Saturday, February 8, 2014

Day4: Please forgive me, Paras

Selamat pagi, Paras.
.
.
.
Seperti apa kotamu disana? Apakah hingar bingarnya masih sama seperti awal perkenalan kita. Melalui surat yang entah keberapa kalinya kutulis ini, aku harap kali ini kau mau membalasnya. Aku harap kali ini suratku bukan hanya mampir ke tanganmu saja, tanpa kaubuka kemudian kau masukkan ke dalam laci meja kerjamu. Aku harap kau mau berbaik hati membaca suratku kali ini. Semoga hatimu terketuk sedikit saja, atau kalau pun ada alasan yang sedikit mainstream, kau terketuk untuk membaca karena jengah terus menerus menerima surat dariku ini.

.
Paras, izinkan aku meminta maaf atas ketidak-pekaanku terhadap hatimu. Benar katamu saat detik terakhir kau akan pergi meninggalkanku, bahwa aku terlalu buta! Yayaya! Kau benar Paras, aku buta, buta hati untuk melihat ke arahmu yang setia menjadi pelengkapku. Kau bisa menjadi kaki kiriku saat aku berdiri dengan kaki kananku. Kau membantuku melihat dunia baru, saat aku hanya tahu  tentang dunia yang menyakitiku. Aku memang terlalu bodoh, Paras, sangat bodoh!
.
Maksud aku mengirimkan surat ini, bukan karena aku ingin meminta hatimu kembali. Ataupun berharap kau bisa menjadi kaki kiriku lagi, aku tak ingin itu, Paras. Aku hanya ingin bercerita sedikit saja, bagaimana aku setelah tahu rasa kehilangan kamu itu seperti apa.
.
Kau bertanya padaku, saat itu apa yang sebenarnya aku cari, bukan? Jawabannya adalah aku mencari untuk kehilangan. Kau pasti bertanya, kenapa aku harus mencari kehilangan? Maka akan kujawab kembali padamu, jika saja saat itu aku tak mencari jawaban dari alasan kandasnya hubunganku dengan dia (kau pasti tau siapa), mungkin aku tak akan menemukan kehilangan itu. Karena terlalu sibuknya aku dengan keegoisanku menemukan alasan itu, aku jadi kehilanganmu. Seharusnya saja aku mengikhlaskan kehilangan itu,  agar aku tak semakin banyak menanggung kehilangan lagi.
.
Paras, kau yang ada didepanku malah luput dari pandanganku. Sedangkan dia, dia yang dengan kerendahan hatinya membuatku terluka, justru dengan leluasanya mengendalikan hatiku. Ini bodohnya aku, dan karena kebodohanku juga, aku tahu ternyata kehilangan kamu rasanya jauh lebih menyakitkan.
.
Aku tak akan meminta belas kasihan padamu. Namun, andai dalam hatimu masih ada namaku, berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Dan jika dalam hatimu sudah ada nama gadis lain selain aku, doaku untuk kebahagiaanmu selalu menyertaimu.
.
Andai saja aku tahu, bahwa kau sudah mencintaiku sejauh yang tak kukira, mungkin aku akan bahagia. Dan inilah aku, gadis bodoh yang sudah menyiakan perasaan pria baik hati yang mencintaiku sepenuh hatinya.
.
Sekarang aku mulai memahami, dibalik hatiku yang tersakiti, aku pun ternyata menorehkan luka yang sama di hatimu. Barangkali, jika bisa kulihat hatimu, aku akan melihat jutaan ukiran luka yang sudah aku buat padamu. Dan hebatnya, kau tak ingin menyalahkanku. Atau seolah ingin memberi tahu seperti apa gejolak rasa sakit yang sudah kuciptakan untukmu.
.
Kenapa kau harus berpura-pura tersenyum padaku, kenapa kau tak pernah mengatakan isi hatimu. Apakah karena aku lebih terlihat mencintai dia, dan bukannya kamu. Kenapa setelah lelah mencintaiku, kau baru mengatakan semuanya dengan kemarahanmu yang meledak-ledak itu. Saat itu aku hanya terdiam, tak tahu kalau kamu sedemikian hebatnya mencintaiku.
.
Tapi Paras, aku berterima kasih padamu. Berkat kemarahanmu, kali ini aku jadi tahu seberharga apa aku di hatimu. Dan betapa berharganya kamu buatku
.
Ah,sudahlah, aku harap kau tetap baik-baik saja dan mau melupakan rasa marahmu padaku. Jika kau hendak pulang ke bumi Paris van java ini, semoga kau ingat, ada aku dibelahan bumi ini.

.
PS:
Perlu kau tahu, saat ini aku sedang jatuh cinta sangat kepadamu, Paras.

No comments:

Post a Comment