Saturday, November 23, 2013

Selamat Ulang Tahun, Kalil!!

Aku memandang hujan dibalik kaca jendela, ribuan rintiknya berhasil membuat jalanan basah seketika. Bau Petrichor mulai masuk melalui sela-sela kaca jendela. Baunya yang khas, menusuk-nusuk hidungku. Aroma tanah yang baru terguyur hujan itu menemaniku dalam kesendirian yang tak berujung. Sudah sepekan aku seperti ini, memandang kearah jendela, entah apa yang aku cari, tapi, ketika hari ini hujan turun, aku merasa penantianku berakhir sudah. Ada rasa bahagia melihat hujan turun dengan derasnya. Rasanya, aku ingin keluar dan bergabung dengan jutaan rintik raksasanya, melebur bersama mereka, dan berharap rintikku bisa menyentuh tubuhmu yang mulai membasah.

Ah, rasanya, aku ingin menjadi hujan, agar aku bisa memelukmu meski dengan basah yang kuhadirkan. Aku sebenarnya tahu alasanku selalu terdiam seperti ini, kamu! Ya! Kamu! Kamu yang membuatku seperti ini. Kamu selalu berhasil menjadi bagian penting masa laluku.

Seminggu lalu, aku tak sengaja melihat bulatan merah pada kalender yang berdiri manis di meja kerjaku. Disana, ada tulisan dengan menggunakan tinta merah lengkap dengan tanda love, "Kalil's bday ♡". Aku ingat, aku menulisnya tepat diawal tahun ini, saat dulu aku dan kamu masih saling melempar rindu dan cemas. Saat kita masih selalu saling menyapa disudut remang aplikasi yang bisa menyentuh hatiku dengan suaramu.

Muhammad Kalil Ibrahim, begitulah nama yang tertera saat kaumulai mengirimkan permintaan pertemanan pada aplikasi wechat itu. Dan seperti biasa, aku selalu melihat dulu siapa orang yang akan mengajakku berkenalan melalui fotonya. Rasanya, aku tahu kamu siapa, jika tebakanku benar, kamu adalah mahasiswa semester delapan fakultas hukum dikampusku. Yayaya! Aku yakin itu kamu, wajahmu memang sering berlalu lalang dikampus tercintaku ini. Aku sangat hafal wajah itu, hanya saja aku tak tahu namanya. 

Ah, sudahlah, bukan itu yang aku ingin ingat, aku hanya sedang berfikir bagaimana caraku mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Itulah mungkin alasan kenapa aku ingin menjadi hujan, agar aku bisa memelukmu dengan bebas melalui rintikku, agar aku bisa mengucapkan selamat ulang tahun tanpa perlu kauketahui.

Mungkin, seharusnya kamu bisa mengendalikan amarahmu. Kauseharusnya mendengarkan penjelasanku tentang kedekatanku dengan temanmu itu. Tapi, semua seakan menguap tanpa sisa, amarahmu yang memuncak membawa sengsara dalam kisah kita. Kaumemutuskan mengakhirinya, bahkan dengan tegas kauucapkan betapa pada akhirnya kausangat membenciku dan menyesal mengenalku.

Ah, aku bisa apa jika sudah seperti ini? Kata-katamu terlalu memekakkan gendang telingaku. Aku hanya terdiam dan menangisi semuanya. 

Sudahlah, aku akan tetap memelukmu dengan doa, Kalil. Meski aku tak mampu mengucapkan selamat kepadamu, tapi doaku akan selalu mengiringimu.

"SELAMAT ULANG TAHUN, KALIL, SEMOGA KAU SELALU DILIMPAHKAN BANYAK KEBAHAGIAAN OLEH TUHAN, AKU MERINDUKANMU - SELALU."

With Love For You ;')



AchyNova™

24 November 2013

No comments:

Post a Comment