Semoga di Kupang kau Baik-baik saja.
Calon suamiku, sudah enam bulan kau berada di Kupang, bagaimana kabarmu sekarang? Kudengar cuaca disana sangat panas. Memang kau selalu mengabariku tentang semua yang terjadi padamu. Tapi, kali ini rasa-rasanya tak salah kalau aku ingin mengirimkan surat cinta padamu.
Kemarin ibu menelponku, dia memintaku untuk segera mau kaujadikan istri. Aku belum bisa menjawab apapun, sesuai kesepakatan antara kau dan aku, aku masih belum mau meninggalkan Bandung. Kamu tahu sulit buatku jauh dari ibu dan keluarga. Apalagi jika aku mengikutimu pindah dan menetap disana, waktu yang bisa mempertemukan aku dengan beliau hanya terjadi satu tahun sekali saja, bukan?
Hal ini masih sering membuatku bingung. Disatu sisi aku tahu kodratku sebagai istri harus mengikuti suaminya. Disisi lain ibu berat melepaskan aku jika harus sampai melintas pulau.
Dulu, ibu merestui kita, tapi, tak pernah bakal ia bayangkan harus melepaskan aku jauh darinya. Aku pun tak berfikir kau akan dipindah tugaskan sejauh itu. Kukira jangkauan area kerjamu masih berada seputaran Bandung-Jakarta saja.
Tapi bukan berarti setelah ini ibu mencabut restunya. Dia masih tetap merestuimu sebagai calon menantunya. Hanya ada rasa keberatan saja jika kau membawaku jauh darinya.
Calon suamiku, maafkan aku, aku memang masih dibayangi sosok ibu. Bagaimana pun, dimata beliau aku masih gadis kecil yang harus dijaga dan dikahawatirkan. Aku pun ingin berada dekat beliau jika aku melahirkan kelak.
Aku paham kau bisa memaklumi. Tapi bagaimana caraku menjelaskan kepada ibumu? Calon suamiku, percayalah, kelak Tuhan pasti mempersatukan kita jika aku adalah jodomu.
Jaga diri baik-baik disana ya? Jaga hatimu juga dan percayalah aku ada disini selalu mencintaimu.
I love you,
Achy
No comments:
Post a Comment