Tuesday, January 27, 2015

Jika ada yang harus dilupakan; itu adalah aku.

Jika memang harus ada yang dilupakan, maka itu adalah aku.

Itulah kata yang aku baca pada catatan terakhir Alena. Sejak saat itu aku tak pernah menemukan dia di manapun. Aku tak mengerti, sejak terakhir kali aku baca status BBm nya itu, Alena tak pernah lagi muncul di recent updates aplikasi BBm. Dia juga tak pernah mengganti display pictures nya. Dia benar-benar hilang, entah kemana.

Alena adalah kekasih yang kutinggalkan sebulan lalu. Kekasih baik hati yang dengan kebodohanku kusia-siakan dia. Sejak itu, kami tak pernah bertegur sapa. Alena benar-benar menepati janjinya untuk tak pernah menggangguku. Aku merasa bersalah padanya. Jujur kuakui, aku kehilangan dia dan menyesal meninggalkannya. Aku ingat betul, bagaimana kata terakhir yang aku katakan padanya: "aku sudah tak mencintai kamu lagi, jangan pernah ganggu aku." Tak aku pedulikan bagaimana dia menangis dan meminta untuk tak meninggalkannya. Aku tetap meninggalkannya. Dan kali ini aku benar-benar merasa kehilangan Alena.

***

3 bulan kemudian.

Sudah tiga bulan aku seperti orang tak ada. Tanpa merubah display picture, juga tanpa status apapun. Aku juga sudah jarang menyentuh aplikasi bbm, path, facebook atau media sosial lainnya. Aku hanya fokus pada dua aplikasi itu adalah tumblr dan blog. Ya, aku fokus untuk menulis. Aku memang memilih menghilang, dan mungkin berakhir dilupakan. Aku memang sudah menduga jika akan dilupakan. Dan jika memang harus ada yang dilupakan itu adalah aku.

Rasanya hatiku masih tersayat. Aku belum bisa lupa bagaimana Bisma meninggalkanku. Dia bisa dengan tega membuat aku yang masih mencintainya seakan dibunuh perlahan. Dengan luar biasa juga, secara gamblang dia katakan jika dia sudah tak mencintaiku dan meminta aku untuk tak mengganggunya lagi. Dan kali ini aku tepati permintaannya itu. Di akhir perbincanganku dengannya, aku memang menyetujui dan berjanji tak akan pernah mengganggunya, apapun alasannya.

Dengan masih terseok-seok aku bangkit. Pada akhirnya juga setelah satu bulan perpisahan kami, aku memutuskan untuk menghilang. Aku benar-benar hilang dari hidupnya. Aku benar-benar menjauhi dunia yang berhubungan dengannya. Bagaimana kabarnya sekarang? Aku tak peduli.

Aku pun sama sekali tak pernah mau menginjak lagi tempat makan dimana aku dan dia pernah berjalan. Aku hanya takut, takut jika tak sengaja kami bertemu. Dan itu bukan keinginanku.

"Tuhan, jika pun kami memang harus bertemu, setidaknya butakan aku agar tak melihat sosoknya".

***
Dari kejauhan kulihat sosok yang begitu ku kenali. Gerai rambutnya, mimik wajahnya saat kesal menunggu masih sama seperti terakhir aku melihatnya. Ya, aku tak salah lihat, dia adalah Alena.

Dia berjalan kearahku. Kami akan berpapasan sebentar lagi. Apa yang harus kulakukan, apakah aku harus menyapanya. Dia sedikit kurusan. Badannya lebih berbentuk di bandingkan terakhir kali aku melihatnya. Wajahnya lebih cantik, fresh, dan ada beberapa hal yang berbeda.

Tiga langkah lagi saja, dan aku putuskan untuk menyapa Alena, belum sempat ku sapa dia, ponselnya berbunyi, dia mengangkatnya dan berjalan melewatiku. Untuk beberapa saat aku terpaku. Melihatnya berjalan, tanpa memperhatikanku ada di dekatnya, terfokus pada seseorang di ujung sana, entah siapa, rasanya menyesakkan.

"Iya, aku kesana sekarang." sayup terdengar perbincangannya olehku. Aku hanya bisa melihatnya hingga punggungnya menghilang tak terlihat.

Aku lemas. Kenapa ada perasaan rindu yang memukul-mukul perasaanku. Aku ingin memeluknya lagi. Aku ingin menggenggam tangannya lagi. Aku ingin mengecupnya lagi. Oh, Tuhan, kenapa ini?

***
Sudah dua minggu ini aku mencoba membuka hati untuk pria bernama Dinata. Dia seorang karyawan di salah satu perusahaan terkemuka di Bandung. Postur tubuhnya tinggi. Wajahnya cukup menarik perhatianku. Perkenalan kami penuh anomali. Sebenarnya aku pernah menyukainya sebelum menjadi kekasih Bisma, tapi hanya sesaat dan aku putuskan menerima Bisma. Dinata kini hadir kembali, setelah aku tak lagi bersama Bisma. Entah ini kebetulan, atau di sengaja, yang pasti dia mendekat ketika aku tak berstatus lagi kekasih Bisma.

