Monday, December 2, 2013

Terjebak Nostalgia

Selamat sore Tuan yang entah mengapa terasa semakin jauh. Aku datang baik-baik untuk bertanya hal-hal manis yang pernah kita jalani beberapa waktu ini. Sejak pertemuan kedua kita, dua puluh tiga agustus dua ribu tiga belas. Kamu mengetuk ruang hatiku, menjadi sosok baru yang nampaknya menarik jika kunikmati dari berbagai sisi. Aku hanya ingin memberitahumu, kamu sudah jadi seseorang yang kurindukan keberadaannya, kutunggu pesan singkatnya, dan kurindukan candaannya saat kita saling bertatap. Kamu sudah jadi kawan dalam malamku, penabur rindu senjaku, juga pemompa semangat untuk siangku.

Seharusnya kita sudah saling tahu sejak dua tahun lalu. Saat pada akhirnya kita lulus dan meninggalkan status kemahasiswaan kita. Lucu, kita yang sebenarnya berada pada satu gedung yang sama saat wisuda, nyatanya tak pernah saling menyadari sosok-sosok yang ada. Aku tak mengenalmu, kamu tak mengenalku, kita tak pernah saling tahu. Dan lebih lucu lagi, aku justru merasa tak pernah sekalipun melihat sosokmu diantara lalu-lalangnya mahasiswa Teknik Informatika yang sedikitnya kuketahui siapa mereka. Wajahmu begitu asing dimataku, benar-benar asing.

Bahkan, ketika kaumulai berkelana menjelajahi profil aplikasi sejuta umat itu dan mulai mengajakku berkenalan, aku masih tak mengenalimu. Dengan kepolosanku, aku senang  mendengar segala ceritamu. Entah kenapa, meski aku tak mengetahuimu lebih banyak,  tapi, cerita-ceritamu selalu menjadi hal yang kunantikan setiap harinya.

No comments:

Post a Comment