Aku bangga bisa mencintaimu. Ada hal-hal indah yang kurasakan
ketika aku mencintaimu dalam rasa senduku. Sungguh. Meski lebih banyak
tangis daripada tawa yang dihadirkannya. Tapi aku begitu menikmatinya.
Kepadamu aku merasakan lagi, seperti apa rasanya rindu yang membabibuta.
Untukmu, kubiarkan air mata mengalir lembut di pipiku. Aku menikmati
semuanya dan membiarkan kamu hadir sebagai bayangan yang menampar
hari-hariku.
Aku tahu kamu tak merasakan hal yang sama sepertiku. Terlebih saat
ini hatimu sudah dimiliki gadis cantik yang sungguh beruntung bisa
menjadi kekasihmu. Kenalkanlah dia padaku. Sungguh, aku hanya ingin tahu
kebaikannya yang membuatmu bisa jatuh cinta. Aku tak akan membencinya.
Aku justru ingin berterima kasih padanya, karena sudah mampu membuat
jutaan kebahagiaan hadir dalam barisan hari-harimu. Hingga menciptakan
kedamaian dalam hatiku, yang menyaksikan lukisan garis lengkung di
wajahmu; senyummu.
Tak jadi soal bagiku, siapa orang beruntung yang mendapatkan hatimu.
Asalkan dia selalu bisa membuatmu bahagia, maka aku pun turut
berbahagia.
Selama aku masih bisa memelukmu dalam doa. Akan selalu kupeluk
engkau dalam selipan percakapanku dengan Tuhan. Aku ingin Tuhan menjamin
kebahagiaanmu untukku. Aku tak ingin Tuhan membiarkan sosok jahat
melukai perasaanmu. Karena ketika kamu terluka, aku tau, aku tak akan
pernah bisa menjadi obat penghilang rasa sakitmu. Dan aku lebih rela,
aku yang tersakiti, asal bukan kamu.
Tenanglah. Aku masih terus berusaha menata kembali hidupku sambil
mencintaimu. Meski perlahan, aku berusaha bangkit menjadi aku yang dulu
sebelum mengenalmu. Jadi kamu tak usah risau. Meski kupeluk engkau dalam
doaku. Aku tak pernah meminta agar Tuhan membuat kalian berpisah.
Mungkin itulah alasan kenapa aku tak pernah berusaha mencari tahu
tentang hubungan kalian. Ya. Karena aku takut. Begitu takut menjadi
orang pertama yang bertepuk tangan dan bersorak sorai diantara konflik
cinta kalian.
Itu pula yang menjadi penyebab, kenapa aku begitu enggan menyapamu
dalam pertemuan maya kita. Karena aku juga takut, rasa ingin memilikimu
lebih besar daripada rasa untuk melepaskanmu.
Kembali pada pembahasan awal. Aku cukup bangga mencintaimu. Aku cukup bahagia bisa menyapamu dalam mimpiku.
Tak peduli dengan banyaknya rasa sakit daripada tawanya. Aku bangga.
With love for you :')
@AchyNova
No comments:
Post a Comment