Dear You, Ris
Ris,
Aku rasa setelah kita putus, kau masih baik-baik saja. Tak ada sedikitpun penyesalan apalagi perasaan bersalah. Tak apa, Ris. Perihal hati memang tak bisa dipaksakan. Kau benar, jika tidak ada alasan untuk bahagia, jangan takut untuk melepaskan.
Mungkin seharusnya memang seperti itu. Seharusnya aku berpikir seperti itu saat kamu mulai belajar keras membuatku terluka. Seharusnya aku tak boleh tolol, kenyataan yang ada kau tak mencintaiku.
Ris,
Sejatinya aku memang bersalah. Bersalah karena aku terlalu memberikan cinta kepadamu sepenuh hati. Dan ketika kau menyakitiku, tak ada sisa hati yang mampu menguatkan aku. Aku memulai kembali dari nol. Yang kupunya saat ini adalah sisa-sisa dari semangatku untuk menata hidup. Masih dengan luka, aku terseok-seok menatap masa depan. Masih dengan luka juga, aku tertatih untuk segera bangkit.
Kini harapan aku, semoga ketika Tuhan mempertemukan kita dalam jengkal tatap tak sengaja, semoga aku bisa dengan tak sengaja juga tak melihat sosokmu. Dengan demikian aku tak lagi perlu terluka olehmu.
Ris,
Doakan aku bahagia, aku memiliki keyakinan tanpamu aku akan bisa jauh lebih berbahagia dengan orang lain.
No comments:
Post a Comment