Hai Ris,
Ini adalah surat kesekian yang aku tulis di tantangan sulat kali ini. Meski tak yakin kau akan membacanya, tak apa, terkadang juga aku malas menemukan objek yang akan kujadikan isu utama untuk tulisanku.
Ris, kemarin adalah hal terlucu menurutku. Bagaimana tidak, kita seperti sedang bermain petak umpet. Kau berada di sekitarku tapi Tuhan seolah menyuruhku untuk tidak menginjak tempat yang ada kamu disana.
Lucu saja! Kita berada di lingkup area yang berdekatan. Bahkan aku seharusnya melewati jalan yang ada kamu disana. Tapi, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Aku justru menggerakkan langkahku menjauhi rute jalan yang bisa saja membuat kita saling bertatap mata lagi.
Ya! Aku memang sedang tak ingin bertemu apalagi melihat sosokmu. Aku takut, aku yang sedang berjuang melupakanmu dan sedang belajar mencintai orang lain, akan runtuh pertahanannya. Bisa jadi, aku yang tertatih mencintai orang lain, malah terhalan karena jebakan kenangan masa lalu bersama kamu.
Ah, terima kasih, Tuhan, Kau menyelamatkanku dari kelukaan dan juga nestapa. Inilah caraku bersyukur atas ketetapan-Mu.
Oh, ya, Ris, boleh aku bertanya satu hal padamu? Untuk apa kau sengaja berada di tempat-tempat yang memungkinkan bisa melihatku? Kadang aku merasa kau itu konyol. Aku saja enggan main ke suatu tempat yang dalam jangkauanmu. Aku enggan bertemu. Aku enggan terluka lagi.
Tapi, Ris, maaf, aku rasa kau berhak berada dimanapun. Di tempat yang kau inginkan. Abaikan saja pertanyaanku barusan. Aku hanya sedang senang menerka saja.
Sungguh, sama sekali aku tak menyangka, aku bisa jauh lebih baik-baik saja setelah kau memutuskan pergi. Ya, keputusanmu itu menempaku untuk kembali menjadi perempuan tangguh dan mandiri. Sebab aku tahu, aku bisa tanpa kamu.
Ah, sudah, ah, lama-lama menulis surat untuk kamu melelahkan. Baik-baik ya, Ris. Sama seperti aku yang baik-baik saja.
No comments:
Post a Comment