Monday, December 8, 2014

Aku bukan pemenang

Kepada yang terhormat,
Tuan Masa lalu.

Hai, Tuan, bagaimana kabarmu kali ini? Baik-baik sajakah? Kuharap kau bisa menjaga diri setelah bukan aku lagi yang memperhatikan dirimu. Ya, pada bagian ini bukan aku yang tak memedulikanmu, tapi keinginanmulah yang menginginkan aku berhenti untuk manjadi penghuni kerajaan dalam kehidupanmu.

Ah, siapa aku bagimu, selain hanya kau pungut sejenak dan setelah tak diperlukan lagi kau buang aku dengan sangat tidak terhormat. Padahal, kukira aku adalah perempuan yang akan kau muliakan hidupnya. Yang sejatinya akan kau jadikan istri dan ibu bagi anak-anakmu kelak. Semesta pun sepertinya tahu, kau selalu berkelakar tentang pernikahan dan anak kita masa depan, bukan aku. Kau hanya meninggikan harap lalu kau hempaskan setelah bosan.

Hebatnya dirimu, Tuan, kau menyembunyikan aku dari keramaian dunia yang (menurutmu) menyenangkan itu. Meski kau berdalih jika kau malu memiliki hubungan denganku untuk apa kau selalu mengajakku jalan keluar? Ah, bisa saja, lagipula kau membawaku pada keramaian dunia dimana yang terdapat didalamnya bukanlah orang-orang yang kamu kenal. Realitanya aku memang kau sembunyikan. Aku memang tak berarti bagimu.

Sialan!! Kenapa aku harus bertekuk lutut pada pria sepertimu. Kenapa aku harus mencintai pria yang tak pernah tulus mencintaiku. Kenapa aku harus mau direndahkan oleh pria yang selalu kuagungkan keberadaannya.

Bahkan hingga akhirnya aku menangis oleh ulahmu, kau masih bisa tertawa dan bersenang-senang. Kau samasekali tak memedulikan bagaimana merasa terhinanya keluargaku oleh kamu. Apa salah mereka padamu, padahal jelas, ibu yang melahirkanku saja dengan terang mengatakan dia menyayangimu. Ibu yang tak bersalah ini pun harus mengubur harap ketika kau yang disayanginya tak akan jadi menantunya.

Aku bisa apa? Aku tahu diri, sakitku adalah sakit ibuku. Tangisanku adalah tangisan ibuku. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku harus bermain drama didepan mereka. Aku menyembunyikan tangisan kala kuingat kau sebegitu jahat padaku, tuan.

Bahkan hingga detik ini, aku rasa-aku sudah mahir memainkan peran ini, di depan semua orang pun aku seperti orang yang tak memikirkan sakit. Padahal kenyataannya, aku masih terseok-seok untuk kembali bisa bangkit.

Tuan, tenang saja, aku sudah memaafkanmu. Tapi, bukan berarti aku tak akan mengingat semua yang sudah kauperbuat padaku. Aku tak akan membencimu. Biar bagaimanapun, kau sudah lebih dulu pernah membuat aku bahagia.

Rasanya tak perlu aku membuang waktu mendoakan keburukan untukmu. Sekedar mengucapkannya pun aku malas. Semua perbuatanmu padaku, biarlah urusanmu dengan Tuhan, aku tak akan ikut campur lagi.

Terima kasih sudah mampir dalam kehidupanku, Tuan masa lalu.

Bandung, 30 Des 2014
©achynova

No comments:

Post a Comment