Hujan masih turun dengan setianya. Membasahi bumi pertiwi yang seakan rindu akan rintik raksasanya. Ia berhasil membuat ribuan orang terdiam. Menjegal langkah-langkah mereka menuju tujuannya. Beberapa orang ada yang menggerutu, ada pula yang terdiam bungkam dengan pandangan kosongnya melihat hujan manis ini. Dan aku dengan beberapa orang yang entah siapa justru bahagia dengan hujan ini, karena aku bisa menangis tanpa diketahui orang-orang.
Beberapa hari ini kegelisahan mulai membelai manja kebahagiaanku. Entah kenapa ia seperti sedang memberikan pertanda bahwa ada sesuatu dengan kekasihku. Sudah dua minggu aku tak bertatap mata dengannya, tak ada teguran sapa ataupun ucapan selamat pagi yang mampir di ponselku. Semua serba datar, abu-abu, dan tak lagi berwarna.
Sebagai kekasihnya aku seperti tak memiliki hak mutlak untuk merindukannya. Aku seperti di paksa untuk menahan rindu dalam diam. Di matanya aku tak lebih dari perempuan lebay dan menyebalkan jika ku-orasikan rasa rindu dan khawatirku padanya.
Perlahan juga, aku mulai terbiasa dengan kicauan pada personal messege BBm nya. Bagaimana dia dengan gamblang memuja perempuan yang itu bukan aku. Bagaimana dia berharap keadaan dimana hanya ada dia dan perempuan itu. Atau ketika dia berkata tentang ketidakmampuannya untuk bangkit jika dia masih mencintai perempuan itu.
Rasanya aku ingin menjerit sekencang-kencangnya. Aku sungguh iri pada perempuan itu. Meski sudah tak berstatus kekasihnya, perempuan itu masih memiliki tempat yang istimewa di hati kekasihku. Sedangkan aku, hanya jadi pelengkap saja ketika sepi menghampirinya.
Ini memang salahku, aku terlalu lebih mencintai dia sebelum dia mencintaiku. Sehingga mungkin rasa yang dia balas padaku tak lebih dari rasa iba melihatku, bukanlah sepenuhnya perasaan cinta.
Dalam hati aku masih berharap dia bisa menempatkan aku di posisi yang paling istimewa di hatinya. Mungkin saat ini dia hanya belum saja tersentuh dengan kebaikan dan ketulusanku saja-semoga. Barangkali perempuan itu memang memiliki pesona lain bagi kekasihku. Tapi aku percaya ketulusanku jauh di atas segalanya.
Hujan sudah mulai berhenti, kuputuskan untuk segera beranjak dari sini. Rasanya aku tak suka tangisanku mulai di ketahui orang. Mereka sepertinya mulai menyadari ada gurat tangis dalam diamku ini.
No comments:
Post a Comment