Hai Hati,
Aku adalah logika yang selalu mencerna setiap bisikan-bisikanmu. Kamu pasti sedikit kesal denganku, beberapa kali kau memberitahuku tentang apa itu cinta, baik-tidaknya untukku, namun seringkali aku mengabaikanmu.
Hati,
Sesekali aku ingin mendengarkanmu, tapi kadang aku lebih suka berfikir dengan kenyataan yang sudah jelas ada di depan mata. Aku tak suka berkhayal, atau berimajinasi dengan hal yang belum tentu berbuah manis.
Memang tak salah, terkadang imajinasi bisa membuatku bahagia, itu betul. Tapi, untuk apa berimajinasi, karena semua imajinasi ibarat mimpi yang tak akan terjadi. Aku sebenarnya pernah mengikuti bisikanmu, hasilnya adalah aku terluka. Benarkah, kamu adalah sesuatu yang tak pernah salah. Lantas, benarkah kamu tak pernah salah? Ah, barangkali aku mungkin salah mendengarkan. Bukan kamu yang sedang kudengarkan, mungkin fikiranku yang saat itu kudengarkan.
Hati,
Seberapa sering kau kuabaikan, tapi kau selalu memberikan bisikan yang tak pernah kugubris. Mungkin, jika aku lebih bersahabat denganmu aku tak akan seterluka sekarang. Seringkali aku berakhir menyesal karena tak perna mendengarkanmu. Aku pun sering menangis, karena bodoh tak mendengarkanmu.
Ah, hati,
Kuharap kau tak bosan mengingatkanku. Kuharap aku akan lebih menurunkan ego dan bisa bersahabat baik denganmu. Jangan bosan menjadi sahabatku, walau kadang aku sering tak menggubrismu.
Dari aku,
Logika.
No comments:
Post a Comment