Monday, May 6, 2013

Ketika Namamu Tak lagi Bermakna.

Akhir-akhir ini cuaca sungguh tak bersahabat, hujan selalu turun bahkan saat sepertinya matahari tengah bersemangat untuk bersinar. Umpatan-umpatan yang tak penting begitu akrab ditelingaku. Saat mulut mereka yang tak menyukai hujan berhamburan tak terkendali.

Aku, sesungguhnyapun tak menyukai hujan -sama seperti mereka- tapi ketidaksukaanku hanya sebatas tak suka, bukan benci, karena terkadang pun aku begitu takut dengan hujan yang turun terlalu deras. Namun, hari ini aku menegaskan diri begitu mencintai hujan. Saat setiap tetesnya begitu menyentuh lembut tubuh hingga sel terdalamnya. Hujan gerimis mampu membiaskan tangisan yang membelai mesra pipiku oleh air mata. Hujanpun mampu menyadarkan aku bahwa Tuhan tengah menyentuhku dalam rintik raksasanya. Ya, hujan begitu kurindukan saat hatiku berbalut luka.

Dia memberikan sayatan-sayatan kecil dalam hatiku. Dia melenyapkan segala asa dan mimpi. Dia meluluh lantakkan jiwa yang sedang bermain dengan imajinasi. Dia, ya.. Dia. Hal ter-absurd yang paling kurindukan sosoknya.

Aku melewati persimpangan jalan itu, melewati banyak orang yang berlalu lalang di keramaian kota kecilku. Saat dimana toko-toko berderet rapi dan tersusun nyata. Beberapa dari toko itu memiliki nama, dan jelas terekam dalam ingatanku ada 2 toko yang menjadikan nama lengkapmu menjadi nama kedua toko itu.

Dulu, dulu sekali, saat aku masih menyimpan rapat namanya dalam hati, aku begitu menyukai 2 toko ini. Karena membacanya membuatku merindukan sosoknya.

Sekarang semua telah berbeda. Aku tak lagi ingin membaca nama toko itu. Bahkan sengaja kupalingkan wajahku ketika melewati ke dua toko itu.

Ya, bagiku namanya tak lagi bermakna. Ya, kini dia tak memiliki arti lebih untukku. Sosok dan namanya hanya menjadi kenangan yang melintas sepintas dan kemudian menghilang.

With love for you :')

@AchyNova
310313

No comments:

Post a Comment