Thursday, October 22, 2015

To Everyone After Me

Kepada perempuan yang kini bersama priaku,

Kepada kamu yang kini menemani hari-hari pria itu, kumohon jagalah dia sebaik yang kamu bisa. Jangan hadirkan kecewa apalagi luka.

Ketahuilah sebelum dirimu dia pernah sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya meski keadaan juga yang dengan jahatnya memisahkan kami. Aku berani bersumpah hingga saat ini cintaku padanya lebih besar ketimbang cintamu.

Kepada kamu tolong ingatkan dia untuk makan, dia termasuk pria yang sering melalaikan makan. Jika perlu kau harus membentaknya agar dia mau makan.

Kepada kamu, tolong perhatikan jam tidurnya, dia senang begadang hanya demi menyelesaikan pekerjaannya dan sering melupakan bahwa tubuhnya pun memerlukan hak nya untuk istirahat.

Ah, kenapa aku harus mengingatkanmu soal ini, ya, aku yakin kau tahu persis seperti apa dia. Sebab tanpa perlu kuberitahu, kau sudah memahami dia lebih baik dari aku.

Tolong jaga setiap garis lengkung di bibirnya. Aku tak rela jika kau berani membuatnya terluka.

Monday, July 20, 2015

Sedekat Jarak Sejauh Hati

Hai, Tuan yang kata orang mirip Ahok. Bagaimana cerita bahagiamu? Apakah berjalan sesuai harapan, atau tidak.

Ingatkah kamu saat kau dan aku akan dijodokan? Saat seharusnya hari itu kita berkenalan, tapi aku dikejutkan dengan perkenalan kita di pelaminanmu. Tertohok? Jelas. Tapi sakit hati sama sekali tidak, sebab kau dan aku tidak memiliki komitmen juga ikatan. Hanya saja jika harus kukatakan merasa dipermainkan keadaan, iya, aku rasakan itu.

Lupakan itu. Dua tahun lalu setelah aku tahu aku akan mengikutimu ke Kupang jika kita berjodo, aku sedikit berkeberatan. Mengingat aku harus meninggalkan banyak cinta di kota kelahiranku, Bandung. Ada rasa syukur ketika aku tahu, aku dan kamu tak jadi dipersatukan.
Setidaknya aku tak perlu berberat hati meninggalkan Bandung.

Aku menutup telinga tentang kamu dan istrimu, cerita bahagia kalian bukanlah urusanku.

Kukira dua tahun ini cerita kalian sempurna. Banyak tawa dan bahagia. Aku salah. Cerita kalian tak semembahagiakan yang aku kira. Ternyata benar, berkah itu tergantung dari bagaimana orang tua merestui. Mengingat pernikahanmu saja tak direstui ibumu, pantas saja begitu banyak goncangan pada pernikahan kalian yang masih sebentar itu.

Kudengar kabar kau kini menetap di Bandung. Ah, ada perasaan jika saja aku menikah denganmu ternyata Bandung masih menjadi kota untuk kita tinggal. Tapi tidak, aku tak boleh memikirkan itu. Jarak kita yang kini dekat tak menjamin hati kita yang sangat jauh.

Hingga detik ini aku tak berharap menjadi istrimu. Terlepas dari apa yang akan terjadi padamu kelak. Aku cukup bahagia dengan hidupku ini. Andai bersama, aku menyadari siapa aku dan siapa kamu. Aku tak siap di bandingkan dalam soal materi, aku hanya ingin di muliakan sebagai istri.

Semoga kau dan dia selalu bersama, tapi satu pesanku, jangan pernah mengabaikan ibumu, seburuk apapun sifatnya, dia yang sudah menghadirkanmu di dunia ini. Beritahu istrimu, surgamu masih ada pada ibumu, sedangkan surganya ada padamu. Jika kau mengabaikan ibumu demi istrimu, kau pasti memahami apa yang kumaksudkan ini.

Monday, May 11, 2015

Dear Pacar 3 tahunku yang manis.

Hai, kamu...

Ini adalah tahun kedua kita berpisah. Iya, aku memang sudah tidak terlalu mengingatmu. Bahkan jika saling melempat komentar di Path pun, sudah tak ada hati yang melonjak kegirangan lagi. Semua serba biasa.

Hari ini aku tak sengaja menemukan foto kita. Foto saat kamu tersenyum dan memberikan kejutan ulang tahun di tahun pertama hubungan kita. Aku merindukan senyuman itu sayang. Sungguh sempurna Tuhan menciptakanmu, meski kau bukan diperuntukkan buatku.

Kali ini pertahananku runtuh. Kukira aku tak akan lagi merasakan rindu padamu. Meski sudah 2 tahun, tapi kenangan manis bersamamu tak bisa kulupakan begitu saja. Kau begitu sabar menghadapi aku yang sangat menyebalkan. Kau membuktikan cinta memang patut diperjuangkan.

Kita sama-sama berjuang. Tiga tahun menjalani hubungan dengan jarak sangatlah tak mudah. Pikiran buruk sering menyeruak begitu saja bahkan ketika kau telat memberi kabar. Atau ketika kau bilang bahwa keadaanmu sedang tak sehat, aku sungguh merasa menjadi orang tak berguna, aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa menangis ingin rasanya ada disana merawatmu sampai semua baik kembali. Namun dengan tenang kau bilang padaku, "tenang sayang, kelak ketika jadi istriku, perawat terbaikku sudah pasti kamu". Aku hanya tersenyum. Dalam kekalutanku kau masih bisa memahami kekhawatiranku..

Kau tahu aku adalah type wanita yang sering cemas, sehingga memberi kabar kau jadikan yang utama. Kau bahkan memahami jika sebenarnya aku ingin bertemu, tapi kau kuatkan aku dan meyakinkan di awal bulan kita akan menghabiskan waktu bersama.

Ah, sayang, apa boleh aku meminta pada Tuhan agar kau diciptakan dua? Sehingga meski aku tak dibersamakanmu, aku bisa bersama dengan yang sepertimu. Bukan maksud membandingkan, tapi kamu cukup sempurna untukku.

Oh iya, apakah menurut kamu manjaku padamu itu menyebalkan? Jika iya, terima kasih sudah mampu bertahan 3 tahun dengan kemanjaanku padamu. Semoga Tuhan selalu membahagiakan hari-harimu, pria yang kuharapkan jadi imamku.

Dari aku, perempuan 3 tahunmu.

Bandung, 1 Oktober 2015
@novelisnova

Monday, March 16, 2015

Aku lelah, Tuhan

Tuhan,

Beberapa minggu ini aku sedang sangat lelah. Itu juga-lah yang menjadi penyebabku selalu menangis pada-Mu seusai ucapan akhir salamku. Kutengadahkan tangan, kurentangkan harap, kukumpulkan kekuatan untuk bercerita banyak pada-Mu..

Tuhan,

Penyebab lelahku Kau pasti tahu. Rasanya setiap hari perasaan itu selalu menghujam pertahananku. Masih ada rindu yang membabi buta padanya. Pada pria yang berhasil membuatku terluka sangat hebat. Tapi aku merindukannya, aku masih mencintainya, dan itu sungguh membuatku merasa sangat lelah.

Kala kulihat photo saat dia menunjukkan punggungnya itu., aku begitu rindu untuk bisa memeluknya lagi. Aku rindu wangi parfumnya. Aku rindu menggenggam tangannya. Aku begitu rindu bersandar di bahunya, merapatkan jemari di sela jemarinya. Berbincang hangat dengannya.. Sungguh, aku rindukan itu, Tuhan.

Tuhan,

Aku tahu, kali ini aku sedang terluka sangat dalam. Tapi, rasa-rasanya aku pun masih amat sangat mencintainya. Dia menyerah saat aku sedang memilih bertahan dan berjuang. Dia meninggalkanku saat aku teramat menyayanginya. Dia begitu jahat. Hanya mulutnya saja yang manis tapi tidak hatinya. Haruskah aku mengutuknya, agar dia tidak akan pernah berhasil menjalin hubungan dengan perempuan selain aku? Agar dia merasakan kesakitan berulang tatkala dia menjalin kasih dengan perempuan lain. Agar dia tahu rasanya menjadi aku. Haruskah kulakukan itu, Tuhan?

Tuhan,

Kali ini doaku masih sama, bukankah aku meminta bantuan dariMU, aku ingin melupakannya. Semuanya. Bahkan kali ini tegas kukatakan; aku ikhlas termasuk melupakan semua kenangan manisku bersamanya.

Batas waktu untuknya sudah berakhir. Sudah cukup direntang waktu tiga bulan ini pintu kesempatan itu masih terbuka. Tapi dia tak pernah ada. Tak menunjukkan sedikitpun penyesalannya. Lantas untuk apa aku masih membuka kesempatan bagi pria yang sama sekali tak menginginkannya. Aku sudah menyerah, Tuhan. Pintu itu kini sudah kututup, dan aku enggan membukanya lagi.

Tuhan,

Sebelum malam ini kupejamkan mataku, doaku akan tetap sama; bantu aku melupakannya.

Terima kasih.

Bandung, 16 Maret 2015.
@novelisnova.

Saturday, February 28, 2015

Day 30 : This is last day

Hai kalian...

Tak terasa tiga puluh hari sudah aku menulis surat cinta. Dan hari ini adalah hari terakhir. Besok aku tak akan lagi kebingungan mencari ide. Besok pun aku tak memiliki kewajiban menulis surat lagi. Aku tak perlu lagi ketar-ketir jika mendekati jam lima sore suratku belum bisa kuposting. Tapi, semua akan terasa berbeda. Pasti banyak yang akan kurindukan. Termasuk memutar isi kepala apa yang harus aku tuliskan.

Kalian yang berkomitmen menulis surat cinta tentunya adalah orang-orang yang memiliki kredibilitas tinggi. Kuakui tak mudah berkomitmen untuk bisa menulis setiap harinya. Tapi tekad dan kegigihan kalian membuat semua yang sulit ini terasa mudah tentunya.

Dan Ika, aku yakin menjadi tukang pos juga bukan perkara yang mudah. Setiap hari, kamu harus membaca surat satu per satu. Mencoba memahami isi hati mereka, dan memberikan komentar yang memotivasi setiap harinya. Salut buat kamu Ika.

Bosse, dengan mengadakan program ini, kau menggali semangat menulis penulis kawakan sepertiku. Meski tak pandai merangkai kata, setidaknya isi kepalaku tertuang pada tulisan setiap harinya. Thank you bosse.

Aku cukup bangga, tahun ini aku berhasil menjaga konsistensiku dalam menulis. Aku merasa menjadi pemenang. Aku bisa mengalahkan rasa malasku dan tetap berusaha menulis setiap hari selama tiga puluh hari ini.

Sampai bertemu lagi tahun depan semuanya. Salam titik dua bintang dariku.

@novelisnova

Thursday, February 26, 2015

Day 29 : Saat kau berdarah

Dear sayang,

Kau terluka. Kau berdarah. Lukamu sungguh dalam. Darahmu mengalir cukup Banyak. Menyedihkan, saat keadaanmu seperti itu aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa terdiam, tanpa bisa bertindak apapun. Sedih? Jelas!! Aku hanya bisa memedulikanmu diam-diam. Untuk sekedar bertanya apakah kau baik-baik saja, aku tak bisa.

Ini memang menyakitkan, peduli, tapi tak bisa ditunjukkan. Ingin menyapa, tapi rasanya enggan. Aku ini siapa? Hanya mantan kekasihmu saja. Sebenarnya bisa saja aku meruntuhkan harga diri demi sekedar bertanya kabarmu, tapi aku tak mau. Bukan aku yang bersalah dalam hal ini. Bukan aku yang meninggalkanmu. Aku tak mau harga diriku terendahkan hanya karena pikiran sempitmu; ternyata wanita ini masih peduli padaku.

Seharusnya aku bisa lebih tegas lagi terhadap diriku sendiri. Untuk bisa tak memedulikanmu lagi, seharusnya kuhapus semua tentang kamu. Tapi aku tak bisa. Masih ada harapan, suatu saat kau akan kembali padaku.

