Kepada Perempuannya Lelakiku,
.
.
Kau pasti kaget kenapa tiba-tiba surat ini bisa melenggang bebas tanpa batas ke tanganmu. Dalam benakmu pasti bertanya, siapa orang yang dengan lancangnya menulis dan mengirimkan surat ini padamu.
Tak usah risau wahai perempuan, kenalkanlah, aku adalah segumpal hati yang terbalut raga tak berdaya. Bukan maksudku mengusik hari-harimu bersama lelakiku. Aku hanya ingin... ah, anggap saja aku ingin bercengkerama denganmu saja, tidak lebih.
Aku ingin bertanya padamu, jika kau jadi aku, apakah kau akan mengirimkan surat juga padaku? Jawabannya bisa iya dan tidak, ya? Tapi tenanglah, aku tak terlalu merisaukan kau yang akan berbuat sepertiku atau tidak. Sekali lagi kukatakan, aku hanya ingin bercengkerama saja dengan perempuannya lelakiku.
Kau pasti ingin tahu aku, bukan?
Baiklah!
Aku perempuan sama sepertimu. Aku memiliki cinta sama sepertimu. Aku menyayangi lelakimu, sama sepertimu. Lelakimu adalah sama dengan lelakiku. Kalau kau tahu, sebelum mengenalmu dia adalah lelakiku. Hingga saat ini pun (seharusnya) dia masih sebagai lelakiku.
Kenapa aku bahas tentang lelakimu?
Karena lelaki yang saat ini bersamamu, adalah kekasihku. Kau hadir diantara konflik kami yang seharusnya bisa terselesaikan dengan sesuatu yang kami sebut baik-baik saja. Lelakimu adalah pria yang selalu memujaku melalui rangkaian kata yang mengalir mesra melalui tulisannya. Jika kau pernah membaca ceritanya tentang gadis penghujung senja pada blog pribadinya, wanita yang ia sebutkan itu adalah aku.
Lelakimu adalah pria yang menjadi pengisi celah sela jemariku. Lelakimu adalah pelukis terbaik yang sering menggambarkan lengkungan senyum dibibirku. Lelakimu adalah priaku yang hebat. Lelakimu adalah priaku yang luar biasa. Lelakimu adala lelakiku yang sangat kucintai. Lantas kenapa kau tega merebut lelakiku dan menjadikanmu lelakimu.
Dulu kukira kau bisa merasakan jadi aku, wahai perempuan. Kukira kau bisa menahan rasa kagummu agar tak berubah menjadi sebuah rasa cinta yang hebat padanya. Dulu kukira, kau tak akan meraih hatinya dengan semudah itu. Dan kenapa aku harus memberika lelaki berhargaku padamu.
Wanita,
Kuakui kau memang pintar. Kau memerankan peranmu mengambil hati ibu lelakiku. Kau seolah tahu bahwa tak ada restu buatku. Dengan sigap, kau luluhkan hati ibunya, kau tunjukkan diri seolah kau adalaj perempuan paling baik untuk lelakiku. Kau membuat tampilanku semakin buruk, dan memperindah tampilan palsumu. Tak apa! Aku tahu Tuhan tak tidur. Meski kau memiliki ragawi lelakiku, ketahuilah, hati lelakimu masih bersamaku.
Dari; perempuan yang menggenggam hati lelakimu seutuhnya.
No comments:
Post a Comment