Dear sayang,
Kau terluka. Kau berdarah. Lukamu sungguh dalam. Darahmu mengalir cukup Banyak. Menyedihkan, saat keadaanmu seperti itu aku tak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa terdiam, tanpa bisa bertindak apapun. Sedih? Jelas!! Aku hanya bisa memedulikanmu diam-diam. Untuk sekedar bertanya apakah kau baik-baik saja, aku tak bisa.
Ini memang menyakitkan, peduli, tapi tak bisa ditunjukkan. Ingin menyapa, tapi rasanya enggan. Aku ini siapa? Hanya mantan kekasihmu saja. Sebenarnya bisa saja aku meruntuhkan harga diri demi sekedar bertanya kabarmu, tapi aku tak mau. Bukan aku yang bersalah dalam hal ini. Bukan aku yang meninggalkanmu. Aku tak mau harga diriku terendahkan hanya karena pikiran sempitmu; ternyata wanita ini masih peduli padaku.
Seharusnya aku bisa lebih tegas lagi terhadap diriku sendiri. Untuk bisa tak memedulikanmu lagi, seharusnya kuhapus semua tentang kamu. Tapi aku tak bisa. Masih ada harapan, suatu saat kau akan kembali padaku.
Jika saja aku masih sebagai kekasihmu, akan kurawat lukamu. Perihmu itu sungguh menusuk ulu hatiku. Rasanya aku ingin disana, memberikan pertolongan saat kau terluka. Ah, sudahlah, kuharap wanita yang kaukagumi bisa lebih peduli padamu daripada aku. Semoga saja wanita itu merawat lukamu. Ya, semoga saja, dia lebih mencemaskanmu dan juga peka terhadapmu.
Aku tak bisa apa-apa. Kecemasanku hanya bisa kusapakan pada Tuhan. Biarlah Tuhan yang menjaminkan keselamatanmu untukku. Aku tak mau kau merasa risih dengan perhatianku andai kutujukan padamu. Baik-baik, ya, jangan membuatku cemas lagi. Itu menyakitiku lebih ketika tak bisa berbuat banyak.
Terima kasih,
Astrie Nova Akbar
No comments:
Post a Comment