Selepas kerja segera aku bergegas pulang menuju kost ku. Dapat kubayangkan bagaimana berantakannya tempat tinggalku itu. Sudah tiga hari ayahku menginap disini. Dan baru senin ini beliau pulang ke rumah.
Sesampainya di kost ku aku bermaksud mengisi ulang wadah beras yang sudah mulai menipis. Aku tahu, dua hari yang lalu beras di masak oleh ayahku sehingga persediaan beras pun bisa dikatakan habis. Aku tak mempersoalkan beras itu sedikitpun, lagipula memang sudah waktunya aku mengisi beras lagi. Aku memang sempat agak meradang, ketika kubuka magic com masih tersisa nasi yang agak banyak. Kesal luar biasa, kenapa ayahku harus menanak nasi banyak. Ah, sudahlah, mau marah pun tak pantas. Segera saja aku bergegas ke dapur untuk mengambil wadah beras. Saat aku mengambilnya, aku sedikit heran ada bungkusan kantong hitam didalamnya. Saat aku buka ternyata isinya adalah beras. Ya Allah aku menangis sejadi-jadinya saat itu juga. Entah kenapa bayangan masa depan terasa begitu kelam di pelupuk mataku. Sedihnya lebih sedih daripada bayangan aku yang akan segera ditinggalkan kekasihku. Entah kenapa semua bayangan berseliweran di kepalaku. Bagaimana jika aku tidak bisa membahagiakan mereka? Bagaimana jika aku menikah tanpa di dampingi mereka? Bagaimana jika bukan ayahku yang menjadi wali dalam pernikahanku kelak. Bagaimana jika anak-anakku tak mengenal sosok kakek neneknya?
Seketika saja perasaan bersalah muncul. Aku merasa menjadi anak paling egois. Aku hanya memikirkan kebahagiaanku saja. Padahal orang tuaku masih saja memikirkan kondisiku di usiaku yang sudah besar ini. Benar kata pepatah, kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Dalam keadaan yang serba seperti ini pun, beliau mungkin ketakutan jika anaknya akan kelaparan karena jauh dari mereka.
Ya Allah, sebelum aku sukses membahagiakan mereka, sehat dan panjangkanlah usia mereka. Aku ingin melihat rinai kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Aku ingin mendengar kata "ini cucuku" saat aku melahirkan anakku kelak. Jangan lagi ada tangisan untukku dari mata mereka, kecuali tangisan kebahagiaan ketika melihat aku menikah dengan pria terbaik pilihan-Mu.
Ya Allah, mereka berharga untukku. Aku sayang mereka. Jaga mereka dan berkahilah kehidupan mereka. Aamiin.
Bandung, 11 Desember 2014.
@AchyNova.
P.s.
Masih berbalut air mata kutuliskan ini. Tulisan yang kudedikasikan untuk kedua orang tuaku yang hebat. Aku sayang kalian.
No comments:
Post a Comment