Tuesday, December 24, 2013

Hai, Superman!

Hai Superman, sudah tiga bulan kita tak bersua. Sejak pertemuan terakhir kita di sebuah Mall yang menyediakan banyak spot menarik untuk berfoto ria. Sampai sekarang aku masih ingat, saat kita berdua berfoto bersama dengan menggunakan self timer yang kauatur sebelumnya, kau begitu tergesa-gesa mendekat dan mulai bergaya sebelum pada itungan akhir ponselmu memotret kita. KITA! sungguh indah rasanya andai aku dan kamu pada akhirnya bisa disebut KITA.

Hal yang paling kuingat adalah saat dimana pengunjung lain berjalan melewati kita, saat itu aku dan kamu sedang bersiap kembali berpose. Kita sudah bergaya, hanya dalam itungan saja, ponselmu mungkin akan mengambil gaya kita. Lucunya, pengunjung itu maju-mundur, bergerak penuh keraguan, apakah dia harus lewat atau menunggu kita berhasil difoto.

"Ayo mbak lewat aja, mbak lewat aja." sambil menggunakan tangan sebagai kode mempersilakan, kau berujar padanya. Saat itu aku hanya menahan senyum, melihat lakumu sungguh mengundang decak kagum dan rasa bahagia. Seperti inikah rasa nyaman, meski kita baru bertemu tiga kali saja.

Seharusnya sosokmu tak asing bagiku. Nyatanya kita terdaftar pada almamater yang sama. Aku mahasiswa Fakultas Ekonomi, dan kau mahasiswa Fakultas Hukum. Tapi sungguh, hampir lima tahun kugeluti predikat kemahasiswaanku, sama sekali sosokmu tak pernah tertangkap oleh retina mataku. Barangkali, jawaban paling masuk akal yang aku temukan adalah karena kau bukanlah makhluk yang digandrungi mahasiswi lain. Maaf, barangkali kata-kataku ini sedikit frontal, sekali lagi ini hanya asumsiku saja, bukan asumsi umum orang-orang.

Kalau kaubaca ini, kau pasti bertanya, atas dasar apa aku bisa memiliki asumsi ini? Akan kujawab; barangkali jika kau pria populer di kampus kita, rasanya tak mungkin aku tak mengetahuimu. Setidaknya aku masih bisa mengetahui sosok-sosok lain yang secara fisik (maaf) jauh di atasmu. Hey, aku tak mengatakan kau tak tampan, tapi aku hanya bilang ada sosok yang lebih tampan selain kamu. Lantas kenapa kita bisa dekat seperti ini, ya? Kita dekat setelah dua tahun kita lulus sebagai mahasiswa, setelah kita wisuda akbar dan memiliki gelar dibelakang nama kita.

Mungkin kalau kau tak pernah menyapaku melalui aplikasi manis sejuta umat itu, sampai detik ini kita masih hanya berteman sebagai teman maya saja. Kita akan menjadi teman, tapi tak pernah bersua dan bersapa. Bahkan kedekatan kita merambah menuju dunia seratus empat puluh karakter, dan berakhir dengan tatapan mata yang nyata.

Dua puluh delapan desember dua ribu dua belas, kau mengirimkan ajakan pertamamu untuk bertatap langsung denganku. Aku menyambutnya, rasanya tak baik juga aku tak mengetahui wajahmu. Sesekali kupikir memang ada baiknya kita berteman dengan kenormalan yang ada; bertemu, bertatap, dan berjabat. Saat itu, kau menungguku datang, sepanjang menunggu kau memusatkan pandangan pada lalu-lalangnya kendaraan yang melintas, dengan ditemani sebotol minuman dingin dan sebungkus snack penghilang sepimu. Sebenarnya dari jauh aku memperhatikanmu, memang tak sulit menemukanmu, karena kamu dan fotomu memiliki kesamaan yang benar-benar sama.

Pertemuan kita yang kedua terjadi di tanggal, dua puluh tiga agustus dua ribu tiga belas. Tiba-tiba kau mengirimkan pesan singkatmu dengan nomor yang aku tak tahu, tentu saja kutanyakan siapa pemilik nomor itu, dan kaujawab, "Ini aku, Superman." Kau mengajakku menemanimu mencari makan, padahal sudah delapan bulan sejak pertemuan awal kita, kau tak pernah mengabariku. Hanya dari sudut keabstrakan dunia maya saja, sesekali aku memperhatikanmu. Kukira pertemuan awal kita memang tak berkesan banyak untukmu, sehingga kau memilih menjauh dan tak menghubungiku lagi. Ah, untuk urusan itu aku tak terlalu ambil pusing, berkesan ataupun tidak sama sekali aku tak peduli.

Pada pertemuan kedua ini pun aku bereaksi sama, andai tiba-tiba kamu hanya sekedar mencari teman untuk menemani makan dan setelahnya kamu menghilang lagi, aku sudah siap. Pikirku saat itupun setelah makan, kauakan mengantarku pulang dan menghilang lagi. Ternyata aku salah, kamu mengajakku bermain menuju salah satu Mall yang menyediakan sebuah tempat untuk bermain Ice Skating. Dari sanalah aku mulai menemukan titik nyaman bersamamu. Kau adalah orang yang menyenangkan ketika kita saling berbicara, dan mungkin saat itu tanpa sadar aku jatuh cinta padamu untuk yang pertama kalinya.

Superman, kali ini aku sedih. Kita semakin jauh kini, bahkan mungkin terakhir pertengkaran kita adalah tentang bola. Ya, urusan bola kita tak memiliki kesamaan, kau penyuka Real Madrid, sedangkan aku Barcelona. Bodoh, ya, hanya gara-gara bola kau dan aku bertengkar. Dan kenapa juga aku harus ikut terpancing amarah terhadap kicauanmu tentang kekalahan Real Madrid oleh Barcelona. Padahal aku biarkan saja kamu marah.

Ah sudahlah superman, aku tak berharap lagi akan ada pertemuan berikutnya. Nyatanya kita sudah semakin sangat jauh. Dan aku adalah satu-satunya wanita yang tak tahu bagaimana memperbaiki semuanya.


With Love for You :')



@AchyNova

Bandung, 25 Desember 2013




Monday, December 9, 2013

Hujan Seperti ini, tiga tahun yang lalu (Malaikat hujan 2) - part 2

"Lumongga Diandra...?" Sapa sebuah suara dibelakangku. Aku yang sedari tadi masih duduk dan menjatuhkan pandangan pada hujan seakan dikagetkan oleh suara tadi. Namun, suara itu, suara yang baru saja memanggil namaku, serasa tak asing ditelinga ini. Aku serasa mendapati suara Edgar yang tengah memanggil namaku. Ah, tapi tak mungkin, aku pasti hanya sedang terjebak dalam nostalgia bersamanya.

Segera saja aku bangun dari tempat duduk, bermaksud menyambut suara yang sudah menyapaku saat lamunan tadi. Aku yakin, yang menyapaku adalah Dokter Byan, "Selamat pagi, dokter Byan." Deg!! Suaraku hilang begitu saja, dia yang ada dihadapanku adalah dia yang dengan setia menghuni alam bawah sadarku. Ini bukan lagi mimpi, melainkan benar adanya. Pria yang selalu disebut dengan Dokter Byan adalah pria yang kusebut sebagai Edgar. Kenapa begitu bodohnya aku, Edgar memang memiliki nama Edgar Fabian, dan dia mengganti nama panggilannya menjadi Byan. Tapi bisa jadi hanya aku yang memanggilnya dengan Edgar, sementara temannya mungkin memang memanggilnya Byan. Yayaya!! Itu mungkin saja, aku memanggilnya demikian, karena dia memang memperkenalkan dirinya sebagai Edgar.

Tatapanku kosong menatapnya, untuk beberapa saat otakku disibukkan dengan asumsi mengenai dia dan panggilannya. Aku tak banyak bicara, bahkan aku masih terdiam di tempat yang sama. Aku sibuk menerawang, dan mencari jawaban yang pertanyaannya pun aku tak tahu apa.

"Dee", Edgar berusaha menyadarkan aku dengan jentikan jemarinya. Barulah aku sadar dengan keadaan yang serba mengejutkan ini. Reaksiku masih tetap sama, diam bungkam dengan dibalut rasa bahagia yang luar biasa.

Aku terperanjat sesaat, menyadari bahwa ini bukanlah mimpi. Simpul senyum terlukis nyata dalam lukisan wajahku. Batinku lirih bersyukur, terima kasih Tuhan atas anugrah-Mu hari ini.

*****

(Edgar Fabian)

Sudah lima belas menit aku berdiri menghadap jendela kantorku. Kaca jendela yang terlihat mulai basah dan berembun menjadi pemandangan yang begitu kunikmati. Diluar, hujan begitu deras turun membasahi bumi. Rintiknya jatuh dengan bebasnya. Setiap hujan turun, aku selalu merindukan Diandra. Makhluk manis yang kutemukan di sisi lain halte sebrang kampusku. Gadis menarik yang berlari kecil untuk menghindari basah di tempatku berteduh saat itu. Ah, seperti apa dia sekarang. Sudah tiga tahun aku tak menemukannya. Padahal dulu, kala hujan turun, aku selalu berhasil menemukannya. Gerimis manis itu selalu menuntunku untuk menuju tempat keberadaanya. Itu dulu,  saat egoku belum menghancurkan semuanya. Saat aku masih disebutnya sebagai kekasih.

Kriiiiiingggg.

Suara telepon yang nyaring bernyanyi di atas mejaku. Deringnya membangunkanku dari lamunan mengenai Diandra. Langsung saja aku bergerak untuk mengangkatnya, "Ya, kenapa?"

"Baik. Suruh tunggu saja, biar saya yang menemuinya di lobi".

Klik, telepon pun aku tutup. Resepsionis memberitahuku jika Lumongga sudah ada di bawah. Kali ini aku bertugas menemani Lumongga untuk training. Tak banyak yang kuketahui tentangnya, selain hanya dia pengganti Mba Dwita untuk training kali ini.

Tiga hari lalu, Mba Dwita mengabariku, menurutnya wakil dari rumah sakitnya bernama Lumongga Diandra. Siapa dia? Sesungguhnya tak menarik buatku. Yang menarik hanyalah nama akhir dari Diandra itu yang membuatku masuk kembali dengan nostalgia kenangan bersama Diandra.

Hmmm, sudahlah, semoga Diandra masih baik-baik saja dengan siapapun dia saat ini. Namun,  andai Tuhan mengizinkan aku bisa melihat Diandra kembali dengan statusnya yang masih sendiri,  maka aku akan sangat berterima kasih.

