Akhir-akhir ini cuaca sungguh tak bersahabat, hujan selalu turun
bahkan saat sepertinya matahari tengah bersemangat untuk bersinar.
Umpatan-umpatan yang tak penting begitu akrab ditelingaku. Saat mulut
mereka yang tak menyukai hujan berhamburan tak terkendali.
Aku, sesungguhnyapun tak menyukai hujan -sama seperti mereka- tapi
ketidaksukaanku hanya sebatas tak suka, bukan benci, karena terkadang
pun aku begitu takut dengan hujan yang turun terlalu deras. Namun, hari
ini aku menegaskan diri begitu mencintai hujan. Saat setiap tetesnya
begitu menyentuh lembut tubuh hingga sel terdalamnya. Hujan gerimis
mampu membiaskan tangisan yang membelai mesra pipiku oleh air mata.
Hujanpun mampu menyadarkan aku bahwa Tuhan tengah menyentuhku dalam
rintik raksasanya. Ya, hujan begitu kurindukan saat hatiku berbalut
luka.
Dia memberikan sayatan-sayatan kecil dalam hatiku. Dia melenyapkan
segala asa dan mimpi. Dia meluluh lantakkan jiwa yang sedang bermain
dengan imajinasi. Dia, ya.. Dia. Hal ter-absurd yang paling kurindukan
sosoknya.
Aku melewati persimpangan jalan itu, melewati banyak orang yang
berlalu lalang di keramaian kota kecilku. Saat dimana toko-toko berderet
rapi dan tersusun nyata. Beberapa dari toko itu memiliki nama, dan
jelas terekam dalam ingatanku ada 2 toko yang menjadikan nama lengkapmu
menjadi nama kedua toko itu.
Dulu, dulu sekali, saat aku masih menyimpan rapat namanya dalam
hati, aku begitu menyukai 2 toko ini. Karena membacanya membuatku
merindukan sosoknya.
Sekarang semua telah berbeda. Aku tak lagi ingin membaca nama toko
itu. Bahkan sengaja kupalingkan wajahku ketika melewati ke dua toko itu.
Ya, bagiku namanya tak lagi bermakna. Ya, kini dia tak memiliki arti
lebih untukku. Sosok dan namanya hanya menjadi kenangan yang melintas
sepintas dan kemudian menghilang.
With love for you :')
@AchyNova
310313
No comments:
Post a Comment