Hai Tuhan.. Selamat menjelang petang. Aku tak tahu di surga hari
ini sedang siang atau malam. Atau bahkan sama seperti yang kualami
disini, menuju petang. Petang disana pastinya lebih indah daripada
disini, kan? Kalau boleh jujur, petang disini biasa saja, tak ada yang
menarik. Warnanya pun sama seperti hari sebelumnya. Yang berbeda
sekarang hanya aku, yang sedang duduk sendirian di halte Jalan
Martadinata, tepat didepan Rumah sakit.
Hari ini adalah 1 November, dan untuk pertama kalinya aku duduk di
halte ini. Bukan sedang menunggu bis datang, atau menunggu angkot untuk
merapat dan membawaku pulang. Yang aku lakukan hanya duduk saja,
memandang ke sebrang jalan, tidak lebih. Aku mengingatnya lagi, Tuhan.
Mengingat dia yang pernah memberi warna di tanggal 1 November, 2 tahun
lalu. Aku seperti melihatnya disebrang jalan ini. Pria tampan, bertubuh
tinggi yang mengenakan kemeja warna ungu muda, seolah sedang menunggu
kedatanganku. Dan itu terjadi 2 tahun lalu.
Sekarang tidak ada siapa-siapa disana. Selain hanya sekumpulan taksi
yang menunggu penumpangnya datang atau bahkan memanggilnya. Aku masih
sama ya, Tuhan? Masih belum bisa berubah. Aku tahu, Engkau sibuk. Tapi
Engkau memiliki kepekaan terhadapku. Engkau selalu mendengar jeritan
hatiku, meskipun Engkau tak segera memberi tepukan-tepukan kecil pada
bahuku. Engkau bahkan merangkulku, ketika aku menangis mengingatnya. Aku
tak perlu curiga padaMu, soal Engkau mendengar doaku atau tidak. Karena
aku yakin, Engkau mendengar setiap curhatanku. Karena Engkau tahu, aku
percaya padaMu. Bahkan pelukanMu selalu terbuka bagiku yang dibuat
menggigil oleh dinginnya dunia. Engkau pun selalu siap menyatukan
kembali kepingan-kepingan hatiku yang patah.
Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum mau mengganti tema
perbincangan kita yang panjang dan sudah lama ini. Tentang dia.
Seseorang yang dengan setia kusebut dalam setiap selipan kalimat ketika
bercakap denganMu.
Aku tahu, pertemuan yang Kau ciptakan mengandung maksud yang baik
untukku. Aku mengerti, pertemuan itu bukanlah pertemuan yang tidak Kau
rencanakan sebelumnya. Bahkan hingga akhirnya Kau membuat kami tidak
bertemu lagi pun, semuanya itu mengandung tujuan. Meski aku tidak tahu
itu apa. Karena Kau tahu aku kuat, makanya Kau biarkan aku merasakan
kepapaan dan penderitaan ini. Sehingga Kau bisa melihat sejauh mana aku
menyebutnya dalam doaku.
Tolong jangan marah, Tuhan. Jika aku masih memaksaMu membiarkan aku
bertemu lagi dengan dia. Aku ingin bisa berbincang-bincang lagi dengan
dia. Aku ingin mendengar lagi suaranya yang terdengar lembut
ditelingaku. Tidak baik juga 'kan, kalau aku hanya bisa memandangi
wajahnya di foto? Kalau pun tak boleh, memandangnya dari kejauhanpun
sudah cukup bagiku.
Sebenarnya untuk satu hal itu, aku pun sudah mengetahuinya. Sekarang
hatinya sudah memiliki penghuninya yang baru. Tak perlu kuatir, aku
kuat ko'. Atas alasan apapun, aku harus turut serta bahagia mendengar
kabar itu. Walau sejujurnya, aku sakit mendengar itu. Tapi aku sadar,
dia yang memang tidak sempat kumiliki,mana mungkin bisa tahu tentang
perasaanku. Hatinya yang tidak peka pun, mana mengerti dengan
celotehanku di status facebook untuknya. Apalagi berharap dia
memperhatikan foto-foto yang sengaja aku upload pun, rasanya jauh dari
harapan. Foto-foto yang menggambarkan bagaimana aku bermetamorfosa untuk
menjadi kupu-kupu cantik yang indah.
Ah.. Sudahlah, bukan ini yang ingin aku cakapkan denganMu. Masih
dengan permintaan yang sama, Tuhan. Jagalah kebahagiaannya untukku.
Senyumnya adalah penjamin ketenanganku. Jangan biarkan lengkungan senyum
dibibirnya itu hilang. Karena aku tak akan bisa menjadi pengganti
senyumnya ketika semua itu terenggut. Apalagi dengan jarak yang sejauh
ini, yang semakin membuatku tak bisa menyentuhnya. Hanya dengan doaku,
aku memeluknya.
Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama
kekasih barunya. Dunia baru yang lebih berwarna, sudah ada dalam
genggamannya. Aku turut senang jika semua itu benar. Jangan biarkan
pengkhianatan menghancurkan dunianya kini. Aku tak mau dia sedih dan
terluka. Meski pun aku bersedia menjadi obat penahan sementara rasa
sakitnya.
Selalu dalam percakapan akhir kita, aku hanya ingin dia bahagia. Cukup.
With love for you :')
@AchyNova
No comments:
Post a Comment