Jika saja aku masih sebagai kekasihmu, akan kurawat lukamu. Perihmu itu sungguh menusuk ulu hatiku. Rasanya aku ingin disana, memberikan pertolongan saat kau terluka. Ah, sudahlah, kuharap wanita yang kaukagumi bisa lebih peduli padamu daripada aku. Semoga saja wanita itu merawat lukamu. Ya, semoga saja, dia lebih mencemaskanmu dan juga peka terhadapmu.

Aku tak bisa apa-apa. Kecemasanku hanya bisa kusapakan pada Tuhan. Biarlah Tuhan yang menjaminkan keselamatanmu untukku. Aku tak mau kau merasa risih dengan perhatianku andai kutujukan padamu. Baik-baik, ya, jangan membuatku cemas lagi. Itu menyakitiku lebih ketika tak bisa berbuat banyak.

Terima kasih,

Astrie Nova Akbar

Wednesday, February 25, 2015

Day 28 : Dear Ika #ILoveYourLetter

Bandung, 26 Februari 2015

Dear Ika,

#30HariMenulisSuratCinta, aku akui memang tak mudah, Ika, berkomitmen menuliskan surat cinta selama tiga puluh hari. Jujur aku mengalami seperti apa buntunya saat harus menulis surat setiap harinya. Aku berpikir. Memutar otak, siapa objek yang akan kujadikan tujuan menulis suratku setiap harinya.

Perasaanku juga berubah setiap harinya. Terkadang kala sedih melanda aku mengingat dia pria yang di masa laluku membuat menangis. Ketika bahagia, tak jarang aku pun menuliskan surat kepada orang yang sama. Semua serba tak mudah dipahami. Sudah hampir tiga puluh hari, aku hanya menyentuh salah satu dunia aksaraku yang disebut Blog, dan selama itu juga, dunia tulisanku yang lain tak pernah kusentuh. Tumblr, biasanya aku selalu bermain disana setiap hari. Namun, demi komitmenku menulis surat, aku rela meninggalkannya sementara waktu.

Ika, aku senang setiap membaca komentar-komentarmu. Meski kuakui kau kadang tak disiplin waktu, hehehe, tapi itu sangat menyenangkan. Setidaknya, kau masih mau membaca dan memberikan apresiasi terbaikmu.

Applause buat itu semua. Aku bahagia menulis kali ini, aku mendapatkan tukang pos sebaik kamu *cubit pipi kamu*.

Terima kasih, Ika, atas setiap penghargaan-penghargaanmu. Sedih rasanya dua hari lagi semua ini akan berakhir. Aku harap tahun depan kita bisa bertemu lagi. Kau tetap menjadi tukang pos ku. Hehehe.

Akhir kata, semangat terus buat kamu, Ika
Yours,

@novelisnova
Astrie Nova Akbar.

Surat balasan untuk @ikavuje "Dear LMNO".

Day 27 : Surat untuk Abang.

Dear Ibnu
Yang Baik,

Hai Abang, ah itu sebenarnya mau kamu kupanggil abang. Tapi tak apa, kau benar, sosokmu memang sudah seperti abang buatku. Baik, pengertian, dan banyak *pasti pipinya memerah, terus senyum-senyum penuh haru*.

Abang,

Aku tak mau bertanya kabarmu di Bali, soalnya tiap hari juga komunikasi kita terjalin dengan baik. Hahaha. Abang, makasih ya, sudah menjadi sosok abang yang super duper baik. Kamu baik sekali sudah mau selalu mendengar curahan hati tentang sang mantan yang, ah sudahlah.

Abang,

Pas lagi tugas ke Kupang, titip salam, ya, buat mantan pacar yang itu #ehh. Skip aja deh. Nanti ada yang banting-banting piring cemburu #uuupss hahaha.

Suka sebel deh sama kamu, bang, kalau maksa nyuruh makan. Kan, aku lagi diet, masa disuruh makan terus, nanti diet aku gagal. Tapi sebenarnya paham sih, itu karena abang peduli, hehehehe.

Abang,

Mau nulis apa lagi, ya? Mendadak bingung.

Ah, iya, abang jaga diri baik-baik ya disana. Tetap jadi abang yang terbaik buat aku.

Sudah ah, terlalu panjang juga cape bacanya. Hehehe. Akhir kata, terima kasih banyak ya, abang.

Achy Nova Akbar.

Monday, February 23, 2015

Day 26: Yang sedang Menyesal

Dear you,

Tanpa basa basi aku melihat kau tengah sibuk menyesali. Kenapa? Sudah terasakah olehmu apa itu penyesalan yang sesungguhnya?

Dulu kau begitu sesumbar. Meyakinkan orang-orang bahwa tak mungkin ada penyesalan ketika kauputuskan meninggalkanku. Kau berkelakar hebat, memberi pengesanan bahwa aku memang layak ditinggalkan. Aku masih diam. Enggan rasanya mengomentari kicauanmu yang tak penting itu.

Sekarang kenapa kau begitu? Terlihat jelas tanpa aku kau kesepian. Tanpa aku kau tak bisa apa-apa. Kenyataannya teman yang selalu kau agungkan itu tak bisa selalu menemanimu. Realitanya juga, wanita yang kauharapkan menggantikan posisiku tak bisa sebaik aku dalam merawatmu. Ya! Demi wanita itu bukan kau beralibi untuk meninggalkanku? Aku tahu itu. Dan silakan saja, aku tak pernah menghalangi keinginanmu.

Lantas, mengapa kau seolah sengaja berada di sekitar keberadaanku? Kau sengaja membuat tulisan yang seakan memberitahuku letak posisimu. Menurutmu aku akan mencarimu? Tidak akan!!

Sudahlah, jangan memperlihatkan diri saat kau tengah menyesal. Ini membuatku ingin tertawa. Jika harus kuberitahu, aku pun sebenarnya menyesal. Menyesal karena aku pernah menerimamu menjadi kekasihku.

Aku!!!


Sunday, February 22, 2015

Day 25 : Surat yang tak terbaca

Dear you,

Kamu,

Entah kapan kamu akan membaca ini, segala kemungkinan bisa terjadi saat kau membaca ini. Barangkali, jika saat itu tiba, kita sudah sama-sama bersama dengan pendamping yang lain. Atau mungkin, aku sudah bersama pria lain yang akan membahagiakanku. Kemungkinan lain, kita masih sama-sama menyendiri. Belum membuka hati, tapi saling enggan untuk kembali, karena gengsi barangkali!

Kamu,

Ketika membaca ini kau akan memahami seberapa beban yang aku rasakan ketika menulis ini. Masih dengan setia, kuucap namamu pada Tuhan. Masih dengan sisa kekuatan, kuminta agar Tuhan menghapuskan semua tentang kamu dari kepalaku. Aku ingin bisa berlari kedepan. Tanpa perlu lagi menoleh kebelakang. Bukankah Tuhan selalu membuka jalan, disaat kita merasa sudah tak memiliki jalan. Mungkin dengan aku meminta Tuhan membantu menghapuskan kamu, aku bisa berbahagia pada akhirnya.

Memang pernah ada harapan untuk bisa berjalan kedepan bersamamu. Membangun mimpi. Dan kehidupan yang lebih baik lagi. Tapi semua sudah berakhir. Itu hanya mimpiku, bukan mimpimu. Itu hanya harapanku, bukan harapanmu. Hidup memang misterius, tapi biarkanlah hal yang misteri itu tetaplah menjadi misteri. Siapa dirimu. Siapa diriku. Biarlah tetap seperti ini adanya.

Mungkin tidak sekarang kita ditakdirkan bersama. Tapi aku percaya jika Tuhan berkehendak kita akan dipersatukan lagi. Karena cinta tahu dimana rumahnya. Itulah kenapa aku tak memaksakan apa mauku. Jika kau tak bahagia denganku, barangkali dengan yang lain kau akan lebih berbahagia. Aku pun demikian, hanya saja bedanya, meski kamu selalu menghadirkan luka, aku masih senang bertahan dengan kamu. Bagi perempuan sepertiku, bertahan untuk orang yang dicintai, jauh lebih terhormat daripada meninggalkanmu dan mencari kebahagiaan yang lain. Masih ada setitik harapan, kau akan berubah dan mau mensyukuri hadirnya aku di hidupmu. Meski kamu bilang padaku, untuk tak ragu meninggalkanmu jika hanya luka yang kauberikan. Aku enggan pergi darimu.

Kamu,

Mungkin jika Tuhan mengizinkan kita saling bertatap, aku yakin, kita akan saling memalingkan muka. Tak dipungkiri, cara kita berpisah memang membuat aku terluka sangat dalam. Ada kisah yang selesai sebelum waktunya, tapi meninggalkan banyak luka. Ada hal yang aku rasa belum terselesaikan tapi kau enggan mendengarkannya.

Aku hanya minta, jangan mengesankan jika perpisahan ini adalah mauku. Jangan mengesankan aku tak ingin bersusah hidup bersamamu. Aku tak seperti itu. Aku menghormati kamu sebagaimana aku kelak akan menghormati suamiku. Karena yang selalu aku tanamkan, kau akan menjadi imamku.

Kamu,

Jangan marah pada orang tuaku, hanya karena mereka menanyakan padamu tentang seserius apa dirimu padaku, dulu. Mereka hanya menjalankan kewajibannya sebagai orang tua. Justru salah andai mereka tak menanyakan hal itu padamu. Karena jika demikian, kau tak dihargai mereka.

Kau hanya salah menanggapi maksud mereka. Atau bisa jadi kau memang tak memiliki keseriusan itu denganku. Tak apa, itu hak mu. Aku tak ingin memaksa. Sudah merasakan menjadi kekasihmu saja aku sudah bersyukur. Itu artinya, Tuhan mengabulkan sebagian doaku tentangmu. Tuhan sudah membiarkan aku mencecap bahagia bersamamu meski dalam kurun waktu empat bulan saja.

Tuhan itu baik, ya, Dia mengizinkan aku jadi kekasihmu. Dan saat yang sama juga, kau mengharapkan mantan kekasihmu hadir dan kembali lagi padamu. Jadi, aku ini apa? Tentu saja, aku kekasihmu, tapi hanya peneman saat kau butuh teman. Peranku tak banyak berharga bagimu. Aku hanya yang menemani saat kau ingin makan ramen tanpa perlu kau makan sendirian. Aku hanya yang menemani saat kamu tak mau sendirian memperpanjang surat izin mengemudimu. Ah, malang ternyata jadi aku selain hanya jadi yang menemani, menggenggam tanganku saja kau enggan.

Aku pernah mencoba melepaskan tangan ketika tangan kita saling menggenggam saat berjalan. Harapanku, kau akan merekatkannya dan berusaha agar genggaman kita tak lepas. Tapi aku harus menelan kecewa juga, kau seolah senang jika akhirnya genggaman itu terlepas juga.

Maaf, kenyataannya sebagai wanita aku memang senang andai kau genggam tanganku. Dan maaf jika dengan menggenggam tanganku kau menahan malu. Kau benar, aku memang berlebihan.

Semua percakapan kita masih aku simpan hingga saat ini. Aku masih betah membacanya. Meski pada akhirnya tetap ada air mata yang terjatuh sia-sia. Iya! Disana aku menemukan sosokmu yang berbeda. Aku menemukan sosokmu yang hangat hingga yang jahat. Jika kau mau baca, mari, merapatlah.

Aku tak tahu apakah kita akan bisa berdamai atau tidak. Aku tak ingin memaksakan. Semua kujalani sesuai skenario Tuhan. Jika dalam skenario-Nya saja kita pernah bersama, dan akhirnya terpisah, aku masih bisa tetap tersenyum, perihal berdamai atau tidak pun akan kujalankan juga dengan senyuman.

Kamu,

Ketika kamu baca ini, ketahuilah hingga di tulisan terakhirnya, aku masih menangis.

Dari aku,

Astrie Nova

Saturday, February 21, 2015

Day 24: Terima kasih, Elikah

Dear Elikah,

Selamat siang Elikah, tukang pos yang selalu berhasil membuat aku bersemangat saat menulis surat. Apa kabarmu? Kuharap kau selalu baik-baik saja.

