1 Maret 2013, inilah kali kedua aku duduk di halte ini. Bukan
untuk memandang kesebrang jalan dan mengingat yang pernah terjadi 2
tahun sebelumnya. Hanya sedang menunggu seseorang yang akan membawaku
pulang.
Kali ini Aku tak sendiri, karena disisi lain pun tengah duduk
seorang pemuda, entah siapa. Bagiku tak penting dia siapa, aku tak
begitu tertarik memperhatikan orang yang tak kukenal. Dalam diamku, aku
terus memperhatikan jalan. Berharap dia yang memberiku warna baru segera
datang dan membawaku pulang.
Seketika aku Terhenyak saat Sepersekian detik dalam penantianku aku
mendengar suara khas disisi lain halte ini. Suara seseorang yang pernah
membawaku dalam cinta yang membabibuta. Suara yang pernah menawarkan
seteguk kenikmatan yang fana.
Tak kusangka, ternyata laki-laki yang duduk dibarisan lain halte ini
adalah dia yang sempat menorehkan waktu termanis untukku. Waktu singkat
yang membawaku dalam perkenalan indah dan bermakna.
Dialah sang pemilik wajah tampan berdada bidang. Dia menyapaku. Dia
masih mengenaliku. Dia tersenyum padaku. Dan dia membawa percakapan
dalam penantianku untuknya ; menanti kekasih yang menjemputku.
Suara lembutnya menghadirkan lagi getar rindu yang sebenarnya masih
ada. Aku bergetar. Aku tergelagap. Aku terdiam. Dan bahkan tanpa sadar
mataku berderai.
Aku ingin berhambur dan segera memeluknya dalam rinduku, sekali lagi
aku hanya bisa menahan diri. Dia yang kurindukan dalam 2 tahunku, saat
ini ada didekatku. Benarkah ini adalah dia? Bahkan tak ada sekat
pembatas antara aku dan dia.
"apa kabar?". Kata kedua yang diucapkannya setelah menyapaku justru
membawaku pada kebisuan. Lidahku kelu, bahkan untuk sekedar menjawab
bahwa aku baik-baik saja.
Astaga, aku melihatnya dalam jarak sedekat ini. Senyumnya yang
menghadirkan deretan gigi-gigi yang rapi, mempertegas otakku untuk
mengingat dia kembali. Bahkah, aku rela menukarkan kebahagiaan apapun
asalkan hal seperti ini tak pernah berakhir dan masih terus kunikmati.
Waktu memang terlalu misterius untuk diterka. Aku yang hanya bisa
menikmati kerinduan dalam hamparan doa yang dirapal, kini tengah
memandangi wajah sang tercinta didepan mata. Aku yang hanya meminta
padaNya untuk mengizinkan aku melihat dari kejauhan, justru dihadapkan
pada sosok nyata yang begitu dekat.
Inilah yang disebut dilema. Aku benci ini. Kenapa aku tak sabar
menunggu 5 bulan lagi untuk sendiri. Kenapa hari ini aku harus memiliki
kekasih. Kenapa?
Tidak. Aku tidak boleh meratap seperti ini. Ini hanya kenyataan yang
akan berubah menjadi mimpi lagi. Ya, aku yakin sebentar lagi pria
inipun akan menghilang lagi. Dan mengurungku kembali dalam lautan duka
yang tak berujung. Bukankan kekasihku sudah memberi warna baru yang
lebih indah. Kekasihku yang tidak akan membiarkan aku terluka.
Sudahlah, senyata apapun dia dalam jarak yang dekat ini, aku tetap memiliki dia ; kekasihku saat ini.
With love for You :')
@AchyNova
No comments:
Post a Comment