmu saja, tanpa kaubuka kemudian kau masukkan ke dalam laci meja kerjamu. Aku harap kau mau berbaik hati membaca suratku kali ini. Semoga hatimu terketuk sedikit saja, atau kalau pun ada alasan yang sedikit mainstream, kau terketuk untuk membaca karena jengah terus menerus menerima surat dariku ini.

.
Paras, izinkan aku meminta maaf atas ketidak-pekaanku terhadap hatimu. Benar katamu saat detik terakhir kau akan pergi meninggalkanku, bahwa aku terlalu buta! Yayaya! Kau benar Paras, aku buta, buta hati untuk melihat ke arahmu yang setia menjadi pelengkapku. Kau bisa menjadi kaki kiriku saat aku berdiri dengan kaki kananku. Kau membantuku melihat dunia baru, saat aku hanya tahu  tentang dunia yang menyakitiku. Aku memang terlalu bodoh, Paras, sangat bodoh!
.
Maksud aku mengirimkan surat ini, bukan karena aku ingin meminta hatimu kembali. Ataupun berharap kau bisa menjadi kaki kiriku lagi, aku tak ingin itu, Paras. Aku hanya ingin bercerita sedikit saja, bagaimana aku setelah tahu rasa kehilangan kamu itu seperti apa.
.
Kau bertanya padaku, saat itu apa yang sebenarnya aku cari, bukan? Jawabannya adalah aku mencari untuk kehilangan. Kau pasti bertanya, kenapa aku harus mencari kehilangan? Maka akan kujawab kembali padamu, jika saja saat itu aku tak mencari jawaban dari alasan kandasnya hubunganku dengan dia (kau pasti tau siapa), mungkin aku tak akan menemukan kehilangan itu. Karena terlalu sibuknya aku dengan keegoisanku menemukan alasan itu, aku jadi kehilanganmu. Seharusnya saja aku mengikhlaskan kehilangan itu,  agar aku tak semakin banyak menanggung kehilangan lagi.
.
Paras, kau yang ada didepanku malah luput dari pandanganku. Sedangkan dia, dia yang dengan kerendahan hatinya membuatku terluka, justru dengan leluasanya mengendalikan hatiku. Ini bodohnya aku, dan karena kebodohanku juga, aku tahu ternyata kehilangan kamu rasanya jauh lebih menyakitkan.
.
Aku tak akan meminta belas kasihan padamu. Namun, andai dalam hatimu masih ada namaku, berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Dan jika dalam hatimu sudah ada nama gadis lain selain aku, doaku untuk kebahagiaanmu selalu menyertaimu.
.
Andai saja aku tahu, bahwa kau sudah mencintaiku sejauh yang tak kukira, mungkin aku akan bahagia. Dan inilah aku, gadis bodoh yang sudah menyiakan perasaan pria baik hati yang mencintaiku sepenuh hatinya.
.
Sekarang aku mulai memahami, dibalik hatiku yang tersakiti, aku pun ternyata menorehkan luka yang sama di hatimu. Barangkali, jika bisa kulihat hatimu, aku akan melihat jutaan ukiran luka yang sudah aku buat padamu. Dan hebatnya, kau tak ingin menyalahkanku. Atau seolah ingin memberi tahu seperti apa gejolak rasa sakit yang sudah kuciptakan untukmu.
.
Kenapa kau harus berpura-pura tersenyum padaku, kenapa kau tak pernah mengatakan isi hatimu. Apakah karena aku lebih terlihat mencintai dia, dan bukannya kamu. Kenapa setelah lelah mencintaiku, kau baru mengatakan semuanya dengan kemarahanmu yang meledak-ledak itu. Saat itu aku hanya terdiam, tak tahu kalau kamu sedemikian hebatnya mencintaiku.
.
Tapi Paras, aku berterima kasih padamu. Berkat kemarahanmu, kali ini aku jadi tahu seberharga apa aku di hatimu. Dan betapa berharganya kamu buatku
.
Ah,sudahlah, aku harap kau tetap baik-baik saja dan mau melupakan rasa marahmu padaku. Jika kau hendak pulang ke bumi Paris van java ini, semoga kau ingat, ada aku dibelahan bumi ini.

