Monday, May 6, 2013

Dia dan Aku dalam jarak yang sedekat ini..

1 Maret 2013, inilah kali kedua aku duduk di halte ini. Bukan untuk memandang kesebrang jalan dan mengingat yang pernah terjadi 2 tahun sebelumnya. Hanya sedang menunggu seseorang yang akan membawaku pulang.

Kali ini Aku tak sendiri, karena disisi lain pun tengah duduk seorang pemuda, entah siapa. Bagiku tak penting dia siapa, aku tak begitu tertarik memperhatikan orang yang tak kukenal. Dalam diamku, aku terus memperhatikan jalan. Berharap dia yang memberiku warna baru segera datang dan membawaku pulang.

Seketika aku Terhenyak saat Sepersekian detik dalam penantianku aku mendengar suara khas disisi lain halte ini. Suara seseorang yang pernah membawaku dalam cinta yang membabibuta. Suara yang pernah menawarkan seteguk kenikmatan yang fana.

Tak kusangka, ternyata laki-laki yang duduk dibarisan lain halte ini adalah dia yang sempat menorehkan waktu termanis untukku. Waktu singkat yang membawaku dalam perkenalan indah dan bermakna.

Dialah sang pemilik wajah tampan berdada bidang. Dia menyapaku. Dia masih mengenaliku. Dia tersenyum padaku. Dan dia membawa percakapan dalam penantianku untuknya ; menanti kekasih yang menjemputku.

Suara lembutnya menghadirkan lagi getar rindu yang sebenarnya masih ada. Aku bergetar. Aku tergelagap. Aku terdiam. Dan bahkan tanpa sadar mataku berderai.

Aku ingin berhambur dan segera memeluknya dalam rinduku, sekali lagi aku hanya bisa menahan diri. Dia yang kurindukan dalam 2 tahunku, saat ini ada didekatku. Benarkah ini adalah dia? Bahkan tak ada sekat pembatas antara aku dan dia.

"apa kabar?". Kata kedua yang diucapkannya setelah menyapaku justru membawaku pada kebisuan. Lidahku kelu, bahkan untuk sekedar menjawab bahwa aku baik-baik saja.

Astaga, aku melihatnya dalam jarak sedekat ini. Senyumnya yang menghadirkan deretan gigi-gigi yang rapi, mempertegas otakku untuk mengingat dia kembali. Bahkah, aku rela menukarkan kebahagiaan apapun asalkan hal seperti ini tak pernah berakhir dan masih terus kunikmati.

Waktu memang terlalu misterius untuk diterka. Aku yang hanya bisa menikmati kerinduan dalam hamparan doa yang dirapal, kini tengah memandangi wajah sang tercinta didepan mata. Aku yang hanya meminta padaNya untuk mengizinkan aku melihat dari kejauhan, justru dihadapkan pada sosok nyata yang begitu dekat.

Inilah yang disebut dilema. Aku benci ini. Kenapa aku tak sabar menunggu 5 bulan lagi untuk sendiri. Kenapa hari ini aku harus memiliki kekasih. Kenapa?

Tidak. Aku tidak boleh meratap seperti ini. Ini hanya kenyataan yang akan berubah menjadi mimpi lagi. Ya, aku yakin sebentar lagi pria inipun akan menghilang lagi. Dan mengurungku kembali dalam lautan duka yang tak berujung. Bukankan kekasihku sudah memberi warna baru yang lebih indah. Kekasihku yang tidak akan membiarkan aku terluka.

Sudahlah, senyata apapun dia dalam jarak yang dekat ini, aku tetap memiliki dia ; kekasihku saat ini.

With love for You :')

@AchyNova

No comments:

Post a Comment