Kamu baik sekali, setiap hari selalu mau membaca surat-suratku. Memberikan komentar positif pada blog pribadiku. Ini membuatku merasa diharhagai. Dulu pun aku pernah mengikuti program ini. Tapi hanya dua surat yang beliau mention. Selebihnya aku tak menerima mention tanda suratku sudah di baca atau setidaknya di publikasikan. Tapi kau berbeda, Elikah, kau setia membacanya, memberikan pujian, memberikan hal komentar positif dan itu sungguh membuatku bahagia.

Ucapan terima kasihku ini rasanya masih kurang. Tapi hanya ini yang mampu kuberikan untukmu. Terima kasih banyak. Tulus dari hati kuucapkan terima kasih ini. Tak terhingga rasa bahagia ini mendapatkan penyampai surat sepertimu. Tetap pertahankan hal positif ini ya, Elikah. Ini memberikan nilai plus buat kebaikanmu.

Kau menghargai setiap karya yang memang sungguh tak mudah ditulis dan menjadi sebuah karya. Kuakui, setiap hari otakku berpikir keras, tema apa yang harus ku angkat untuk menjadi sebuah surat. Setiap hari juga aku memilih siapa yang akan menerima atau setidaknya menjadi objek suratku. Dan rasanya semua itu terbayar setelah kau membacakannya. Terima kasih banyak.

Untuk setiap penghargaan yang sudah diberikan, terima kasih, Elikah :)

@novelisnova

#2 ; jika ada yang harus dilupakan, itu adalah aku

Tetaplah bersamaku,
Jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, milikmu
Kita satukan tuju
.......

Lagu Tulus dinyanyikan merdu oleh Dinata. Semua orang melihat kepadaku. Barangkali dalam kepala mereka terbersit perasaan iri karena sosok pria yang bernyanyi itu ditujukan spesial buatku.

Saat sedang menikmati penampilan Dinata, tanpa sengaja aku melihat sekumpulan pria yang berkumpul pada satu meja yang dekat dengan panggung dimana Dinata berasa. Aku seperti mengenali beberapa diantaranya. Astaga! Ya, mereka adalah Bisma dan teman-temannya. Ada Ikhsan, Ozy, dan satu lagi sepertinya Deri. Apa mereka sudah lama? Apa mungkin mereka tahu aku ada disini? Entahlah, yang jelas aku jadi tak nyaman berada disini. Aku ingin segera pulang, tapi Dinata masih bernyanyi. Ketar ketir rasa hatiku. Disatu sisi pipiku memerah oleh setiap hal yang Dinata berikan. Disisi yang lain, aku merasa marah melihat Bisma disini.

Dinata pun selesai bernyanyi. Langkah kakinya menujuku disambut dengan sorak sorai, tepuk tangan dan juga sorot mata para pengunjung, termasuk empat sekawan yang juga memperhatikan setiap detail Dinata. Dia tersenyum. Dan kubalas juga senyumannya bersama tepuk tangan. Aku bersikap seolah aku tak tahu ada mereka.

"Al, kamu paham, kan, maksud aku bernyanyi itu untuk kamu?"

"Iya." jawabku sembari tersipu malu.

"Aku jatuh cinta sama kamu, Al. Kamu, mau, kan, jadi pendamping hidupku?"

"Kamu serius?"

Tiba-tiba dia menggenggam tanganku. Jantungku berdetak lebih cepat. Astaga, pria ini sungguh romantis, "aku serius, Alena. Aku sungguh serius."

"Tapi, Nata, aku mencari pria yang akan menjadikanku istrinya. Ibu dari anak-anaknya."

"Kamu tak perlu khawatir. Aku memang ingin kamu jadi teman hidup. Semoga kamu mau menerima aku yang tak sempurna ini. Semoga kamu mau melengkapi kekuranganku. Menjadi pengingat ketika aku lupa."

Aku tak mampu berkata banyak. Apalagi yang harus aku cari, barangkali dia adalah jawaban Tuhan dari doa-doaku. Aku mengangguk tanda menyetujui permintaannya. Spontan saja dia pun memelukku erat. Semua yang ada disana melihat termasuk rombongan empat sekawan. Bahkan tiba-tiba saja suara tepuk tangan bergema, entah siapa yang memulai duluan, yang jelas aku bahagia, sangat bahagia.

*continued*

Friday, February 20, 2015

Day 23 : Hai Hati ; aku sudah lebih baik

Teruntuk,
Yang paling memahami;
Hati di dalam jiwa.

Hai hati,

Aku pernah sampaikan padamu, apa saja hal yang membuat kita terluka akan segera kuenyahkan. Sedikit demi sedikit janjiku sudah kupenuhi. Bila kuperhatikan, kau sudah jauh lebih baik. Tak ada lagi perasaan tersayat yang membuatmu berdarah. Kuseka setiap air mata yang akan meninggalkan bekas perih padamu.

Hati,

Aku memang sudah jauh lebih baik. Aku sedang jatuh cinta. Jangan tanya pada siapa, tanpa kuceritakan kau sudah tahu seperti apa sosok pria yang pantas menerima cintaku.

Ah, iya, kali ini aku memang lebih berhati-hati. Aku takut kau terluka lagi. Maka kali ini kuputuskan untuk mendengar setiap bisikanmu. Iya, pria yang kuperbincangkan manja itu, selalu berhasil membuat debaran jantungku bergema. Bahkan tanpa sadar, ada lengkung senyum yang terkembang kala sapaan paginya membangunkanku; "selamat pagi, cantik."

Hati,

Kau pasti bahagia, jika debaran jantungku bergema bukankah itu adalah dirimu yang melompat kegirangan. Ritmenya luar biasa cepat. Aku terkesima. Aku tersipu. Aku malu-malu. Aku melamun. Itu karena dirimu yang sedang bahagia.

Kau senang bukan? Aku tak lagi melulu bersedih. Ya, demi kamu yang selalu bersamaku aku tak ingin membuatmu terluka.

Kini,

Sudah kupenuhi janjiku padamu. Doakan selalu aku untuk senantiasa bahagia, agar kau oun ikut berbahagia.

Teruntuk dirimu yang selalu membuat detakan bahagia di dalam dada, terima kasih banyak.

Salam,

Ragamu.

Thursday, February 19, 2015

Day 22 : Selamat ulang tahun, sang photografer

Kepada kamu, yang sedang berulang tahun.

Hai, kamu,

Ternyata sang photografer berulang tahun hari ini. Selamat bertambah umur ya, tuan baik hati. Semoga di usia mu yang kesekian ini, Allah memberikan berjuta kebaikan padamu. Aamiin.

Hey, tuan, terima kasih untuk ajakanmu hari ini. Aku tidak menyangka kau akan mengajak serta aku pada acara yang mensyukuri pertambahan usiamu. Aku merasa tersanjung. Dengan demikian kau akan memperkenalkanku pada temanmu yang lain. Ah, aku sungguh terharu.

Tuan, kau sungguh ramah, menambah kekagumanku padamu. Sungguh sepintas melihatmu di foto aku terpesona. Dan setelah mengenalmu aku semakin dan semakin terpesona. Perkiraanku kau ramah, ternyata benar. Tak ada sedikitpun kau sombong dan kau selalu membalas sapaan basa basiku. Hehe.

Tuan, nanti jadikan aku modelmu ya, aku rasa, aku cukup cantik dan juga fotogenic untuk kau jadikan objek photografimu. Hihi.

Ah, sudahlah, intinya selamat berbahagia memasuki usiamu yang baru, sama seperti teman-temanmu; segera menikah *ampun* *kabur*.

Achy

Wednesday, February 18, 2015

Day 21 : untuk Bosse tersayang #OnedayOneLetter

Kecup-kecup sayang buat bosse,

Hai, bosse,

Aihh aku jadi gak sabar buat ketemu yang setia nganterin surat cinta. Seperti apakah sosoknya? Apa lebih ganteng dari Rezky Aditya, Dude Harlino, atau barangkali Ali Syakieb, hahaha, tenang bosse kayanya kamu lebih dari mereka.

Bosse, perihal undanganmu pada gathering 1 Maret nanti, aku rasa aku harus hadir. Kali aja ketemu sama jodo yang beneran jodo #eehh, hahaha. Aku juga pengen ketemu sama elikah. Dia baik banget selalu setia baca dan kasih semangat buat aku. Elikah, tukang pos yang sangat baik, jadi makin semangat buat nulis surat harinya. Jadi ngerasa ada bentuk penghargaan dari Elikah buat penulis surat kaya aku ini.

Oh, iya bosse, seneng rasanya kamu pilih Bandung buat jadi tempat gathering para penulis surat cinta. Kamu benar, Bandung memang selalu menghadirkan cerita cinta di tiap sudutnya. Itulah yang membuatku enggan meninggalkan Bandung. Apa yang membuatmu mencintai Bandung, Bosse? Kasih tau aku dong.

Bosse, makasih ya, udah selalu ngadain event seperti ini. Bahagia rasanya buat penulis amatir seperti aku bisa ikut bergabung dan mengeluarkan kemampuannya. Big thanks and applause buat kamu.

Udah dulu, ya, isi surat terkadang tak perlu panjang-panjang hehehe.

Dari aku,

@novelisnova

Tuesday, February 17, 2015

Day 20 : kepada; kamu, yang mengagumiku

Dear Panji,

Itu namamu, kan? Meski kita tak pernah bertatap hingga sekarang, tapi suaramu pada sambungan telpon selalu menarik tawa dalam kepenatanku. Bagaimana tidak, kau yang hanya tahu wajahku dari display picture BBm dengan tanpa malu mengatakan kepada rekanmu, kau mengagumiku.

"Halo selamat siang?" jawabmu ketika aku menelpon untuk mengajukan komplen ke kantormu.

"Panji, ya?" tanyaku langsung. Aku memang sudah hafal suaramu. Dan dari nada bicaramu yang khas, memudahkanku menerka siapa pria yang mengangkat teleponku kali ini.

"Iya, ini siapa?" tanyamu kembali. Dari nadamu saja, aku sudah bisa membayangkan seperti apa wajahmu jika sedang menerka siapa aku.

Sembari menahan tawa, aku jawab siapa aku. Dan kau pun akan mengulang menyebut nama lengkapku.

"Oh, Astrie. Astrie Nova?"

"Iya." dan akhirnya muncul juga gangguan di belakangmu yang ketika tahu aku menelpon mereka menyorakimu. Dapat kudengar suara di belakang. Mereka terus menggodamu dan sepertinya membuatmu merasakan seperti apa pipi yang memerah.

Hahaha, sudahlah, aku tak kuasa menahan tawa. Aku mau tanya padamu, apa benar dasar kau mengagumiku karena aku cantik, sepertinya baik, dan lemah lembut? Hmmmmm, pas bagian aku lemah lembut, aku sedikit tersinggung, hahaha, tenang aku bercanda.

Aku ini bukan wanita lemah lembut, Panji. Kau salah menerka sosok aku. Ya, kalau di telpon aku lembut, percayalah itu hanya tuntutan profesi, upss!!! Aslinya aku perempuan yang banyak bicara. Bisa dikategorikan bawel. Jadi soal lemah lembut, kau salah besar.

Terima kasih, ya, sudah mau mengagumiku. Aku menghormati perasaanmu, sungguh. Meski kita belum bertemu, percayalah jika Tuhan menghendaki kita pasti bertemu.

Soal kamu sengaja ke kantorku dan tak bertemu denganku, aku minta maaf. Andai saja aku tahu kau yang mengirimkan pesananku langsung, aku pasti yang akan menerimanya. Mudah-mudahan lain waktu kita bisa bertemu juga ya.

Sekali lagi, terima kasih, kejujuranmu membuatku sedikitnya juga mengagumi sosokmu.

See you one day, Panji

Astrie Nova

Monday, February 16, 2015

Day 18 : kau dimana?

