Sunday, February 9, 2014

Day 5: Kepada pria yang menggenggam janjinya.

Hai, pria.

Sudah bisakah kau lepaskan KITA? Biarkanlah KITA yang dulu terurai menjadi AKU dan KAMU saja. Tak perlu tangisi yang sudah terjadi kali ini, ya.
.
Pria,
.
Kala surat ini kutulis, barangkali kita masih melakukan kebiasaan gila kita, memandangi langit senja yang berwarna jingga hingga warnanyapun berubah menjadi gelap dan berkelipkan bintang. Atau kau sudah tak melakukannya lagi barangkali? Jujur saja aku masih melakukannya saat hujan tidak turun, karena hingga saat ini kamu dan kenangan bersamamu selalu berhasil membuatku rindu.
.
Pria,
.
Tolong katakan padaku, pada bagian mana cinta menjatuhkan kesalahannya. Bukankah kita tak pernah menginginkan untuk bisa saling mencintai pada akhirnya? Kita hanya mengikuti skenario yang ada. Aku dan kamu bertemu, saling memandang, saling mengagumi, berkenalan, semakin dekat, saling jatuh cinta, hingga akhirnya saling mencinta. Dimana sebenarnya kesalahan cinta?
.
Pria,
.
Untuk sesaat, aku merasakan bagaimana kamu yang meradang saat kuucapkan kata perpisahan. Kamu marah, memakiku, membentak padaku, bahkan tamparan keras tanganmu mendarat di mejaku. Saat itu aku takut. Kau tak pernah semenakutkan itu. Tapi, rasa takutku berubah menjadi kepiluan yang menyakitkan, kau menangis, sedangkan aku tak tahu apa yang harus kuperbuat padamu.
.
Pria,
.
Itulah kali pertama aku melihat seorang lelaki menangis karenaku. Luar biasanya, aku justru merasa menjadi perempuan paling jahat yang sudah menyakitimu sebanyak itu. Kamu, pria yang selalu melengkapi sela jemari tanganku, justru kubuat terluka oleh keputusanku. Kamu, pria yang selalu merangkulku hangat, harus kubuat menangis karena egoku.
.
Pria,
Maafkan aku, janji yang sudah kita ucapkan belum bisa kupenuhi sekarang. Alasannya tak bisa kujelaskan. Namun, bila Tuhan berbaik hati menyatukan kita, aku pasti akan menceritakan dan juga membayar janji padamu.
.
Pria,
.
Aku percaya, kau adalah pria yang akan terus menggenggam janji dengan setianya. Aku mohon kali ini dengarkan aku, jangan kau tulikan telingamu untuk enggan mendengar keinginanku ini. Jangan kau butakan matamu hanya karena enggan melihatku memohon dan mengiba padamu. Aku mohon, berjalanlah terus kedepan, jangan menoleh ke arahku lagi. Biarkan hanya mataku yang melihat punggungmu pergi semakin menjauh dariku. Maafkan aku, kali ini aku ingin putus.

Dari,

Aku!!

No comments:

Post a Comment