Monday, February 9, 2015

Day 12 : Selamat tanggal 10 ke 6 yang Gagal

Dear you,

Sekarang adalah tanggal 10, jika kita tak putus, hubungan kita sudah memasuki bulan ke enam. Mungkin juga lagi dan lagi aku akan menuliskan ucapan "selamat tanggal sepuluh yang keenam sayang, long last" pada akun-akun sosial mediaku. Dan pastinya lagi, aku akan menulis berbagai quotes rasa syukur pada Tumblr dan menulis pada blog pribadiku tulisan singkat tentang bahagianya aku di tanggal sepuluh keenam ini.

Lagi dan lagi, aku harus menerima kenyataan tanggal sepuluh ini hanya tinggal kenangan. Sama sekali aku tak memiliki banyak keberanian mengharap bisa mengulang tanggal sepuluh dengan kembalinya dirimu. Aku tak ingin men-semoga-kan engkau. Tak ingin bermimpi kau akan minta maaf dan mau berbaik hati kembali padaku. Jelas saja itu bukan sifatmu. Gengsi dan arogansimu sudah mengalahkan nuranimu untuk minta maaf dan mengakui kesalahanmu.

Tadi malam tak sengaja aku lihat status terbarumu, kau mengatakan 'terimakasih atas waktunya', entah kepada siapa kau tujukan ucapan ini, hanya saja aku seperti berpikir saat aku masih menjadi kekasihmu dulu. Seingatku, kau tak pernah menuliskan itu, padahal aku selalu berusaha ada untuk kamu. Kau tak pernah tahu, di sela-sela rasa lelahku, aku masih mau menyisihkan banyak waktu buatmu. Bukan aku perhitungan, tapi aku baru sadar kau tak pernah mensyukuri waktu yang sudah kuberikan banyak padamu.

Aku merasa ini ketololanku. Kenapa saat itu aku begitu mau mengorbankan banyak hal untukmu. Padahal jelas, semua yang kukorbankan itu tak berarti banyak untukmu.

Apa kau tahu, tiga hari sebelum kita berakhir, ku ucap namamu dalam sholat istiharakhku. Kupanjatkan doa tulus, meminta Tuhan menunjukkan kebaikan padaku. Apakah kamu yang akan menjadi nahkoda bagi rumah tanggaku kelak. Bahkan seminggu setelah putus pun, namamu masih setia kuperbincangkan kepada Tuhan. Dengan manja aku merengek, aku menangis, meminta Tuhan memberi petunjuk tentang siapa yang terbaik bagiku.

Pada istiharakhku yang ketiga, kelima, dan ketujuh, kau hadir di mimpiku. Entah, apakah hadirmu merupakan jawaban dari Tuhan untukku. Sejak saat itu, aku seperti orang yang merawat luka. Aku seperti orang yang senang menikmati kesedihan. Aku tak ingin membencimu. Aku hanya takut, bisa saja aku membenci jodohku.

Tapi, sepertinya semua tak berarti. Semakin hari kau tampil memberikan luka baru. Dan aku masih berusaha tersenyum dan mengatakan "semoga kau berbahagia". Itu jugalah yang pada akhirnya menyadarkan aku untuk sekedar men-semoga-kan dirimu saja aku enggan.

Aku percaya, jika Tuhan memang mentakdirkan kamu untukku, Dia yang akan menuntunmu ke arahku. Tak perlu lagi ada kata semoga. Aku hanya tak ingin doa kita bertabrakan; saat aku menyebutkanmu dan kau menyebutkan nama perempuan lain.

Tenang saja, meski merawat luka, aku juga sedang menanam keikhlasan. Akan ada saatnya aku bisa menghapuskan semua yang berhubungan dengan kamu.

Terima kasih.

No comments:

Post a Comment