Sunday, February 16, 2014

Day 11 : Dear, Superman

Dear, Superman.

Ini adalah hari ke sebelas aku mengikuti project menulis surat cinta selama tiga puluh hari. Otakku buntu kali ini. Aku tak tahu, siapa yang akan kujadikan objeknya. Siapa yang harusnya mendengarkan keluh kesahnya. Aku bingung luar biasa. Akhirnya aku putuskan menulis surat padamu. Sebenarnya bukan pada superman sebenarnya aku menulis surat ini. Tapi lebih tepatnya kepada pria penyuka sosok superman.

Kepada pria itu,

Pada surat hari kesebelas ini, akhirnya aku beranikan diri untuk menyapamu. Aku hanya ingin berteman lagi, meski mungkin kau tak menginginkan itu. Diantara kamu dan aku sudah terjadi banyak kesalahpahaman, sehingga kenangan manis yang sudah terjadi diantara kita seakan tak berarti dan terkesan percuma saja.

Superman,

Kepala kita bukanlah terbuat dari batu. Tapi kenapa kita sama-sama berkeras hati dan seolah enggan saling menyapa lagi. Ego kita seolah menguasai semuanya. Aku enggan menyapa karena takut kau tak meresponku. Sedangkan alasan darimu aku sungguh tak tahu.

Superman,

Aku ingin minta maaf, barangkali ada kata-kata yang sudah menyinggung perasaanmu. Entah itu tentang bola atau mungkin tentang moto GP. Semuanya tak kumaksudkan begitu, bukankah wajar jika sesekali kuselipkan candaan untuk menghangatkan obrolan saja. Agar kau dan aku semakin akrab.

Superman, 

Kali ini aku sudah buntu. Aku bingung merangkai kata atau apapun itu. Kalau kau sempat mencerna hatimu, ingatlah bahwa aku adalah perempuan yang sebenarnya memiliki kesamaan juga padamu, sama-sama penyuka superman.

Sudahlah, mmenulis surat tak harus panjang lebar, kan?

Dari aku, perempuan yang pernah kau perkenalkan dengan antrian panjang di kedai ramen itu. 

No comments:

Post a Comment