Aku masih merasakan sakit yang sama. Aku tahu bahwa pada akhirnya
aku akan sesedih ini, aku terus berusaha menghindari air mata semampu
yang aku bisa. Tapi, kau pasti tahu, aku adalah perempuan yang tak betah
berpura-pura bahagia. Kamu menyaksikan dan mendengar ceritaku tentang
pria itu kan? Aku selalu menceritakan hal yang sama dan berulang padamu.
Tentang pria yang kucintai itu, seberapa dalam perasaanku untuknya,
sekuat apa rasa cinta menerkam hari-hariku, dan betapa hebat senyumnya
yang bisa meneguhkan hatiku.
Kamu tentu tahu, betapa dalamnya rasa cintaku dan begitu
ketakutannya aku melihat dia dimiliki orang lain. Benar, aku memang tak
memilikinya, sehingga tak pernah terpikirkan olehku seperti apa lukisan
perpisahan itu. Kau memang benar, aku dan dia tak pernah memiliki. Kau
pun benar, saat kau katakan seharusnya aku melupakan dia dan menata
hidupku sendiri. Tapi sungguh, aku rela terluka asalkan aku tahu dia
bahagia, aku rela menukarkan kebahagiaanku asal aku bisa melihat dia
tetap tersenyum.
Memang, sapaannya tak lagi sehangat saat pertama kali menyapaku
lewat pesan singkatnya. Senyumnya tak setulus saat pertama kali Ia
mengajakku makan dan berbincang. Sikapnya sudah banyak berubah, itu
benar. Dia membohongiku, juga benar. Dia melanggar janjinya padaku,
sangat benar. Tapi tetap saja, dia laki-laki berbeda yang berhasil
(lagi) membuatku jatuh cinta.
Kesalahanku hanya satu, aku tak memiliki keberanian untuk sekedar
menyapanya. Padahal apa yang salah dari sebuah sapaan, jika sebenarnya
sapaan bisa menjadikan aku dan dia lebih dekat. Penyesalan ini sudah tak
berguna karena ia dan aku sudah semakin jauh.
Kamu bahkan menyaksikan juga bagaimana air mata yang selalu
kuhindari ini pada akhirnya mencengkramku juga. Ya, 18 jam aku bertahan
untuk bersikap biasa, aku kalah juga, aku menangis juga, pertahananku
tak cukup kuat untuk bersandiwara lagi dihadapanmu.
Mengetahui kenyataan yang mencekam seperti itu, aku jadi malas untuk
tersenyum. Semua yang kulakukan untuknya seolah sia-sia. Dia yang dalam
baktiku kucakapkan pada Tuhan, tetap memilih gadis lain. Mulutku yang
tak henti mengucapkannya dalam rapalan doa, tetap tak kumiliki. Dan rasa
sesakku semakin bertambah ketika dia menyapaku dengan undangan
pernikahannya.
Kamu benar, seharusnya aku meniti masa depanku dengan bijak.
Seharusnya aku tak berlebihan mengagumi sosoknya. Seharusnya aku mundur
teratur ketika dia memiliki kekasih, bukan bertahan untuk mencintainya.
Tenanglah, aku sudah mulai melupakannya. Sudah ada seorang pria
baru, yang tak begitu kucintai, tapi kehadirannya bisa sedikit
mengundang senyum di bibirku. Aku tak tahu, apakah perasaanku pada pria
baru itu adalah cinta. Aku tak berusaha memahami, apakah hubungan yang
kami jalani selama ini adalah ketertarikan sesaat atau hanya sarana
untuk menyembuhkan luka hatiku? Kami tertawa bersama, menghabiskan waktu
berdua, tapi segalanya terasa biasa saja. Tak ada letupan yang begitu
menyenangkan ketika mata kami saling menatap.
Pria yang selalu kuceritakan padamu, memang hanya sekumpulan
bayang-bayang. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa
menerima bahwa segalanya tak lagi sama. Aku tak mau kenangan dan
perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi cambuk luka
untuk pria baru yang ingin membahagiakanku kelak. Aku hanya berusaha
memahami semua yang terjadi padaku dan berusaha pasrah dengan kenyataan
yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibayangi oleh kesemuan yang
membahagiakan, lebih baik kenyataan pahit yang penuh kejelasan.
Dan untuknya wanita yang menjadi pilihan pria itu: Aku mohon,
jagalah Ia dengan sekuat tenagamu. Aku ingin kamu menjamin
kebahagiaannya. Aku ingin dia bahagia dan selalu tersenyum bersamamu.
Aku tak bisa
berbuat banyak, selain membantu dalam doa-doaku. Aku tak memiliki
kesempatan membuat dia tersenyum. Kumohon, ini permintaanku yang
terakhir. Bahagiakanlah dia, buatlah dia terus tersenyum.
---------------------------------------------------
150413
No comments:
Post a Comment