Segera saja aku bergegas menemui Lumongga yang sudah menunggu di Lobby,  tak enak juga jika dia harus menunggu terlalu lama, lagipula, pelatihan sebentar lagi akan dimulai.

Aku segera saja pergi menuju tempat dimana Lumongga menunggu. Dari kejauhan, aku melihat sosok perempuan yang sedang terduduk memandangi hujan. Sepintas, perempuan itu memiliki pesona seperti Diandra, bagaimana cara dia duduk sambil menikmati hujan yang turun begitu anggun dan elegan, persis seperti Diandra kala menikmati rintik hujan di Halte waktu itu.

Segera saja aku menghampiri resepsionis dan menanyakan tamu yang sudah menunggu.

"Des, Lumongga Diandra yang mana, ya?"

"Yang menggunakan kemeja pink, dokter".

"Ok, makasih."

Ternyata Lumongga adalah gadis yang sedang menikmati hujan itu, segera saja kuhampiri dia, dan mencoba menyapanya.

"Lumongga Diandra?" Sapaku, ada jeda beberapa saat sebelum dia berdiri dan menoleh kearahku. Dalam hitungan detik saja, "Dokter Byan.....?", nada antusiasnya terdengar menurun ketika mata kami saling bertemu, mungkin kami sama, sama-sama tak menyangka akan dipertemukan kembali.

Astaga, ternyata dia adalah, Diandra. Aku terperanjat, aku terkesiap, benarkah dia adalah Dee. 
"Dee?? Ini kamu?". Dee masih terlihat terkejut juga setelah melihat kemunculanku, belum ada suara yang keluar dari bibir mungilnya. Dia masih terlihat sama, hanya saja kali ini dia sudah lebih bisa berdandan. Rambutnya panjang, masih dengan mata bulatnya yang indah.

"Dee." Aku coba menyadarkannya dengan lambaian tangan di depan wajahnya, tapi gadis ini masih terdiam dengan tatapan kosong. Pikirannya seolah sedang mencerna hal yang tak ia pahami. Melihatnya seperti itu kucoba menyadarkan dia kembali, "Dee.", kali ini sembari menjentikkan jemari, berhasil, dia akhirnya mulai terperanjat sadar dan tersenyum. Ternyata jentikkan jemariku berhasil membawa pikirannya kembali kedunia nyata.

Senyum itu, senyuman yang sama tiga tahun lalu. Luar biasa, getar itu kembali menghampiriku, bahkan lebih kuat. Tuhan, terima kasih untuk anugrah Mu yang luar biasa hari ini, batinku.

(CONTINUED...)

sebelumnya: Part 1

Monday, December 2, 2013

Terjebak Nostalgia

Selamat sore Tuan yang entah mengapa terasa semakin jauh. Aku datang baik-baik untuk bertanya hal-hal manis yang pernah kita jalani beberapa waktu ini. Sejak pertemuan kedua kita, dua puluh tiga agustus dua ribu tiga belas. Kamu mengetuk ruang hatiku, menjadi sosok baru yang nampaknya menarik jika kunikmati dari berbagai sisi. Aku hanya ingin memberitahumu, kamu sudah jadi seseorang yang kurindukan keberadaannya, kutunggu pesan singkatnya, dan kurindukan candaannya saat kita saling bertatap. Kamu sudah jadi kawan dalam malamku, penabur rindu senjaku, juga pemompa semangat untuk siangku.

Seharusnya kita sudah saling tahu sejak dua tahun lalu. Saat pada akhirnya kita lulus dan meninggalkan status kemahasiswaan kita. Lucu, kita yang sebenarnya berada pada satu gedung yang sama saat wisuda, nyatanya tak pernah saling menyadari sosok-sosok yang ada. Aku tak mengenalmu, kamu tak mengenalku, kita tak pernah saling tahu. Dan lebih lucu lagi, aku justru merasa tak pernah sekalipun melihat sosokmu diantara lalu-lalangnya mahasiswa Teknik Informatika yang sedikitnya kuketahui siapa mereka. Wajahmu begitu asing dimataku, benar-benar asing.

Bahkan, ketika kaumulai berkelana menjelajahi profil aplikasi sejuta umat itu dan mulai mengajakku berkenalan, aku masih tak mengenalimu. Dengan kepolosanku, aku senang  mendengar segala ceritamu. Entah kenapa, meski aku tak mengetahuimu lebih banyak,  tapi, cerita-ceritamu selalu menjadi hal yang kunantikan setiap harinya.

Saturday, November 23, 2013

Selamat Ulang Tahun, Kalil!!

Aku memandang hujan dibalik kaca jendela, ribuan rintiknya berhasil membuat jalanan basah seketika. Bau Petrichor mulai masuk melalui sela-sela kaca jendela. Baunya yang khas, menusuk-nusuk hidungku. Aroma tanah yang baru terguyur hujan itu menemaniku dalam kesendirian yang tak berujung. Sudah sepekan aku seperti ini, memandang kearah jendela, entah apa yang aku cari, tapi, ketika hari ini hujan turun, aku merasa penantianku berakhir sudah. Ada rasa bahagia melihat hujan turun dengan derasnya. Rasanya, aku ingin keluar dan bergabung dengan jutaan rintik raksasanya, melebur bersama mereka, dan berharap rintikku bisa menyentuh tubuhmu yang mulai membasah.

Ah, rasanya, aku ingin menjadi hujan, agar aku bisa memelukmu meski dengan basah yang kuhadirkan. Aku sebenarnya tahu alasanku selalu terdiam seperti ini, kamu! Ya! Kamu! Kamu yang membuatku seperti ini. Kamu selalu berhasil menjadi bagian penting masa laluku.

Seminggu lalu, aku tak sengaja melihat bulatan merah pada kalender yang berdiri manis di meja kerjaku. Disana, ada tulisan dengan menggunakan tinta merah lengkap dengan tanda love, "Kalil's bday ♡". Aku ingat, aku menulisnya tepat diawal tahun ini, saat dulu aku dan kamu masih saling melempar rindu dan cemas. Saat kita masih selalu saling menyapa disudut remang aplikasi yang bisa menyentuh hatiku dengan suaramu.

Muhammad Kalil Ibrahim, begitulah nama yang tertera saat kaumulai mengirimkan permintaan pertemanan pada aplikasi wechat itu. Dan seperti biasa, aku selalu melihat dulu siapa orang yang akan mengajakku berkenalan melalui fotonya. Rasanya, aku tahu kamu siapa, jika tebakanku benar, kamu adalah mahasiswa semester delapan fakultas hukum dikampusku. Yayaya! Aku yakin itu kamu, wajahmu memang sering berlalu lalang dikampus tercintaku ini. Aku sangat hafal wajah itu, hanya saja aku tak tahu namanya. 

Ah, sudahlah, bukan itu yang aku ingin ingat, aku hanya sedang berfikir bagaimana caraku mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Itulah mungkin alasan kenapa aku ingin menjadi hujan, agar aku bisa memelukmu dengan bebas melalui rintikku, agar aku bisa mengucapkan selamat ulang tahun tanpa perlu kauketahui.

Mungkin, seharusnya kamu bisa mengendalikan amarahmu. Kauseharusnya mendengarkan penjelasanku tentang kedekatanku dengan temanmu itu. Tapi, semua seakan menguap tanpa sisa, amarahmu yang memuncak membawa sengsara dalam kisah kita. Kaumemutuskan mengakhirinya, bahkan dengan tegas kauucapkan betapa pada akhirnya kausangat membenciku dan menyesal mengenalku.

Ah, aku bisa apa jika sudah seperti ini? Kata-katamu terlalu memekakkan gendang telingaku. Aku hanya terdiam dan menangisi semuanya. 

Sudahlah, aku akan tetap memelukmu dengan doa, Kalil. Meski aku tak mampu mengucapkan selamat kepadamu, tapi doaku akan selalu mengiringimu.

"SELAMAT ULANG TAHUN, KALIL, SEMOGA KAU SELALU DILIMPAHKAN BANYAK KEBAHAGIAAN OLEH TUHAN, AKU MERINDUKANMU - SELALU."

With Love For You ;')



AchyNova™

24 November 2013

Friday, November 22, 2013

Hujan seperti ini, tiga tahun yang lalu (Malaikat hujan 2 ) - part 1


Sudah sepekan Bandungku selalu diguyur hujan. Rintik raksasanya berhasil membuat jalanan lengang seketika. Mungkin, hujan juga sudah muak melihat kotaku riuh dengan hiruk pikuk kebisingan kendaraan. Kali ini, di petang hari yang juga hujan, aku terduduk di halte bis. Tujuanku sama seperti orang-orang yang memadati halte ini sekedar berteduh dan menghindari basah. Aku kembali mengingatnya lagi, pria mahasiswa kedokteran yang pernah memperkenalkan dirinya dengan cara yang menyenangkan. Seperti apa rupanya saat ini, aku tak tahu. Hujan sudah berhasil menarik kembali kenangan yang sudah hampir kulupakan. Kenangan manis yang tak ingin kusisakan sedikitpun.

Tiga tahun lalu, sama seperti saat ini, hujan membasahi petang hari dengan rintiknya. Ia berhasil menghentikan langkahku di tempat singgah dekat kampus, halte bis. Masih terekam jelas, dia terduduk seorang diri disudut yang berbeda denganku. Dengan tangan yang yang diselipkan diantara kedua paha yang sengaja dirapatkan, dia bertahan melawan dingin. Bahkan suara gemeretak giginya, masih dapat kuingat jelas. Kenapa aku tiba-tiba mengingatnya lagi, padahal sudah dua tahun aku tak mengetahui kabarnya. Sejak pada akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri segala yang indah. Sejak setiap mimpi manisku berubah menjadi bencana yang menyiksa. Sejak aku dan dia - kami memilih untuk tak melanjutkan lagi kisah cinta itu.

Memang banyak yang berbeda setelah itu. Selain pada akhirnya kami benar-benar tak bertemu. Aku dan dia disibukkan dengan hal-hal rumit yang semakin memperjarak kami.
Tiba-tiba aku ingin menangis. Hujan memang selalu berhasil membuatku merindukan dia. Dia yang kuharapkan akan menjadi nahkoda dalam kapal layarku.

"Edgar, miss you." Ucapku pelan, aku yakin orang-orang yang ada disini tak mungkin bisa mendengar ucapanku ini.

Hujan masih terus meruntuhkan kegagahan rintiknya. Dan aku masih bernostalgia dengan kenangan bersama Edgar.