.
PS:
Perlu kau tahu, saat ini aku sedang jatuh cinta sangat kepadamu, Paras.

Thursday, February 6, 2014

Day 3: UNTUK PRIA YANG SULIT KUGAPAI.

Kamu yang disana.
.
Kamu yang disana, yang enggan kusebutkan namanya. Beberapa kali duniaku seakan di jungkir balikkan oleh keinginanku memilikimu. Bayangkanlah, aku bisa dengan kuat bertahan untuk tetap mencintaimu, namun tak jarang aku ingin menyerah dan segera melupakanmu.
.
Disana, kau mungkin sedang berbahagia ketika aku tertatih menahan gejolak rindu yang membuncah. Barangkali kau sedang mencumbu mesra gadismu, saat aku tengah bersujud dan merangkulmu dengan doa. Dan barangkali juga, kau sedang tertawa bersamanya saat aku menangis memikirkanmu.
.
Kau ingin tau rasanya jadi aku? Akan kujelaskan padamu seperti apa aku ini. Dengan mulut terbungkam, aku mengagumimu. Tak ada kekuatan yang bisa membuatku memiliki nyali yang besar menyukaimu dengan gamblang. Setiap kali kau melewatiku, aku hanya terdiam dengan debaran jantung yang seakan meluluh lantahkan tenagaku. Dengan malu-malu, aku membiarkan mataku mengikuti kemana kamu melangkah. Aku jatuh cinta padamu? Iya sepertinya demikian.
.
Kamu adalah partikel kecil, yang selalu berhasil menarik perhatianku. Gerakan badanmu dan segala yang kau lakukan, menjadi hiburan gratis yang bisa kunikmati dengan leluasa. Apa yang tak kuketahui tentang kebiasanmu, aku tahu semuanya. Kau adalah penyuka warna putih dan abu. Hobimu adalah berjelajah mencari hal baru yang akan kau jadikan objek photografimu. Penyuka komik naruto. Pecinta gadget dan teknologinya. Ah, aku juga tahu, kau penyuka kwetiaw goreng seafood yang berada di sekitaran jalan Pahlawan, Bandung.
.
Tak usah heran kenapa aku tahu semuanya. Tenanglah, aku tak menyewa detektif untuk mengawasimu, karena detektif hebatnya adalah aku dan kecerdasanku. Sudah kukatakan diawal, kau adalah partikel yang sedang kunikmati setiap detailnya.
.
Kamu yang disana, aku berterima kasih banyak padamu, kau sudah mengajarkan aku apa itu arti bersabar dan menyerah. Aku rindu kamu lebih dari apapun. Tapi aku juga ingin menyerah mencintaimu,  lebih dari apapun juga

Love is not simple. And love you
Can not be a simple way.

Dari perempuan yang mencintaimu diam-diam.

Tertanda,

Aku!!

Wednesday, February 5, 2014

2nd day: Dear Joan.

Untuk kamu,

Dua bulan ini aku seperti mendapati angin segar di antara teriknya panas masalah yang menggelayutiku. Dan hal itu disebabkan oleh kamu, Joan. Ya memang, kadangkala kamu yang bersikap sok serius sesekali memang luput dari pengawasanku. Aku tak suka wajah seriusmu, kesan dingin terlukis jelas diantara kerutan kening dan wajah tanpa senyuman. Kau menakutkan berwajah seperti itu, bahkan lebih menakutkan daripada seorang wajah pembunuh bayaran.
.
Joan, dunia justru seakan berbalik tiga ratus enam puluh derajat, kau tersenyum dengan menghadirkan deretan gigi yang rapi, dan senyuman itu menghilangkan wajah menakutkanmu. Getaran pertama kurasakan saat itu juga. Seketika matamu yang memang sipit seolah hilang ditelan oleh senyum manismu. Barangkali aku jatuh cinta? Iya sepertinya begitu.
.
Joan, ada yang lucu sebenarnya yang sulit aku ungkapkan. Ketika kamu menawariku sepotong roti manis untuk kita makan berdua. Meski malu, kucubit sedikit roti itu sambil tersenyum padamu. Saat itu aku merasa Tuhan menurunkan seluruh malaikat nya untuk menciptakan suasana manis itu. Langit begitu terlihat lebih biru dari biasanya, karena mungkin jutaan kebahagiaan sedang melingkari hatiku.
.
Joan, sayangnya aku hanya bisa sebatas mengagumimu saja. Realitanya, kita terlalu berbeda. Aku hanyalah si hitam manis dari sunda, dan kau si China keturunan tionghoa. Tuhan kita pun tak sama. Saat doaku bermuara di mesjid, dan doamu bermuara di gereja. Kita terlalu berbeda, meski kadang aku berharap kita bisa sama pada akhirnya kelak.
.
Akhir kata dari ini semua, Joan, aku ingin bilang padamu, Aku suka senyum dengan deretan gigi rapimu yang indah.

