Sunday, February 1, 2015

Day 5 : Untuk Ksatria Baja Hitamku

Yang tersayang,
Ksatria Baja Hitamku;
Rio Raditya

Annyeonghaseyo, Rio Oppa

Apa kabarmu setelah lama kita tak berjumpa. Kudengar kau sudah lebih baik dibanding awal perpisahan kita. Syukurlah, karena sekarang pun aku sudah baik-baik saja.

Oh, iya, apa kabar keponakan tersayang kita, Anjani? Dia baik juga, kan? Sudah dua tahun aku tak berjumpa dengan si cantik yang sempat dikira orang sebagai putri kita. Wajahnya memang memiliki banyak kemiripan denganmu, Rio, pantaslah ketika kita mengajaknya jalan-jalan orang menyangka dia anak kita, kita hanya tersenyum simpul tanpa sedikitpun mengelak. Saat iti, kita sedang belajar jadi orang tua.

Rio, ksatria baja hitamku tersayang, sepertinya harus aku akui aku merindukanmu. Sosokmu sangat sempurna bagiku, apalagi di bandingkan dengan pria-pria setelah kamu. Ah, Rio, mereka tak sehebat kamu dalam memperlakukan aku. Mereka tak sepertimu yang memahamiku. Kukira, perpisahan kita tak akan semelukai kita. Nyatanya aku dan kamu memang saling menyakiti. Aku tahu kau hanya bersikap kuat dan kenyataannya kau rapuh.

Tiga hari setelah perpisahan kita, dua tahun lalu, temanmu mendatangi aku dan mengumpat dengan hebatnya. Dia memaki tanpa tau alasan sebenarnya. Dia mengatakan padaku jika kau tak ingin makan dan keluar kamar. Aku merasa bersalah. Maafkan aku Rio, sementara alasan saat itu tak bisa kukemukakan padamu.

Tapi, aku tak pernah mengira kau pun bisa sejahat itu padaku. Di ulang tahunku kau sama sekali tak mengucapkan selamat padaku. Baru di tahun 2014 kau mau mengucapkan lagi setelah kau tahu alasan terbesar yang saat itu aku sembunyikan. Setelah kau paham, kau bisa memaafkanku, kan? Syukurlah jika sudah, beban bersalahku sudah berkurang pada akhirnya.

Oh, iya, jika bertemu dengan anjani, salam sayang dan rindu dariku, ya.

Tak perlu menyesali yang sudah terjadi, Rio, kau terbaik dengan caramu.

Aku bangga pernah memiliki kamu dalam hidupku.

Astrie

No comments:

Post a Comment