Aku ingat betul saat hujan tak pernah turun, rasanya aku begitu meradang, karena biasanya setiap hujan turun, ia akan menuntun langkah Edgar untuk menemuiku. Dan kali itu hujan tak pernah turun selama seminggu. Dan seminggu pula aku tak pernah menemukan sosoknya.

"Hai, Dee."

"Hujannya menyenangkan, ya, Dee."

"Postingan barumu selalu kunantikan, Dee."

Selalu seperti itu Edgar menyapaku. Dengan sapaan lembutnya. Dengan senyum manisnya. Dengan sikap bersahajanya. Pria itu berhasil membuatku jatuh cinta. Bahkan hingga sekarang. Hingga tiga tahun setelah perkenalan kami.

Ah, mungkin saat ini dia sudah menemukan perempuan lain dalam hujannya. Tidak ada lagi aku. Tidak ada lagi LUMONGGA DIANDRA dalam rapalan doanya. Semua sudah selesai, sepertinya!
Barangkali, Lumongga Diandra tak terselip lagi dibalik sujud terakhirnya. Saat dulu dia mendoakanku dalam percakapannya dengan Tuhan; agar Tuhan menjadikan kami dalam kebahagiaan yang hakiki.

Tak berapa lama hujan berhenti juga. Aku langsung beranjak segera pergi. Halte ini, halte yang berbeda dengan halte tempatku pertama kali bertemu dengan Edgar, tapi kenangan yang dihadirkannya nyaris persis sama. Seperti inikah rasanya rindu membabibuta? Seperti inikah perihnya menghidupkan kenangan lama?

Bukankah hujan selalu turun setiap tahun? Tapi kenapa pada tahun ketiga aku baru mengingatnya lagi? Entahlah. Yang jelas hujan tahun ketiga ini selalu berhasil menarikku pada kenangan masa laluku - Edgar fabian.

*****

Aku menatap kearah kaca jendela yang sedikit berembun. Rinai hujan sudah membuatnya menjadi sedikit buram dan beruap. Aku hanya berdiri, mematung dalam sepi diruangan ini. Entah kenapa, akhir-akhir ini kebimbangan setia menghampiriku. Tampaknya kenangan saat aku bersama Edgar, masih terus memukul dan memaksa keluar dari kotak masa lalu dalam ingatanku. Aku tak bisa berbuat banyak, aku memang merindukannya. Meski benci kukatakan ini, nyatanya aku masih mencintainya.

"Mongga, boleh Mbak Dwita masuk?" Suara Mbak Dwita dibalik pintu lengkap dengan ketukannya seakan membuatku terperanjat dari lamunanku.

"Iya Mbak, masuk aja." jawabku lembut, sembari sesekali aku membenahi wajahku yang sedikit lagi mulai hampir menangis saat melamun tadi.

Masuklah sosok wanita bertubuh agak tambun dengan perawakannya yang agak pendek. Dialah Dwita, kepala bagian farmasi di rumah sakit tempatku bekerja. Dia juga menjadi wakil dari atasanku. Biasanya jika atasanku berhalangan hadir, beliaulah yang bertugas menggantikannya. Wanita ini tegas. Tapi  memiliki sifat yang humoris. Dia menempatkan segala sesuatunya pada kondisi kerja dan juga profesionalitas. Dia tahu, kapan menjadi monster juga malaikat.

"Mongga, minggu depan kamu ikut training standarisasi, ya, di Jakarta."

Aku hanya bereaksi sekenanya. Kuanggukkan kepala sebagai tanda aku memahami semua perintahnya. Aku tau tugas dinas seperti ini lambat laun akan menghampiriku juga. Dan tentu saja aku tak bisa mengelaknya, karena hal seperti ini sudah menjadi bagian dari pekerjaanku.

*****

"Mongga, nanti disana kamu tanya aja ke bagian informasi, cari aja Dokter Bian, dia sudah tau, kok, kamu bakalan barengan dia." jelas Mbak Dwita menerangkan diujung sambungan telepon. Aku hanya menanggapi celotehannya dengan jawaban singkat yang cukup mewakili pemahamanku tentang penjelasannya itu, "oke!".

Aku langsung bergegas menuju informasi, langsung kutanyakan tentang keberadaan dokter yang akan mendampingiku pada training kali ini. Sang informan menyuruhku untuk menunggu di lobby rumah sakit, menurutnya si Dokter memang sudah berpesan sebelumnya dan dia akan segera menemuiku setibanya aku di Rumah Sakit ini.

Di luar hujan gerimis sudah turun dengan gagahnya. Dinginnya sampai terasa olehku. Aku hanya memperhatikannya saja. Hujan seperti ini lagi-lagi selalu berhasil menarik kenangan yang sudah lama terkubur itu.

Aku meghela nafas panjang, membayangkan setiap kenangan saat aku bersama Edgar. Barangkali sekarang dia sudah menjadi Dokter yang hebat. Barangkali dia sudah berhasil menyembuhkan banyak orang. Dan barangkali juga, dia sudah bertunangan atau bahkan menikah. Menikah? Aku baru sadar bahwa mungkin saja dia sudah menikah. Sama sepertiku yang sebentar lagi akan menikah.

Saat ini aku memang sudah bertunangan. Pria yang berhasil mempersuntingku adalah teman dari Bianca, sahabat terbaikku. Dia adalah seorang IT dari perusahaan asing di Jakarta. Kedekatan kami berawal dari keisengan Bianca yang memperkenalkanku pada Tio-nama pria tunanganku- tapi meskipun sudah hampir dua tahun aku mengenalnya, aku belum sepenuhnya mencintai dia. Harus kukatakan, aku masih mencintai Edgar dalam tiga tahunku ini.

"Lumongga Diandra."

(to be continued)

selanjutnya: Part 2

Saturday, October 19, 2013

Feel it!

http://achynova.tumblr.com/post/64532358870/kamu-ingin-tahu-perasaanku-sebenarnya-sekali-kali

DARI: PEREMPUAN YANG MENYEBUTMU CINTA PERTAMANYA.

Masa Orientasi Peserta Didik, Juni 2004.

Untukmu, pria yang kucari sosoknya selama lima tahun.

Barangkali, tulisan ini tidak akan kaubaca. Barangkali, tulisan ini akan terabaikan dan dimakan rayap. Barangkali juga, tulisan ini akan terbakar, menjadi abu, dan akhirnya hilang tak berbekas. Kemungkinan yang lain bahwa tulisan ini akan hilang sebelum sampai padamu, terkalahkan oleh banyaknya hal yang harus kauperhatikan. Apalagi kalau bukan masalah pekerjaanmu sebagai seorang Perencana Tata Letak Kota.

Aku memang tak berharap lebih kauakan membacanya, apalagi berharap kauakan memberikan tulisan balasan untukku. Aku sudah cukup bahagia, jika saat membaca ini ada simpul senyum yang terlukis sempurna disudut bibirmu. Hal itu jauh lebih baik daripada tak dibaca sama sekali dan kemudian diabaikan begitu saja. Lupakan siapa yang telah menulis ini dengan lancangnya! Lupakan siapa sosok dibalik ini semua yang mungkin saja menggelitik hatimu dan mengganggu kehidupanmu! Aku hanyalah gadis biasa yang sosoknya tak terlalu menarik keingintahuanmu. Gadis biasa yang diam-diam berani dengan lancang menjadi pengagum rahasiamu.

Untukmu, pria yang pernah berdebat denganku tentang hijab.

Awalnya, aku hanya mengenal sosokmu sebagai kakak kelas pembimbing di kelas X-4. Tapi, setelah kuketahui kamu dari temanku, aku menjadi gadis rajin yang mencari tahu sosokmu yang nyata. Ternyata, kamu dua tingkat diatasku, siswa yang duduk di kelas XII IPA  2. Kamu juga aktif pada kegiatan ekstra kurikuler bidang olah raga basket dan sepak bola, aku jadi ingin terus memperhatikanmu. Seketika saja kaurenggut habis perhatianku hingga celah terkecilnya.

Siapakah dirimu wahai pecinta sosok Sherlock Holmes? Apakah sosokmu begitu memukau seperti Sherlock Holmes saat memecahkan sebuah kasus? Aku tak ingin kehilangan jejakmu, sama sekali tak ingin. Akan kumaknai setiap jengkal hadirmu didekatku.

April 2009, itulah saat takdir menyudutkan kita dalam jengkal tatap maya yang biasa kita sebut kebetulan. Kebetulan saja aku dengan keisenganku memasukkan nama lengkapmu pada kolom pencarian aplikasi facebook. Keisenganku saja, mengirimkan permintaan pertemanan dan menggantung harap kauakan segera menerimanya. Dan lagi-lagi karena keisenganku juga, aku membuka profilmu dan menemukan nomor ponselmu tertera disana. Lalu, dengan setengah keberanianku, kukirimkan tiga huruf ajaib untuk menyapamu “Hai!”, meski harus kuterima balasan ketus darimu, “Siapa, ya??”.

Hal yang kusebut sebagai kebetulan dan keisengan ini ternyata telah membawaku terlalu jauh. Hari berganti minggu, siapa yang menyangka ternyata bayangmu mampu menyebabkan rasa penasaranku semakin bertambah. Sepotong kisah bernama kebetulan itu membawaku pada keberanian untuk mengakui, bahwa aku terus mencarimu selama lima tahun ini, meski harus dengan menurunkan rasa malu dan juga harga diri.

Untukmu Mahasiswa Ilmu Planologi yang kucintai.

Mungkin, kau akan tertawa membaca ini. Atau justru kauakan mengingat kembali hal-hal yang pernah terjadi pada kita sebelumnya. Kita pernah saling berbagi cerita melalui suara tanpa tatap. Jutaan pengakuan meluncur deras dari bibirku. Tak ada lagi rasa canggung, yang kupikirkan hanya ingin kamu mengetahui bagaimana berjuangnya aku menemukanmu. Ini tentu bukanlah mauku, menyimpan rasa suka yang berkepanjangan kepada pria dua tingkat diatasku. Apa menurutmu, aku gila karena sudah mencintaimu selama lima tahun ini? Andai hati adalah hal yang bisa kukendalikan, tentu saja, aku tak ingin berlama-lama mencintai pria yang sosoknya tak terlalu kuketahui. Dan inilah yang tak kupahami, cinta bisa dengan leluasa menguasai hatiku, meski kita tak pernah dekat sama sekali.