Tertanda,

Miss. A.

Tuesday, February 4, 2014

1st Day: Surat Untuk Si Penata Suara.

Untuk kamu Sang Penata Suara.
.
Mungkin sudah cukup lama aku tak menyentuh kamu dan duniamu. Sejak kemarahan tanpa sebabmu padaku. Hanya karena selipan broadcast messeges yang mampir di ponselmu. Saat itu kau begitu marah. Kau terlihat murka. Dan kau menumpahkan kekesalan kepadaku yang sejatinya tak paham penyebab amarahmu.
.
Aku yakin, sebenarnya bukan broadcast messeges yang membuatmu murka kepadaku, melainkan rasa lelahmu yang menjadikan aku alasan sebagai objek pelampiasanmu. Aku yang tak paham sumber masalahmu, hanya bisa diam dan menyimpan gumpalan kekecewaan.
.
Sebenarnya, aku merindukanmu, tuan. Aku rindu kita yang dulu. Aku rindu saat kau dan aku selalu melempar cemas. Aku rindu saat seringkali aku marah padamu karena kau mengabaikan rasa sakitmu. Tak ingatkah kau padaku, saat aku sering mengemis padamu, mengemis keikhlasanmu untuk pergi ke dokter memeriksakan kesehatanmu. Aku rindu, saat kau mengajakku berbincang hangat melalui WhatsApp ataupun we chat. Aku rindu semua yang sempat kulakukan bersamamu.
.
Aku berfikir, apa mungkin kau marah padaku karena tahu aku akhirnya memiliki kekasih. Memang sejak itu aku menjauh darimu. Tapi, demi Tuhan,  aku menjauh demi kebahagiaanmu. Meski mungkin yang terfikir olehmu bukan itu.
.
Mungkin bagimu aku terkesan murahan. Karena ketika hubungan cintaku berakhir, aku kembali mendekat padamu. Tapi ketahuilah, yang kulakukan itu tak lebih dari caraku memperbaiki kerenggangan kita. Sama sekali aku tak bermaksud menjadikanmu sebagai pelarianku. Aku tak sejahat itu, Tuan, aku tahu kau orang baik. Aku tak boleh menyakitimu. Karena membuatmu terluka adalah hal terbodoh buatku.
.
Meski tak mengerti, aku akhirnya berusaha memahami hatimu. Tak mudah memang menerima sikap kasarmu padaku itu, tapi aku berusaha berfikir positif, kau sedang lelah oleh pekerjaanmu yang tak tahu waktu. Aku berusaha memahami, kau yang memang seorang penata suara, disibukkan oleh waktu yang terus menguras tenaga dan otakmu. Kau selalu menjadi bagian penting dalam sebuah konser yang di adakan oleh Erwin Gutawa. Dan aku selalu disibukkan dengan memikirkan kondisimu. Walaupun kau tak pernah tahu isi otakku itu.
.
Ah, Tuan, apakah hatimu kini bertanya dimana aku kini? Jika iya, sebenarnya aku ada, ditempat yang sama setiap harinya. Barangkali aku dulu begitu setia menantimu disini, menanti kamu yang pernah berjanji akan menjemputku lain kali. Tapi sudahlah, aku tak pernah menganggap kata-katamu itu sebagai janji. Aku tak mau membebani kamu yang seakan lupa akan janjimu sendiri. Biarlah, kamu dan janji yang tak kuanggap janji itu menguap tak berbekas.
.
Perlu kau tahu, Tuan, aku memang sudah menjauh darimu. Aku sudah tak lagi menyapamu didunia yang sudah memperkenalkan kita. Tapi ketahuilah, aku sebenarnya masih memperhatikanmu. Semua yang terjadi padamu hanya bisa kuperhatikan melalui personal status pada aplikasi Bbm-mu. Kamu tengah sakit, aku tahu. Kamu sedang lelah, aku tahu. Aku tahu semuanya.
.
Hmmm, sudahlah, ada kalanya aku pun lelah berusaha dekat denganmu. Baik-baik ya, aku hanya bisa menjadi orang yang memperhatikanmu diam-diam.

