Tiga hari sudah aku tak berstatus kekasihnya lagi. Ada kelegaan yang membuncah tatkala aku memutuskan untuk melepaskannya. Gadis yang empat bulan lalu menjadi kekasihku itu kulepaskan sudah. Aku memang tak terlalu mencintainya. Apalagi setelah saat dimana kakeknya secara tak langsung menyuruh kami segera untuk menikah, aku mulai merasa jengah padanya.
Ini memang bukan kali pertama aku merasa jenuh padanya. Di bulan pertama menjalin kasih dengannya pun aku sudah merasa jenuh. Hanya saja jika aku putuskan untuk meninggalkannya aku tak tega. Dia sudah menyukaiku cukup lama, aku tahu itu, hampir satu tahun lamanya. Dan saat waktu mempertemukanku lagi dengannya, aku berpikir tak ada salahnya mencoba menjalin hubungan dengan dia. Sekedar mengisi kekosongan saja.
Beberapa kali dia menghubungiku, kuacuhkan dia. Pesan BBm nya pun tak pernah aku baca. Kubiarkan saja semuanya. Aku muak padanya. Saat libur kerja pun, sengaja aku tak menghubunginya. Aku lebih suka diam dirumah dan menghabiskan waktu untuk main PES saja. Aku tahu, disana dia pasti sedang harap cemas menanti kabar dariku. Ah, aku tak peduli sama sekali.
Namun, entah kenapa, perasaan menyesal kini sedang menghantuiku. Aku merasa ada yang hilang setelah aku memutuskan sebelah pihak cintanya. Apalagi biasanya jika saat waktu kosong, aku sering menghabiskan waktu bersamanya.
Dulu, jika aku sedang olah raga lari, dia selalu ada menemaniku. Sambil duduk dan menunggu tas milikku, dia fokus memperhatikanku. Jika tanpa sengaja kami saling bertatap, dia tersenyum padaku dan menanyakan sudah berapa putaran aku berlari. Namun kali ini berbeda. Dia tak ada disana.
Aku ingat, bagaimana dia dengan telaten merawat wajahku. Dengan senang hati dia membersihkan wajahku dan memberikan masker wajah yang biasa ia gunakan. Tak jarang juga dia mau memijit kepalaku dengan lembutnya. Dia pun mau mencatok rambutku ketika baru selesai keramas di rumahnya.
Dia tahu jika kesukaanku adalah susu putih panas. Jika aku kerumahnya segelas susu itu selalu disajikannya dengan keikhlasan. Jika ada tukang bakso tahu lewat, dia selalu menanyakan apakah aku mau makan itu atau tidak. Jika iya, sepiring siomay, dengan beberapa kentang dan kol rebus dia belikan untukku. Dia tahu semua kesukaanku termasuk aku yang tak suka pedas.
Barangkali dia adalah kekasih yang secara sikap sangat memahami aku. Tapi entah kenapa aku malah menyakiti dia terus menerus. Tak ada kekasih yang sebaik dia saat mengurusku. Tak ada kekasih yang tahu aku lebih baik seperti dia. Tak ada kekasih yang demi aku mau mengorbankan idealismenya seperti dia. Dia memang baik, tapi aku bodoh melepaskannya. Dia memang baik, tapi aku bodoh menyia-nyiakannya. Inilah ketololan terbesarku. Inilah kesalahan yang entah apakah dia mau memaafkanku atau tidak. Yang pasti, aku menyesali semuanya.
No comments:
Post a Comment