Friday, December 5, 2014

Terbiasa menjadi nomor dua

Aku mulai membiasakan diri menjadi nomor dua. Terlebih dalam urusan hati. Sekarang aku sudah terbiasa, sayang, memposisikan diri menjadi bagian kedua dalam hidupmu. Siapa sih, aku? Selain hanya perempuan yang memiliki predikat kekasih tapi tak menjadi perempuan spesial yang di utamakan. Apalah arti aku untuk kamu, entahlah?

Apakah kamu tahu, sayang, kamu selalu menjadi orang yang kunomor satukan. Aku bahkan sering membatalkan janji dengan temanku ketika kamu mengatakan akan kerumah. Semua demi kamu, sayang, demi kamu! Tapi kamu sering tak melakukan hal yang sama kepadaku.

Seperti waktu itu, saat PERSIB masuk di babak final. Semua warga Bandung, berencana untuk nonton bareng, entah itu di balai kota atau juga di taman film. Temanku mengajak nonton bersama, aku dengan kamu, dan dia dengan suaminya. Dengan harapan kau mau, kau bilang kau pun memang mau nonton bareng dengan teman-teman kantormu. Darisana aku tangkap kesan kau tak ingin aku ikut. Kau sama sekali tak mengajak aku, padahal tempat kita merencanakan nonton itu ada di tempat yang sama, di Taman Film. Mungkin bagimu aku hanya akan jadi pengganggu kesenanganmu saja, atau mungkin kau malu memperkenalkan aku pada temanmu. Samasekali aku tak memaksakan diri, aku hormati keputusan kamu itu. Hingga akhirnya aku merencanakan nonton dengan temanku itu tanpa kamu di Balai Kota.
Belum kubuka pinta rumahku, kau sudah menelponku. Kau mengatakan tak jadi nonton bareng karena teman-temanmu entah dimana. Bukankah kau baru mengingat aku setelah temanmu tak menepati janjinya? Kau hanya menjadikan aku cadangan tatkala yang pertama tak bisa jadi yang utama.

Dengan berat hati kubatalkan juga rencana nonton dengan temanku. Aku memilih menghabiskan waktu dengan kamu di rumah saja. Tapi aku senang, prioritasku memang kamu. Kamu yang selalu menjadi nomor satu meski aku pasti menjadi nomor dua. Tak apa, bagiku kebahagiaanmu menjadi yang utama daripada kepentinganku.

Sayang, terkadang aku pun ingin kaujadikan nomor satu. Menurutmu, apakah aku pantas jika kau prioritaskan juga? Aku rasa iya, aku pantas, bukankah hubungan kekasih itu hubungan timbal balik? Dan aku ingin kaupun berbuat hal yang sama sepertiku. Apa kau bisa?

Aku masih belum kehilangan harap. Aku yakin kamu bisa bersikap sepertiku.

Bandung, 5 Des 2014

©achynova


No comments:

Post a Comment