Hai Ryan Mega Permana,

Aku sedang menghitung berapa waktu kita sudah tak berjumpa. Sudah sembilan tahun ya? Terakhir kita bertemu saat ujian praktek agama di sekolahku. Aku ingat kita bertatap muka, tapi tak mau bertegur sapa, sebenarnya saat itu aku tahu kau hendak menyapaku. Menyapa kekasih yang kau abaikan dulu. Aku sengaja memalingkan muka, saat itu aku memang benci kamu. Seenaknya saja kamu memperlakukan aku sejahat itu, lalu menyesal dan ingin kembali.

Ah, tapi sudahlah, itu masa lalu. Bagaimana kabarmu sekarang? Lupakan kita pernah menjadi sepasang kekasih. Pertanyaanku tadi adalah pertanyaan seorang teman. Karena diantara ratusan temanku yang lain, hanya kau yang jejaknya tak kutemukan.

Kau dimana, Tuan angkuh yang menggemaskan? Jika kuingat awal mula kita saling suka, aku ingin tertawa. Awalnya kau adalah pria yang disukai teman-teman sekelas kita. Kau memang bisa dikategorikan murid baru, anggaplah demikian. Semua perempuan di kelas bahkan di sekolah mengidolakanmu, kecuali aku.

Jangan heran, entah dalam hal ini aku yang tak normal, atau memang kamu bukan tipeku, tapi yang jelas aku tak pernah mengagumi kamu, sedikit pun. Ditambah lagi sikap angkuhmu sedikitnya membuatku benci kamu. Kamu itu menurutku so' cakep, jika diajak ngobrol hanya anggukan atau gelengan saja sebagai jawabannya, dan itu sungguh membuatku muak.

Tapi, ya, begitulah, beda cinta setipis benci. Aku yang membencimu pada akhirnya luluh juga setelah tahu kau menaruh hati. Aku tak bisa menolak cinta pria angkuh menggemaskan,

Ah, sudahlah, lupakan. Aku ingin tahu, kau dimana, dan bagaimana kabarmu? Aku rasa, aku sudah memaafkanmu, mari kita berteman kembali.

Sunday, February 15, 2015

Day 17: I can do it

Hai Ris,

Ini adalah surat kesekian yang aku tulis di tantangan sulat kali ini. Meski tak yakin kau akan membacanya, tak apa, terkadang juga aku malas menemukan objek yang akan kujadikan isu utama untuk tulisanku.

Ris, kemarin adalah hal terlucu menurutku. Bagaimana tidak, kita seperti sedang bermain petak umpet. Kau berada di sekitarku tapi Tuhan seolah menyuruhku untuk tidak menginjak tempat yang ada kamu disana.

Lucu saja! Kita berada di lingkup area yang berdekatan. Bahkan aku seharusnya melewati jalan yang ada kamu disana. Tapi, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Aku justru menggerakkan langkahku menjauhi rute jalan yang bisa saja membuat kita saling bertatap mata lagi.

Ya! Aku memang sedang tak ingin bertemu apalagi melihat sosokmu. Aku takut, aku yang sedang berjuang melupakanmu dan sedang belajar mencintai orang lain, akan runtuh pertahanannya. Bisa jadi, aku yang tertatih mencintai orang lain, malah terhalan karena jebakan kenangan masa lalu bersama kamu.

Ah, terima kasih, Tuhan, Kau menyelamatkanku dari kelukaan dan juga nestapa. Inilah caraku bersyukur atas ketetapan-Mu.

Oh, ya, Ris, boleh aku bertanya satu hal padamu? Untuk apa kau sengaja berada di tempat-tempat yang memungkinkan bisa melihatku? Kadang aku merasa kau itu konyol. Aku saja enggan main ke suatu tempat yang dalam jangkauanmu. Aku enggan bertemu. Aku enggan terluka lagi.

Tapi, Ris, maaf, aku rasa kau berhak berada dimanapun. Di tempat yang kau inginkan. Abaikan saja pertanyaanku barusan. Aku hanya sedang senang menerka saja.

Sungguh, sama sekali aku tak menyangka, aku bisa jauh lebih baik-baik saja setelah kau memutuskan pergi. Ya, keputusanmu itu menempaku untuk kembali menjadi perempuan tangguh dan mandiri. Sebab aku tahu, aku bisa tanpa kamu.

Ah, sudah, ah, lama-lama menulis surat untuk kamu melelahkan. Baik-baik ya, Ris. Sama seperti aku yang baik-baik saja.

Friday, February 13, 2015

Day 16 : #justSayIt ; aku mengagumimu

Maukah kau menjadi sepasang doa yang saling menjaga, di mana detak nadimu dan hembus napasku menjadi satu dalam ikatan cinta.

Mas, itu adalah sepenggal puisimu dalam buku "Satu kata satu rasa" jilid pertamamu. Membacanya saja, membuat sekujur tubuhku bergetar. Maknanya begitu menyiratkan bahwa ada cinta yang terkandung di balik keinginan menyatukan doa.

Aku tak terlalu mengetahui sosokmu. Perkenalan kita pun tak lebih dari ke-anomali-an saja. Melewati Tumblr kita saling bercengkrama. Saling mengikuti setiap jejak catatan yang isinya bisa jadi menggambarkan banyak perasaan para pembacanya. Mungkin, jika saja aku tidak iseng memintamu untuk mem- follback akun tumblr ku, kita tak mungkin akan saling bertukar nomor ponsel dan juga pin BB.

Mas, aku rasa kau dan aku memiliki kesamaan. Yaitu senang menikmati secangkir kopi dan duduk menghabiskan waktu di depan komputer. Hanya bedanya kau sedang menuliskan artikel yang siap naik cetak, sedangkan aku sibuk mengerjakan rutinitas kantor saja. Kau suka kopi machiato ya? Kalau aku sih, cappucino, entah kenapa sepertinya ada beberapa beban yang bisa hilang saat kuteguk kopi favoritku itu. Ada rasa bahagia juga saat kunikmati kopi bersama rintik cantik dari gerimis yang manis.

Oh, iya, Mas, aku mau berterima kasih padamu. Kau telah mau bersusah mengirimkan puisimu untukku. Rasanya aku berada di awan. Merasa disanjung. Dan merasa dianggap berharga karena puisimu. Kita memang tak melalui perkenalan yang saling bertatap, tapi percayalah aku merasa dekat dan mengenalmu telah lama.

Aku tunggu janjimu lho, Mas, kau mau memberiku satu buku puisi "satu kata satu rasa" mu jilid dua. Aku tak sabar. Ingin segera membacanya, dan lagi-lagi bergetar karena kagum pada penulisnya.

Mas, sebenarnya aku ingin menulis banyak padamu, tapi, keterbatasan kata juga waktu yang harus membuatku menyudahi surat ini untukmu.

Baik-baik ya, Mas. Tetap semangat berkarya dan terus menuliskan puisi yang indah.

Aku mengagumimu :)

@novelisnova

Ps: sampaikan surat ini pada pemilik akun twitter @sepotongsenja

Day 15 : Melepaskan kamu

Dear You, Ris

Ris,

Aku rasa setelah kita putus, kau masih baik-baik saja. Tak ada sedikitpun penyesalan apalagi perasaan bersalah. Tak apa, Ris. Perihal hati memang tak bisa dipaksakan. Kau benar, jika tidak ada alasan untuk bahagia, jangan takut untuk melepaskan.

Mungkin seharusnya memang seperti itu. Seharusnya aku berpikir seperti itu saat kamu mulai belajar keras membuatku terluka. Seharusnya aku tak boleh tolol, kenyataan yang ada kau tak mencintaiku.

Ris,

Sejatinya aku memang bersalah. Bersalah karena aku terlalu memberikan cinta kepadamu sepenuh hati. Dan ketika kau menyakitiku, tak ada sisa hati yang mampu menguatkan aku. Aku memulai kembali dari nol. Yang kupunya saat ini adalah sisa-sisa dari semangatku untuk menata hidup. Masih dengan luka, aku terseok-seok menatap masa depan. Masih dengan luka juga, aku tertatih untuk segera bangkit.

Kini harapan aku, semoga ketika Tuhan mempertemukan kita dalam jengkal tatap tak sengaja, semoga aku bisa dengan tak sengaja juga tak melihat sosokmu. Dengan demikian aku tak lagi perlu terluka olehmu.

Ris,

Doakan aku bahagia, aku memiliki keyakinan tanpamu aku akan bisa jauh lebih berbahagia dengan orang lain.

Thursday, February 12, 2015

Day 14 : Dari gadis paris van java

Hai Pria menarik di balik kaca mata tak berbingkai,

Begitu kau baca surat ini, kau pasti bertanya gadis mana yang berani mengirimkan sekumpulan huruf yang terangkai menjadi kata melalui surat yang barangkali tak akan kau balas. Tapi, tak apa, tak jadi soal, bisa sampai ditanganmu saja surat ini, aku bersyukur.

Oh, iya, aku rasa kali ini kau tengah mengernyitkan keningmu, berfikir keras siapa perempuan tak tahu diri yang berani menuliskan surat padamu. Tenang saja, aku perempuan baik yang hanya bisa mengagumimu dalam diam. I'm not freaky girl. Ketahuilah gadis ini masih tau batasan antara menahan rindu dan mengungkapkannya.

Oh, iya, apa kabar si ksatria baja hitammu? Masih setiakah dia mengantarmu kemana-mana? Atau barang kali dia sudah tergantikan dengan hadirnya power ranger merah barang kali. Tenang saja aku hanya tahu sampai sana tak lebih. Ya, sedikit lebih jauh pun hanya sampai kau seorang vokalis dari band bernama azzure. Selebihnya aku tak terlalu memahamimu. Sungguh.

Setelah kau baca surat ini apakah ada rasa sedikit penasaran tentang siapa aku? Jika iya, aku bersyukur. Tapi jika tidak pun tak apa.

Sampai pada inti masalahnya. Aku sedang menulis surat selama tiga puluh hari. Ini komitmenku. Dan kali ini aki sedang bingung pada siapa kutujukan surat berikutnya ini. Akhirnya kuputuskan menuliskan ini untukmu saja. Sebelumnya aku minta maaf karena lancang menuliskan ini padamu.

Jika kau peka, aku sudah lama mengagumi sosokmu. Barangkali pertama aku jatuh cinta saat kita tak sengaja sholat magrib di mesjid yang sama di kampus kita. Jangan mempersoalkan aku siapa, tapi wajahmu yang bercahaya selepas sholat itu membuat aku terpesona hingga tak melepaskan pandanganku terhadapmu.

Saat kau tersenyum, aku semakin terpesona lagi. Deretan gigi yang rapi membuat senyuman itu semakin indah. Dan matamu, aku seperti tenggelam dalam tatapan matamu yang sipit yang terbenam di balik kaca mata tak berbingkai. Sejak saat itu, setiap detilmu menjadi perhatianku.

Aku mohon jangan marah padaku. Meskipun iya aku menyukaimu, tapi aku tak berniat mengusik kamu. Silakan, jalankan kehidupanmu seperti biasa. Aku lebih suka mengagumimu dalam diam. Memujamu dari kejauhan, itu saja sudah cukup.

Oh, ya, rasanya tak perlu berlama-lama aku menuliskan ini. Apa yang kumaksudkan sudah kusampaikan padamu.

Salam sejahtera,

@novelisnova

Tuesday, February 10, 2015

Day 13 : Sampaikan ini padanya

Dear Tuhan,

Sepertinya kali ini aku sedang sedikit jatuh cinta. Sedikit saja. Tolong jangan tertawakan kejujuranku kali ini ya, Tuhan.

Sebenarnya aku sudah agak lama mengenalnya. Sudah delapan bulan. Hanya saja belum ada kesempatanku untuk bertemu dengannya. Dua kali aku kecewa karena dia selalu membatalkannya tanpa alasan yang cukup jelas.