Aku sangat berharap bahwa saatnya nanti, Tuhan akan memberiku kesempatan untuk memiliki hatimu. Tapi, ternyata harapanku terbang terlalu jauh. Nyatanya, kita hanya bisa dekat lewat suara, bukan lewat tatap, ataupun tangan yang berjabat.

Realitanya, aku tak pernah tahu sosokmu dan dimana keberadaanmu saat ini. Aku begitu sulit mengetahui semua hal tentangmu, sekeras dan sekuat apapun usahaku. Meskipun bisa saja aku menerobos dengan kegilaanku untuk mengenalmu lebih jauh. Sayangnya, aku terlalu lemah untuk itu. Bagiku, janjimu yang tak pernah kaupenuhi padaku, jauh membuktikan bahwa aku memang tak menarik perhatianmu, sehingga tangisan kita yang pecah diujung telepon pada pengakuan itu, seperti menguap dan tak berbekas sedikitpun dihatimu.

Pada akhirnya aku memang memilih mundur. Meninggalkan harapanku. Berhenti untuk mengikuti bayang-bayangmu, dan memutuskan untuk melupakanmu.

Maafkan aku, karena sudah lancang mengusik kehidupanmu.

Maafkan aku, karena dengan lancang menulis ini untukmu.

Dari seseorang yang mungkin tak kaukenal.
Seseorang yang pernah bermimpi memilikimu.

With Love For You :')

@AchyNova™
120913

WANITA PILIHANMU.

Di setengah pagi yang sebuta ini, aku terbangun dari tidurku yang tak terlalu nyenyak. Kusingkap selimut tebal yang menutupi hingga bahu, yang menghangatkanku dari dinginnya malam yang mencekam. Ini salahku jika tidurku tak senyaman seperti biasanya, karena terbebaninya kepalaku untuk memahami keinginanmu.

Saat menulis ini, aku terus memperhatikan kicauanmu untuk wanita yang tak kukenal. Seseorang yang tergambar begitu sempurna melewati kata-kata diantara seratus empat puluh karakter yang terbatas. Aku menebak-nebak dan karena teka-teki itulah aku terluka parah. Seharusnya aku tak perlu mengikuti rasa keingintahuanku yang menggebu. Tak perlu lagi kucari-cari kabarmu dari sudut keabstrakan dunia maya, tempat segala tumpuan keinginanmu terjalin tanpa kuketahui, apakah itu realita atau hanya drama belaka.

Begitu kerasnya keinginanmu yang satu ini, Sayang. Sementara disini, aku masih menunggu kamu pulang. Hampir setiap malam, atau bahkan setiap saat, aku masih sering merindukanmu. Mengingat betapa dulu kita begitu dekat tanpa sekat. Aku merasa pernah kaubahagiakan, kauberi senyuman, kaubuat tertawa, juga terluka. Pada pertemuan kita enam minggu lalu, kamu duduk didepanku. Dengan lancarnya kaujelaskan wanita mana yang saat ini tengah kaucintai sosoknya. Wanita baik yang dengan senyumannya membuatmu terpesona seketika. Dia begitu spesial, dan begitu penting untukmu. Dan, inilah salahku, mengharapkanmu yang terlalu tinggi.

Jujur, mungkin saat ini aku memang tengah mencintaimu. Tapi, sisa-sisa dari harapan yang kutahu salah ini masih ada. Aku belum mau menerima kenyataan, kamu mencintai wanita lain, bukan aku. Mengapa aku tak bisa ikhlas mengetahui pilihanmu. Padahal, siapa aku untukmu. Selain hanya seorang teman tempatmu bersandar dan mengeluarkan keluh kesah. Tuan, sungguh aku tak paham maumu. Apa matamu begitu buta untuk melihatku, sehingga pandanganmu selaku tersekat bayangan wanita itu?

Aku hanya bisa melapangkan dada, nyatanya kaulebih memilih wanita yang mengalungkan salib dilehernya. Wanita yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan keyakinanmu. Bukan aku, wanita yang memiliki persamaan denganmu.

With Love For You :')

@AchyNova™
130913

Kekasih 3 hari, 2 jam, 5 jam, dan 6 jam.

Penghujung hujan senja hari, September 2013

Untuk, pria penyuka warna putih dalam hidupnya.

Entahlah, harus kemana aku mengalamatkan surat ini, kualamatkan sengaja kerumahmu atau cukup ke hatimu? Hanya saja aku merasa takut kalau saat membaca surat ini kamu malah mengernyitkan keningmu, dan kemudian menggelengkan kepala berulang kali, menahan rasa marah yang tak mampu kausampaikan padaku. Atau bisa saja, kamu malah menahan tawa, mendelik tajam, dan melemparkan candaan khasmu mengenai surat ini. Kau mungkin menganggapnya hanya lelucon lucu penghibur disela kesibukanmu sebagai seorang dokter. Ah, aku tak bisa begitu saja melupakan delik serta candaanmu padaku waktu itu, saat mie ramen yang kita santap menemani obrolan kita yang tak terlalu penting sebenarnya. Kamu yang tepat berada disamping kiriku, berhasil dengan cepat mencuri hatiku.

28 Desember 2012, itulah tanggal awal pertemuan kita, kamu tak perlu heran mengapa aku begitu mengingat setiap detail pertemuan kita? Aku ingat saat tubuhmu yang kurus tinggi terduduk manis sambil memandang kearah hiruk pikuknya jalanan ibu kota. Tanganmu memegang kendali sebungkus cemilan, lengkap dengan minuman ringan yang tegak berdiri diatas meja. Barangkali saat itu kaubeberapa kali melihat jam tanganmu, menungguku datang yang agak terlambat.

Perkenalan kita memang sedikit anomali. Melewati dunia maya, kita mengembangkan obrolan tanpa tatap. Kamu bertanya, dan aku menjawab. Sekat tak berbatas itu mendekatkan kita meski tanpa sebuah jabatan tangan. Aku memahami, kita adalah sepenggal kisah yang entah sampai kapan waktunya tiba kita akan bertemu.

Dari kejauhan aku memerhatikanmu. Tak sulit bagiku menebak sosokmu, kamu dan fotomu di facebook terlihat sama, tak berbeda. Kaumenghela nafas sembari menata kembali rambutmu. Tahukah kamu, sejak saat itu aku memperhatikan setiap inci pergerakanmu? Tahukah kamu, sejak saat itu mataku hanya ingin menatapmu?

Kepada kamu, yang meminjamkan jaketnya saat hujan turun.

23 Agustus 2013. Sore hari saat matahari bersiap pulang, kita berada pada satu meja yang sama. Kamu dan aku duduk berhadapan, ditemani semangkuk mie ramen berkuah kari lengkap dengan jus mangga kesukaanku, dan jus melon kesukaanmu. Aku ingat, saat itu kamu mengenakan kaos jersey kesebelasan FC. Barcelona, tim favoritmu. Kamu banyak bercerita bagaimana hebatnya Lionel Messi saat berhasil mencetak gol ke gawang lawan. Matamu begitu ekspresif saat menjelaskan, menjadikanku sedikit mulai mencari tahu siapa itu Lionel Messi ataupun Fabregas. Ah, lucu, aku yang sama sekali tak menyukai bola, tiba-tiba saja terenggut perhatiaanya berkatmu.

Sejak senja hingga malam hari, kita terus saling bicara, mata kita saling menatap, hanya tangan kita yang sesekali bersentuhan. Aku bahagia. Denganmu aku tahu rasanya cinta. Meski harus kukatakan, aku menahan diri untuk tidak jatuh cinta padamu.

Kepada, pria yang mengulurkan tangannya untukku.

Aku terus memikirkanmu. Sejak saat itu, aku tahu rasanya bahagia. Kamu menjadi bagian yang kusebutkan dalam doaku. Jauh dalam hatiku, kamu sudah jadi segalanya. Aku berharap, kamu diciptakan untuk kumiliki, memberikan banyak pelajaran, juga pemahaman.

Untukmu, pria yang selalu kusebut dalam doa, yang bisa membuatku tertawa, yang membuat debar jantungku menggema, semoga kamu tak menjadi orang yang berpeluang menyakitiku. Semoga nanti, pada akhirnya, ada kisah manis diantara kita yang bisa kita ujarkan disela-sela cerita sebelum tidur untuk anak kita.

Dari wanita yang berhasil kaubuat jatuh cinta
Diam-diam berharap pertemuan baru denganm
Diam-diam mencintaimu

With love for you :')

@AchyNova™

Ketika Aku (akhirnya) menyerah.

Beberapa kali aku dengan sengaja selalu mengikuti setiap kicauanmu pada akun Path-mu. Hampir setiap hari juga dengan setia aku selalu mengunjungimu, kubuka setiap momentmu dan melihat siapa saja yang sudah melihat semua yang kausampaikan. Kaumungkin jengah dengan prilakuku ini. Setiap kali (sepertinya) tanda lonceng itu memberi peringatan bahwa aku pernah (dengan sengaja) mengunjungi path-mu.

Aku minta maaf, aku memang bersalah. Tapi hanya itu jalanku satu-satunya untuk merasa dekat denganmu. Aku tak memiliki banyak alasan untuk sekedar menyapamu pada aplikasi whatsapp, apalagi dengan sengaja mengirimkan pesan singkat pada kotak masuk diponselmu. Demi apapun itu, aku tak berani. Karena Kau itu berbeda. Itulah yang tak aku mengerti. Dunia nyata dan dunia maya sangat kontras dimataku. Kau, yang dalam dunia nyata pernah sengaja bertatap muka, memiliki tutur kata yang lembut. Kau yang pernah berjalan beriringan denganku, nyatanya memiliki sikap yang ramah dan menyenangkan. Tapi, dunia seakan terjungkir tiga ratus enam puluh derajat ketika kita bersua di dunia maya, kau yang lembut, tak kutemukan sosoknya. Kau yang ramah, seakan tak pernah terlahir didunia ini, membuatku bertanya manakah sosokmu yang sebenarnya?

Mungkin tanpa kausadari, beberapa kali komentarmu membuatku terisak pelan. Mungkin bagimu sepertinya biasa saja, tapi tidak denganku. Aku terluka. Sangat. Termasuk bagaimana gamblangnya statusmu untuk seseorang yang tak kuketahui sosoknya.

Hey, sebenarnya kamu siapa? Aku ingin tahu sosokmu yang sesungguhnya. Apa maksud dibalik kedatanganmu dalam hidupku. Hanya sekedar mampirkah, atau sedang menjadikan aku sebagai peserta calon pendampingmu. Sebentar, sebentar, andai jika benar dugaanku tentang calon pendamping, sungguh ironi nasibku. Kau mungkin tak pernah mengetahui, aku memang mengharapkan kau menjadi pendampingku kelak. Tapi tak sedikitpun kumasukkan kamu dalam daftar “calon”.

