Teruntuk pria yang pernah menjadi ksatria pujaanku.
Aku menulis ini ketika rasa lelah menderaku. Kelelahan yang berhasil menguras habis hati dan jiwaku. Dan ini tak pernah kurasakan saat bersamamu, dulu.
Sayang, bersamamu dalam kurun waktu tiga tahun itu bukanlah hal yang bisa kulupakan begitu saja. Apalagi jika harus kuberikan peringkat diantara semua kekasihku, kau adalah yang menduduki juara umum. Kau baik, mereka juga baik, tapi kau berbeda, kau lebih tau cara membuatku tertawa. Kau selalu tahu jika ada hal darimu yang membuatku kecewa. Langsung saja kau meminta maaf dan tak pernah kau ulangi lagi hal yang membuatku kecewa itu.
Kau begitu paham cara meredam aku yang terkadang uring-uringan ketika merindukanmu. Kau selalu bilang padaku, "tunggu sayang, hari jumat masih dua hari lagi. Tolong bersabar sejenak, cinta kita memang memakan jarak ratusan kilo." Dan kata-kata itu selalu membuatku belajar memahami kalau kau dan aku memang sedang menjalankan kisah dimana jarak menjadi pembatasnya.
Seingatku, kau tak pernah tiba-tiba menghilang. Sebisa mungkin kau akan mengabari meski hanya sambungan telepon disela makan siangmu. Jika kau harus bekerja ekstra waktu, kau akan meminta maaf tak bisa menemani aku sampai aku terlelap dibuai mimpi melewati telepon. Padahal setiap malam, kau selalu bernyanyi A Thousand years sampai aku tertidur.
Aku selalu merindukan itu, sayang, selalu. Jika aku mengingatmu, aku selalu ingat jadwal lari yang biasa kau lakukan sewaktu di Bandung. Setiap selasa sore dan sabtu pagi kau pasti bilang padaku akan lari jika sempat. Aku tak pernah bisa menemani, padahal aku sangat ingin bisa lakukan itu. Dan sayangnya, sampai kau harus hijrah ke jakarta, aku masih belum bisa mewujudkannya.
Sayang, padahal kita tak mudah melewati kisah itu. Tapi, semua terasa sangat indah bahkan jika di banding kisahku kali ini yang tak berjarak. Kau lebih memahami daripada dia. Kau lebih nice daripada dia. Kau lebih wise daripada dia. Aku tahu kalian tak sama dan tak akan pernah sama, tapi dia memang tak pernah manis sepertimu, dia tak sepenuhnya mencintaiku.
Mungkin saja jika restu itu bisa kudapatkan dari ibumu, kita mungkin sudah menikah saat ini. Aku mungkin baru saja melahirkan anak kita. Dan ironinya ini hanya mimpi yang sudah menguap begitu saja.
Sayang, aku menulis ini, karena aku ingat kamu yang memang kekasih terbaik. Dan jika kamu mengerti, bisa kamu simpulkan bahwa kekasihku saat ini tak seperti kamu.
With love for you :')
@Achynova
15 Des 2014
No comments:
Post a Comment