Penghujung hujan senja hari, September 2013
Untuk, pria penyuka warna putih dalam hidupnya.
Entahlah, harus kemana aku mengalamatkan surat ini, kualamatkan sengaja kerumahmu atau cukup ke hatimu? Hanya saja aku merasa takut kalau saat membaca surat ini kamu malah mengernyitkan keningmu, dan kemudian menggelengkan kepala berulang kali, menahan rasa marah yang tak mampu kausampaikan padaku. Atau bisa saja, kamu malah menahan tawa, mendelik tajam, dan melemparkan candaan khasmu mengenai surat ini. Kau mungkin menganggapnya hanya lelucon lucu penghibur disela kesibukanmu sebagai seorang dokter. Ah, aku tak bisa begitu saja melupakan delik serta candaanmu padaku waktu itu, saat mie ramen yang kita santap menemani obrolan kita yang tak terlalu penting sebenarnya. Kamu yang tepat berada disamping kiriku, berhasil dengan cepat mencuri hatiku.
28 Desember 2012, itulah tanggal awal pertemuan kita, kamu tak perlu heran mengapa aku begitu mengingat setiap detail pertemuan kita? Aku ingat saat tubuhmu yang kurus tinggi terduduk manis sambil memandang kearah hiruk pikuknya jalanan ibu kota. Tanganmu memegang kendali sebungkus cemilan, lengkap dengan minuman ringan yang tegak berdiri diatas meja. Barangkali saat itu kaubeberapa kali melihat jam tanganmu, menungguku datang yang agak terlambat.
Perkenalan kita memang sedikit anomali. Melewati dunia maya, kita mengembangkan obrolan tanpa tatap. Kamu bertanya, dan aku menjawab. Sekat tak berbatas itu mendekatkan kita meski tanpa sebuah jabatan tangan. Aku memahami, kita adalah sepenggal kisah yang entah sampai kapan waktunya tiba kita akan bertemu.
Dari kejauhan aku memerhatikanmu. Tak sulit bagiku menebak sosokmu, kamu dan fotomu di facebook terlihat sama, tak berbeda. Kaumenghela nafas sembari menata kembali rambutmu. Tahukah kamu, sejak saat itu aku memperhatikan setiap inci pergerakanmu? Tahukah kamu, sejak saat itu mataku hanya ingin menatapmu?
Kepada kamu, yang meminjamkan jaketnya saat hujan turun.
23 Agustus 2013. Sore hari saat matahari bersiap pulang, kita berada pada satu meja yang sama. Kamu dan aku duduk berhadapan, ditemani semangkuk mie ramen berkuah kari lengkap dengan jus mangga kesukaanku, dan jus melon kesukaanmu. Aku ingat, saat itu kamu mengenakan kaos jersey kesebelasan FC. Barcelona, tim favoritmu. Kamu banyak bercerita bagaimana hebatnya Lionel Messi saat berhasil mencetak gol ke gawang lawan. Matamu begitu ekspresif saat menjelaskan, menjadikanku sedikit mulai mencari tahu siapa itu Lionel Messi ataupun Fabregas. Ah, lucu, aku yang sama sekali tak menyukai bola, tiba-tiba saja terenggut perhatiaanya berkatmu.
Sejak senja hingga malam hari, kita terus saling bicara, mata kita saling menatap, hanya tangan kita yang sesekali bersentuhan. Aku bahagia. Denganmu aku tahu rasanya cinta. Meski harus kukatakan, aku menahan diri untuk tidak jatuh cinta padamu.
Kepada, pria yang mengulurkan tangannya untukku.
Aku terus memikirkanmu. Sejak saat itu, aku tahu rasanya bahagia. Kamu menjadi bagian yang kusebutkan dalam doaku. Jauh dalam hatiku, kamu sudah jadi segalanya. Aku berharap, kamu diciptakan untuk kumiliki, memberikan banyak pelajaran, juga pemahaman.
Untukmu, pria yang selalu kusebut dalam doa, yang bisa membuatku tertawa, yang membuat debar jantungku menggema, semoga kamu tak menjadi orang yang berpeluang menyakitiku. Semoga nanti, pada akhirnya, ada kisah manis diantara kita yang bisa kita ujarkan disela-sela cerita sebelum tidur untuk anak kita.
Dari wanita yang berhasil kaubuat jatuh cinta
Diam-diam berharap pertemuan baru denganm
Diam-diam mencintaimu
With love for you :')
@AchyNova™
No comments:
Post a Comment