Ada yang mengatakan bahwa kita adalah pasangan yang aneh. Menurut mereka, kamu dan aku bertemu dalam sebuah peristiwa yang disebut sebagai kebetulan. Sepenggal kisah yang kebetulan itu menjadikan satu hari kebersamaan kita seperyi sepasang kekasih. Ya, pandangan orang mana mau tahu benar atau tidaknya. Menurut mereka, saat kita bersama adalah saat dimana sepasang kekasih sedang memerankan peranannya. Padahal yang sebenarnya kita hanyalah teman. Hanya teman. Tapi, dilain hari setelah kita tak bertatap, kita seakan disibukkan dengan perang status di berbagai social media. Ya, ya, ya, kalau dipikirkan pantaslah kita disebut pasangan aneh, karena cinta hanya hadir ketika kita saling menatap.

Aku kecewa padamu, Tuan. Aku pernah melihat fotomu dengan seorang perempuan duduk berdua. Entah dia siapa. Foto yang dengan sengaja kau upload pada akunmu. Meski terlihat kaku, tapi, harus kuakui, aku cemburu. Kutekankan sekali lagi, aku cemburu. Padahal, sebelumnya kita pun memiliki foto berdua, bahkan terlihat lebih luwes tanpa kekakuan. Tapi, kau tak meng-uploadnya bukan? Apakah kau malu, atau?? Ah, sudahlah. Aku tak mau membahas prediksiku. Aku takut salah.

Sudahlah, kalau harus kuceritakan berbagai kekecewaanku disini, aku khawatir kepalaku tak mampu menampungnya. Aku harus memutarnya kembali, merunutnya, dan kemudian menuliskannya. Cukuplah hatiku yang tahu perihnya seperti apa, kamu, berbahagialah dengan duniamu yang tak pernah mampu kusentuh.

Aku menyerah sudah. Aku menyerah untuk berharap bisa memilikimu. Aku menyerah untuk terus bermimpi tentangmu. Aku menyerah.

Kau tak pernah tahu, bukan, setiap kali nada inbox ku berbunyi, ada harapan bahwa pesan singkat itu dari kamu. Atau ketika whatsapp ku bernyanyi, kuharap kaulah yang menyapaku. Namun, lagi-lagi aku harus menelan kecewa itu sendiri. Terima kasih, Tuan, aku sadar, aku bukan wanita yang tepat untukmu.

Terhitung dari hari ini, aku berhenti berharap. Aku berhenti menunggumu. Aku berhenti mengusikmu.

Dan terhitung dari hari ini, aku memulai mencintaimu dalam diam. Aku memulai merindukanmu dalam sepi. Aku memulai bertahan dengan rasa ini, tanpa kamu ketahui.

Aku menyerah.

With Love for You :')

@AchyNova

23 September 2013

DARI: PEREMPUAN YANG TAKUT BERJUANG DENGANMU.

Siang yang terik, September 2013.

Untukmu, pria yang selalu berjalan denganku.

Aku menulis ini bersama rasa yang tak terlalu banyak orang pahami. Barangkali, diantara milyaran orang dimuka bumi ini hanya segelintir saja yang memahami apa yang kita rasakan saat ini. Saat menuliskan ini juga, Peri Cintaku sedang mengalun merdu disini. Entah sudah berapa kali lagu ini kuputar dan kuulang. Liriknya begitu menyayat gendang telingaku, mengingat kau dan aku merasakannya. Mengingat bagaimana kita yang berbeda, juga Tuhan kita yang tak sama.

Tuhan memang satu,
kita yang tak sama…

Sejak mengenalmu, sejak saat dimana kita semakin dekat dalam tatap, sejak waktu mendekatkan kita dalam perjumpaan tanpa sekat, sejak itu aku tahu kita tak sama. Sesekali aku menyesalinya, kenapa kamu dan aku harus berbeda. Kenapa aku harus terlahir sebagai gadis Sunda,sedang kamu pria keturunan Tionghoa? Realitanya, kita memang tak sama. Perbedaan nyata yang kasat mata. Yang dengan satu kali pandang saja, mereka tahu kita berbeda.

Beberapa kali tatapan mereka membuatku merasa menjadi seorang terdakwa. Aku merasa didunia yang seluas ini, hanya kita yang paling bersalah. Kita layaknya seorang manusia paling cacat moral, pelanggar norma yang sangat krusial, agama. Tapi, dengan senyum manismu, kaubisa membuatku kembali tenang, meski hanya sementara saja.

Sayang, apakah menurutmu kita bersalah? Mengapa kisah kita harus tercipta sedemikian rumit. Bukankah, Tuhan memang satu? Meski caramu, caraku dalam berdoa memang berbeda. Mungkin, ketika kutengadahkan tangan, berdoa, kaupun sedang terduduk, memejamkan mata, dan melipatkan tangan. Doa yang kita panjatkan rasanya sama, meski untuk Tuhan yang berbeda. Doa yang kita minta agar Tuhanmu, Tuhanku, membantu kita keluar dari masalah yang melelahkan ini.

Rasanya aku ingin bertanya pada siapa saja yang bisa mejawabnya; mengapa cinta harus mempertautkanku denganmu?

Jika saja cinta adalah sesuatu hal yang bisa kupilih kepada siapa ia menjatuhkan pilihannya, tentu saja, aku tak akan memilih untuk mencintaimu. Bisa saja, aku memilih pria dengan banyak persamaan denganku. Seorang pria yang tak memiliki sekat batas yang menghalangiku. Pria yang dalam tempo sedekat-dekatnya adalah pria yang akan berjalan beriringan denganku.

Namun, pada akhirnya, setiap cerita-cerita yang kausampaikan membuatku tertarik. Pada akhirnya rasa bahagia mengenalmu membuatku juga takut kehilanganmu. Dan pada akhirnya aku memang jatuh cinta padamu.

Saat menuliskan ini, aku tengah menunggu adzan Isya berkumandang. Dan kau baru saja memberiku kabar, kau sedang mengikuti misa di gereja. Aku menghela nafas, berat, nyatanya perbedaan kita tak bisa dengan mudah disangkalkan dengan jentikan jemari.

Beberapa kali aku harus menyembunyikan kepedihanku. Setiap melihatmu, Cina, aku semakin merasa sedang dalam ketakutan. Aku takut tak mampu bertahan saat kita sedang berjuang untuk bersama. Kini, aku sudah terlalu larut dalam perasaanku untukmu, aku enggan melepaskanmu.

Aku takut, suatu saat, ketika kau dan aku sudah tak lagi beriringan bersama. Saat kau sudah mampu bangkit tanpa aku, kemudian menemukan penggantiku, aku bisa saja masih terkungkung dengan perasaan yang tak mudah kuhilangkan. Aku mungkin akan terus merindukan suara jernihmu melalui sambungan telepon. Aku akan rindu kamu yang selalu mendelik tajam saat aku mengganggu hobi membacamu. Atau, aku akan rindu saat dimana kita berjalan bersama dibawah rintik hujan senja hari.

Ah, kini aku semakin takut dengan perbedaan kita. Apakah menurutmu, kita akan bisa melewatinya, Sayang?

Dari perempuan yang selalu mencintai dalam ketakutan.
Diam-diam memperhatikanmu dalam sendunya.
Aku. Wanita yang kaucintai.

With Love For You :’)

@AchyNova
25092013

PRIA SETELAH KAMU!

Ketika menulis ini, beberapa menit sebelumnya aku melihat kicauan barumu pada akun path itu. Seperti biasa moment yang kautinggalkan seperti sengaja mengayunkan pedang dan menebaskannya tepat dihatiku.

Seperti sekarang, betapa dengan gamblangnya kau menyebutkan bagaimana indahnya candle light dinner dengan gadis yang selalu berhasil membuatku cemburu itu. Dan lagi-lagi, aku harus bisa ‘legowo’ menahan perih itu sendiri.

Sudah sebulan ini aku memang tak seintensif dulu. Aku tak pernah lagi sengaja membuka dan mengunjungi profilmu. Pada akhirnya, wanita seperti aku memang lebih memilih menyerah. Mengingat betapa kamu, pria yang akan kuperjuangkan, bukanlah pria yang baik bagiku. Aku mulai memahaminya-sedikit. Tapi aku juga mulai merasakan lelah itu. Ya! Aku memang lelah, memperhatikanmu dari sudut dunia abstrak, nyatanya membuatku menyerah juga. Segala kicauanmu tak lagi menjadi prioritasku, kini. Aku mulai tak peduli dan jengah. Dan memang inilah aku sekarang.

Dua minggu lalu, melalui aplikasi Wechat, aku berkenalan dengan sosok laki-laki tampan. Tapi bukan itu intinya. Si pria ini mulai mencuri perhatianku dari lelahnya mencintaimu. Mungkin, dia memang tak seromantis kamu; Yang akan memberikan jaketnya, atau mungkin mengulurkan tangannya. Dia hanya pria biasa yang memprioritaskan kehidupan anak jalanan. Bahkan, akupun memang berada pada urutan terbawah dibandingkan dengan anak jalanan yang dia cintai. Tapi itulah uniknya pria ini, ketika kami hanya berdua dalam tatap, seluruh perhatiannya tercurah untukku semata.

Saat hujan turun, dia kirimkan pesan, memastikan bahwa aku dalam posisi aman. Tanpa aku sadari, arti romantis sebenarnya aku dapatkan dari pria ini.

Aku pernah diajaknya ke suatu tempat. Sebuah tempat yang menurutnya adalah dunia yang sesungguhnya. Aku baru memahami, disela kesibukannya, ia masih mau membaktikan diri pada anak jalanan yang dicintainya. Ia mengingatkanku untuk belajar bersedekah. Ia juga merangkulku untuk bersama bersujud pada Tuhan sang Pemilik Semesta.

Sekarang menurutmu, apa masih harus aku menguntitmu? Menguntit pria yang nyatanya hanya bisa memberikan sayatan luka daripada rasa bahagia? Yang tak pernah benar-benar ingin mengajak dan merangkulku masuk ke dunianya. Sudahlah, yang pasti aku memang sudah tak ingin peduli padamu.

With love for you :’)

@AchyNova™

02 Oktober 2013

KAMU DAN PRIA INI!!

