Selamat siang, Tuan yang menyebut dirinya baik hati,
Sekarang aku sudah jauh lebih baik dibandingkan satu bulan yang lalu. Kali ini, senyuman selalu mengembang di wajahku. Cantik sekali. Aku sedang sangat tidak peduli pada apapun, termasuk kamu yang tak lagi terlalu jadi fokus utamaku.
Sedikit demi sedikit pemahaman tentang siapa yang terbaik dan tidak, sudah bisa kumengerti. Aku tak lagi melulu terluka bahkan menangis ketika mereka menyebut nama kamu. Pun ketika mereka mengingatkanku tentang hal yang terjadi saat dulu kita disebut pasangan kekasih. Aku sedang di posisi sangat-amat-tidak-peduli.
Kamu memang doa yang Tuhan kabulkan.
Kamu memang harapan yang jadi kenyataan.
Kamu memang mimpi yang ketika aku bangun sudah tak lagi jadi mimpi.
Tapi itu dulu, saat kau tak sebrengsek yang kukira. Aku mulai memahami, siapa yang baik dan yang tidak baik.
Sejatinya pria baik akan menepati janjinya. Tidak hanya berbicara untuk sekedar meninggikan harap. Pria yang baik akan mempertanggung jawabkan segala ucapannya, karena dia pria sejati. Tak akan sedikitpun ia membuat kecewa apalagi membuat tangisan pada wajah wanitanya.
Kamu dan kicauanmu tak lebih dari isapan jempol belaka, tak bisa dipegang dan dipertanggung jawabkan kebenarannya. Tentang mimpi masa depan yang sempat kau rajut bersamaku, itu hanyalah bualan tong kosong yang nyaring bunyinya.
Jadi menurutmu, apa kamu bisa kusebut pria sejati? Aku rasa tidak. Kamu tak lebih dari penipu, dan aku yang bodoh ini sudah berhasil kau berikan gelar sebagai korbanmu.
Ya, memang, aku terluka seterlukanya. Aku menangis saat kehilanganmu. Karena kau meninggalkanku disaat aku sedang cinta-cintanya. Kau pun tak mengizinkan aku untuk bertahan meski itu dalam nestapa. Kau itu jahat. Sangat amat jahat.
Tapi aku bersyukur, Tuhan menyembuhkan hatiku lebih cepat. Bukan dengan cara mempertemukanku dengan pria setelahmu, melainkan dengan menanamkan pemahaman bahwa pria baik itu bukan yang sepertimu.
Aku memang terluka. Setengah dari hatiku pun pecah berantakan. Itu karenamu. Tapi bersamaan dengan itu aku mengerti tentang siapa yang pantas diperjuangkan dan yang harus dilupakan.
Perihal andai perpisahan yang kauinginkan ini pada akhirnya kelak akan kembali dipersatukan Tuhan, biarlah itu menjadi urusan-Nya. Aku sedang tak ingin memikirkan hal itu untuk sekarang. Aku hanya membutuhkan sosok yang sejatinya tak sama seperti sikapmu.
Oh, iya, satu pesanku untukmu; jika kau pada akhirnya merasa jua seperti apa rasanya terluka ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya, ingatlah! Jauh sebelum kau, aku pun pernah mengalaminya, dan pelakunya adalah dirimu. Jadi jangan menyalahkan dia yang menyakitimu, bercerminlah, dia adalah perwujudanmu saat bersamaku.
Dari aku,
@novelisnova
No comments:
Post a Comment