"Sah!!" Begitulah suara yang bergema dari para saksi pada akad pernikahan kita. Aku masih belum percaya bahwa aku dan kamu kini sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Padahal masih jelas dalam ingatanku, bagaimana kamu untuk pertama kalinya mengajakku berbincang pada dunia abstrak tak bersekat.
Sayang, begitu manis Tuhan menautkan kita. Bahkan dengan cara yang tak kumengerti. Andai aku tahu sebelumnya jika kamu adalah jodohku, kenapa Dia tak persatukan kita saat kita masih menjejak lantai dan gedung yang sama? Kenapa kita harus dipisahkan dulu jarak, bahkan hingga detik menuju pernikahan kita. Kita harus melalui jarak jutaan mil, melewati hamparan daratan dan samudra yang membentang. Kau berlayar, dan aku terduduk di depan komputer.
Tak pernah sedikitpun aku berani bermimpi, bahkan membayangkan kita akan benar-benar bertemu, sayang. Meski kau menjanjikan pertemuan saat kau berlabuh nanti, tapi sejujurnya saja aku tak berani memegang janjimu itu. Jujur saja aku takut, takut jika janji itu tak pernah engkau penuhi dan aku terlanjur berharap banyak.
Dan harus kuakui, kamu memang pria sejati yang memegang janjimu itu. Tiga hari sebelum kau berlabuh dan memutuskan pulang dulu ke Cirebon; kota kelahiranmu, kau mengabariku dan meminta PIN juga nomor ponselku, aku hanya mengikuti permintaanmu tanpa banyak berfikir tentang pertemuan.
Dan hebatnya kau datang tepat didepan mataku, memberi senyuman dan lambaian tangan pertanda sapaan di teriknya matahari.
"Hai, Tiara."
Seperti itulah sapaan pertamamu untukku. Uniknya, kau dan aku tak lagi kaku seperti saat dulu. Kita sudah sedikit saling mengenal, aku dan kamu.
Intensitas pertemuan kita berujung pada caramu mengkhawatirkan aku. Rasanya ada hal yang berbeda setiap kali mata kita saling beradu. Rasaku padamu dulu, kini bertumbuh lagi. Aku mencintaimu lagi, aku mengagumimu lagi, dan aku menginginkanmu lagi.
Luar biasanya caramu membuktikan cinta padaku membuatku tak bisa menolak pinanganmu. Di sisa akhir tiga bulan cutimu, kau memperkenalkanku pada kedua orang tuamu. Kau dan keluargamu pun langsung melamarku pada orang tuaku. Padahal belum pernah sekalipun kau bilang kau mencintaiku. Dan sama sekali aku merasa tak memiliki hubungan cinta denganmu. Yang aku tahu, kita hanya dekat, namun harus disebut apa kedekatan kita? Entahlah.
Febri, enam bulan setelahnya kupersiapkan pernikahan kita sendiri. Hanya email yang membantuku untuk bisa bertukar pikiran denganmu. Bagaimana dekorasinya, design undangan, hingga gedung dan penata riasnya. Tapi, tak apa, semua memang membuatku stress luar biasa. Tapi hasilnya pun luar biasa.
Mengingat hal itu aku jadi senyum sendiri. Memang benar, ketika kuasa Tuhan bertindak, apa yang tak mungkin pun bisa jadi mungkin.
Kini, resmi sudah aku jadi istrimu. Resmi sudah ku sebut kau suamiku. Terima kasih untuk semuanya.
With love for you ;)
@achynova
No comments:
Post a Comment