"Ngopi dulu, yuk? Di cafe jalan Tamblong aja, gimana?" ajaknya padaku, setelah sempat mengelilingi Bandung seharian ini.

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Rasanya aku tak ingin banyak mendebatnya. Walaupun aku sebenarnya enggan ke cafe itu, masih ada kenangan yang tersisa disana, tapi aku rasa ini tak perlu kusampaikan padanya.

Selang sepuluh menit kemudian kami sampai di cafe yang di maksud. Aku turun dari mobil. Dan dia mencari tempat parkir. Aku tak tahu jika ada Bisma dan teman-temannya di dalam. Aku hanya fokus dan menunggu Dinata.

"Yuk!" ajaknya. Aku hanya mengikutinya. Dia mempersilakanku jalan di depannya. Tangannya merangkul bahuku dari belakang, masih dengan sopannya. Kemudian mengarahkan aku untuk duduk di satu sofa yang cukup nyaman.

Kebetulan, ada live music malam itu. Suara biduan wanita cantik menambah kehangatan suasana malam ini. Sesekali aku memperhatikan wajah serius Dinata saat memilih menu. Aku tersenyum simpul. Dia terlihat mempesona. Sekilas aku seperti melihat Rio saat berwajah serius. Astaga, aku tak boleh mengingat Rio, dia hanya mantan kekasihku - kekasih terbaikku.

"Kamu mau pesen apa, Al?" aku terkesiap, saat itu aku yang melamunkan Rio, seolah disadarkan oleh suara Dinata.

"Hah? Itu, eh, apa? Aku pesen cappucino dingin aja." jawabku sedikit gelagapan. Aku harap Dinata tak melihat keanehan dalam diriku.

"Kamu kenapa, Alena?" tanya Dinata. Harus kuakui dalam hal-hal kecil seperti ini, Dinata memang peka. Aku tak tahu harus menjawab apa, tak mungkin rasanya jika harus berkata jujur aku memikirkan kekasih masa lalu.

"Hmmmh, enggak, aku baik-baik saja." jawabku sambil tersenyum.

Beruntung, dia tidak memperpanjang masalah ini, aku cukup terselamatkan dengan hal ini.

***

Aku berkumpul bersama teman-temanku. Ada Ikhsan, Deri, dan juga Ozy, empat sekawan yang selalu bersama-sama. Di cafe di bilangan Tamblong kami menghabiskan waktu. Banyak hal yang ingin aku ceritakan kepada mereka, termasuk pertemuanku dengan Alena, tiga hari lalu.

"Terus, terus, lo sapa Alena?" tanya Ikhsan setelah aku jelaskan kronologi bagaimana aku melihat Alena.

"Kagak. Pas mau disapa, dia malah ngangkat telpon dan fokus pada seseorang yang di telponnya. Gak tau siapa." jelasku.

"Lo, mulai ngerasa kehilangan dia, ya, Bis?" tiba-tiba Deri bertanya. Diantara semuanya cuma Deri yang tak mengenal Alena, saat kuperkenalkan Alena, Deri memang tidak ikut berkumpul, jadi dia tidak mengenal Alena dengan baik. Tapi, pertanyaan dia kali ini memang sedikit mengusikku. Dia benar, aku sudah merasa kehilangan Alena. Kentara sekali perbedaan ketika dia tak ada disisiku.

Melihatku yang hanya terdiam, Deri mengulangi lagi pertanyaannya, " bener ya, lo mulai ngerasa kehilangan dia? Gue yakin, lo sekarang ngerasa menyesal kehilangan doi?"

Kutarik nafas dalam-dalam, dan aku hanya mengangguk. "Lo bener, gue udah ngerasa nyesel banget. Ga tau kenapa, gue lihat dia itu sebenarnya cantik, baik, gak banyak nuntut, tapi kenapa gue bisa dengan bodoh lepasin dia. Gue nyesel, Der, asli nyesel banget."

"Gue, kan udah pernah bilang sama lo, pikir dulu sebelum ngambil tindakan. Sorry, Bis, gue emang ga terlalu mengenal Alena, ya, gue cuma kenal saat itu aja, tapi sekali pandang saja gue tau doi orang baik. Tapi, lo saat itu bersikeras mau putus, andai gue jadi lo, Bis, cewe sebaik dia gak akan pernah gue lepasin. Apalagi sih yang lo cari, orang tuanya udah welcome banget sama lo, bahkan lo sendiri yang bilang, orang tuanya sayang ke lo sebegitunya. Jarang bro nemuin orang tua yang asyik kaya gitu." tiba-tiba Ikhsan berkomentar.

"Sudah, sudah, jangan memojokkan Bisma kaya gitu, anggap aja ini efek yang harus dia jalani. Ini yang akan menempa dia jadi dewasa. Memang harus gue akui, Bis, Alena memang terlihat baik. Bahkan mungkin tanpa lo sadari, kita udah nyakitin Alena." Ozy pun angkat bicara.

”Maksud lo, Zy? Kita?" tanyaku.

"Lo inget, lo pernah screen capture percakapan kita bertiga?"

"Yang mana, Zy?" tanya Ikhsan.

