Dear Mama,
Aku ingin minta maaf padamu. Aku tahu perhatianmu kadang kuanggap berlebihan. Mungkin karena aku belum bisa menjadi sepertimu. Belum tahu bagaimana rasa cemas terhadap buah hati itu seperti apa, sebesar apapun dia.
Aku memang terkadang merasa risih, padahal aku merasa aku sudah mampu jaga diri, tetapi tetap saja kau tanpa lelah menghubungiku dan menanyakan keberadaanku. Kemudian jika aku sudah di rumah, kau sambut aku dengan wajah marah, tak bicara sedikit pun, kau kesal padaku karena terlambat pulang untuk kesekian kalinya.
Ya, jika sudah begitu emosiku pun ikut memuncak juga. Aku pun jadi ikutan marah padamu karena kau tak paham bagaimana menjadi aku. Padahal mungkin dalam hal ini aku yang tak memahami perasaanmu, kecemasanmu, rasa marahmu yang sebenarnya sayang padaku.
Kelak pun aku pasti akan sepertimu, ma, cerewet, bawel, tapi aku sayang buah hatiku. Maafkan aku, ya, ma, tidak bisa mengerti hatimu.
Ma, aku memang tak pernah mengatakan ini padamu. Jujur, aku terlalu gengsi, atau mungkin tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Tapi ketahuilah, jauh di lubuk hati yang paling dalam aku sungguh amat menyayangimu. Dan aku begitu takut kehilanganmu, ma. Setiap kali kutuliskan namamu dalam postinganku, aku pasti menangis. Kali ini saja, saat kutuliskan tentangmu, mataku sedang tertatih untuk tak menangis.
Entah kenapa, kalian orang tuaku selalu membuatku takut kehilangan. Aku tak mau membayangkan kalian akan meninggalkanku. Sehat terus, ma, pa, sampai semua keinginan kalian bisa kuwujudkan satu persatu.
Berjanjilah, kalian akan sehat sampai kapanpun. Bukankah kalian ingin melihat aku menikah dan bersanding dengan pria baik di pelaminan? Jadi bertahanlah untuk itu. Tuhan pasti akan segera mengabulkan permintaan kalian itu.
Ma, untuk setiap luka yang kutorehkan pada hatimu, aku minta maaf. Sama sekali aku tak bermaksud demikian. Aku mencintai kalian sampai kapanpun.
Untuk cinta yang tak pernah bisa kuucapkan, bacalah ini, AKU SAYANG ENGKAU, MA.
Anakmu,
Astrie Nova
No comments:
Post a Comment