Luka hati wanita ini tak pernah sesakit yang kulihat. Masih dengan mata berkaca-kaca, dan ujung hidung yang memerah dia menceritakan segala lukanya padaku. Dan sebagai perempuan, dapat kupahami betul semuanya. Rasa sakitnya pasti tak akan mudah dilupakan begitu saja.
Sebejad itukah pria ini, padahal wanita ini dengan sekuat tenaganya bertahan dan memperjuangkan sesuatu yang seharusnya dia lepaskan sejak lama. Berulang kali kumarahi dia karena enggan menyerah dan terus bertahan dengan luka. Dan lagi-lagi dia berkata,"Aku akan berjuang semampuku." Ah aku benci jika dia sudah berkata demikian, karena kata-kata itu mampu membuatku akhirnya terbungkam.
Wanita ini terlihat perkasa dibalik kelemahannya. Didepan pria ini, dia bisa berubah menjadi apapun yang diinginkan pria ini. Aku memahami, karena memang pria ini adalah pria yang sudah sekian lama didambanya. Tiga tahun dia terus bersabar dan menunggu hati pria ini akan luluh. Beberapa kali dia mengalami penolakan dan pengabaian, tapi dia tetap berjuang. Kumarahi dia dengan tindakan gila dan bodohnya. Dan lagi-lagi aku meradang dengan mulut terbungkam ketika dia berkata, "kau tak memahami aku, karena kau tak pernah tahu apa itu cinta. Aku mencintainya, dan kau tak berhak melarangku."
Ah, andai wanita bodoh ini tahu, aku pun tahu rasanya jatuh cinta, barangkali dia tak akan seenak jidatnya berkata seperti itu. Sesekali aku ingin meninggalkan dia dalam kubangan luka yang dia gali sendiri. Bukankah dia tak butuh aku, karena aku tak berhak melarang dia mencintai pria gila itu. Tapi aku sungguh tak tega. Meskipun watakku yang keras aku masih punya banyak hati untuk tak begitu saja meninggalkan temanku yang bodoh ini terluka sendirian.
"Aku sedih. Sedih sekali. Dimana perasaan dia ketika untuk kesekian kalinya membuatku terluka lagi?" Dengan uraian air matanya dia terus menangis. Mulutnya tak henti menceracau keadaan dan sikap si pria yang jelas tak mempedulikannya. Kali ini aku tak banyak bicara. Rasanya pukpuk kecil jauh lebih dia butuhkan saat ini daripada sejuta nasihat yang akan meluncur dari mulutku. Ah, andai saja aku mampu, sejatinya aku ingin bilang pada gadis ini, betapa air matanya terlalu mahal untuk pria itu. Betapa seharusnya dia segera bangkit dan meninggalkan pria bodoh itu.
"Sudahlah jangan nangis lagi", hanya kata itu yang kuucapkan padanya, dengan pelukan hangat dan pukpuk kecil yang semoga saja memberikan dia ketenangan.
"Dia pergi begitu saja, meninggalkan aku sendirian. Hanya karena ada Liana, perempuan freak yang dia cintai. Aku benci, Bi, benci. Tapi aku mencintai dia. Aku tahu dia menjadikanku kekasihnya hanya karena kasihan. Dan itu sudah lebih dari cukup buatku. Apa yang aku lakukan ini benar, kan, Bi?" Tangisannya semakin pecah dengan jutaan kata yang dia teriakkan.
Aku masih tetap diam. Tak berani sedikitpun kukatakan padanya, bahwa sudah seharusnya perempuan ini menyerah dari awal.
"Cal, dengarkan aku setidaknya untuk kali ini saja. Perkara kehilangan tidak mungkin tak menyakitkan. Tapi yakinlah, kehilangan itu adalah bagian dari cara Tuhan menunjukkan bahwa dia belum bisa jadi orang yang tepat buat kamu." Entah ada angin apa kata-kata itu meluncur dengan anggunnya dari bibirku. Padahal sebelumnya aku sendiri memutuskan untuk tak mengeluarkan kata apapun.
Sebelum kulanjutkan lagi perkataanku, aku menghela nafas sejenak, memperhatikan apakah kali ini dia bisa mendengarku atau bahkan akan menolak mendengarkan perkataanku. Kulihat Calista mulai tertarik mendengarkanku. Barangkali ini kesempatanku menelaah masalahnya dengan menerapkan pengalamanku dalam menilai luka.
"Cal, dalam hal ini bukan hanya kamu yang pernah terluka. Aku pun pernah. Bahkan mungkin lebih extrim dari apa yang kamu rasakan. Kamu dengan sangat tegar menunggu Ilham berbalik arah dan melihatmu. Dan aku juga pernah dengan sangat kuat mencari cinta pertamaku. Kamu berjuang selama tiga tahun, sedangkan aku hampir enam tahun. Tak sedikitpun aku merasa lelah menemukan dia. Meski beberapa kali harus menelan kenyataan pahit bahwa aku tak tau dimana dia. Terakhir kudengar kabar dia masuk militer. Tapi kabar itu seakan menguap tanpa pembuktian apapun. Detik-detik dimana aku hampir menyerah, Tuhan menurunkan kebaikannya. Tuhan membiarkan aku menemukan dia melalui akun facebooknya. Tak ada yang berubah darinya. Semua masih terlihat sama. Lantas apakah menurutmu masalah pencarianku selesai, Cal?" Aku coba bertanya kepada Calista masalah itu, menunggu simbol jawaban yang akan dia kemukakan padaku.
"Sepertinya selesai, Bi." Jawabnya singkat disertai dengan anggukkan kepalanya.
Aku menyunggingkan senyuman. Seraya menepis jawabannya, "tidak sedemikian mudah, Cal. Iya. Masalah pencarianku memang telah selesai. Tapi keinginan menemukannya saat itu berubah menjadi keinginan untuk memilikinya. Sekuat tenaga aku berusaha membuatnya agar mau menolehku. Sama sepertimu, aku pun rela terluka berdarah-darah hanya demi dia. Untuk beberapa bulan aku merasa bisa mendapatkannya. Melihat antusias dia terhadapku yang tinggi, aku semakin tinggi hati. Itulah bodohnya aku, aku terlalu tinggi harap sehingga lupa mempersiapkan hati dengan kegagalan. Dan kamu tahu, Cal, aku justru terbunuh oleh harapanku sendiri."
"Lantas apa yang kamu lakukan, Bi?"
"Menurutku kamu beruntung, Cal, aku yang keras tak setega itu ninggalin kamu. Saat itu aku bangkit sendiri. Menyembuhkan luka sendiri. Dan buat percaya lagi cinta itu enggak gampang. Makanya, jangan kamu pikir masalahmu adalah masalah paling sulit, Cal, tiap orang punya caranya sendiri perihal luka, semoga kau paham ini. Karena jika harus kukatakan jujur, aku lelah setiap melihat penyebab tangisanmu adalah Ilham.".
"Buka mata kamu, Cal, pria tak selesai di Ilham saja. Lihat masih ada Ilham lain yang lebih pantas buat kamu. Sekarang saranku, berhenti kegilaan kamu pada Ilham, cari hal atau apapun itu yang bikin mata kamu terbuka. Sibukkan diri kamu dan satu hal lagi, coba buka hati kamu pada pria yang peduli sama kamu."
Continued...