Sudah tiga pekan aku mulai menyelami dunianya. Dengan tangan terbuka, pria ini mempersilakanku menjamah dan ikut bergabung dengan dunia kecilnya. Sebuah dunia sederhana yang berisi gelak tawa para anak jalanan. Setiap petang, saat senja bersiap pulang keperaduan, pria ini sudah siap menjemputku. Dengan senyuman manisnya, dia menungguku di halte sebrang jalan, dan segera melaju ke tempat singgah yang sudah menjadi bagian duniaku juga.

"Ya, seperti ini, Cha, ini dunia Key. Demi Tuhan, mereka adalah harta yang paling Key cintai didunia, selain ibu tentunya."
ucapnya lembut seraya menjelaskan.

Aku hanya tersenyum, pria ini benar-benar membuatku jatuh cinta dengan sosoknya. Aku merasa malu, sekaligus bangga. Tuhan tahu cara-cara terindah untuk mengenalkan makhluk ini padaku.

Key, begitulah pria ini disapa. Seorang penata musik yang dimiliki kotaku tercinta. Ya, Paris van Java memang memiliki manusia-manusia berkualitasnya. Termasuk dia. Key, sang penata suara.

Kehadirannya mulai memenuhi hatiku. Kini, sosok pria yang kupuja bukan lagi kamu - pria yang selalu kujelajahi dunianya dari sudut keabstrakan dunia maya. Pria yang saat ini dihadapanku, adalah pria yang penuh kharisma. Aku tak lagi melulu terpusat dengan ocehanmu. Tak lagi berkutat dengan kabarmu. Tentu saja, tak lagi dengan rutin mengunjungi akun path-mu. Semua berubah! Dan aku mengikuti perubahan itu. Aku fikir hal ini yang kamu inginkan. Saat aku benar-benar pergi menjauh bahkan menghilang dari kehidupanmu.

Mungkin ini terlalu cepat, tiga pekan mengenalnya, nyatanya sudah membuatku jatuh cinta. Aku hanya berusaha memahami, kadang cinta hadir tak mesti melulu menunggu waktu yang lama. Dan inilah yang kurasakan. Jatuh cinta dengan sangat kepada pria yang tepat. Rasanya menyenangkan. Aku tak perlu sibuk dengan rasa khawatir saat aku mencintainya. Kepada pria ini, setidaknya kami masih sama-sama dengan tegas melempar rindu dan cemas. Berbeda dengan kamu, rindu dan rasa cemas itu hanya setia kurasakan sendiri.

Ah, kenapa aku harus sibuk membandingkan pria ini dengan kamu, ya? Padahal sudah jelas, pria ini melebihi apapun dari kamu.

Semoga kamu berbahagia sepertiku, (yang pernah ku) cinta(i).

With love for you :’)

@AchyNova™

14 Oktober 2013.

Monday, May 6, 2013

'Tuhan, Izinkan Aku Bercerita'

Hai Tuhan.. Selamat menjelang petang. Aku tak tahu di surga hari ini sedang siang atau malam. Atau bahkan sama seperti yang kualami disini, menuju petang. Petang disana pastinya lebih indah daripada disini, kan? Kalau boleh jujur, petang disini biasa saja, tak ada yang menarik. Warnanya pun sama seperti hari sebelumnya. Yang berbeda sekarang hanya aku, yang sedang duduk sendirian di halte Jalan Martadinata, tepat didepan Rumah sakit.

Hari ini adalah 1 November, dan untuk pertama kalinya aku duduk di halte ini. Bukan sedang menunggu bis datang, atau menunggu angkot untuk merapat dan membawaku pulang. Yang aku lakukan hanya duduk saja, memandang ke sebrang jalan, tidak lebih. Aku mengingatnya lagi, Tuhan. Mengingat dia yang pernah memberi warna di tanggal 1 November, 2 tahun lalu. Aku seperti melihatnya disebrang jalan ini. Pria tampan, bertubuh tinggi yang mengenakan kemeja warna ungu muda, seolah sedang menunggu kedatanganku. Dan itu terjadi 2 tahun lalu.

Sekarang tidak ada siapa-siapa disana. Selain hanya sekumpulan taksi yang menunggu penumpangnya datang atau bahkan memanggilnya. Aku masih sama ya, Tuhan? Masih belum bisa berubah. Aku tahu, Engkau sibuk. Tapi Engkau memiliki kepekaan terhadapku. Engkau selalu mendengar jeritan hatiku, meskipun Engkau tak segera memberi tepukan-tepukan kecil pada bahuku. Engkau bahkan merangkulku, ketika aku menangis mengingatnya. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Engkau mendengar doaku atau tidak. Karena aku yakin, Engkau mendengar setiap curhatanku. Karena Engkau tahu, aku percaya padaMu. Bahkan pelukanMu selalu terbuka bagiku yang dibuat menggigil oleh dinginnya dunia. Engkau pun selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hatiku yang patah.

Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum mau mengganti tema perbincangan kita yang panjang dan sudah lama ini. Tentang dia. Seseorang yang dengan setia kusebut dalam setiap selipan kalimat ketika bercakap denganMu.

Aku tahu, pertemuan yang Kau ciptakan mengandung maksud yang baik untukku. Aku mengerti, pertemuan itu bukanlah pertemuan yang tidak Kau rencanakan sebelumnya. Bahkan hingga akhirnya Kau membuat kami tidak bertemu lagi pun, semuanya itu mengandung tujuan. Meski aku tidak tahu itu apa. Karena Kau tahu aku kuat, makanya Kau biarkan aku merasakan kepapaan dan penderitaan ini. Sehingga Kau bisa melihat sejauh mana aku menyebutnya dalam doaku.

Tolong jangan marah, Tuhan. Jika aku masih memaksaMu membiarkan aku bertemu lagi dengan dia. Aku ingin bisa berbincang-bincang lagi dengan dia. Aku ingin mendengar lagi suaranya yang terdengar lembut ditelingaku. Tidak baik juga 'kan, kalau aku hanya bisa memandangi wajahnya di foto? Kalau pun tak boleh, memandangnya dari kejauhanpun sudah cukup bagiku.

Sebenarnya untuk satu hal itu, aku pun sudah mengetahuinya. Sekarang hatinya sudah memiliki penghuninya yang baru. Tak perlu kuatir, aku kuat ko'. Atas alasan apapun, aku harus turut serta bahagia mendengar kabar itu. Walau sejujurnya, aku sakit mendengar itu. Tapi aku sadar, dia yang memang tidak sempat kumiliki,mana mungkin bisa tahu tentang perasaanku. Hatinya yang tidak peka pun, mana mengerti dengan celotehanku di status facebook untuknya. Apalagi berharap dia memperhatikan foto-foto yang sengaja aku upload pun, rasanya jauh dari harapan. Foto-foto yang menggambarkan bagaimana aku bermetamorfosa untuk menjadi kupu-kupu cantik yang indah.

Ah.. Sudahlah, bukan ini yang ingin aku cakapkan denganMu. Masih dengan permintaan yang sama, Tuhan. Jagalah kebahagiaannya untukku. Senyumnya adalah penjamin ketenanganku. Jangan biarkan lengkungan senyum dibibirnya itu hilang. Karena aku tak akan bisa menjadi pengganti senyumnya ketika semua itu terenggut. Apalagi dengan jarak yang sejauh ini, yang semakin membuatku tak bisa menyentuhnya. Hanya dengan doaku, aku memeluknya.

Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama kekasih barunya. Dunia baru yang lebih berwarna, sudah ada dalam genggamannya. Aku turut senang jika semua itu benar. Jangan biarkan pengkhianatan menghancurkan dunianya kini. Aku tak mau dia sedih dan terluka. Meski pun aku bersedia menjadi obat penahan sementara rasa sakitnya.

Selalu dalam percakapan akhir kita, aku hanya ingin dia bahagia. Cukup.

With love for you :')

@AchyNova

Dia dan Aku dalam jarak yang sedekat ini..

1 Maret 2013, inilah kali kedua aku duduk di halte ini. Bukan untuk memandang kesebrang jalan dan mengingat yang pernah terjadi 2 tahun sebelumnya. Hanya sedang menunggu seseorang yang akan membawaku pulang.

Kali ini Aku tak sendiri, karena disisi lain pun tengah duduk seorang pemuda, entah siapa. Bagiku tak penting dia siapa, aku tak begitu tertarik memperhatikan orang yang tak kukenal. Dalam diamku, aku terus memperhatikan jalan. Berharap dia yang memberiku warna baru segera datang dan membawaku pulang.

Seketika aku Terhenyak saat Sepersekian detik dalam penantianku aku mendengar suara khas disisi lain halte ini. Suara seseorang yang pernah membawaku dalam cinta yang membabibuta. Suara yang pernah menawarkan seteguk kenikmatan yang fana.

Tak kusangka, ternyata laki-laki yang duduk dibarisan lain halte ini adalah dia yang sempat menorehkan waktu termanis untukku. Waktu singkat yang membawaku dalam perkenalan indah dan bermakna.

Dialah sang pemilik wajah tampan berdada bidang. Dia menyapaku. Dia masih mengenaliku. Dia tersenyum padaku. Dan dia membawa percakapan dalam penantianku untuknya ; menanti kekasih yang menjemputku.

Suara lembutnya menghadirkan lagi getar rindu yang sebenarnya masih ada. Aku bergetar. Aku tergelagap. Aku terdiam. Dan bahkan tanpa sadar mataku berderai.

Aku ingin berhambur dan segera memeluknya dalam rinduku, sekali lagi aku hanya bisa menahan diri. Dia yang kurindukan dalam 2 tahunku, saat ini ada didekatku. Benarkah ini adalah dia? Bahkan tak ada sekat pembatas antara aku dan dia.

"apa kabar?". Kata kedua yang diucapkannya setelah menyapaku justru membawaku pada kebisuan. Lidahku kelu, bahkan untuk sekedar menjawab bahwa aku baik-baik saja.

Astaga, aku melihatnya dalam jarak sedekat ini. Senyumnya yang menghadirkan deretan gigi-gigi yang rapi, mempertegas otakku untuk mengingat dia kembali. Bahkah, aku rela menukarkan kebahagiaan apapun asalkan hal seperti ini tak pernah berakhir dan masih terus kunikmati.

Waktu memang terlalu misterius untuk diterka. Aku yang hanya bisa menikmati kerinduan dalam hamparan doa yang dirapal, kini tengah memandangi wajah sang tercinta didepan mata. Aku yang hanya meminta padaNya untuk mengizinkan aku melihat dari kejauhan, justru dihadapkan pada sosok nyata yang begitu dekat.

