Thursday, February 12, 2015

Day 14 : Dari gadis paris van java

Hai Pria menarik di balik kaca mata tak berbingkai,

Begitu kau baca surat ini, kau pasti bertanya gadis mana yang berani mengirimkan sekumpulan huruf yang terangkai menjadi kata melalui surat yang barangkali tak akan kau balas. Tapi, tak apa, tak jadi soal, bisa sampai ditanganmu saja surat ini, aku bersyukur.

Oh, iya, aku rasa kali ini kau tengah mengernyitkan keningmu, berfikir keras siapa perempuan tak tahu diri yang berani menuliskan surat padamu. Tenang saja, aku perempuan baik yang hanya bisa mengagumimu dalam diam. I'm not freaky girl. Ketahuilah gadis ini masih tau batasan antara menahan rindu dan mengungkapkannya.

Oh, iya, apa kabar si ksatria baja hitammu? Masih setiakah dia mengantarmu kemana-mana? Atau barang kali dia sudah tergantikan dengan hadirnya power ranger merah barang kali. Tenang saja aku hanya tahu sampai sana tak lebih. Ya, sedikit lebih jauh pun hanya sampai kau seorang vokalis dari band bernama azzure. Selebihnya aku tak terlalu memahamimu. Sungguh.

Setelah kau baca surat ini apakah ada rasa sedikit penasaran tentang siapa aku? Jika iya, aku bersyukur. Tapi jika tidak pun tak apa.

Sampai pada inti masalahnya. Aku sedang menulis surat selama tiga puluh hari. Ini komitmenku. Dan kali ini aki sedang bingung pada siapa kutujukan surat berikutnya ini. Akhirnya kuputuskan menuliskan ini untukmu saja. Sebelumnya aku minta maaf karena lancang menuliskan ini padamu.

Jika kau peka, aku sudah lama mengagumi sosokmu. Barangkali pertama aku jatuh cinta saat kita tak sengaja sholat magrib di mesjid yang sama di kampus kita. Jangan mempersoalkan aku siapa, tapi wajahmu yang bercahaya selepas sholat itu membuat aku terpesona hingga tak melepaskan pandanganku terhadapmu.

Saat kau tersenyum, aku semakin terpesona lagi. Deretan gigi yang rapi membuat senyuman itu semakin indah. Dan matamu, aku seperti tenggelam dalam tatapan matamu yang sipit yang terbenam di balik kaca mata tak berbingkai. Sejak saat itu, setiap detilmu menjadi perhatianku.

Aku mohon jangan marah padaku. Meskipun iya aku menyukaimu, tapi aku tak berniat mengusik kamu. Silakan, jalankan kehidupanmu seperti biasa. Aku lebih suka mengagumimu dalam diam. Memujamu dari kejauhan, itu saja sudah cukup.

Oh, ya, rasanya tak perlu berlama-lama aku menuliskan ini. Apa yang kumaksudkan sudah kusampaikan padamu.

Salam sejahtera,

@novelisnova

No comments:

Post a Comment