Aku seperti di jejali jutaan anak panah yang melesat. Sakit,
ketika menghadapi kenyataan pahit bahwa kau akan menikah. Padahal baru
saja aku meginjakkan kakiku di bumi pertiwi. Di kota kelahiranku, tempat
aku menjadi dewasa, dan menemukan cinta, Paris Van Java.
Aku sengaja disini, dirumahmu. Bercanda dengan orang tua dan juga
kedua kakakmu. Membawa buah tangan spesial dari Ohio. Buah tangan yang
khusus kusiapkan hanya untuk kamu.
Demi Tuhan, aku merasa sesak. Kamu cinta pertamaku, sebentar lagi
akan disebut sebagai suami. Sementara aku, aku hanya tetap menjadi teman
sedari kecil, tak lebih, tak memiliki arti.
Sungguh beruntung gadis itu, dalam sekejap saja mencuri hatimu
dariku. Aku yang selama 25 tahun ingin menggapai hatimu, harus pasrah
menerima kekalahan. Kini, tak mungkin aku bisa menjadi menantu. Tak
mungkin keponakanmu akan memanggilku tante. Bahkan, aku tak mungkin bisa
menjadi dia, calon istrimu.
Aku hanya bisa menahan perih itu dalam diam. Mencoba menutupinya
dengan senyuman. Tak tahukah kamu, selama ini aku memperjuangkan kamu?
Esok! Ya esok kau akan menikah. Aku yakin malam ini kau tengah
berbalut kecemasan luar biasa menghadapi hari esok. Setiap detiknya
seakan meintimidasi hentakan napasmu yang memburu. Aku juga yakin, hari
yang biasanya cepat dilalui, mendadak begitu lama setiap putarannya.
Saat ini kau mungkin tengah berkumpul bersama kedua kakak
laki-lakimu, menanyakan pengalaman mereka saat pertama kali memegang
tangan ayah mertuanya untuk kemudian mengucapkan ijab kabul. Pastinya
mereka membantu mengurangi kecemasanmu, kecemasan saat esok engkau pun
akan seperti mereka.
Saat ini mendadak matamu tak dapat terpejam, meski selalu dan selalu
kau usahakan. Kau tak sabar menanti esok tiba. Saat kau akan meluruhkan
masa lajang dan berubah status menjadi suami.
Kau mungkin tengah menghapal ijab qobul, mempertegas namanya dalam
bait-bait doa. Dan berharap esok berjalan lancar. Sungguh beruntung
gadis itu, dia berhasil memiliki kamu seutuhnya, ragamu dan juga hatimu.
Dan sungguh malang diriku, hingga detik ini pun hanya bisa memiliki
predikat sebagai pemujamu-tak lebih.
Tak apa, aku memang terhenyak, aku memang tersentak. Siapa yang tak
akan bersedih dengan itu? Aku bahkan harus menyaksikan semuanya secara
nyata. Esok aku menjadi anggota yang ikut dalam acara hantaran. Esok,
aku akan melihat sendiri, bagaimana kamu mengucapkan ijab kabul.
Sungguh, aku merasa menjadi makhluk termalang.
Aku akui aku kalah, kalah untuk bisa menjadi menantu di tengah orang
tuamu. Kalah untuk menjadi adik ipar, dan kalah untuk menjadi seorang
tante. Bahkan kalah, untuk bisa menjadi ibu dari anak-anakmu. Sudahlah..
Hal ini membuatku banyak belajar. Manusia memang memiliki 2 sisi
berlainan dalam hidupnya. Saat kamu bahagia, maka sisi lain kehidupan
yang bersinggungan denganmu tengah bersedih. Dan itu memang aku.
Tak perlu menanyakan kapan aku mulai jatuh cinta. Karena apapun yg kujawab, tak kan pernah mengubah keputusan menikahmu.
Aku ingin belajar tega sekali-kali. Aku sesungguhnya ingin berdoa,
supaya ada badai yang membuat kalian tak jadi menikah. Tapi, doa itu
sendiri begitu menakutkan untuk kuucapkan.
Akhirnya, aku memilih diam. Menghapuskan namamu dalam rapalan doaku.
Membuang semuanya tentangmu. Aku cukup baik-baik saja saat ini. Benar,
aku memang menangis olehmu. Menangis dalam pelukan Tuhan, membaitkan doa
terakhir untuk kebahagiaanmu.
Dan mungkin setelah ini aku akan kembali lagi ke Ohio, USA. Hidup
harus terus berjalan, dan program pascasarjana pun harus tetap
kurampungkan.
Aku begitu merindukanmu Rayhad, teman masa kecil sekaligus cinta
pertamaku. Dari masa sekolah taman kanan-kanak sampai SMA kita selalu
bersama. Semoga kau berbahagia selalu.
Dari Teman masa kecil yang mencintaimu dulu, kini dan selamanya.
With Love for You :')
@AchyNova
020413
No comments:
Post a Comment