Dengan setia, aku terus mendengarkan suara yang dia rekam. Melalui soundcloud puisi yang dia bacakan untukku kini terus kuperdengarkan. Prosa yang lembut terus berputar di ruangan yang tak terlalu besar ini. Aku terduduk mematung menghadap jendela, entah sudah berapa lama. Entah sudah berapa ratus air mata yang jatuh menjejak tanah. Entah sudah berapa kali juga jantungku berdetak hebat secapat waktu yang berdetiknya. Aku dalam ketakutan. Bayangan kematian. Bayangan perpisahan. Bayangan kehilangan.
Tanpa sengaja waktu mempertemukan kami.
No comments:
Post a Comment