Hai, Tuan yang kata orang mirip Ahok. Bagaimana cerita bahagiamu? Apakah berjalan sesuai harapan, atau tidak.
Ingatkah kamu saat kau dan aku akan dijodokan? Saat seharusnya hari itu kita berkenalan, tapi aku dikejutkan dengan perkenalan kita di pelaminanmu. Tertohok? Jelas. Tapi sakit hati sama sekali tidak, sebab kau dan aku tidak memiliki komitmen juga ikatan. Hanya saja jika harus kukatakan merasa dipermainkan keadaan, iya, aku rasakan itu.
Lupakan itu. Dua tahun lalu setelah aku tahu aku akan mengikutimu ke Kupang jika kita berjodo, aku sedikit berkeberatan. Mengingat aku harus meninggalkan banyak cinta di kota kelahiranku, Bandung. Ada rasa syukur ketika aku tahu, aku dan kamu tak jadi dipersatukan.
Setidaknya aku tak perlu berberat hati meninggalkan Bandung.
Aku menutup telinga tentang kamu dan istrimu, cerita bahagia kalian bukanlah urusanku.
Kukira dua tahun ini cerita kalian sempurna. Banyak tawa dan bahagia. Aku salah. Cerita kalian tak semembahagiakan yang aku kira. Ternyata benar, berkah itu tergantung dari bagaimana orang tua merestui. Mengingat pernikahanmu saja tak direstui ibumu, pantas saja begitu banyak goncangan pada pernikahan kalian yang masih sebentar itu.
Kudengar kabar kau kini menetap di Bandung. Ah, ada perasaan jika saja aku menikah denganmu ternyata Bandung masih menjadi kota untuk kita tinggal. Tapi tidak, aku tak boleh memikirkan itu. Jarak kita yang kini dekat tak menjamin hati kita yang sangat jauh.
Hingga detik ini aku tak berharap menjadi istrimu. Terlepas dari apa yang akan terjadi padamu kelak. Aku cukup bahagia dengan hidupku ini. Andai bersama, aku menyadari siapa aku dan siapa kamu. Aku tak siap di bandingkan dalam soal materi, aku hanya ingin di muliakan sebagai istri.
Semoga kau dan dia selalu bersama, tapi satu pesanku, jangan pernah mengabaikan ibumu, seburuk apapun sifatnya, dia yang sudah menghadirkanmu di dunia ini. Beritahu istrimu, surgamu masih ada pada ibumu, sedangkan surganya ada padamu. Jika kau mengabaikan ibumu demi istrimu, kau pasti memahami apa yang kumaksudkan ini.
No comments:
Post a Comment