Masa Orientasi Peserta Didik, Juni 2004.
Untukmu, pria yang kucari sosoknya selama lima tahun.
Barangkali, tulisan ini tidak akan kaubaca. Barangkali, tulisan ini akan terabaikan dan dimakan rayap. Barangkali juga, tulisan ini akan terbakar, menjadi abu, dan akhirnya hilang tak berbekas. Kemungkinan yang lain bahwa tulisan ini akan hilang sebelum sampai padamu, terkalahkan oleh banyaknya hal yang harus kauperhatikan. Apalagi kalau bukan masalah pekerjaanmu sebagai seorang Perencana Tata Letak Kota.
Aku memang tak berharap lebih kauakan membacanya, apalagi berharap kauakan memberikan tulisan balasan untukku. Aku sudah cukup bahagia, jika saat membaca ini ada simpul senyum yang terlukis sempurna disudut bibirmu. Hal itu jauh lebih baik daripada tak dibaca sama sekali dan kemudian diabaikan begitu saja. Lupakan siapa yang telah menulis ini dengan lancangnya! Lupakan siapa sosok dibalik ini semua yang mungkin saja menggelitik hatimu dan mengganggu kehidupanmu! Aku hanyalah gadis biasa yang sosoknya tak terlalu menarik keingintahuanmu. Gadis biasa yang diam-diam berani dengan lancang menjadi pengagum rahasiamu.
Untukmu, pria yang pernah berdebat denganku tentang hijab.
Awalnya, aku hanya mengenal sosokmu sebagai kakak kelas pembimbing di kelas X-4. Tapi, setelah kuketahui kamu dari temanku, aku menjadi gadis rajin yang mencari tahu sosokmu yang nyata. Ternyata, kamu dua tingkat diatasku, siswa yang duduk di kelas XII IPA 2. Kamu juga aktif pada kegiatan ekstra kurikuler bidang olah raga basket dan sepak bola, aku jadi ingin terus memperhatikanmu. Seketika saja kaurenggut habis perhatianku hingga celah terkecilnya.
Siapakah dirimu wahai pecinta sosok Sherlock Holmes? Apakah sosokmu begitu memukau seperti Sherlock Holmes saat memecahkan sebuah kasus? Aku tak ingin kehilangan jejakmu, sama sekali tak ingin. Akan kumaknai setiap jengkal hadirmu didekatku.
April 2009, itulah saat takdir menyudutkan kita dalam jengkal tatap maya yang biasa kita sebut kebetulan. Kebetulan saja aku dengan keisenganku memasukkan nama lengkapmu pada kolom pencarian aplikasi facebook. Keisenganku saja, mengirimkan permintaan pertemanan dan menggantung harap kauakan segera menerimanya. Dan lagi-lagi karena keisenganku juga, aku membuka profilmu dan menemukan nomor ponselmu tertera disana. Lalu, dengan setengah keberanianku, kukirimkan tiga huruf ajaib untuk menyapamu “Hai!”, meski harus kuterima balasan ketus darimu, “Siapa, ya??”.
Hal yang kusebut sebagai kebetulan dan keisengan ini ternyata telah membawaku terlalu jauh. Hari berganti minggu, siapa yang menyangka ternyata bayangmu mampu menyebabkan rasa penasaranku semakin bertambah. Sepotong kisah bernama kebetulan itu membawaku pada keberanian untuk mengakui, bahwa aku terus mencarimu selama lima tahun ini, meski harus dengan menurunkan rasa malu dan juga harga diri.
Untukmu Mahasiswa Ilmu Planologi yang kucintai.
Mungkin, kau akan tertawa membaca ini. Atau justru kauakan mengingat kembali hal-hal yang pernah terjadi pada kita sebelumnya. Kita pernah saling berbagi cerita melalui suara tanpa tatap. Jutaan pengakuan meluncur deras dari bibirku. Tak ada lagi rasa canggung, yang kupikirkan hanya ingin kamu mengetahui bagaimana berjuangnya aku menemukanmu. Ini tentu bukanlah mauku, menyimpan rasa suka yang berkepanjangan kepada pria dua tingkat diatasku. Apa menurutmu, aku gila karena sudah mencintaimu selama lima tahun ini? Andai hati adalah hal yang bisa kukendalikan, tentu saja, aku tak ingin berlama-lama mencintai pria yang sosoknya tak terlalu kuketahui. Dan inilah yang tak kupahami, cinta bisa dengan leluasa menguasai hatiku, meski kita tak pernah dekat sama sekali.
Aku sangat berharap bahwa saatnya nanti, Tuhan akan memberiku kesempatan untuk memiliki hatimu. Tapi, ternyata harapanku terbang terlalu jauh. Nyatanya, kita hanya bisa dekat lewat suara, bukan lewat tatap, ataupun tangan yang berjabat.
Realitanya, aku tak pernah tahu sosokmu dan dimana keberadaanmu saat ini. Aku begitu sulit mengetahui semua hal tentangmu, sekeras dan sekuat apapun usahaku. Meskipun bisa saja aku menerobos dengan kegilaanku untuk mengenalmu lebih jauh. Sayangnya, aku terlalu lemah untuk itu. Bagiku, janjimu yang tak pernah kaupenuhi padaku, jauh membuktikan bahwa aku memang tak menarik perhatianmu, sehingga tangisan kita yang pecah diujung telepon pada pengakuan itu, seperti menguap dan tak berbekas sedikitpun dihatimu.
Pada akhirnya aku memang memilih mundur. Meninggalkan harapanku. Berhenti untuk mengikuti bayang-bayangmu, dan memutuskan untuk melupakanmu.
Maafkan aku, karena sudah lancang mengusik kehidupanmu.
Maafkan aku, karena dengan lancang menulis ini untukmu.
Dari seseorang yang mungkin tak kaukenal.
Seseorang yang pernah bermimpi memilikimu.
With Love For You :')
@AchyNova™
120913
No comments:
Post a Comment