Tertanda,

Miss A.

Monday, February 3, 2014

Mantan Terindah.

Bandung begitu manis saat senja menghampiri. Langit yang berwarna jingga keemasan menambah suasana hangat dalam hatiku. Hmmm, apa kabar kamu, (mantan) kekasihku, sudah sepekan kau tak pernah membalas BlackBerry Messenger ku. Aku tahu, kau masih sangat kesal kepadaku. Kau pasti tak mengira, aku bisa dengan tegas memilih mengakhiri kisah manis kita ini.

(Mantan) kekasihku, maafkan aku yang seolah tak mau lagi berjuang bersamamu. Jangan kaufikir aku telah menemukan penggantimu. Kausalah, aku belum memiliki kekasih apalagi berani bermain api di belakangmu. Semata-mata kulakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Tak ingin kau terus menerus menjadi anak pembangkang terhadap ibumu. Aku faham, keberadaanku dalam hidupmu hanya dianggap sebagai benalu saja oleh ibumu. Beliau menganggapku sudah mengkontaminasi otakmu, sehingga kamu begitu memujaku. Beliau mengira aku yang menjadikan putra kesayangannya menjadi anak yang tak patuh lagi dan berani membangkang kepada ibu yang sudah melahirkannya. Padahal, demi Tuhan, aku tak pernah menginginkan kamu bersikap seperti itu pada kedua orang tuamu, terlebih ibumu.

(Mantan ) kekasihku, bukankah ketika restu beliau menghampiriku, beliau akan menjadi ibuku juga. Dan jika restu itu tak kunjung kudapatkan, beliau tetap menjadi ibuku. Itulah penyebab mengapa pada akhirnya aku memutuskan kisah kita. Sebelum kata durhaka keluar dari bibirnya. (Mantan ) kekasihku, aku hanya ingin kau kembali berbakti terhadap beliau. Surga jaminannya, ketika kau bisa membahagiakannya. Dan aku sama sekali tak ingin menjadi penghalang bagimu untuk mendapatkan surgamu.

Jangan berfikir aku tak menangisi semua ini. Kau adalah hal terindah yang sudah Tuhan hadirkan dalam hidupku. Bersamamu aku bisa melewati kerinduan yang berjarak ratusan kilo meter. Bersamamu aku tahu menahan rindu yang membabi buta. Pastinya, aku akan merindukanmu. Pasti sayang!

Kali ini aku harus terbiasa tanpamu. Aku tak akan mendapati suaramu melalui sambungan telepon. Tak ada lagi gurauan khas saat kau menyindirku ketika Arsenal kalah, sedangkan Manchester city menang. Tak ada lagi pria yang duduk menungguku di bangku taman kota dengan setianya. Tak ada lagi pria yang senang mencubit pipiku dengan gemasnya. Tak ada lagi pria yang manis tersenyum dengan deretan gigi rapinya. Tak ada lagi si sipit yang selalu kutemani saat bertanding basket dengan teman-temannya. Tak ada, sayang! Tak ada!

Tiga tahun menjalani itu bersamamu sungguh membuatku merasa berharga. Dan tiga tahun juga, kita terus berjuang mendapatkan restu dari ibumu.

Namun kali ini aku tak ingin banyak bertanya ataupun mengeluh kepada Tuhan. Masih pantaskah aku bertanya ini itu, sedangkan dengan baiknya Tuhan sudah menghadirkan engkau dalam hidupku.