Jika dilihat secara fisik, dia cukup menarik perhatianku. Mungkin jika kau izinkan aku bersamanya, luka hatiku bisa sembuh segera. Meskipun aku tak yakin, apakah aku bisa menghadapi sikap dingin dan cueknya itu.
Ah, tapi bukan itu Tuhan inti permasalahannya. Aku mohon padamu, izinkanlah aku bersamanya. Aku ingin menjadi bagian yang terpenting dalam hidupnya. Andai saja aku mampu, aku ingin mendekatinya. Tapi, usahaku akan terasa percuma jika tanpa bantuan Engkau, Tuhan.

Aku mohon, gerakkanlah hatinya. Tuntunlah langkahnya ke arahku. Tautkanlah hati kami. Buatlah kami bersatu dalam berbagai kemudahan. Jika hatinya keras, aku mohon lembutkanlah. Jika dia egois, lunakkanlah. Sehingga kami bisa menjadi pasangan yang saling memahami dengan penuh cinta kasih.

Tuhan,

Jangan tertawakan doaku ini, ya. Aku tahu sebelumnya aku pernah berdoa seperti ini. Hanya saja saat itu aku lupa berdoa untuk selalu membahagiakan kami saat kami menjadi kekasih. Maka kali ini doaku kuperjelas maksudnya. Agar aku tak mengalami lagi luka seperti kemarin.

Maksud aku, ya, aku tahu, tanpa aku menyebutkan doaku sesempurna mungkin, kau pasti tahu apa yang terbaik buat aku. Hanya saja, Tuhan, aku ingin mengakhiri pencarianku. Aku sudah tak ingin berpetualang lagi. Aku ingin berlabuh dan menetap pada satu hati yang nantinya akan kusebut sebagai suami, ayah, kakek, sampai aku menutup mata.

Kau pasti lebih memahami keinginanku yang ini. Aku tak ingin berbasa-basi. Karena sebelum kuutarakan maksudku Kau sudah jauh lebih dulu tahu.

Terima kasih Tuhan :)

Monday, February 9, 2015

Day 12 : Selamat tanggal 10 ke 6 yang Gagal

Dear you,

Sekarang adalah tanggal 10, jika kita tak putus, hubungan kita sudah memasuki bulan ke enam. Mungkin juga lagi dan lagi aku akan menuliskan ucapan "selamat tanggal sepuluh yang keenam sayang, long last" pada akun-akun sosial mediaku. Dan pastinya lagi, aku akan menulis berbagai quotes rasa syukur pada Tumblr dan menulis pada blog pribadiku tulisan singkat tentang bahagianya aku di tanggal sepuluh keenam ini.

Lagi dan lagi, aku harus menerima kenyataan tanggal sepuluh ini hanya tinggal kenangan. Sama sekali aku tak memiliki banyak keberanian mengharap bisa mengulang tanggal sepuluh dengan kembalinya dirimu. Aku tak ingin men-semoga-kan engkau. Tak ingin bermimpi kau akan minta maaf dan mau berbaik hati kembali padaku. Jelas saja itu bukan sifatmu. Gengsi dan arogansimu sudah mengalahkan nuranimu untuk minta maaf dan mengakui kesalahanmu.

Tadi malam tak sengaja aku lihat status terbarumu, kau mengatakan 'terimakasih atas waktunya', entah kepada siapa kau tujukan ucapan ini, hanya saja aku seperti berpikir saat aku masih menjadi kekasihmu dulu. Seingatku, kau tak pernah menuliskan itu, padahal aku selalu berusaha ada untuk kamu. Kau tak pernah tahu, di sela-sela rasa lelahku, aku masih mau menyisihkan banyak waktu buatmu. Bukan aku perhitungan, tapi aku baru sadar kau tak pernah mensyukuri waktu yang sudah kuberikan banyak padamu.

Aku merasa ini ketololanku. Kenapa saat itu aku begitu mau mengorbankan banyak hal untukmu. Padahal jelas, semua yang kukorbankan itu tak berarti banyak untukmu.

Apa kau tahu, tiga hari sebelum kita berakhir, ku ucap namamu dalam sholat istiharakhku. Kupanjatkan doa tulus, meminta Tuhan menunjukkan kebaikan padaku. Apakah kamu yang akan menjadi nahkoda bagi rumah tanggaku kelak. Bahkan seminggu setelah putus pun, namamu masih setia kuperbincangkan kepada Tuhan. Dengan manja aku merengek, aku menangis, meminta Tuhan memberi petunjuk tentang siapa yang terbaik bagiku.

Pada istiharakhku yang ketiga, kelima, dan ketujuh, kau hadir di mimpiku. Entah, apakah hadirmu merupakan jawaban dari Tuhan untukku. Sejak saat itu, aku seperti orang yang merawat luka. Aku seperti orang yang senang menikmati kesedihan. Aku tak ingin membencimu. Aku hanya takut, bisa saja aku membenci jodohku.

Tapi, sepertinya semua tak berarti. Semakin hari kau tampil memberikan luka baru. Dan aku masih berusaha tersenyum dan mengatakan "semoga kau berbahagia". Itu jugalah yang pada akhirnya menyadarkan aku untuk sekedar men-semoga-kan dirimu saja aku enggan.

Aku percaya, jika Tuhan memang mentakdirkan kamu untukku, Dia yang akan menuntunmu ke arahku. Tak perlu lagi ada kata semoga. Aku hanya tak ingin doa kita bertabrakan; saat aku menyebutkanmu dan kau menyebutkan nama perempuan lain.

Tenang saja, meski merawat luka, aku juga sedang menanam keikhlasan. Akan ada saatnya aku bisa menghapuskan semua yang berhubungan dengan kamu.

Terima kasih.

Sunday, February 8, 2015

Day 11 : Surat pertama untuk mama

Dear Mama,

Aku ingin minta maaf padamu. Aku tahu perhatianmu kadang kuanggap berlebihan. Mungkin karena aku belum bisa menjadi sepertimu. Belum tahu bagaimana rasa cemas terhadap buah hati itu seperti apa, sebesar apapun dia.

Aku memang terkadang merasa risih, padahal aku merasa aku sudah mampu jaga diri, tetapi tetap saja kau tanpa lelah menghubungiku dan menanyakan keberadaanku. Kemudian jika aku sudah di rumah, kau sambut aku dengan wajah marah, tak bicara sedikit pun, kau kesal padaku karena terlambat pulang untuk kesekian kalinya.

Ya, jika sudah begitu emosiku pun ikut memuncak juga. Aku pun jadi ikutan marah padamu karena kau tak paham bagaimana menjadi aku. Padahal mungkin dalam hal ini aku yang tak memahami perasaanmu, kecemasanmu, rasa marahmu yang sebenarnya sayang padaku.

Kelak pun aku pasti akan sepertimu, ma, cerewet, bawel, tapi aku sayang buah hatiku. Maafkan aku, ya, ma, tidak bisa mengerti hatimu.

Ma, aku memang tak pernah mengatakan ini padamu. Jujur, aku terlalu gengsi, atau mungkin tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Tapi ketahuilah, jauh di lubuk hati yang paling dalam aku sungguh amat menyayangimu. Dan aku begitu takut kehilanganmu, ma. Setiap kali kutuliskan namamu dalam postinganku, aku pasti menangis. Kali ini saja, saat kutuliskan tentangmu, mataku sedang tertatih untuk tak menangis.

Entah kenapa, kalian orang tuaku selalu membuatku takut kehilangan. Aku tak mau membayangkan kalian akan meninggalkanku. Sehat terus, ma, pa, sampai semua keinginan kalian bisa kuwujudkan satu persatu.

Berjanjilah, kalian akan sehat sampai kapanpun. Bukankah kalian ingin melihat aku menikah dan bersanding dengan pria baik di pelaminan? Jadi bertahanlah untuk itu. Tuhan pasti akan segera mengabulkan permintaan kalian itu.

Ma, untuk setiap luka yang kutorehkan pada hatimu, aku minta maaf. Sama sekali aku tak bermaksud demikian. Aku mencintai kalian sampai kapanpun.

Untuk cinta yang tak pernah bisa kuucapkan, bacalah ini, AKU SAYANG ENGKAU, MA.

Anakmu,

Astrie Nova

Saturday, February 7, 2015

Day 10 : Tentang PDA (Public Display Affection)

Kepada kalian pria yang terkadang mempermasalahkan soal PDA.

PDA atau Public Display Affection (mengumbar kemesraan di tempat umum) sebenarnya tidak salah. Selama proses yang dijalankan masih tahap wajar. Bukan berciuman atau mesra berlebihan. Selama yang dijalankan hanya sebatas menggenggam tangan ataupun merangkul bahu.

Ketahuilah hal semacam itu bukan bermaksud untuk mengumbar atau memamerkan kepada orang-orang bahwa kita sebagai pasangan kekasih.

Bagiku, saat berjalan bersamamu, digenggamnya tangan terdapat perasaan aman. Aku tak takut berjalan di keramaian, karena ada kamu yang selalu menggenggam tanganku kemanapun langkah kita tertuju. Dan untuk merangkul, aku merasa nyaman ketika kau rangkul bahuku dekat dengan lenganmu. Aku bisa merasakan bagaimana suara detak jantungmu menggema. Aku aman. Tak akan ada orang yang mengganggu, mengusili, atau berniat jahat.

Aku tak tahu alasanmu merasa risih. Tapi sebelum kau hanya merasa risih, kau pun harus memahami bagaimana perasaan perempuan itu. Bagaimana perempuan akan merasa aman, jika untuk kaugenggam tangannya saja ada keengganan. Jika untuk merangkul bahunya saja, kau tak mau. Ingatlah, perempuan manapun, setangguh apapun dia, tetap ingin merasa dilindungi.

Kau tak bisa menyamakan dia dengan dirimu. Saranku, jika untuk memberi hal sederhana yang membuatnya aman saja kau tak bisa, sebaiknya kau tak usah mengharap cinta. Kodratnya kau diciptakan Tuhan adalah untuk melindungi, dan perempuan tercipta untuk dilindungi.

Semoga kau bisa paham tentang PDA bagi seorang perempuan.

@novelisnova

Friday, February 6, 2015

Day 9 : Saxophonist

Kau membuat debaran jantungku menggema tepat di nada pertama kau meniupnya.

Aku tak kuasa menahan haru. Masih dengan decak kagum, dadaku bergemuruh rasanya. Sungguh aku tersihir olehmu. Dan sepertinya aku jatuh cinta padamu.

Kau terlihat mengagumkan. Dengan kemeja putih, rompi hitam, dasi abu, semakin diperindah dengan topi hitam, kau semakin mempesona. Nada awal yang kau tiup menggetarkan jiwaku saat itu juga. Sungguh debaran ini begitu indah, tuan pemain saxophone.

Satu nada reff untuk lagu perahu kertas menenggelamkan anganku. Tanpa sadar aku ikut bernyanyi bersama tiupan saxophone mu.

Kubahagia, kau telah terlahir di dunia, dan kau ada diantara milyaran manusia dan kubisa dengan radarku menemukanmu.

Ya!! Dengan radarku, aku menemukanmu. Lucu, pria pemain saxophone itu akhirnya menyentuh relung hatiku. Pria dengan kemampuan meniup saxophone itu sungguh terlihat sexy. Dengan mata terpejam, bibirnya meniupkan nada yang dibantu jari jemarinya. Kau itu indah, tuan, sungguh indah. Dan aku rasa, pantas aku jatuh cinta padamu. Kau dan saxophone mu itu begitu romantis untukku.

@novelisnova

Thursday, February 5, 2015

Day 8 : Melepas mimpi

Dear you,

Aku enggan menyebut namamu. Sesak rasanya setiap kali orang-orang menyebutkan namamu. Ada luka yang tersayat ketika banyak orang sengaja mengingatkanmu padaku. Sekuat apapun aku dihadapan mereka, nyatanya aku tetaplah lemah.

Aku hanya berdoa, semoga Tuhan segera menyembuhkan lukaku. Menggantikanmu dengan yang lebih baik lagi, sebab aku percaya "Tuhan tak akan mengambil seuatu yang baik, kecuali digantikan dengan yang lebih baik lagi".

Dengan demikian Tuhan sudah mengemas yang lebih baik dari kamu. Tuhan akan mengutus dia menjadi penggantimu. Jadi aku rasa, aku tak perlu cemas, yang terbaik itu memang ada.