Inilah yang disebut dilema. Aku benci ini. Kenapa aku tak sabar menunggu 5 bulan lagi untuk sendiri. Kenapa hari ini aku harus memiliki kekasih. Kenapa?

Tidak. Aku tidak boleh meratap seperti ini. Ini hanya kenyataan yang akan berubah menjadi mimpi lagi. Ya, aku yakin sebentar lagi pria inipun akan menghilang lagi. Dan mengurungku kembali dalam lautan duka yang tak berujung. Bukankan kekasihku sudah memberi warna baru yang lebih indah. Kekasihku yang tidak akan membiarkan aku terluka.

Sudahlah, senyata apapun dia dalam jarak yang dekat ini, aku tetap memiliki dia ; kekasihku saat ini.

With love for You :')

@AchyNova

Ketika Namamu Tak lagi Bermakna.

Akhir-akhir ini cuaca sungguh tak bersahabat, hujan selalu turun bahkan saat sepertinya matahari tengah bersemangat untuk bersinar. Umpatan-umpatan yang tak penting begitu akrab ditelingaku. Saat mulut mereka yang tak menyukai hujan berhamburan tak terkendali.

Aku, sesungguhnyapun tak menyukai hujan -sama seperti mereka- tapi ketidaksukaanku hanya sebatas tak suka, bukan benci, karena terkadang pun aku begitu takut dengan hujan yang turun terlalu deras. Namun, hari ini aku menegaskan diri begitu mencintai hujan. Saat setiap tetesnya begitu menyentuh lembut tubuh hingga sel terdalamnya. Hujan gerimis mampu membiaskan tangisan yang membelai mesra pipiku oleh air mata. Hujanpun mampu menyadarkan aku bahwa Tuhan tengah menyentuhku dalam rintik raksasanya. Ya, hujan begitu kurindukan saat hatiku berbalut luka.

Dia memberikan sayatan-sayatan kecil dalam hatiku. Dia melenyapkan segala asa dan mimpi. Dia meluluh lantakkan jiwa yang sedang bermain dengan imajinasi. Dia, ya.. Dia. Hal ter-absurd yang paling kurindukan sosoknya.

Aku melewati persimpangan jalan itu, melewati banyak orang yang berlalu lalang di keramaian kota kecilku. Saat dimana toko-toko berderet rapi dan tersusun nyata. Beberapa dari toko itu memiliki nama, dan jelas terekam dalam ingatanku ada 2 toko yang menjadikan nama lengkapmu menjadi nama kedua toko itu.

Dulu, dulu sekali, saat aku masih menyimpan rapat namanya dalam hati, aku begitu menyukai 2 toko ini. Karena membacanya membuatku merindukan sosoknya.

Sekarang semua telah berbeda. Aku tak lagi ingin membaca nama toko itu. Bahkan sengaja kupalingkan wajahku ketika melewati ke dua toko itu.

Ya, bagiku namanya tak lagi bermakna. Ya, kini dia tak memiliki arti lebih untukku. Sosok dan namanya hanya menjadi kenangan yang melintas sepintas dan kemudian menghilang.

With love for you :')

@AchyNova
310313

Menjelaskan Perpisahan


Kusebut perpisahan sebagai malaikat maut, kapanpun siap datang untuk menjemput. Tidak juga kamu, tidak juga aku, tak pernah tahu kapan perpisahan akan menghantui hari kita.

Tak ada yang tahu kapan perpisahan menjadi awal dari sebuah kebimbangan.
Masa dimana kita pernah bercanda dalam riuh tawa yang membahana, sekarang hanya kita sebut dengan kenangan. Tak ada lagi jari jemarimu diantara sela jemariku. Tak ada lagi usapan lembut pada rambutku. Tak ada. Karena semuanya telah selesai.

Tapi tak ada perpisahan yang paling menyakitkan selain perpisahan karena kehadiran orang baru dalam hubungan seseorang. Dan aku bersyukur, penyebab runtuhnya fondasi cinta kita tak lain karena kita masih terlalu egois menyikapi keadaan.

Setelah kita berpisah, masih bolehkah aku menyimpan rindu untukmu? Masih bolehkah aku menyebutmu dalam doa-doaku? Kuharap kamu masih izinkan semua itu padaku.

Aku hanya ingin kamu tahu, aku masih sangat mencintai kamu. Meski perpisahan ini menguraikan KITA menjadi hanya AKU dan KAMU.
Setidaknya, perpisahan menorehkan sejarah panjang dalam hidup kita. Dan masing-masing dari kita memilikinya dalam hati. Kenangan yang sempat kita pahat bersama, akan menjadi coretan manis dalam senyum kita.

Ah.. Sudahlah. Perpisahan ini bukan akhir dari kita. Melainkan awal untuk KITA yang baru. Meski hanya sebagai teman biasa atau pun sebatas adik dan kakak.

With love for you :')

@AchyNova

Sunday, May 5, 2013

Hanya Kisah Yang Biasa Saja.

Aku masih merasakan sakit yang sama. Aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan sesedih ini, aku terus berusaha menghindari air mata semampu yang aku bisa. Tapi, kau pasti tahu, aku adalah perempuan yang tak betah berpura-pura bahagia. Kamu menyaksikan dan mendengar ceritaku tentang pria itu kan? Aku selalu menceritakan hal yang sama dan berulang padamu. Tentang pria yang kucintai itu, seberapa dalam perasaanku untuknya, sekuat apa rasa cinta menerkam hari-hariku, dan betapa hebat senyumnya yang bisa meneguhkan hatiku.

Kamu tentu tahu, betapa dalamnya rasa cintaku dan begitu ketakutannya aku melihat dia dimiliki orang lain. Benar, aku memang tak memilikinya, sehingga tak pernah terpikirkan olehku seperti apa lukisan perpisahan itu. Kau memang benar, aku dan dia tak pernah memiliki. Kau pun benar, saat kau katakan seharusnya aku melupakan dia dan menata hidupku sendiri. Tapi sungguh, aku rela terluka asalkan aku tahu dia bahagia, aku rela menukarkan kebahagiaanku asal aku bisa melihat dia tetap tersenyum.

Memang, sapaannya tak lagi sehangat saat pertama kali menyapaku lewat pesan singkatnya. Senyumnya tak setulus saat pertama kali Ia mengajakku makan dan berbincang. Sikapnya sudah banyak berubah, itu benar. Dia membohongiku, juga benar. Dia melanggar janjinya padaku, sangat benar. Tapi tetap saja, dia laki-laki berbeda yang berhasil (lagi) membuatku jatuh cinta.

Kesalahanku hanya satu, aku tak memiliki keberanian untuk sekedar menyapanya. Padahal apa yang salah dari sebuah sapaan, jika sebenarnya sapaan bisa menjadikan aku dan dia lebih dekat. Penyesalan ini sudah tak berguna karena ia dan aku sudah semakin jauh.
Kamu bahkan menyaksikan juga bagaimana air mata yang selalu kuhindari ini pada akhirnya mencengkramku juga. Ya, 18 jam aku bertahan untuk bersikap biasa, aku kalah juga, aku menangis juga, pertahananku tak cukup kuat untuk bersandiwara lagi dihadapanmu.

Mengetahui kenyataan yang mencekam seperti itu, aku jadi malas untuk tersenyum. Semua yang kulakukan untuknya seolah sia-sia. Dia yang dalam baktiku kucakapkan pada Tuhan, tetap memilih gadis lain. Mulutku yang tak henti mengucapkannya dalam rapalan doa, tetap tak kumiliki. Dan rasa sesakku semakin bertambah ketika dia menyapaku dengan undangan pernikahannya.

Kamu benar, seharusnya aku meniti masa depanku dengan bijak. Seharusnya aku tak berlebihan mengagumi sosoknya. Seharusnya aku mundur teratur ketika dia memiliki kekasih, bukan bertahan untuk mencintainya.

Tenanglah, aku sudah mulai melupakannya. Sudah ada seorang pria baru, yang tak begitu kucintai, tapi kehadirannya bisa sedikit mengundang senyum di bibirku. Aku tak tahu, apakah perasaanku pada pria baru itu adalah cinta. Aku tak berusaha memahami, apakah hubungan yang kami jalani selama ini adalah ketertarikan sesaat atau hanya sarana untuk menyembuhkan luka hatiku? Kami tertawa bersama, menghabiskan waktu berdua, tapi segalanya terasa biasa saja. Tak ada letupan yang begitu menyenangkan ketika mata kami saling menatap.

Pria yang selalu kuceritakan padamu, memang hanya sekumpulan bayang-bayang. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi sama. Aku tak mau kenangan dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi cambuk luka untuk pria baru yang ingin membahagiakanku kelak. Aku hanya berusaha memahami semua yang terjadi padaku dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibayangi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan pahit yang penuh kejelasan.

Dan untuknya wanita yang menjadi pilihan pria itu: Aku mohon, jagalah Ia dengan sekuat tenagamu. Aku ingin kamu menjamin kebahagiaannya. Aku ingin dia bahagia dan selalu tersenyum bersamamu. Aku tak bisa
berbuat banyak, selain membantu dalam doa-doaku. Aku tak memiliki kesempatan membuat dia tersenyum. Kumohon, ini permintaanku yang terakhir. Bahagiakanlah dia, buatlah dia terus tersenyum.

---------------------------------------------------
150413

Perpisahan didepan Mata..

Semua yang kutakutkan akhirnya terjadi. Kini, bukan lagi jarak yang memisahkan kita saat ini. Bahkan, hati kita pun sudah tak lagi saling bertaut. Aku sedih, semua terjadi secepat ini. Secepat waktu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Tak bijak rasanya jika masih mempersalahkan jarak, sementara kita mampu melewatinya di 2 tahun kebersamaan kita yang istimewa. Secepat itukah perasaan kita berubah? Aku masih berharap semua ini mimpi. Dan ada seseorang yang berbaik hati membangunkan aku dari mimpi buruk ini.

Sungguh, aku tak kuasa menahan perih ini. Aku benci kenapa perpisahan ini terjadi juga. Padahal, aku masih berharap bisa memanggilmu 'hubby' suatu saat nanti. Tapi pengharapan itu memang tak akan terjadi sampai kapanpun.

Mungkin benar tweet pagi hari itu yang berisi tentang segala sesuatu yang berlebihan akan menyakiti diri. Ya, aku merasakannya kini.

Don't trust too much.
Don't love too much.
Don't hope too much.
Because that too much can hurt you so much.

Aku memang terlalu mempercayaimu, terlalu mencintaimu, dan terlalu berharap padamu. Dan inilah hasil yang kudapat, menyakitiku terlalu banyak.