Sudahlah sayang, jodo tak akan salah. Andai pun kau berjodo denganku, semoga perpisahan kita ini menjadi penjembatan restu ibumu untuk hubungan kita. Supaya beliau tahu, aku adalah gadis baik yang pantas menjadi menantunya. Agar beliau paham, bahwa aku tak ingin kau terus berperang dingin dengannya.

Baik-baik, ya, sayang. Tuhan akan menjamin kebahagianmu untukku. Jika kau baca tulisanku ini, kau tahu mengapa alasanku melakukan ini.

With love for you :')

@AchyNova™
Bandung, 03 Februari 2014

Sunday, February 2, 2014

Pria Penebar Harapan.

Beberapa kali kuputar otakku mengingat pada tahap mana diantara kita yang lebih dulu memberi harapan palsu. Dan kembali jawaban yang disajikan oleh kepalaku ini adalah kamu. Ya! Ya! Ya! Bukankah kamu memang yang lebih dulu ingin kupanggil AA, meskipun usia kita sama. Bahkan kamu juga yang lebih dulu memanggilku sayang setiap kali kusapa kamu melalui obrolan singkat BlackBerry Messenger. Kau juga menjanjikan sebuah pertemuan di pertengahan tahun ini. Dan bahkan seingatku juga, bukan aku yang memberikan foto untukmu, tapi kamulah yang memintaku mengirimkan foto untukmu.

Tuan, Demi Tuhan, aku memang menaruh harap padamu. Meskipun kau adalah teman masa kecilku
Saat kita masih disebut bocah ingusan. Saat kita baru merasakan cinta monyet itu seindah apa. Saat itu aku memang sempat mengagumimu. Tapi, kekaguman masa kecilku hanyalah kekaguman gadis remaja kepada pria remaja, tak lebih. Namun, tiba-tiba setelah hampir sebelas tahun kita tak bersua, kau menyapaku lagi melalui social media berbatas seratus lima puluh teman saja.

Saat itu tiba-tiba saja kau menyapaku melalui sapaan pribadi. Saat itu aku masih belum sepenuhnya ingat jika kau adalah sahabat kecilku. Wajahmu memang tak banyak berubah, hanya saja jauh terlihat sangat dewasa. Kaupun demikian, kau jelas tak mengenaliku. Aku yang memang selama tiga belas tahun ini bermetaforsa, pastilah tak mudah kau kenali. Hingga akhirnya kita saling mencoba mengingat kita yang dulu sebagai bocah ingusan.

Ah, tuan, kenapa aku begitu mempercayai kata-katamu. Kenapa aku harus percaya ucapan seorang agronomist seperti kamu? Padahal mungkin saat itu kau sedang menyusun skenario. Kau mungkin sedang membuat bualan yang melambungkan anganku. Sementara kenyataannya, kau sedang memberikan harapan palsu padaku.

Andai kau tahu, aku begitu mendamba  pertemuan itu. Pertemuan yang kaujanjikan di akhir Juli tahun ini. Saat kita sama-sama merayakan kemenangan. Kau berjanji akan mengunjungiku. Kau berjanji kita akan bertemu. Kau berjanji akan menjadikan aku objek photografimu. Dan mungkin sebenarnya semua itu adalah janji palsu.

Tuan, sebenarnya aku sempat curiga, saat kau salah menjawab BBm. Sementara aku tak menanyakan keberadaanmu kala itu. Kata-katamu yang manis, dan kau menyebut dirimu sendiri sebagai AA, semakin menjelaskan kau sedang bermain api kini. Sadar ada posisi wanita lain selain aku, aku mencoba bertanya selembut mungkin padamu. Kau menjawab dengan candaan, meskipun aku tahu saat itu kai sedang menutupi kebohongan terhadapku.

Kini, pada akhirnya kau mengakui semuanya. Saat kutanyakan siapa wanita itu sebenarnya. Diluar sangkaku, kau yang sebelumnya mengatakan tak memiliki kekasih, nyatanya tengah merajut asa bersama wanita lain. Tapi, aku tak ingin terlihat lemah. Enggan bagiku meneteskan air mata untuk pria penebar harapan palsu sepertimu. Aku cukup tahu, kamu tak sebaik seperti ucapanmu.