Yang dipersiapkan Tuhan itu, adalah dia yang akan bersyukur ribuan kali karena memilikiku. Yang tau cara membuat tersenyum, bukan cara membuat menangis. Yang paham bagaimana bersikap dan bertutur kata. Yang tahu bagaimana berjanji untuk ditepati, bukan berjanji untuk diingkari. Yang tak akan menyembunyikan aku dari dunianya, melainkan dengan bangganya membawa aku memperkenalkan pada dunianya. Yang mengakui dirinya salah ketia dia salah, bukan malah mencari pembenaran atas kesalahannya. Yang mengerti cara menghormati orang tua, bukan mengumbar kekesalannya di sosial media.

Semoga kamu paham, dirimu bukanlah yang sempurna. Jadi jangan merasa bangga terhadap hal yang hanya sepele di mata Tuhan.

Tuesday, February 3, 2015

Day 7 : The first time in forever (I Love You)

Teruntuk; kakak kelas dua tingkat di atasku.
Mahasiswa Teknik Informatika
Anggota Badan Executive Mahasiswa.

Ini adalah tantangan 30 hari menulis surat cinta yang membuatku harus sedikit memutarkan otak. Dimana surat kali ini harus kutujukan kepada seseorang yang memberikan pertemuan pertama yang mengesankan. Akhirnya aku ingat, saat bertemu denganmu adalah hal paling berkesan bagiku.

Kau pasti mengernyitkan kening, bagaimana bisa pertemuan pertama begitu mengesankan untukku?

Baiklah, aku adalah pengagummu dari awal. Sosokmu berhasil mencuri perhatianku. Dalam berpakaian kau begitu sederhana, celana jeans standar dan kaos polo berkerah. Ah, sesederhana itulah kau membuatku mengagumimu.

Apa hanya dari berpakaian saja aku mengagumimu?

Tidak. Tentu tidak. Perkiraanku kau adalah mahasiswa cerdas. Terlihat dari cara kamu bertutur kata, begitu sopan. Menunjukkan kalau dirimu adalah pria berbudi pekerti luhur.

Akhirnya Tuhan mengabulkan harapku. Setelah satu tahun aku hanya jadi pengagum rahasiamu. Dia begitu baik, tanpa kuminta Ia mendekatkan aku dan dirimu hanya melalui selipan komentar pada status aplikasi media sosial sejuta umat. Sejak saat itu, kau intens memberikan komentar, kau juga tak lupa memberikan tanda jempol pada setiap postingan-postinganku.

Nyatanya, Tuhan juga-lah yang menggerakkan tanganmu untuk menghubungiku. Nomor ponsel yang tertera di profilku, membuatmu pada akhirnya mengajakku semakin dekat lagi. Kita bercengkerama dalam sebuah percakapan singkat yang kita sebut sms. Kau banyak bercerita, dan aku banyak berkomentar. Itu sungguh menyenangkan, semenyenangkan ketika akhirnya kamu mengajakku bertemu juga

2 November 2010

Tanggal yang tak akan aku lupakan. Di tanggal itulah kita akhirnya bertemu. Dari kejauhan sudah kulihat sesosok pria tinggi menggunakan kemeja warna ungu muda terduduk di atas motor hitamnya. Ketika aku menghampirimu, matamu yang sipit terbenam dalam simpul senyum yang mengagumkan. Aku sungguh terpesona. Kau mengajakku berjabat, memperkenalkan diri dengan sopannya. Itulah kali pertama aku menyentuh kulit tubuh pria idamanku.

Selasih!

Itulah nama tempat makan yang kita singgahi. Satu porsi cah kangkung seafood, nasi, kwetiaw seafood, dan dua gelas cappucinno float pelengkap pengantar obrolan kita. Aku masih ingat semuanya. Ah, tuan, demi apapun itu aku tak akan melupakan setiap hal yang terjadi untuk kita.

Semenjak disana, aku akui aku semakin jatuh cinta padamu.

The first time in forever is you, baby.

Day 6 : Pria tangguh itu; Ayahku.

Kau adalah harta berhargaku, Ayah.

Ayah,

Semoga Tuhan senantiasa memberi kesehatan lahir bathin untukmu.

Ayahku tersayang, sebagai putrimu ada kecemasan menggelayut di pelupuk mataku. Setiap kali kusebut namamu dalam tulisanku, aku benar-benar lemah. Tangisanku pasti berjatuhan sepanjang tulisan mengenaimu terukir disini.

Ayah, sepenggal kisah sudah kita lalui, kehadiranku menjadi pengobat rindu kalian kala itu. Tangisan pertamaku seolah cambuk untukmu. Kau harus lebih mengeluarkan banyak tenaga untuk bekerja semakin giat. Kau tak ingin putri kecilmu itu tak terjamin kebahagiaannya kelak.

Ayah, kau sosok yang kubanggakan dengan sempurna. Kelak jika ku bersuami, aku ingin sosok pria yang sepertimu, menjunjung tinggi nilai kasih sayang dalam keluarga. Aku bahagia, kau tak pernah menuntutku untuk memiliki kekasih yang sesuai kriteriamu. Bagimu, asal dia bertanggung jawab, dan mau taat pada Tuhan, sudah menjadi syarat utamamu. Tak sulit bagi calon menantumu untuk mendapat restu darimu selama dia memiliki dua syarat utama itu.

Ah, ayah, sehat terus kau dan ibu sampai aku sukses kelak. Semoga Tuhan menjaminkan rasa bahagia padamu. Maaf, aku belum sempat menjadi yang bisa kau banggakan.

Penuh cinta untukmu dariku,

Anakmu

Sunday, February 1, 2015

Day 5 : Untuk Ksatria Baja Hitamku

Yang tersayang,
Ksatria Baja Hitamku;
Rio Raditya

Annyeonghaseyo, Rio Oppa

Apa kabarmu setelah lama kita tak berjumpa. Kudengar kau sudah lebih baik dibanding awal perpisahan kita. Syukurlah, karena sekarang pun aku sudah baik-baik saja.

Oh, iya, apa kabar keponakan tersayang kita, Anjani? Dia baik juga, kan? Sudah dua tahun aku tak berjumpa dengan si cantik yang sempat dikira orang sebagai putri kita. Wajahnya memang memiliki banyak kemiripan denganmu, Rio, pantaslah ketika kita mengajaknya jalan-jalan orang menyangka dia anak kita, kita hanya tersenyum simpul tanpa sedikitpun mengelak. Saat iti, kita sedang belajar jadi orang tua.

Rio, ksatria baja hitamku tersayang, sepertinya harus aku akui aku merindukanmu. Sosokmu sangat sempurna bagiku, apalagi di bandingkan dengan pria-pria setelah kamu. Ah, Rio, mereka tak sehebat kamu dalam memperlakukan aku. Mereka tak sepertimu yang memahamiku. Kukira, perpisahan kita tak akan semelukai kita. Nyatanya aku dan kamu memang saling menyakiti. Aku tahu kau hanya bersikap kuat dan kenyataannya kau rapuh.

Tiga hari setelah perpisahan kita, dua tahun lalu, temanmu mendatangi aku dan mengumpat dengan hebatnya. Dia memaki tanpa tau alasan sebenarnya. Dia mengatakan padaku jika kau tak ingin makan dan keluar kamar. Aku merasa bersalah. Maafkan aku Rio, sementara alasan saat itu tak bisa kukemukakan padamu.

Tapi, aku tak pernah mengira kau pun bisa sejahat itu padaku. Di ulang tahunku kau sama sekali tak mengucapkan selamat padaku. Baru di tahun 2014 kau mau mengucapkan lagi setelah kau tahu alasan terbesar yang saat itu aku sembunyikan. Setelah kau paham, kau bisa memaafkanku, kan? Syukurlah jika sudah, beban bersalahku sudah berkurang pada akhirnya.

Oh, iya, jika bertemu dengan anjani, salam sayang dan rindu dariku, ya.

Tak perlu menyesali yang sudah terjadi, Rio, kau terbaik dengan caramu.

Aku bangga pernah memiliki kamu dalam hidupku.

Astrie

Day 4: garis batas mencinta dan benci

Panggillah dirimu dengan sebutan "Ris".

Jangan mengelak lagi, Ris, aku sedang tak ingin banyak berdebat denganmu. Sesekali kau harus bisa belajar untuk mengalah, tapi bukan sebagai orang yang kalah. Turunkan sedikit egomu, tak perlu berapi-api mempertahankan yang sejatinya salah. Jika kau salah, akuilah. Tak perlu melahirkan alibi untuk bisa menang kala beradu argumen denganku.

Ris,

Kenyataannya ada garis batas yang tak bisa kubedakan antara merindu dan membenci. Harus ku akui, aku sedang merasa sangat amat membencimu. Mengingat kau pernah sebegitu hebat menyakitiku. Tapi, semakin kuyakinkan diri aku benci, aku merasa sedang tertatih menahan rindu. Tak mudah menghapus kenangan yang didalamnya pernah ada kamu dan aku yang disebut Kita.

KITA!! Aku benci harus mengakui kata itu sudah bukan lagi kau dan aku. Kata yang pernah menautkan kamu menjadi malaikat pelindungku. Hari ini tak sengaja aku kembali membaca isi percakapan kita saat masih baik-baik saja. Aku menangis, kau ternyata pernah semanis itu padaku. Tak seluruhnya kubaca, karena aku tahu semakin kubaca hingga akhir, aku mungkin akan semakin membencimu. Ya, karena aku tahu jika semakin kuteruskan membaca, di akhir ada permintaanmu yang meminta berpisah denganku. Dan aku masih dapat mengingat jelas sejahat apa kamu terhadapku.

Ris,

Disana tertera kata "cepetan tidur gih, yang", saat kau menyuruhku untuk segera memejam mata di malam percakapan aksara kita. Aku memutar kenangan, kamu memang pernah semanis itu. Dan itu berjarak tepat dua hari sebelum ulang tahunku. Ternyata kau manis, kau begitu berhasil membuatku tahu seperti apa rindu yang membabi buta.

Tapi apa yang kau lakukan pada akhirnya, Ris? Kau melukaiku seluar biasa yang tak kukira. Pria yang selalu kupuja, dengan menjentikkan jemari saja berhasil membuat air mata itu mengalir bebas, tak tertahankan.

Kau itu hebat. Hebat dalam membuat aku terluka. Dan aku ini bodoh. Bodoh karena aku sadar pada perjalanan hubungan kita pun dulu aku masih mau bertahan dengan kau yang melukai aku. Ya, pantas, sih, kau meninggalkanku, barangkali kau tak mau terbebani dengan wanita bodoh ini. Wanita bodoh yang dengan ketololannya mau berdarah-darah, menahan ribuan luka, dan berkubang dalam nestapa, dan itu demi kamu, Ris.

Ris,

Perlu kamu tahu, memahami kamu tak mudah. Bahkan aku rasa semua wanita akan menyetujui pendapatku. Kau tak mudah diterka maunya. Kau unik, seunik caramu yang mundur perlahan untuk beranjak pergi. Ah, sudahlah, lupakan dulu masalah keunikanmu itu. Aku jadi bertanya, apakah wanita lain akan sepertiku? Apakah mereka mau bertahan demi kamu? Jawabannya bisa iya atau tidak. Jika iya, berarti mereka tulus mencintaimu. Dan jika tidak, kau perlu memeriksa prilaku luar biasamu itu.

Ris,

Aku tak ingin memberikan sumpah serapah padamu. Itu menakutkan. Biar bagaimanapun aku harus berterima kasih padamu, meski melukai kau pun pernah membuat aku bahagia. Dan aku harap aku masih bisa mengenangmu dalam balutan tawa. Tak jadi soal, kau mengingatku atau tidak. Semoga di luar sana kau bisa berbahagia.

