Tuesday, October 14, 2014

Pernah ada kamu di sujud terakhirku

Beberapa waktu lalu, tak sengaja kulihat kau berteman dengan kekasihku pada sosial media path. Aku tahu itu kamu, meski saat itu foto yang digunakan adalah bayi kecil mungil yang cantik. Ada debaran-debaran kecil yang kurasa, berusaha meyakinkan diri itu memang kamu. Ada hasrat yang memaksa untuk aku menambahkanmu juga sebagai temanku. Namun kuurungkan jua niat itu. Aku rasa tak perlulah kali ini aku berteman denganmu, belum tentu kamu masih ingat aku. Kita sudah empat tahun tak bertemu.

Aku seperti memutar kenangan yang sudah terjadi empat tahun silam. Aku ingat dengan jelas bagaimana tanggal dua November Dua ribu sepuluh, kita pernah bercengkerama dan bertatap dalam sekat tak berbatas. Duduk ditemani tarian-tarian ikan koi dipinggir kolam tempat kita makan. Sambil menikmati kwetiaw goreng seafood, cappucino float, dan juga cah kangkung seafood lengkap beserta nasi yang kausantap. Itu adalah moment indah bagiku, tuan.

Kau adalah keindahan yang Tuhan izinkan kunikmati. Tuhan begitu baik, sehingga tanpa sadar kusebut namamu dalam tiap akhir sujudku. Aku lupa, apakah saat kusebut namamu itu ada tangisan yang menyapa pipiku atau tidak, yang jelas aku hanya mendamba dan ingin agar Tuhan mempersatukan kamu dan aku.

Tuan, aku pernah mencintaimu selama hampir tiga tahun. Meski kau memperlakukan aku tak ubahnya seperti pengemis yang mencari-cari sesuap informasi tentang dirimu. Aku bingung, kemana lagi aku bisa menemukan kabarmu. Sedangkan nomor ponselmu saja sudah kau ganti dan tak memberi tahuku.

Ini memang tolol, aku tahu itu, gadis yang baru pertama kali bertemu denganmu itu, nyatanya sudah jauh lebih dulu jatuh cinta padamu saat masih menjadi mahasiswa. Kau mungkin tak habis pikir, bagaimana bisa si gadis dungu ini bisa menyukai kamu yang saat itu sudah berstatus kekasih orang lain.

Eh, tapi apa bedanya, ya, saat bertemu denganku pun kau tetap berstatus sebagai kekasih gadis lain yang kini menjadi istrimu.

Ah, tuan, aku terkadang aku merasa iri hati pada istrimu. Posisinya kini adalah posisi yang sempat ku impikan. Aku begitu ingin orang tuamu menjadi mertuaku. Aku begitu mendamba, menjadi adik ipar bagi kedua kakak laki-lakimu. Aku begitu bermimpi menjadi tante bagi dua keponakan laki-laki, dan satu keponakan perempuanmu yang cantik.

Dan maaf, aku sedikit memperhatikanmu kini, kenapa kali ini kau tak setampan saat kita bertemu? Kau tak terlihat lagi begitu mempesonaku? Sepertinya istrimu - jika aku tak salah prediksi, istrimu tak terlalu pandai mengurusimu. Kau terlihat lebih tua enam tahun dariku. Padahal usia kita sama dan hanya berjarak tiga bulan saja. Istrimu tak pandai memilihkan pakaian yang cocok untukmu, tuan. Maaf aku harus mengatakan ini. Ini hanya prediksiku saja.

Andai aku adalah istrimu, akan kubuat kau sesempurna mungkin. Tak akan pernah ku izinkan kau menggunakan kemeja kotak-kotak lengan pendek, itu hanya membuatmu tampak tua, sungguh. Aku pun tak akan membiarkan ada rambut-rambut halus memenuhi bagian diantara bibirmu. Kau harus menggunakan kemeja lengan panjang dengan ukuran slim fit yang pas dibadan atletismu. Kau harus terlihat lebih menarik karena kau memang menarik. Kau harus rapi tapi tidak meninggalkan kesederhanaanmu.

Ah, sudahlah, itu hanya hal yang aku sayangkan. Apapun kamu saat ini, bukan urusanku. Dan kembali pada paragraf awal, tanpa aku sangka, kau ternyata masih mengingatku. Kau ingat dengan jelas, tempat kita pernah makan berdua. Kau bahkan (pada akhirnya) mengucapkan selamat ulang tahun, pada perayaan hari lahirku.

Akhir kata, aku memang pernah menyebut namamu di akhir sujudku, dan aku tak menyesali itu. Bukankah terkadang Tuhan hanya mempertemukan saja, bukan mempersatukan. Setidaknya aku pernah mencecap rasa bahagia bersamamu. Terima kasih untuk kenangan manis empat tahun lalu. Aku bangga pernah mencintai pria sepertimu.

Bandung, 31 Desember 2014
With love for you,

@achynova™

No comments:

Post a Comment