Dear you,
Kamu,
Entah kapan kamu akan membaca ini, segala kemungkinan bisa terjadi saat kau membaca ini. Barangkali, jika saat itu tiba, kita sudah sama-sama bersama dengan pendamping yang lain. Atau mungkin, aku sudah bersama pria lain yang akan membahagiakanku. Kemungkinan lain, kita masih sama-sama menyendiri. Belum membuka hati, tapi saling enggan untuk kembali, karena gengsi barangkali!
Kamu,
Ketika membaca ini kau akan memahami seberapa beban yang aku rasakan ketika menulis ini. Masih dengan setia, kuucap namamu pada Tuhan. Masih dengan sisa kekuatan, kuminta agar Tuhan menghapuskan semua tentang kamu dari kepalaku. Aku ingin bisa berlari kedepan. Tanpa perlu lagi menoleh kebelakang. Bukankah Tuhan selalu membuka jalan, disaat kita merasa sudah tak memiliki jalan. Mungkin dengan aku meminta Tuhan membantu menghapuskan kamu, aku bisa berbahagia pada akhirnya.
Memang pernah ada harapan untuk bisa berjalan kedepan bersamamu. Membangun mimpi. Dan kehidupan yang lebih baik lagi. Tapi semua sudah berakhir. Itu hanya mimpiku, bukan mimpimu. Itu hanya harapanku, bukan harapanmu. Hidup memang misterius, tapi biarkanlah hal yang misteri itu tetaplah menjadi misteri. Siapa dirimu. Siapa diriku. Biarlah tetap seperti ini adanya.
Mungkin tidak sekarang kita ditakdirkan bersama. Tapi aku percaya jika Tuhan berkehendak kita akan dipersatukan lagi. Karena cinta tahu dimana rumahnya. Itulah kenapa aku tak memaksakan apa mauku. Jika kau tak bahagia denganku, barangkali dengan yang lain kau akan lebih berbahagia. Aku pun demikian, hanya saja bedanya, meski kamu selalu menghadirkan luka, aku masih senang bertahan dengan kamu. Bagi perempuan sepertiku, bertahan untuk orang yang dicintai, jauh lebih terhormat daripada meninggalkanmu dan mencari kebahagiaan yang lain. Masih ada setitik harapan, kau akan berubah dan mau mensyukuri hadirnya aku di hidupmu. Meski kamu bilang padaku, untuk tak ragu meninggalkanmu jika hanya luka yang kauberikan. Aku enggan pergi darimu.
Kamu,
Mungkin jika Tuhan mengizinkan kita saling bertatap, aku yakin, kita akan saling memalingkan muka. Tak dipungkiri, cara kita berpisah memang membuat aku terluka sangat dalam. Ada kisah yang selesai sebelum waktunya, tapi meninggalkan banyak luka. Ada hal yang aku rasa belum terselesaikan tapi kau enggan mendengarkannya.
Aku hanya minta, jangan mengesankan jika perpisahan ini adalah mauku. Jangan mengesankan aku tak ingin bersusah hidup bersamamu. Aku tak seperti itu. Aku menghormati kamu sebagaimana aku kelak akan menghormati suamiku. Karena yang selalu aku tanamkan, kau akan menjadi imamku.
Kamu,
Jangan marah pada orang tuaku, hanya karena mereka menanyakan padamu tentang seserius apa dirimu padaku, dulu. Mereka hanya menjalankan kewajibannya sebagai orang tua. Justru salah andai mereka tak menanyakan hal itu padamu. Karena jika demikian, kau tak dihargai mereka.
Kau hanya salah menanggapi maksud mereka. Atau bisa jadi kau memang tak memiliki keseriusan itu denganku. Tak apa, itu hak mu. Aku tak ingin memaksa. Sudah merasakan menjadi kekasihmu saja aku sudah bersyukur. Itu artinya, Tuhan mengabulkan sebagian doaku tentangmu. Tuhan sudah membiarkan aku mencecap bahagia bersamamu meski dalam kurun waktu empat bulan saja.
Tuhan itu baik, ya, Dia mengizinkan aku jadi kekasihmu. Dan saat yang sama juga, kau mengharapkan mantan kekasihmu hadir dan kembali lagi padamu. Jadi, aku ini apa? Tentu saja, aku kekasihmu, tapi hanya peneman saat kau butuh teman. Peranku tak banyak berharga bagimu. Aku hanya yang menemani saat kau ingin makan ramen tanpa perlu kau makan sendirian. Aku hanya yang menemani saat kamu tak mau sendirian memperpanjang surat izin mengemudimu. Ah, malang ternyata jadi aku selain hanya jadi yang menemani, menggenggam tanganku saja kau enggan.
Aku pernah mencoba melepaskan tangan ketika tangan kita saling menggenggam saat berjalan. Harapanku, kau akan merekatkannya dan berusaha agar genggaman kita tak lepas. Tapi aku harus menelan kecewa juga, kau seolah senang jika akhirnya genggaman itu terlepas juga.
Maaf, kenyataannya sebagai wanita aku memang senang andai kau genggam tanganku. Dan maaf jika dengan menggenggam tanganku kau menahan malu. Kau benar, aku memang berlebihan.
Semua percakapan kita masih aku simpan hingga saat ini. Aku masih betah membacanya. Meski pada akhirnya tetap ada air mata yang terjatuh sia-sia. Iya! Disana aku menemukan sosokmu yang berbeda. Aku menemukan sosokmu yang hangat hingga yang jahat. Jika kau mau baca, mari, merapatlah.
Aku tak tahu apakah kita akan bisa berdamai atau tidak. Aku tak ingin memaksakan. Semua kujalani sesuai skenario Tuhan. Jika dalam skenario-Nya saja kita pernah bersama, dan akhirnya terpisah, aku masih bisa tetap tersenyum, perihal berdamai atau tidak pun akan kujalankan juga dengan senyuman.
Kamu,
Ketika kamu baca ini, ketahuilah hingga di tulisan terakhirnya, aku masih menangis.
Dari aku,
Astrie Nova