Dari mantan kekasihmu yang sangat baik hati,


Achy

Saturday, January 31, 2015

Day 3 : aku sudah jauh lebih baik

Selamat siang, Tuan yang menyebut dirinya baik hati,

Sekarang aku sudah jauh lebih baik dibandingkan satu bulan yang lalu. Kali ini, senyuman selalu mengembang di wajahku. Cantik sekali. Aku sedang sangat tidak peduli pada apapun, termasuk kamu yang tak lagi terlalu jadi fokus utamaku.

Sedikit demi sedikit pemahaman tentang siapa yang terbaik dan tidak, sudah bisa kumengerti. Aku tak lagi melulu terluka bahkan menangis ketika mereka menyebut nama kamu. Pun ketika mereka mengingatkanku tentang hal yang terjadi saat dulu kita disebut pasangan kekasih. Aku sedang di posisi sangat-amat-tidak-peduli.

Kamu memang doa yang Tuhan kabulkan.

Kamu memang harapan yang jadi kenyataan.

Kamu memang mimpi yang ketika aku bangun sudah tak lagi jadi mimpi.

Tapi itu dulu, saat kau tak sebrengsek yang kukira. Aku mulai memahami, siapa yang baik dan yang tidak baik.

Sejatinya pria baik akan menepati janjinya. Tidak hanya berbicara untuk sekedar meninggikan harap. Pria yang baik akan mempertanggung jawabkan segala ucapannya, karena dia pria sejati. Tak akan sedikitpun ia membuat kecewa apalagi membuat tangisan pada wajah wanitanya.

Kamu dan kicauanmu tak lebih dari isapan jempol belaka, tak bisa dipegang dan dipertanggung jawabkan kebenarannya. Tentang mimpi masa depan yang sempat kau rajut bersamaku, itu hanyalah bualan tong kosong yang nyaring bunyinya.

Jadi menurutmu, apa kamu bisa kusebut pria sejati? Aku rasa tidak. Kamu tak lebih dari penipu, dan aku yang bodoh ini sudah berhasil kau berikan gelar sebagai korbanmu.

Ya, memang, aku terluka seterlukanya. Aku menangis saat kehilanganmu. Karena kau meninggalkanku disaat aku sedang cinta-cintanya. Kau pun tak mengizinkan aku untuk bertahan meski itu dalam nestapa. Kau itu jahat. Sangat amat jahat.

Tapi aku bersyukur, Tuhan menyembuhkan hatiku lebih cepat. Bukan dengan cara mempertemukanku dengan pria setelahmu, melainkan dengan menanamkan pemahaman bahwa pria baik itu bukan yang sepertimu.

Aku memang terluka. Setengah dari hatiku pun pecah berantakan. Itu karenamu. Tapi bersamaan dengan itu aku mengerti tentang siapa yang pantas diperjuangkan dan yang harus dilupakan.

Perihal andai perpisahan yang kauinginkan ini pada akhirnya kelak akan kembali dipersatukan Tuhan, biarlah itu menjadi urusan-Nya. Aku sedang tak ingin memikirkan hal itu untuk sekarang. Aku hanya membutuhkan sosok yang sejatinya tak sama seperti sikapmu.

Oh, iya, satu pesanku untukmu; jika kau pada akhirnya merasa jua seperti apa rasanya terluka ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya, ingatlah! Jauh sebelum kau, aku pun pernah mengalaminya, dan pelakunya adalah dirimu. Jadi jangan menyalahkan dia yang menyakitimu, bercerminlah, dia adalah perwujudanmu saat bersamaku.

Dari aku,

@novelisnova

Friday, January 30, 2015

Day 2 : Untuk hati ; bersabarlah sejenak

Teruntuk
Yang terkasih;
Hati

Dear hati,

Bagaimana kabar kamu di dalam dada? Tempat segala tumpuan beban dan bahagia kucurahkan. Aku rasa kau sudah jengah. Disana, aku yakin kau berdesakkan bersama semua beban yang belum mampu kukeluarkan. Barangkali ada rasa lelah kala kau melihat betapa pekatnya warna masalah yang menghimpit denyutmu.

Hati,

Pahamilah sejenak, sebagai manusia aku memang tak luput dari berbagai persoalan yang selalu dan selalu berakhir menyakitimu. Demi Tuhan, andai aku mampu, tak sedikitpun kuinginkan kau menanggung luka atas sakitku. Tapi apa kuasaku, aku dan kau sudah disiapkan Tuhan sepaket. Tak bisa dipisahkan. Jika aku terluka, kau pun pasti merasa, juga sebaliknya.

Hati,

Bersabarlah sejenak saja, aku berjanji hal-hal yang menghimpitmu akan kuselesaikan segera. Apa saja yang membuatmu berdarah akan kuenyahkan secepatnya. Aku pastikan hal yang membuat kita harus menangis, akan segera tersingkirkan. Mendung itu akan kurubah jadi pelangi, bersabarlah barang sejenak saja.

Hati,

Pada saatnya, Tuhan akan menyembuhkan kita. Obat terbaik bagiku juga kamu adalah waktu. Kau yang berdarah akan segera sembuh. Aku yang terluka akan segera tersenyum. Kita akan baik-baik saja, karena kita kuat, maka kita pasti akan bahagia.

Hati,

Untuk kesabaranmu yang luar biasa selama ini, aku bangga. Penghargaan terbaik dariku untukmu. Percayalah, kebahagiaan terbaik sudah dikemas Tuhan. Jadi, mari kita bersabar bersama.

Dari aku,

Ragamu
@novelisnova

Tuesday, January 27, 2015

Jika ada yang harus dilupakan; itu adalah aku.

Jika memang harus ada yang dilupakan, maka itu adalah aku.

Itulah kata yang aku baca pada catatan terakhir Alena. Sejak saat itu aku tak pernah menemukan dia di manapun. Aku tak mengerti, sejak terakhir kali aku baca status BBm nya itu, Alena tak pernah lagi muncul di recent updates aplikasi BBm. Dia juga tak pernah mengganti display pictures nya. Dia benar-benar hilang, entah kemana.

Alena adalah kekasih yang kutinggalkan sebulan lalu. Kekasih baik hati yang dengan kebodohanku kusia-siakan dia. Sejak itu, kami tak pernah bertegur sapa. Alena benar-benar menepati janjinya untuk tak pernah menggangguku. Aku merasa bersalah padanya. Jujur kuakui, aku kehilangan dia dan menyesal meninggalkannya. Aku ingat betul, bagaimana kata terakhir yang aku katakan padanya: "aku sudah tak mencintai kamu lagi, jangan pernah ganggu aku." Tak aku pedulikan bagaimana dia menangis dan meminta untuk tak meninggalkannya. Aku tetap meninggalkannya. Dan kali ini aku benar-benar merasa kehilangan Alena.

***

3 bulan kemudian.

Sudah tiga bulan aku seperti orang tak ada. Tanpa merubah display picture, juga tanpa status apapun. Aku juga sudah jarang menyentuh aplikasi bbm, path, facebook atau media sosial lainnya. Aku hanya fokus pada dua aplikasi itu adalah tumblr dan blog. Ya, aku fokus untuk menulis. Aku memang memilih menghilang, dan mungkin berakhir dilupakan. Aku memang sudah menduga jika akan dilupakan. Dan jika memang harus ada yang dilupakan itu adalah aku.

Rasanya hatiku masih tersayat. Aku belum bisa lupa bagaimana Bisma meninggalkanku. Dia bisa dengan tega membuat aku yang masih mencintainya seakan dibunuh perlahan. Dengan luar biasa juga, secara gamblang dia katakan jika dia sudah tak mencintaiku dan meminta aku untuk tak mengganggunya lagi. Dan kali ini aku tepati permintaannya itu. Di akhir perbincanganku dengannya, aku memang menyetujui dan berjanji tak akan pernah mengganggunya, apapun alasannya.

Dengan masih terseok-seok aku bangkit. Pada akhirnya juga setelah satu bulan perpisahan kami, aku memutuskan untuk menghilang. Aku benar-benar hilang dari hidupnya. Aku benar-benar menjauhi dunia yang berhubungan dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku tak peduli.

Aku pun sama sekali tak pernah mau menginjak lagi tempat makan dimana aku dan dia pernah berjalan. Aku hanya takut, takut jika tak sengaja kami bertemu. Dan itu bukan keinginanku.

"Tuhan, jika pun kami memang harus bertemu, setidaknya butakan aku agar tak melihat sosoknya".

***
Dari kejauhan kulihat sosok yang begitu ku kenali. Gerai rambutnya, mimik wajahnya saat kesal menunggu masih sama seperti terakhir aku melihatnya. Ya, aku tak salah lihat, dia adalah Alena.

Dia berjalan kearahku. Kami akan berpapasan sebentar lagi. Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus menyapanya. Dia sedikit kurusan. Badannya lebih berbentuk di bandingkan terakhir kali aku melihatnya. Wajahnya lebih cantik, fresh, dan ada beberapa hal yang berbeda.

Tiga langkah lagi saja, dan aku putuskan untuk menyapa Alena, belum sempat ku sapa dia, ponselnya berbunyi, dia mengangkatnya dan berjalan melewatiku. Untuk beberapa saat aku terpaku. Melihatnya berjalan, tanpa memperhatikanku ada di dekatnya, terfokus pada seseorang di ujung sana, entah siapa, rasanya menyesakkan.

"Iya, aku kesana sekarang." sayup terdengar perbincangannya olehku. Aku hanya bisa melihatnya hingga punggungnya menghilang tak terlihat.

Aku lemas. Kenapa ada perasaan rindu yang memukul-mukul perasaanku. Aku ingin memeluknya lagi. Aku ingin menggenggam tangannya lagi. Aku ingin mengecupnya lagi. Oh, Tuhan, kenapa ini?

***
Sudah dua minggu ini aku mencoba membuka hati untuk pria bernama Dinata. Dia seorang karyawan di salah satu perusahaan terkemuka di Bandung. Postur tubuhnya tinggi. Wajahnya cukup menarik perhatianku. Perkenalan kami penuh anomali. Sebenarnya aku pernah menyukainya sebelum menjadi kekasih Bisma, tapi hanya sesaat dan aku putuskan menerima Bisma. Dinata kini hadir kembali, setelah aku tak lagi bersama Bisma. Entah ini kebetulan, atau di sengaja, yang pasti dia mendekat ketika aku tak berstatus lagi kekasih Bisma.

"Ngopi dulu, yuk? Di cafe jalan Tamblong aja, gimana?" ajaknya padaku, setelah sempat mengelilingi Bandung seharian ini.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Rasanya aku tak ingin banyak mendebatnya. Walaupun aku sebenarnya enggan ke cafe itu, masih ada kenangan yang tersisa disana, tapi aku rasa ini tak perlu kusampaikan padanya.

Selang sepuluh menit kemudian kami sampai di cafe yang di maksud. Aku turun dari mobil. Dan dia mencari tempat parkir. Aku tak tahu jika ada Bisma dan teman-temannya di dalam. Aku hanya fokus dan menunggu Dinata.

"Yuk!" ajaknya. Aku hanya mengikutinya. Dia mempersilakanku jalan di depannya. Tangannya merangkul bahuku dari belakang, masih dengan sopannya. Kemudian mengarahkan aku untuk duduk di satu sofa yang cukup nyaman.

Kebetulan, ada live music malam itu. Suara biduan wanita cantik menambah kehangatan suasana malam ini. Sesekali aku memperhatikan wajah serius Dinata saat memilih menu. Aku tersenyum simpul. Dia terlihat mempesona. Sekilas aku seperti melihat Rio saat berwajah serius. Astaga, aku tak boleh mengingat Rio, dia hanya mantan kekasihku - kekasih terbaikku.

"Kamu mau pesen apa, Al?" aku terkesiap, saat itu aku yang melamunkan Rio, seolah disadarkan oleh suara Dinata.

"Hah? Itu, eh, apa? Aku pesen cappucino dingin aja." jawabku sedikit gelagapan. Aku harap Dinata tak melihat keanehan dalam diriku.

"Kamu kenapa, Alena?" tanya Dinata. Harus kuakui dalam hal-hal kecil seperti ini, Dinata memang peka. Aku tak tahu harus menjawab apa, tak mungkin rasanya jika harus berkata jujur aku memikirkan kekasih masa lalu.