Ah sudahlah, aku hanya menertawakan kebodohanku saat ini. Semoga aku tak kembali terjebak pada kebodohanku oleh pria penebar harapan palsu lainnya.

With love for you :')


@AchyNova™
Bandung, 03 Februari 2014

Saturday, February 1, 2014

Aku Rindu Kamu (Yang dulu)

Sejak insiden makian pada akun path itu, aku masih tak habis pikir; pria macam apa yang sempat kukagumi sosoknya karena keramahannya. Aku sungguh tak menyangka, kau bisa semeradang itu, hanya karena Real madrid kalah oleh Barcelona. Dengan sombongnya kaumengeluarkan kata-kata kasar yang sangat jelas ditujukan buatku. Hanya karena aku mengatakan bahwa pada akhirnya Barcelona memang menang dan bisa dengan hebat mengalahkan madrid. Kau berkelakar hebat, mengatakan bahwa wasitnya curang. Sedangkan beberapa kali kuperhatikan setiap kali Madrid bertanding melawan Barcelona, selalu kalah.

Memang sungguh tak lucu, makianmu berhasil membuatku menangis dan sakit hati. Kau menghujat dan mengatakan jika aku hanya orang yang nyampah di time line, culas, dan aku adalah pendukung barc... *ah sudahlah*. Aku tahu semuanya itu untukku, sayang. Dan demi Tuhan, aku tak ingin membalasnya. Biarlah, yang penting aku cukup tahu, pria macam apa dirimu ini.

Tapi, aku masih tak habis fikir, aku sama sekali tak mengenalimu. Kali ini kau sungguh sombong. Kerogansianmu membuatku bertanya; yang mana dirimu sebenarnya?  Apakah pria yang sempat dan selalu menyapaku pada hingar bingar dunia seratus empat puluh karakter itu sama dengan pria yang bercuap-cuap kasar pada akun media sosialnya? Entahlah, tapi kali ini aku sungguh asing melihatmu.

Dimana kamu yang dulu menyenangkan itu? Yang sempat mengajakku berjalan dan berfoto ria. Pria yang pernah mengenalkan aku dengan antrian panjang di kedai ramen itu. Pria yang sungguh manis saat menawarkan jaketnya saat tahu aku sedang kedinginan. Pria yang dengan senyumnya mengulurkan tangan dan membantuku berdiri saat tersungkur jatuh. Aku rindu kamu yang dulu.

Aku mohon sayang, berhentilah menyulut emosiku. Tak perlulah kamu membuat postingan yang berhubungan dengan bola dan team nya. Semua itu justru semakin memperjarak kita. Karena sungguh aku tak peduli sehebat atau seburuk apapun team kesayangan kita, jika hal itu hanyak semakin membuat kita terus salah paham.

Aku sungguh menyayangkan semuanya. Kau bahkan tak mengucapkan selamat ulang tahun padaku, mungkin karena kau masih kesal denganku. Tapi apakah aku membalasnya? Tidak, sayang! Dengan teliti ku kumpulkan foto-fotomu, kurangkai dan kuhias untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Kita yang hanya terpaut lima hari dari tanggal kelahiran kita, membuat otakku merekam sempurna tanggal lahirmu. Aku belajar ikhlas andai pun kau tak melakukan hal yang sama denganku. Di mataku kamu masih superman yang menyenangkan. Bagian itu adalah caraku memperbaiki hubungan denganmu.

Sungguh, tiap kali melihat statusmu, membuatku selalu merindukan sosokmu yang dulu. Sosok yang selalu bercerita padaku siapa wanita yang disukainya. Siapa wanita yang ingin didekatinya. Aku bahagia mendengarkan itu. Meski tanpa kusadari ternyata aku diam-diam menyukaimu.

Aku mohon, sayang, kembalilah seperti dulu. Seperti pertama kali aku mengenalmu yang ramah.

With love for you :')

@AchyNova™
2 Februari 2014