Kau adalah harta berhargaku, Ayah.
Ayah,
Semoga Tuhan senantiasa memberi kesehatan lahir bathin untukmu.
Ayahku tersayang, sebagai putrimu ada kecemasan menggelayut di pelupuk mataku. Setiap kali kusebut namamu dalam tulisanku, aku benar-benar lemah. Tangisanku pasti berjatuhan sepanjang tulisan mengenaimu terukir disini.
Ayah, sepenggal kisah sudah kita lalui, kehadiranku menjadi pengobat rindu kalian kala itu. Tangisan pertamaku seolah cambuk untukmu. Kau harus lebih mengeluarkan banyak tenaga untuk bekerja semakin giat. Kau tak ingin putri kecilmu itu tak terjamin kebahagiaannya kelak.
Ayah, kau sosok yang kubanggakan dengan sempurna. Kelak jika ku bersuami, aku ingin sosok pria yang sepertimu, menjunjung tinggi nilai kasih sayang dalam keluarga. Aku bahagia, kau tak pernah menuntutku untuk memiliki kekasih yang sesuai kriteriamu. Bagimu, asal dia bertanggung jawab, dan mau taat pada Tuhan, sudah menjadi syarat utamamu. Tak sulit bagi calon menantumu untuk mendapat restu darimu selama dia memiliki dua syarat utama itu.
Ah, ayah, sehat terus kau dan ibu sampai aku sukses kelak. Semoga Tuhan menjaminkan rasa bahagia padamu. Maaf, aku belum sempat menjadi yang bisa kau banggakan.
Penuh cinta untukmu dariku,
Anakmu
No comments:
Post a Comment