Monday, May 6, 2013

'Tuhan, Izinkan Aku Bercerita'

Hai Tuhan.. Selamat menjelang petang. Aku tak tahu di surga hari ini sedang siang atau malam. Atau bahkan sama seperti yang kualami disini, menuju petang. Petang disana pastinya lebih indah daripada disini, kan? Kalau boleh jujur, petang disini biasa saja, tak ada yang menarik. Warnanya pun sama seperti hari sebelumnya. Yang berbeda sekarang hanya aku, yang sedang duduk sendirian di halte Jalan Martadinata, tepat didepan Rumah sakit.

Hari ini adalah 1 November, dan untuk pertama kalinya aku duduk di halte ini. Bukan sedang menunggu bis datang, atau menunggu angkot untuk merapat dan membawaku pulang. Yang aku lakukan hanya duduk saja, memandang ke sebrang jalan, tidak lebih. Aku mengingatnya lagi, Tuhan. Mengingat dia yang pernah memberi warna di tanggal 1 November, 2 tahun lalu. Aku seperti melihatnya disebrang jalan ini. Pria tampan, bertubuh tinggi yang mengenakan kemeja warna ungu muda, seolah sedang menunggu kedatanganku. Dan itu terjadi 2 tahun lalu.

Sekarang tidak ada siapa-siapa disana. Selain hanya sekumpulan taksi yang menunggu penumpangnya datang atau bahkan memanggilnya. Aku masih sama ya, Tuhan? Masih belum bisa berubah. Aku tahu, Engkau sibuk. Tapi Engkau memiliki kepekaan terhadapku. Engkau selalu mendengar jeritan hatiku, meskipun Engkau tak segera memberi tepukan-tepukan kecil pada bahuku. Engkau bahkan merangkulku, ketika aku menangis mengingatnya. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Engkau mendengar doaku atau tidak. Karena aku yakin, Engkau mendengar setiap curhatanku. Karena Engkau tahu, aku percaya padaMu. Bahkan pelukanMu selalu terbuka bagiku yang dibuat menggigil oleh dinginnya dunia. Engkau pun selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hatiku yang patah.

Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum mau mengganti tema perbincangan kita yang panjang dan sudah lama ini. Tentang dia. Seseorang yang dengan setia kusebut dalam setiap selipan kalimat ketika bercakap denganMu.

Aku tahu, pertemuan yang Kau ciptakan mengandung maksud yang baik untukku. Aku mengerti, pertemuan itu bukanlah pertemuan yang tidak Kau rencanakan sebelumnya. Bahkan hingga akhirnya Kau membuat kami tidak bertemu lagi pun, semuanya itu mengandung tujuan. Meski aku tidak tahu itu apa. Karena Kau tahu aku kuat, makanya Kau biarkan aku merasakan kepapaan dan penderitaan ini. Sehingga Kau bisa melihat sejauh mana aku menyebutnya dalam doaku.

Tolong jangan marah, Tuhan. Jika aku masih memaksaMu membiarkan aku bertemu lagi dengan dia. Aku ingin bisa berbincang-bincang lagi dengan dia. Aku ingin mendengar lagi suaranya yang terdengar lembut ditelingaku. Tidak baik juga 'kan, kalau aku hanya bisa memandangi wajahnya di foto? Kalau pun tak boleh, memandangnya dari kejauhanpun sudah cukup bagiku.

Sebenarnya untuk satu hal itu, aku pun sudah mengetahuinya. Sekarang hatinya sudah memiliki penghuninya yang baru. Tak perlu kuatir, aku kuat ko'. Atas alasan apapun, aku harus turut serta bahagia mendengar kabar itu. Walau sejujurnya, aku sakit mendengar itu. Tapi aku sadar, dia yang memang tidak sempat kumiliki,mana mungkin bisa tahu tentang perasaanku. Hatinya yang tidak peka pun, mana mengerti dengan celotehanku di status facebook untuknya. Apalagi berharap dia memperhatikan foto-foto yang sengaja aku upload pun, rasanya jauh dari harapan. Foto-foto yang menggambarkan bagaimana aku bermetamorfosa untuk menjadi kupu-kupu cantik yang indah.

Ah.. Sudahlah, bukan ini yang ingin aku cakapkan denganMu. Masih dengan permintaan yang sama, Tuhan. Jagalah kebahagiaannya untukku. Senyumnya adalah penjamin ketenanganku. Jangan biarkan lengkungan senyum dibibirnya itu hilang. Karena aku tak akan bisa menjadi pengganti senyumnya ketika semua itu terenggut. Apalagi dengan jarak yang sejauh ini, yang semakin membuatku tak bisa menyentuhnya. Hanya dengan doaku, aku memeluknya.

Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama kekasih barunya. Dunia baru yang lebih berwarna, sudah ada dalam genggamannya. Aku turut senang jika semua itu benar. Jangan biarkan pengkhianatan menghancurkan dunianya kini. Aku tak mau dia sedih dan terluka. Meski pun aku bersedia menjadi obat penahan sementara rasa sakitnya.

Selalu dalam percakapan akhir kita, aku hanya ingin dia bahagia. Cukup.

With love for you :')

@AchyNova

No comments:

Post a Comment