Saturday, December 13, 2014

Aku hanya takut, Ayah...

Ayah, belum pernah aku merasakan ketakutan seperti ini. Belum pernah aku merasakan bayangan kehilangan seperti ini. Ini baru terjadi. Kali ini.

Ayah, semoga di sisa waktumu, aku bisa merasakan bagaimana saat kelak kau menggenggam tangan pria yang akan kusebut suami. Kau merapalkan namaku pada ijab kabul yang kelak berlangsung. Meski dengan terbata, kau tetap berusaha agar semuanya berjalan lancar.

Duduk diantara kita, ada perempuan cantik yang setia menunggu di barisan lainnya. Menahan haru karena bisa menyaksikan putri kecilnya bersanding dengan pria terbaik dari Tuhan. Perempuan yang selama beberapa dekade mengabdikan dirinya padamu, dan dengan penuh kasih sayang membesarkanku.

Ayah, ibu, berjanjilah kalian akan bertahan sampai aku bisa mewujudkan keinginan itu. Doakanlah aku agar keberkahan selalu menyertaiku.

Perihal pria yang baru saja menyakiti hati putrimu ini, berjanjilah untuk tak membencinya. Dia hanya belum siap menjadikan putrimu ini sebagai istrinya. Dia mungkin lebih mendamba gadis lain untuk menjadi istrinya, bukan aku. Tak apa, ayah, aku percaya, kelak tangan pria yang tepat yang akan mencium punggung tanganmu, kemudia dia akan berkata padamu, "izinkan aku menjaga putrimu dan menjadikannya istri juga ibu dari anak-anakku".

Ayah, sekarang aku senang memperhatikan tawa lepasmu saat sedang menyaksikan acara TV favoritmu. Agar kelak ketika aku merindukanmu, aku bisa mengingat tawa itu, walaupun mungkin kuingat dalam balutan tangis yang tak henti.

Ayah, aku hanya takut. Aku sedang sangat takut. Takut kehilanganmu. Takut kehilangan rasa cemasmu yang terkadang berlebihan dan menyebalkan. Takut jika Tuhan mengambilmu dariku.

Aku hanya takut, Ayah...

15 Desember 2014

@AchyNova

No comments:

Post a Comment