Monday, February 3, 2014

Mantan Terindah.

Bandung begitu manis saat senja menghampiri. Langit yang berwarna jingga keemasan menambah suasana hangat dalam hatiku. Hmmm, apa kabar kamu, (mantan) kekasihku, sudah sepekan kau tak pernah membalas BlackBerry Messenger ku. Aku tahu, kau masih sangat kesal kepadaku. Kau pasti tak mengira, aku bisa dengan tegas memilih mengakhiri kisah manis kita ini.

(Mantan) kekasihku, maafkan aku yang seolah tak mau lagi berjuang bersamamu. Jangan kaufikir aku telah menemukan penggantimu. Kausalah, aku belum memiliki kekasih apalagi berani bermain api di belakangmu. Semata-mata kulakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Tak ingin kau terus menerus menjadi anak pembangkang terhadap ibumu. Aku faham, keberadaanku dalam hidupmu hanya dianggap sebagai benalu saja oleh ibumu. Beliau menganggapku sudah mengkontaminasi otakmu, sehingga kamu begitu memujaku. Beliau mengira aku yang menjadikan putra kesayangannya menjadi anak yang tak patuh lagi dan berani membangkang kepada ibu yang sudah melahirkannya. Padahal, demi Tuhan, aku tak pernah menginginkan kamu bersikap seperti itu pada kedua orang tuamu, terlebih ibumu.

(Mantan ) kekasihku, bukankah ketika restu beliau menghampiriku, beliau akan menjadi ibuku juga. Dan jika restu itu tak kunjung kudapatkan, beliau tetap menjadi ibuku. Itulah penyebab mengapa pada akhirnya aku memutuskan kisah kita. Sebelum kata durhaka keluar dari bibirnya. (Mantan ) kekasihku, aku hanya ingin kau kembali berbakti terhadap beliau. Surga jaminannya, ketika kau bisa membahagiakannya. Dan aku sama sekali tak ingin menjadi penghalang bagimu untuk mendapatkan surgamu.

Jangan berfikir aku tak menangisi semua ini. Kau adalah hal terindah yang sudah Tuhan hadirkan dalam hidupku. Bersamamu aku bisa melewati kerinduan yang berjarak ratusan kilo meter. Bersamamu aku tahu menahan rindu yang membabi buta. Pastinya, aku akan merindukanmu. Pasti sayang!

Kali ini aku harus terbiasa tanpamu. Aku tak akan mendapati suaramu melalui sambungan telepon. Tak ada lagi gurauan khas saat kau menyindirku ketika Arsenal kalah, sedangkan Manchester city menang. Tak ada lagi pria yang duduk menungguku di bangku taman kota dengan setianya. Tak ada lagi pria yang senang mencubit pipiku dengan gemasnya. Tak ada lagi pria yang manis tersenyum dengan deretan gigi rapinya. Tak ada lagi si sipit yang selalu kutemani saat bertanding basket dengan teman-temannya. Tak ada, sayang! Tak ada!

Tiga tahun menjalani itu bersamamu sungguh membuatku merasa berharga. Dan tiga tahun juga, kita terus berjuang mendapatkan restu dari ibumu.

Namun kali ini aku tak ingin banyak bertanya ataupun mengeluh kepada Tuhan. Masih pantaskah aku bertanya ini itu, sedangkan dengan baiknya Tuhan sudah menghadirkan engkau dalam hidupku.

Sudahlah sayang, jodo tak akan salah. Andai pun kau berjodo denganku, semoga perpisahan kita ini menjadi penjembatan restu ibumu untuk hubungan kita. Supaya beliau tahu, aku adalah gadis baik yang pantas menjadi menantunya. Agar beliau paham, bahwa aku tak ingin kau terus berperang dingin dengannya.

Baik-baik, ya, sayang. Tuhan akan menjamin kebahagianmu untukku. Jika kau baca tulisanku ini, kau tahu mengapa alasanku melakukan ini.

With love for you :')

@AchyNova™
Bandung, 03 Februari 2014

No comments:

Post a Comment