"Yang isinya tentang kita rayain putusnya Bisma dan Alena. Ga mungkin rasanya Alena gak baca itu. Gue juga gak ngerti, Bis, maksud lo jadiin percakapan kita DP Bbm lo. Yang jelas kalo gue telaah lagi dari cerita lo, Alena menghilang setelah itu, kan? Dia ga aktif lagi di path, di twitter juga gak ada, bahkan untuk ukuran kecilnya saja di bbm pun dia menghilang."

"Oh, iya, lo bener, Zy, gue rasa itu hal terkejam yang tanpa sadar udah kita lakuin ke Alena. Wah, kalo gue ketemu doi, gue kudu minta maaf. Gue ga enak, dan gue rasa doi pasti nganggap kita jahat juga, Zy."

"Sebenernya apa yang lo cari saat itu, Bis? Percakapan itu harusnya ga jadi masalah kalo lo ga capture itu. Kadang lo emang ga jaga perasaan dia. Harusnya lo gak pernah pasang itu ke muka umum." timpal Deri.

Aku terdiam. Mengingat aku memang pernah melakukan itu terhadap Alena. Tapi, Alena tak pernah bergeming. Dia diam. Bungkam. Padahal mungkin saat itu aku terus melukai Alena tanpa kusadari. Hingga akhirnya Alena tak kutemukan lagi jejaknya hingga kini.

"Gue ke toilet bentar, ya, kebelet." tiba-tiba Ikhsan meminta izin kepada kami. Tanpa menunggu jawaban, dia langsung pergi.

10 menit kemudian.

Ikhsan terlihat lebih santai, jelas terlihat beban menahan pipisnya sudah lenyap. Wajahnya seperti menahan pertanyaan yang entah apa, tiba-tiba dia pun berceloteh ria, "kayanya gue lihat Alena, tapi gue ngga yakin itu Alena apa bukan, soalnya dia lebih kurus dibanding pertama kali gue lihat dia."

"Serius, San? Dimana?" tanyaku heran.

"Ya, gue gak yakin, tapi yang gue lihat kaya dia. Cuma dia gak lihat gue, pas gue keluar toilet dia nunduk dan trus masuk ke toilet bekas gue. Bentar lagi dia lewat, Bis, bener gak menurut lo itu dia apa bukan?" jelasnya.

Kita semua melihat ke arah dimana Alena akan terlihat. Tak ada suara diantara kami. Hening. Semua fokus menunggu kehadiran perempuan yang disangka Alena oleh Ikhsan barusan.

Tak berapa lama, lewatlah perempuan memakai baju terusan selutut. Dan benar saja, itu memang Alena. Cara dia berjalan. Cara dia membenahi jam tangan, rambutnya yang tergerai, itu semua memang dimiliki Alena. Dia sepertinya tidak tahu jika ada kami berkumpul disini. Kami semua terus mengikuti dimana dia duduk. Aku terkejut, dia duduk di sofa pojok. Ada pria tinggi dan cukup menarik duduk bersamanya. Rasanya jutaan anak panah melesat secepat kilat dalam ulu hatiku, perih.

Dia tersenyum cantik pada pria itu, siapakah dia? Apakah itu kekasih baru Alena.

"Itu Alena?" tanya Deri membuyarkan pandangan kami.

Aku hanya mengangguk pelan.

"Cantik, ya? Bahkan lebih cantik dari foto yang lo pernah lihatin ke gue."

Sesak rasanya mendengar ucapan Deri. Tapi memang benar, Alena sungguh terlihat cantik dan begitu anggun. Ini semakin membuatku menyesal meninggalkannya.

"Sabar, Bis, ya, lambat laun memang Alena harus bisa move on dari lo. Sepertinya lo pun harus segera bisa move on juga." ujar Ozy berusaha menenangkanku.

Untuk beberapa saat aku tak banyak bicara. Aku terus melihat Alena. Kemudian menunduk pasrah. Teman-temanku menepuk bahuku, menguatkanku yang memang rapuh.

"Ya, baiklah, kebetulan ada yang mau menyumbangkan suaranya, silakan, mas." suara biduan wanita menyadarkan kami semua.

Sontak saja, kami melihat ke arah panggung. Pria yang tadi bersama Alena, sekarang sedang berada diatas panggung, dia akan semakin membuat Alena jatuh cinta padanya.

Sungguh sempurna pria ini. Tingginya sedikit lebih tinggi dariku. Badannya tegap dan lebih berisi. Dengan mengenakan kemeja warna hijau tosca dengan lengan yang dilipat hingga sikut. Aku tahu, Alena sungguh menyukai pria yang mengenakan kemeja seperti itu. Dan pria ini tahu cara merebut hati Alena.

"Lagu ini, untuk wanita cantik yang berhasil membuat saya jatuh cinta, semoga kamu paham, Alen, aku mau kau jadi teman hidupku." ucap pria itu sebelum bernyanyi.

Semua pengunjung langsung terkesima oleh keberanian pria ini mengutarakan cinta di depan umum. Dan dulu, aku justru tak pernah memiliki keberanian seperti dia demi Alena.

***continued***

No comments:

Post a Comment