Untuk kamu,
Dua bulan ini aku seperti mendapati angin segar di antara teriknya panas masalah yang menggelayutiku. Dan hal itu disebabkan oleh kamu, Joan. Ya memang, kadangkala kamu yang bersikap sok serius sesekali memang luput dari pengawasanku. Aku tak suka wajah seriusmu, kesan dingin terlukis jelas diantara kerutan kening dan wajah tanpa senyuman. Kau menakutkan berwajah seperti itu, bahkan lebih menakutkan daripada seorang wajah pembunuh bayaran.
.
Joan, dunia justru seakan berbalik tiga ratus enam puluh derajat, kau tersenyum dengan menghadirkan deretan gigi yang rapi, dan senyuman itu menghilangkan wajah menakutkanmu. Getaran pertama kurasakan saat itu juga. Seketika matamu yang memang sipit seolah hilang ditelan oleh senyum manismu. Barangkali aku jatuh cinta? Iya sepertinya begitu.
.
Joan, ada yang lucu sebenarnya yang sulit aku ungkapkan. Ketika kamu menawariku sepotong roti manis untuk kita makan berdua. Meski malu, kucubit sedikit roti itu sambil tersenyum padamu. Saat itu aku merasa Tuhan menurunkan seluruh malaikat nya untuk menciptakan suasana manis itu. Langit begitu terlihat lebih biru dari biasanya, karena mungkin jutaan kebahagiaan sedang melingkari hatiku.
.
Joan, sayangnya aku hanya bisa sebatas mengagumimu saja. Realitanya, kita terlalu berbeda. Aku hanyalah si hitam manis dari sunda, dan kau si China keturunan tionghoa. Tuhan kita pun tak sama. Saat doaku bermuara di mesjid, dan doamu bermuara di gereja. Kita terlalu berbeda, meski kadang aku berharap kita bisa sama pada akhirnya kelak.
.
Akhir kata dari ini semua, Joan, aku ingin bilang padamu, Aku suka senyum dengan deretan gigi rapimu yang indah.
Tertanda,
Miss. A.
No comments:
Post a Comment