"Hmmmh, enggak, aku baik-baik saja." jawabku sambil tersenyum.

Beruntung, dia tidak memperpanjang masalah ini, aku cukup terselamatkan dengan hal ini.

***

Aku berkumpul bersama teman-temanku. Ada Ikhsan, Deri, dan juga Ozy, empat sekawan yang selalu bersama-sama. Di cafe di bilangan Tamblong kami menghabiskan waktu. Banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada mereka, termasuk pertemuanku dengan Alena, tiga hari lalu.

"Terus, terus, lo sapa Alena?" tanya Ikhsan setelah aku jelaskan kronologi bagaimana aku melihat Alena.

"Kagak. Pas mau disapa, dia malah ngangkat telpon dan fokus pada seseorang yang di telponnya. Gak tau siapa." jelasku.

"Lo, mulai ngerasa kehilangan dia, ya, Bis?" tiba-tiba Deri bertanya. Diantara semuanya cuma Deri yang tak mengenal Alena, saat kuperkenalkan Alena, Deri memang tidak ikut berkumpul, jadi dia tidak mengenal Alena dengan baik. Tapi, pertanyaan dia kali ini memang sedikit mengusikku. Dia benar, aku sudah merasa kehilangan Alena. Kentara sekali perbedaan ketika dia tak ada disisiku.

Melihatku yang hanya terdiam, Deri mengulangi lagi pertanyaannya, " bener ya, lo mulai ngerasa kehilangan dia? Gue yakin, lo sekarang ngerasa menyesal kehilangan doi?"

Kutarik nafas dalam-dalam, dan aku hanya mengangguk. "Lo bener, gue udah ngerasa nyesel banget. Ga tau kenapa, gue lihat dia itu sebenarnya cantik, baik, gak banyak nuntut, tapi kenapa gue bisa dengan bodoh lepasin dia. Gue nyesel, Der, asli nyesel banget."

"Gue, kan udah pernah bilang sama lo, pikir dulu sebelum ngambil tindakan. Sorry, Bis, gue emang ga terlalu mengenal Alena, ya, gue cuma kenal saat itu aja, tapi sekali pandang saja gue tau doi orang baik. Tapi, lo saat itu bersikeras mau putus, andai gue jadi lo, Bis, cewe sebaik dia gak akan pernah gue lepasin. Apalagi sih yang lo cari, orang tuanya udah welcome banget sama lo, bahkan lo sendiri yang bilang, orang tuanya sayang ke lo sebegitunya. Jarang bro nemuin orang tua yang asyik kaya gitu." tiba-tiba Ikhsan berkomentar.

"Sudah, sudah, jangan memojokkan Bisma kaya gitu, anggap aja ini efek yang harus dia jalani. Ini yang akan menempa dia jadi dewasa. Memang harus gue akui, Bis, Alena memang terlihat baik. Bahkan mungkin tanpa lo sadari, kita udah nyakitin Alena." Ozy pun angkat bicara.

”Maksud lo, Zy? Kita?" tanyaku.

"Lo inget, lo pernah screen capture percakapan kita bertiga?"

"Yang mana, Zy?" tanya Ikhsan.

"Yang isinya tentang kita rayain putusnya Bisma dan Alena. Ga mungkin rasanya Alena gak baca itu. Gue juga gak ngerti, Bis, maksud lo jadiin percakapan kita DP Bbm lo. Yang jelas kalo gue telaah lagi dari cerita lo, Alena menghilang setelah itu, kan? Dia ga aktif lagi di path, di twitter juga gak ada, bahkan untuk ukuran kecilnya saja di bbm pun dia menghilang."

"Oh, iya, lo bener, Zy, gue rasa itu hal terkejam yang tanpa sadar udah kita lakuin ke Alena. Wah, kalo gue ketemu doi, gue kudu minta maaf. Gue ga enak, dan gue rasa doi pasti nganggap kita jahat juga, Zy."

"Sebenernya apa yang lo cari saat itu, Bis? Percakapan itu harusnya ga jadi masalah kalo lo ga capture itu. Kadang lo emang ga jaga perasaan dia. Harusnya lo gak pernah pasang itu ke muka umum." timpal Deri.

Aku terdiam. Mengingat aku memang pernah melakukan itu terhadap Alena. Tapi, Alena tak pernah bergeming. Dia diam. Bungkam. Padahal mungkin saat itu aku terus melukai Alena tanpa kusadari. Hingga akhirnya Alena tak kutemukan lagi jejaknya hingga kini.

"Gue ke toilet bentar, ya, kebelet." tiba-tiba Ikhsan meminta izin kepada kami. Tanpa menunggu jawaban, dia langsung pergi.

10 menit kemudian.

Ikhsan terlihat lebih santai, jelas terlihat beban menahan pipisnya sudah lenyap. Wajahnya seperti menahan pertanyaan yang entah apa, tiba-tiba dia pun berceloteh ria, "kayanya gue lihat Alena, tapi gue ngga yakin itu Alena apa bukan, soalnya dia lebih kurus dibanding pertama kali gue lihat dia."

"Serius, San? Dimana?" tanyaku heran.

"Ya, gue gak yakin, tapi yang gue lihat kaya dia. Cuma dia gak lihat gue, pas gue keluar toilet dia nunduk dan trus masuk ke toilet bekas gue. Bentar lagi dia lewat, Bis, bener gak menurut lo itu dia apa bukan?" jelasnya.

Kita semua melihat ke arah dimana Alena akan terlihat. Tak ada suara diantara kami. Hening. Semua fokus menunggu kehadiran perempuan yang disangka Alena oleh Ikhsan barusan.

Tak berapa lama, lewatlah perempuan memakai baju terusan selutut. Dan benar saja, itu memang Alena. Cara dia berjalan. Cara dia membenahi jam tangan, rambutnya yang tergerai, itu semua memang dimiliki Alena. Dia sepertinya tidak tahu jika ada kami berkumpul disini. Kami semua terus mengikuti dimana dia duduk. Aku terkejut, dia duduk di sofa pojok. Ada pria tinggi dan cukup menarik duduk bersamanya. Rasanya jutaan anak panah melesat secepat kilat dalam ulu hatiku, perih.

Dia tersenyum cantik pada pria itu, siapakah dia? Apakah itu kekasih baru Alena.

"Itu Alena?" tanya Deri membuyarkan pandangan kami.

Aku hanya mengangguk pelan.

"Cantik, ya? Bahkan lebih cantik dari foto yang lo pernah lihatin ke gue."

Sesak rasanya mendengar ucapan Deri. Tapi memang benar, Alena sungguh terlihat cantik dan begitu anggun. Ini semakin membuatku menyesal meninggalkannya.

"Sabar, Bis, ya, lambat laun memang Alena harus bisa move on dari lo. Sepertinya lo pun harus segera bisa move on juga." ujar Ozy berusaha menenangkanku.

Untuk beberapa saat aku tak banyak bicara. Aku terus melihat Alena. Kemudian menunduk pasrah. Teman-temanku menepuk bahuku, menguatkanku yang memang rapuh.

"Ya, baiklah, kebetulan ada yang mau menyumbangkan suaranya, silakan, mas." suara biduan wanita menyadarkan kami semua.

Sontak saja, kami melihat ke arah panggung. Pria yang tadi bersama Alena, sekarang sedang berada diatas panggung, dia akan semakin membuat Alena jatuh cinta padanya.

Sungguh sempurna pria ini. Tingginya sedikit lebih tinggi dariku. Badannya tegap dan lebih berisi. Dengan mengenakan kemeja warna hijau tosca dengan lengan yang dilipat hingga sikut. Aku tahu, Alena sungguh menyukai pria yang mengenakan kemeja seperti itu. Dan pria ini tahu cara merebut hati Alena.

"Lagu ini, untuk wanita cantik yang berhasil membuat saya jatuh cinta, semoga kamu paham, Alen, aku mau kau jadi teman hidupku." ucap pria itu sebelum bernyanyi.

Semua pengunjung langsung terkesima oleh keberanian pria ini mengutarakan cinta di depan umum. Dan dulu, aku justru tak pernah memiliki keberanian seperti dia demi Alena.

***continued***

Saturday, January 17, 2015

Day 19 : Demi Tuhan, aku mencintai putramu, Ibu.

Hai, ibu kekasihku.

Perkenalkanlah, aku gadis yang dicintai putramu.. Gadis sederhana yang tak lebih cantik dari sebagian wanita lain di belahan bumi ini. Aku hanya gadis sederhana yang hanya tahu menempatkan diri pada posisi diri sebagai kekasih saja.

Ibu, pada pandangan pertama saja aku jatuh cinta pada putra bungsumu. Di pelataran parkir kampus mataku tak sengaja melihat sosok pria tegap mengenakan kaos putih tas berwarna kuning hitam, dia ternyata putramu, ibu. Pria yang pada kesempatan yang tak pernah kubayangkan akhirnya bersamaku membelah bumi Bandung dengan motor hitam yang diberi julukan satria baja hitam..

Ibu, dengannya aku sungguh bahagia. Putra bungsumu itu begitu sopan dan menggemaskan. Tutur katanya begitu halus, dan berbudi pekerti luhur. Senyumnya sungguh memukau dan membuatku terpesona berulang kali. Rasanya pantaslah dia begitu ku kagumi. Aku mendambanya. Aku jatuh cinta padanya.

Ibu, Tuhan begitu baik padaku. Bukan hanya Ia mengizinkan aku bersamanya. Tuhan juga mengizinkan mataku menyaksikan kala dia menjadi imam pada pertemuan petangku. Suaranya begitu lirih terdengar kala dia mengumandangkan surat al-fatihah. Aku tergetar hebat, bahkan ketika ucapan "aamiin" menggema menyambut akhir bacaan al-fatihah-nya. Seusai sholat pun, aku masih dengan jelas melihat punggungnya, begitu khusyuk dia menengadahkan tangan. Oh, Tuhan, aku sungguh jatuh cinta padanya.

Ibu, kau pasti bangga padanya, sama sepertiku, putramu bukan hanya terlihat cerdas, tapi harus kuakui dia memang cerdas. Memiliki IPK dengan predikat cum laude, akhirnya aku dan dia dipersandingkan jua di wisuda akbar. Kala itu-lah, kau akhirnya tahu siapa aku - kekasih putra kesayanganmu.

Ibu, terima kasih, akhirnya aku merasakan kelembutan tanganmu. Kau begitu baik ketika mengatakan "kau cantik sekali, nak.", sambil membelai lembut pipiku. Ah, itu membuatku bangga bisa diterima baik oleh ibu kekasihku. Rasanya, jutaan kupu-kupu sedang beterbangan mengitariku.

Ibu, demi Tuhan, aku mencintai putramu, dan aku pun sangat amat menyayangimu.

Astrie Nova Akbar

Friday, January 16, 2015

Day 1 : untuk si penulis puisi

Hai penulis puisi,

Pada sajak-sajakmu aku tenggelam bersama angan. Kuibaratkan diri adalah aku didalamnya. Jangan heran padaku, aku sedang sangat jatuh cinta pada setiap tulisan-tulisanmu. Aku begitu larut pada tiap bait prosa karyamu. Ku katakan lagi dan lagi, aku sedang sangat jatuh cinta pada puisimu.

Penulis,

Kau tahu, aku tenggelam kala kau dan aku saling bercerita. Pada senja yang selalu kita nantikan. Pada hujan yang selalu kita bicarakan. Juga pada pelangi yang senantiasa mengundang decak kagum yang tak tertahankan. Aku mengagumimu. Aku jatuh cinta pada sajak-sajak senjamu. Maka, perkenalkanlah aku; pecinta hujan dalam aksara, pengagum pelangi selepas hujan.

Aku rasa tak banyak yang ingin aku sampaikan. Kau dengan karya-karyamu selalu berhasil menarik aku yang mengagumimu. Meski aku tahu bukan aku yang menjadi inspirasi dalam puisimu.

Dari aku yang selalu mengagumi hasil karya penulis hebat sepertimu.

@novelisnova