Sunday, February 1, 2015

Day 4: garis batas mencinta dan benci

Panggillah dirimu dengan sebutan "Ris".

Jangan mengelak lagi, Ris, aku sedang tak ingin banyak berdebat denganmu. Sesekali kau harus bisa belajar untuk mengalah, tapi bukan sebagai orang yang kalah. Turunkan sedikit egomu, tak perlu berapi-api mempertahankan yang sejatinya salah. Jika kau salah, akuilah. Tak perlu melahirkan alibi untuk bisa menang kala beradu argumen denganku.

Ris,

Kenyataannya ada garis batas yang tak bisa kubedakan antara merindu dan membenci. Harus ku akui, aku sedang merasa sangat amat membencimu. Mengingat kau pernah sebegitu hebat menyakitiku. Tapi, semakin kuyakinkan diri aku benci, aku merasa sedang tertatih menahan rindu. Tak mudah menghapus kenangan yang didalamnya pernah ada kamu dan aku yang disebut Kita.

KITA!! Aku benci harus mengakui kata itu sudah bukan lagi kau dan aku. Kata yang pernah menautkan kamu menjadi malaikat pelindungku. Hari ini tak sengaja aku kembali membaca isi percakapan kita saat masih baik-baik saja. Aku menangis, kau ternyata pernah semanis itu padaku. Tak seluruhnya kubaca, karena aku tahu semakin kubaca hingga akhir, aku mungkin akan semakin membencimu. Ya, karena aku tahu jika semakin kuteruskan membaca, di akhir ada permintaanmu yang meminta berpisah denganku. Dan aku masih dapat mengingat jelas sejahat apa kamu terhadapku.

Ris,

Disana tertera kata "cepetan tidur gih, yang", saat kau menyuruhku untuk segera memejam mata di malam percakapan aksara kita. Aku memutar kenangan, kamu memang pernah semanis itu. Dan itu berjarak tepat dua hari sebelum ulang tahunku. Ternyata kau manis, kau begitu berhasil membuatku tahu seperti apa rindu yang membabi buta.

Tapi apa yang kau lakukan pada akhirnya, Ris? Kau melukaiku seluar biasa yang tak kukira. Pria yang selalu kupuja, dengan menjentikkan jemari saja berhasil membuat air mata itu mengalir bebas, tak tertahankan.

Kau itu hebat. Hebat dalam membuat aku terluka. Dan aku ini bodoh. Bodoh karena aku sadar pada perjalanan hubungan kita pun dulu aku masih mau bertahan dengan kau yang melukai aku. Ya, pantas, sih, kau meninggalkanku, barangkali kau tak mau terbebani dengan wanita bodoh ini. Wanita bodoh yang dengan ketololannya mau berdarah-darah, menahan ribuan luka, dan berkubang dalam nestapa, dan itu demi kamu, Ris.

Ris,

Perlu kamu tahu, memahami kamu tak mudah. Bahkan aku rasa semua wanita akan menyetujui pendapatku. Kau tak mudah diterka maunya. Kau unik, seunik caramu yang mundur perlahan untuk beranjak pergi. Ah, sudahlah, lupakan dulu masalah keunikanmu itu. Aku jadi bertanya, apakah wanita lain akan sepertiku? Apakah mereka mau bertahan demi kamu? Jawabannya bisa iya atau tidak. Jika iya, berarti mereka tulus mencintaimu. Dan jika tidak, kau perlu memeriksa prilaku luar biasamu itu.

Ris,

Aku tak ingin memberikan sumpah serapah padamu. Itu menakutkan. Biar bagaimanapun aku harus berterima kasih padamu, meski melukai kau pun pernah membuat aku bahagia. Dan aku harap aku masih bisa mengenangmu dalam balutan tawa. Tak jadi soal, kau mengingatku atau tidak. Semoga di luar sana kau bisa berbahagia.

Dari mantan kekasihmu yang sangat baik hati,


Achy

No comments:

Post a Comment