Tetaplah bersamaku,
Jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, milikmu
Kita satukan tuju
.......
Lagu Tulus dinyanyikan merdu oleh Dinata. Semua orang melihat kepadaku. Barangkali dalam kepala mereka terbersit perasaan iri karena sosok pria yang bernyanyi itu ditujukan spesial buatku.
Saat sedang menikmati penampilan Dinata, tanpa sengaja aku melihat sekumpulan pria yang berkumpul pada satu meja yang dekat dengan panggung dimana Dinata berasa. Aku seperti mengenali beberapa diantaranya. Astaga! Ya, mereka adalah Bisma dan teman-temannya. Ada Ikhsan, Ozy, dan satu lagi sepertinya Deri. Apa mereka sudah lama? Apa mungkin mereka tahu aku ada disini? Entahlah, yang jelas aku jadi tak nyaman berada disini. Aku ingin segera pulang, tapi Dinata masih bernyanyi. Ketar ketir rasa hatiku. Disatu sisi pipiku memerah oleh setiap hal yang Dinata berikan. Disisi yang lain, aku merasa marah melihat Bisma disini.
Dinata pun selesai bernyanyi. Langkah kakinya menujuku disambut dengan sorak sorai, tepuk tangan dan juga sorot mata para pengunjung, termasuk empat sekawan yang juga memperhatikan setiap detail Dinata. Dia tersenyum. Dan kubalas juga senyumannya bersama tepuk tangan. Aku bersikap seolah aku tak tahu ada mereka.
"Al, kamu paham, kan, maksud aku bernyanyi itu untuk kamu?"
"Iya." jawabku sembari tersipu malu.
"Aku jatuh cinta sama kamu, Al. Kamu, mau, kan, jadi pendamping hidupku?"
"Kamu serius?"
Tiba-tiba dia menggenggam tanganku. Jantungku berdetak lebih cepat. Astaga, pria ini sungguh romantis, "aku serius, Alena. Aku sungguh serius."
"Tapi, Nata, aku mencari pria yang akan menjadikanku istrinya. Ibu dari anak-anaknya."
"Kamu tak perlu khawatir. Aku memang ingin kamu jadi teman hidup. Semoga kamu mau menerima aku yang tak sempurna ini. Semoga kamu mau melengkapi kekuranganku. Menjadi pengingat ketika aku lupa."
Aku tak mampu berkata banyak. Apalagi yang harus aku cari, barangkali dia adalah jawaban Tuhan dari doa-doaku. Aku mengangguk tanda menyetujui permintaannya. Spontan saja dia pun memelukku erat. Semua yang ada disana melihat termasuk rombongan empat sekawan. Bahkan tiba-tiba saja suara tepuk tangan bergema, entah siapa yang memulai duluan, yang jelas aku bahagia, sangat bahagia.
*continued*
No comments:
Post a Comment