Sunday, February 2, 2014

Pria Penebar Harapan.

Beberapa kali kuputar otakku mengingat pada tahap mana diantara kita yang lebih dulu memberi harapan palsu. Dan kembali jawaban yang disajikan oleh kepalaku ini adalah kamu. Ya! Ya! Ya! Bukankah kamu memang yang lebih dulu ingin kupanggil AA, meskipun usia kita sama. Bahkan kamu juga yang lebih dulu memanggilku sayang setiap kali kusapa kamu melalui obrolan singkat BlackBerry Messenger. Kau juga menjanjikan sebuah pertemuan di pertengahan tahun ini. Dan bahkan seingatku juga, bukan aku yang memberikan foto untukmu, tapi kamulah yang memintaku mengirimkan foto untukmu.

Tuan, Demi Tuhan, aku memang menaruh harap padamu. Meskipun kau adalah teman masa kecilku
Saat kita masih disebut bocah ingusan. Saat kita baru merasakan cinta monyet itu seindah apa. Saat itu aku memang sempat mengagumimu. Tapi, kekaguman masa kecilku hanyalah kekaguman gadis remaja kepada pria remaja, tak lebih. Namun, tiba-tiba setelah hampir sebelas tahun kita tak bersua, kau menyapaku lagi melalui social media berbatas seratus lima puluh teman saja.

Saat itu tiba-tiba saja kau menyapaku melalui sapaan pribadi. Saat itu aku masih belum sepenuhnya ingat jika kau adalah sahabat kecilku. Wajahmu memang tak banyak berubah, hanya saja jauh terlihat sangat dewasa. Kaupun demikian, kau jelas tak mengenaliku. Aku yang memang selama tiga belas tahun ini bermetaforsa, pastilah tak mudah kau kenali. Hingga akhirnya kita saling mencoba mengingat kita yang dulu sebagai bocah ingusan.

Ah, tuan, kenapa aku begitu mempercayai kata-katamu. Kenapa aku harus percaya ucapan seorang agronomist seperti kamu? Padahal mungkin saat itu kau sedang menyusun skenario. Kau mungkin sedang membuat bualan yang melambungkan anganku. Sementara kenyataannya, kau sedang memberikan harapan palsu padaku.

Andai kau tahu, aku begitu mendamba  pertemuan itu. Pertemuan yang kaujanjikan di akhir Juli tahun ini. Saat kita sama-sama merayakan kemenangan. Kau berjanji akan mengunjungiku. Kau berjanji kita akan bertemu. Kau berjanji akan menjadikan aku objek photografimu. Dan mungkin sebenarnya semua itu adalah janji palsu.

Tuan, sebenarnya aku sempat curiga, saat kau salah menjawab BBm. Sementara aku tak menanyakan keberadaanmu kala itu. Kata-katamu yang manis, dan kau menyebut dirimu sendiri sebagai AA, semakin menjelaskan kau sedang bermain api kini. Sadar ada posisi wanita lain selain aku, aku mencoba bertanya selembut mungkin padamu. Kau menjawab dengan candaan, meskipun aku tahu saat itu kai sedang menutupi kebohongan terhadapku.

Kini, pada akhirnya kau mengakui semuanya. Saat kutanyakan siapa wanita itu sebenarnya. Diluar sangkaku, kau yang sebelumnya mengatakan tak memiliki kekasih, nyatanya tengah merajut asa bersama wanita lain. Tapi, aku tak ingin terlihat lemah. Enggan bagiku meneteskan air mata untuk pria penebar harapan palsu sepertimu. Aku cukup tahu, kamu tak sebaik seperti ucapanmu.

Ah sudahlah, aku hanya menertawakan kebodohanku saat ini. Semoga aku tak kembali terjebak pada kebodohanku oleh pria penebar harapan palsu lainnya.

With love for you :')


@AchyNova™
Bandung, 03 Februari 2014

No comments:

Post a Comment