Aku benci kamu, benci ketidaktegasanmu. Bukankah kamu berkata akan terus memperjuangkan cinta kita bersama? Inilah yang paling kusesali darimu, ketidaktegasanmu!!

Sekarang aku harus merunut pagi tanpa suaramu diujung telpon. Kini, tak akan ada lagi pesan singkatmu yang mampir di inbox ku untuk mengatakan selamat pagi.

Sudahlah, kamu tak usah merasa bersalah. Tak perlu risaukan rasa sakitku ini, aku disini baik-baik saja. Hanya butuh waktu saja untuk bisa ikhlas menerimanya. Aku tahu, Tuhan yang Maha Penyayang sedang memelukku dalam pelukan terhangatNya.

With Love for You :')

@AchyNova

Aku Bangga Mencintaimu.

Aku bangga bisa mencintaimu. Ada hal-hal indah yang kurasakan ketika aku mencintaimu dalam rasa senduku. Sungguh. Meski lebih banyak tangis daripada tawa yang dihadirkannya. Tapi aku begitu menikmatinya. Kepadamu aku merasakan lagi, seperti apa rasanya rindu yang membabibuta. Untukmu, kubiarkan air mata mengalir lembut di pipiku. Aku menikmati semuanya dan membiarkan kamu hadir sebagai bayangan yang menampar hari-hariku.

Aku tahu kamu tak merasakan hal yang sama sepertiku. Terlebih saat ini hatimu sudah dimiliki gadis cantik yang sungguh beruntung bisa menjadi kekasihmu. Kenalkanlah dia padaku. Sungguh, aku hanya ingin tahu kebaikannya yang membuatmu bisa jatuh cinta. Aku tak akan membencinya. Aku justru ingin berterima kasih padanya, karena sudah mampu membuat jutaan kebahagiaan hadir dalam barisan hari-harimu. Hingga menciptakan kedamaian dalam hatiku, yang menyaksikan lukisan garis lengkung di wajahmu; senyummu.

Tak jadi soal bagiku, siapa orang beruntung yang mendapatkan hatimu. Asalkan dia selalu bisa membuatmu bahagia, maka aku pun turut berbahagia.

Selama aku masih bisa memelukmu dalam doa. Akan selalu kupeluk engkau dalam selipan percakapanku dengan Tuhan. Aku ingin Tuhan menjamin kebahagiaanmu untukku. Aku tak ingin Tuhan membiarkan sosok jahat melukai perasaanmu. Karena ketika kamu terluka, aku tau, aku tak akan pernah bisa menjadi obat penghilang rasa sakitmu. Dan aku lebih rela, aku yang tersakiti, asal bukan kamu.

Tenanglah. Aku masih terus berusaha menata kembali hidupku sambil mencintaimu. Meski perlahan, aku berusaha bangkit menjadi aku yang dulu sebelum mengenalmu. Jadi kamu tak usah risau. Meski kupeluk engkau dalam doaku. Aku tak pernah meminta agar Tuhan membuat kalian berpisah.

Mungkin itulah alasan kenapa aku tak pernah berusaha mencari tahu tentang hubungan kalian. Ya. Karena aku takut. Begitu takut menjadi orang pertama yang bertepuk tangan dan bersorak sorai diantara konflik cinta kalian.

Itu pula yang menjadi penyebab, kenapa aku begitu enggan menyapamu dalam pertemuan maya kita. Karena aku juga takut, rasa ingin memilikimu lebih besar daripada rasa untuk melepaskanmu.

Kembali pada pembahasan awal. Aku cukup bangga mencintaimu. Aku cukup bahagia bisa menyapamu dalam mimpiku.
Tak peduli dengan banyaknya rasa sakit daripada tawanya. Aku bangga.

With love for you :')

@AchyNova

Berusaha Mensyukuri Jarak..

Hai Sayang... Sedang apa sekarang? Sudah makan? Jangan sampai kamu tak makan, karena terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Karena jika iya, aku akan menegurmu sekeras ibumu menegurmu.

Aku benci dengan keadaan ini. Kita seakan tak memiliki ruang untuk bisa saling bersentuhan dan saling menatap. Rasanya menyakitkan, jika keterbatasan kita menjadi penyebab kita tak banyak tahu dan tak banyak bertemu. Setiap hari, kita berjuang menahan rindu yang semakin menggebu dan tak mereda. Inikah cara cinta menyiksa kita? Melalui jarak puluhan kilometer?

Aku menghela nafas, membayangkan jika aku bisa berada disisimu. Mungkin, tak ada air mata ketika hanya suara saja yang menguatkan kita. Dan tentu saja tak akan ada ucapan rindu ribuan kali yang terlontar dari mulut kita, demi meredamkan kerinduan yang semakin membabibuta.

Aku ingin disana bersamamu. Agar aku bisa menegurmu ketika kamu sengaja tak makan hanya karena sibuk, bahkan jika perlu aku yang menyuapimu :). Dan aku bisa menjadi perawat pribadimu ketika demam menyerangmu. Hmmmm.. Ayolah sayang, jangan buat aku khawatir dengan kelalaianmu yang sering mengabaikan kesehatanmu.

Apalah arti puluhan kilometer kita, jika aku masih bisa mendengar suara lembutmu dipenghujung petang kita. Jika aku masih bisa melihatmu tersenyum saat video call kita di Yahoo Messenger. Apa yang mesti diragukan dari kita? Sedangkan aku dan kamu masih setia menunggu pertemuan manis kita di minggu kedua dan keempat setiap bulannya.

Bukankan suatu kebodohan jika kita masih mempersalahkan jarak? Sedangkan kita sudah mampu mengatasinya di 2 tahun kebersamaan kita.

Jarak hanyalah angka. Selama kita masih berjuang untuk cinta kita yang sama.

Love is Me ^_^

AchyNova

Andai Dia itu Aku!!!

Aku seperti di jejali jutaan anak panah yang melesat. Sakit, ketika menghadapi kenyataan pahit bahwa kau akan menikah. Padahal baru saja aku meginjakkan kakiku di bumi pertiwi. Di kota kelahiranku, tempat aku menjadi dewasa, dan menemukan cinta, Paris Van Java.

Aku sengaja disini, dirumahmu. Bercanda dengan orang tua dan juga kedua kakakmu. Membawa buah tangan spesial dari Ohio. Buah tangan yang khusus kusiapkan hanya untuk kamu.

Demi Tuhan, aku merasa sesak. Kamu cinta pertamaku, sebentar lagi akan disebut sebagai suami. Sementara aku, aku hanya tetap menjadi teman sedari kecil, tak lebih, tak memiliki arti.

Sungguh beruntung gadis itu, dalam sekejap saja mencuri hatimu dariku. Aku yang selama 25 tahun ingin menggapai hatimu, harus pasrah menerima kekalahan. Kini, tak mungkin aku bisa menjadi menantu. Tak mungkin keponakanmu akan memanggilku tante. Bahkan, aku tak mungkin bisa menjadi dia, calon istrimu.

Aku hanya bisa menahan perih itu dalam diam. Mencoba menutupinya dengan senyuman. Tak tahukah kamu, selama ini aku memperjuangkan kamu?

Esok! Ya esok kau akan menikah. Aku yakin malam ini kau tengah berbalut kecemasan luar biasa menghadapi hari esok. Setiap detiknya seakan meintimidasi hentakan napasmu yang memburu. Aku juga yakin, hari yang biasanya cepat dilalui, mendadak begitu lama setiap putarannya.

Saat ini kau mungkin tengah berkumpul bersama kedua kakak laki-lakimu, menanyakan pengalaman mereka saat pertama kali memegang tangan ayah mertuanya untuk kemudian mengucapkan ijab kabul. Pastinya mereka membantu mengurangi kecemasanmu, kecemasan saat esok engkau pun akan seperti mereka.

Saat ini mendadak matamu tak dapat terpejam, meski selalu dan selalu kau usahakan. Kau tak sabar menanti esok tiba. Saat kau akan meluruhkan masa lajang dan berubah status menjadi suami.

Kau mungkin tengah menghapal ijab qobul, mempertegas namanya dalam bait-bait doa. Dan berharap esok berjalan lancar. Sungguh beruntung gadis itu, dia berhasil memiliki kamu seutuhnya, ragamu dan juga hatimu. Dan sungguh malang diriku, hingga detik ini pun hanya bisa memiliki predikat sebagai pemujamu-tak lebih.

Tak apa, aku memang terhenyak, aku memang tersentak. Siapa yang tak akan bersedih dengan itu? Aku bahkan harus menyaksikan semuanya secara nyata. Esok aku menjadi anggota yang ikut dalam acara hantaran. Esok, aku akan melihat sendiri, bagaimana kamu mengucapkan ijab kabul. Sungguh, aku merasa menjadi makhluk termalang.

Aku akui aku kalah, kalah untuk bisa menjadi menantu di tengah orang tuamu. Kalah untuk menjadi adik ipar, dan kalah untuk menjadi seorang tante. Bahkan kalah, untuk bisa menjadi ibu dari anak-anakmu. Sudahlah.. Hal ini membuatku banyak belajar. Manusia memang memiliki 2 sisi berlainan dalam hidupnya. Saat kamu bahagia, maka sisi lain kehidupan yang bersinggungan denganmu tengah bersedih. Dan itu memang aku.

Tak perlu menanyakan kapan aku mulai jatuh cinta. Karena apapun yg kujawab, tak kan pernah mengubah keputusan menikahmu.

Aku ingin belajar tega sekali-kali. Aku sesungguhnya ingin berdoa, supaya ada badai yang membuat kalian tak jadi menikah. Tapi, doa itu sendiri begitu menakutkan untuk kuucapkan.

Akhirnya, aku memilih diam. Menghapuskan namamu dalam rapalan doaku. Membuang semuanya tentangmu. Aku cukup baik-baik saja saat ini. Benar, aku memang menangis olehmu. Menangis dalam pelukan Tuhan, membaitkan doa terakhir untuk kebahagiaanmu.

Dan mungkin setelah ini aku akan kembali lagi ke Ohio, USA. Hidup harus terus berjalan, dan program pascasarjana pun harus tetap kurampungkan.

Aku begitu merindukanmu Rayhad, teman masa kecil sekaligus cinta pertamaku. Dari masa sekolah taman kanan-kanak sampai SMA kita selalu bersama. Semoga kau berbahagia selalu.

Dari Teman masa kecil yang mencintaimu dulu, kini dan selamanya.

With Love for You :')

@AchyNova
020413