Siang yang terik, September 2013.
Untukmu, pria yang selalu berjalan denganku.
Aku menulis ini bersama rasa yang tak terlalu banyak orang pahami. Barangkali, diantara milyaran orang dimuka bumi ini hanya segelintir saja yang memahami apa yang kita rasakan saat ini. Saat menuliskan ini juga, Peri Cintaku sedang mengalun merdu disini. Entah sudah berapa kali lagu ini kuputar dan kuulang. Liriknya begitu menyayat gendang telingaku, mengingat kau dan aku merasakannya. Mengingat bagaimana kita yang berbeda, juga Tuhan kita yang tak sama.
Tuhan memang satu,
kita yang tak sama…
Sejak mengenalmu, sejak saat dimana kita semakin dekat dalam tatap, sejak waktu mendekatkan kita dalam perjumpaan tanpa sekat, sejak itu aku tahu kita tak sama. Sesekali aku menyesalinya, kenapa kamu dan aku harus berbeda. Kenapa aku harus terlahir sebagai gadis Sunda,sedang kamu pria keturunan Tionghoa? Realitanya, kita memang tak sama. Perbedaan nyata yang kasat mata. Yang dengan satu kali pandang saja, mereka tahu kita berbeda.
Beberapa kali tatapan mereka membuatku merasa menjadi seorang terdakwa. Aku merasa didunia yang seluas ini, hanya kita yang paling bersalah. Kita layaknya seorang manusia paling cacat moral, pelanggar norma yang sangat krusial, agama. Tapi, dengan senyum manismu, kaubisa membuatku kembali tenang, meski hanya sementara saja.
Sayang, apakah menurutmu kita bersalah? Mengapa kisah kita harus tercipta sedemikian rumit. Bukankah, Tuhan memang satu? Meski caramu, caraku dalam berdoa memang berbeda. Mungkin, ketika kutengadahkan tangan, berdoa, kaupun sedang terduduk, memejamkan mata, dan melipatkan tangan. Doa yang kita panjatkan rasanya sama, meski untuk Tuhan yang berbeda. Doa yang kita minta agar Tuhanmu, Tuhanku, membantu kita keluar dari masalah yang melelahkan ini.
Rasanya aku ingin bertanya pada siapa saja yang bisa mejawabnya; mengapa cinta harus mempertautkanku denganmu?
Jika saja cinta adalah sesuatu hal yang bisa kupilih kepada siapa ia menjatuhkan pilihannya, tentu saja, aku tak akan memilih untuk mencintaimu. Bisa saja, aku memilih pria dengan banyak persamaan denganku. Seorang pria yang tak memiliki sekat batas yang menghalangiku. Pria yang dalam tempo sedekat-dekatnya adalah pria yang akan berjalan beriringan denganku.
Namun, pada akhirnya, setiap cerita-cerita yang kausampaikan membuatku tertarik. Pada akhirnya rasa bahagia mengenalmu membuatku juga takut kehilanganmu. Dan pada akhirnya aku memang jatuh cinta padamu.
Saat menuliskan ini, aku tengah menunggu adzan Isya berkumandang. Dan kau baru saja memberiku kabar, kau sedang mengikuti misa di gereja. Aku menghela nafas, berat, nyatanya perbedaan kita tak bisa dengan mudah disangkalkan dengan jentikan jemari.
Beberapa kali aku harus menyembunyikan kepedihanku. Setiap melihatmu, Cina, aku semakin merasa sedang dalam ketakutan. Aku takut tak mampu bertahan saat kita sedang berjuang untuk bersama. Kini, aku sudah terlalu larut dalam perasaanku untukmu, aku enggan melepaskanmu.
Aku takut, suatu saat, ketika kau dan aku sudah tak lagi beriringan bersama. Saat kau sudah mampu bangkit tanpa aku, kemudian menemukan penggantiku, aku bisa saja masih terkungkung dengan perasaan yang tak mudah kuhilangkan. Aku mungkin akan terus merindukan suara jernihmu melalui sambungan telepon. Aku akan rindu kamu yang selalu mendelik tajam saat aku mengganggu hobi membacamu. Atau, aku akan rindu saat dimana kita berjalan bersama dibawah rintik hujan senja hari.
Ah, kini aku semakin takut dengan perbedaan kita. Apakah menurutmu, kita akan bisa melewatinya, Sayang?
Dari perempuan yang selalu mencintai dalam ketakutan.
Diam-diam memperhatikanmu dalam sendunya.
Aku. Wanita yang kaucintai.
With Love For You :’)
@AchyNova
25092013
No comments:
Post a Comment