Tuesday, February 4, 2014

1st Day: Surat Untuk Si Penata Suara.

Untuk kamu Sang Penata Suara.
.
Mungkin sudah cukup lama aku tak menyentuh kamu dan duniamu. Sejak kemarahan tanpa sebabmu padaku. Hanya karena selipan broadcast messeges yang mampir di ponselmu. Saat itu kau begitu marah. Kau terlihat murka. Dan kau menumpahkan kekesalan kepadaku yang sejatinya tak paham penyebab amarahmu.
.
Aku yakin, sebenarnya bukan broadcast messeges yang membuatmu murka kepadaku, melainkan rasa lelahmu yang menjadikan aku alasan sebagai objek pelampiasanmu. Aku yang tak paham sumber masalahmu, hanya bisa diam dan menyimpan gumpalan kekecewaan.
.
Sebenarnya, aku merindukanmu, tuan. Aku rindu kita yang dulu. Aku rindu saat kau dan aku selalu melempar cemas. Aku rindu saat seringkali aku marah padamu karena kau mengabaikan rasa sakitmu. Tak ingatkah kau padaku, saat aku sering mengemis padamu, mengemis keikhlasanmu untuk pergi ke dokter memeriksakan kesehatanmu. Aku rindu, saat kau mengajakku berbincang hangat melalui WhatsApp ataupun we chat. Aku rindu semua yang sempat kulakukan bersamamu.
.
Aku berfikir, apa mungkin kau marah padaku karena tahu aku akhirnya memiliki kekasih. Memang sejak itu aku menjauh darimu. Tapi, demi Tuhan,  aku menjauh demi kebahagiaanmu. Meski mungkin yang terfikir olehmu bukan itu.
.
Mungkin bagimu aku terkesan murahan. Karena ketika hubungan cintaku berakhir, aku kembali mendekat padamu. Tapi ketahuilah, yang kulakukan itu tak lebih dari caraku memperbaiki kerenggangan kita. Sama sekali aku tak bermaksud menjadikanmu sebagai pelarianku. Aku tak sejahat itu, Tuan, aku tahu kau orang baik. Aku tak boleh menyakitimu. Karena membuatmu terluka adalah hal terbodoh buatku.
.
Meski tak mengerti, aku akhirnya berusaha memahami hatimu. Tak mudah memang menerima sikap kasarmu padaku itu, tapi aku berusaha berfikir positif, kau sedang lelah oleh pekerjaanmu yang tak tahu waktu. Aku berusaha memahami, kau yang memang seorang penata suara, disibukkan oleh waktu yang terus menguras tenaga dan otakmu. Kau selalu menjadi bagian penting dalam sebuah konser yang di adakan oleh Erwin Gutawa. Dan aku selalu disibukkan dengan memikirkan kondisimu. Walaupun kau tak pernah tahu isi otakku itu.
.
Ah, Tuan, apakah hatimu kini bertanya dimana aku kini? Jika iya, sebenarnya aku ada, ditempat yang sama setiap harinya. Barangkali aku dulu begitu setia menantimu disini, menanti kamu yang pernah berjanji akan menjemputku lain kali. Tapi sudahlah, aku tak pernah menganggap kata-katamu itu sebagai janji. Aku tak mau membebani kamu yang seakan lupa akan janjimu sendiri. Biarlah, kamu dan janji yang tak kuanggap janji itu menguap tak berbekas.
.
Perlu kau tahu, Tuan, aku memang sudah menjauh darimu. Aku sudah tak lagi menyapamu didunia yang sudah memperkenalkan kita. Tapi ketahuilah, aku sebenarnya masih memperhatikanmu. Semua yang terjadi padamu hanya bisa kuperhatikan melalui personal status pada aplikasi Bbm-mu. Kamu tengah sakit, aku tahu. Kamu sedang lelah, aku tahu. Aku tahu semuanya.
.
Hmmm, sudahlah, ada kalanya aku pun lelah berusaha dekat denganmu. Baik-baik ya, aku hanya bisa menjadi orang yang memperhatikanmu diam-diam.

Tertanda,

Miss A.

No comments:

Post a Comment