Sunday, May 5, 2013

Hanya Kisah Yang Biasa Saja.

Aku masih merasakan sakit yang sama. Aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan sesedih ini, aku terus berusaha menghindari air mata semampu yang aku bisa. Tapi, kau pasti tahu, aku adalah perempuan yang tak betah berpura-pura bahagia. Kamu menyaksikan dan mendengar ceritaku tentang pria itu kan? Aku selalu menceritakan hal yang sama dan berulang padamu. Tentang pria yang kucintai itu, seberapa dalam perasaanku untuknya, sekuat apa rasa cinta menerkam hari-hariku, dan betapa hebat senyumnya yang bisa meneguhkan hatiku.

Kamu tentu tahu, betapa dalamnya rasa cintaku dan begitu ketakutannya aku melihat dia dimiliki orang lain. Benar, aku memang tak memilikinya, sehingga tak pernah terpikirkan olehku seperti apa lukisan perpisahan itu. Kau memang benar, aku dan dia tak pernah memiliki. Kau pun benar, saat kau katakan seharusnya aku melupakan dia dan menata hidupku sendiri. Tapi sungguh, aku rela terluka asalkan aku tahu dia bahagia, aku rela menukarkan kebahagiaanku asal aku bisa melihat dia tetap tersenyum.

Memang, sapaannya tak lagi sehangat saat pertama kali menyapaku lewat pesan singkatnya. Senyumnya tak setulus saat pertama kali Ia mengajakku makan dan berbincang. Sikapnya sudah banyak berubah, itu benar. Dia membohongiku, juga benar. Dia melanggar janjinya padaku, sangat benar. Tapi tetap saja, dia laki-laki berbeda yang berhasil (lagi) membuatku jatuh cinta.

Kesalahanku hanya satu, aku tak memiliki keberanian untuk sekedar menyapanya. Padahal apa yang salah dari sebuah sapaan, jika sebenarnya sapaan bisa menjadikan aku dan dia lebih dekat. Penyesalan ini sudah tak berguna karena ia dan aku sudah semakin jauh.
Kamu bahkan menyaksikan juga bagaimana air mata yang selalu kuhindari ini pada akhirnya mencengkramku juga. Ya, 18 jam aku bertahan untuk bersikap biasa, aku kalah juga, aku menangis juga, pertahananku tak cukup kuat untuk bersandiwara lagi dihadapanmu.

Mengetahui kenyataan yang mencekam seperti itu, aku jadi malas untuk tersenyum. Semua yang kulakukan untuknya seolah sia-sia. Dia yang dalam baktiku kucakapkan pada Tuhan, tetap memilih gadis lain. Mulutku yang tak henti mengucapkannya dalam rapalan doa, tetap tak kumiliki. Dan rasa sesakku semakin bertambah ketika dia menyapaku dengan undangan pernikahannya.

Kamu benar, seharusnya aku meniti masa depanku dengan bijak. Seharusnya aku tak berlebihan mengagumi sosoknya. Seharusnya aku mundur teratur ketika dia memiliki kekasih, bukan bertahan untuk mencintainya.

Tenanglah, aku sudah mulai melupakannya. Sudah ada seorang pria baru, yang tak begitu kucintai, tapi kehadirannya bisa sedikit mengundang senyum di bibirku. Aku tak tahu, apakah perasaanku pada pria baru itu adalah cinta. Aku tak berusaha memahami, apakah hubungan yang kami jalani selama ini adalah ketertarikan sesaat atau hanya sarana untuk menyembuhkan luka hatiku? Kami tertawa bersama, menghabiskan waktu berdua, tapi segalanya terasa biasa saja. Tak ada letupan yang begitu menyenangkan ketika mata kami saling menatap.

Pria yang selalu kuceritakan padamu, memang hanya sekumpulan bayang-bayang. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi sama. Aku tak mau kenangan dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi cambuk luka untuk pria baru yang ingin membahagiakanku kelak. Aku hanya berusaha memahami semua yang terjadi padaku dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibayangi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan pahit yang penuh kejelasan.

Dan untuknya wanita yang menjadi pilihan pria itu: Aku mohon, jagalah Ia dengan sekuat tenagamu. Aku ingin kamu menjamin kebahagiaannya. Aku ingin dia bahagia dan selalu tersenyum bersamamu. Aku tak bisa
berbuat banyak, selain membantu dalam doa-doaku. Aku tak memiliki kesempatan membuat dia tersenyum. Kumohon, ini permintaanku yang terakhir. Bahagiakanlah dia, buatlah dia terus tersenyum.

---------------------------------------------------
150413

No comments:

Post a Comment