Monday, December 9, 2013

Hujan Seperti ini, tiga tahun yang lalu (Malaikat hujan 2) - part 2

"Lumongga Diandra...?" Sapa sebuah suara dibelakangku. Aku yang sedari tadi masih duduk dan menjatuhkan pandangan pada hujan seakan dikagetkan oleh suara tadi. Namun, suara itu, suara yang baru saja memanggil namaku, serasa tak asing ditelinga ini. Aku serasa mendapati suara Edgar yang tengah memanggil namaku. Ah, tapi tak mungkin, aku pasti hanya sedang terjebak dalam nostalgia bersamanya.

Segera saja aku bangun dari tempat duduk, bermaksud menyambut suara yang sudah menyapaku saat lamunan tadi. Aku yakin, yang menyapaku adalah Dokter Byan, "Selamat pagi, dokter Byan." Deg!! Suaraku hilang begitu saja, dia yang ada dihadapanku adalah dia yang dengan setia menghuni alam bawah sadarku. Ini bukan lagi mimpi, melainkan benar adanya. Pria yang selalu disebut dengan Dokter Byan adalah pria yang kusebut sebagai Edgar. Kenapa begitu bodohnya aku, Edgar memang memiliki nama Edgar Fabian, dan dia mengganti nama panggilannya menjadi Byan. Tapi bisa jadi hanya aku yang memanggilnya dengan Edgar, sementara temannya mungkin memang memanggilnya Byan. Yayaya!! Itu mungkin saja, aku memanggilnya demikian, karena dia memang memperkenalkan dirinya sebagai Edgar.

Tatapanku kosong menatapnya, untuk beberapa saat otakku disibukkan dengan asumsi mengenai dia dan panggilannya. Aku tak banyak bicara, bahkan aku masih terdiam di tempat yang sama. Aku sibuk menerawang, dan mencari jawaban yang pertanyaannya pun aku tak tahu apa.

"Dee", Edgar berusaha menyadarkan aku dengan jentikan jemarinya. Barulah aku sadar dengan keadaan yang serba mengejutkan ini. Reaksiku masih tetap sama, diam bungkam dengan dibalut rasa bahagia yang luar biasa.

Aku terperanjat sesaat, menyadari bahwa ini bukanlah mimpi. Simpul senyum terlukis nyata dalam lukisan wajahku. Batinku lirih bersyukur, terima kasih Tuhan atas anugrah-Mu hari ini.

*****

(Edgar Fabian)

Sudah lima belas menit aku berdiri menghadap jendela kantorku. Kaca jendela yang terlihat mulai basah dan berembun menjadi pemandangan yang begitu kunikmati. Diluar, hujan begitu deras turun membasahi bumi. Rintiknya jatuh dengan bebasnya. Setiap hujan turun, aku selalu merindukan Diandra. Makhluk manis yang kutemukan di sisi lain halte sebrang kampusku. Gadis menarik yang berlari kecil untuk menghindari basah di tempatku berteduh saat itu. Ah, seperti apa dia sekarang. Sudah tiga tahun aku tak menemukannya. Padahal dulu, kala hujan turun, aku selalu berhasil menemukannya. Gerimis manis itu selalu menuntunku untuk menuju tempat keberadaanya. Itu dulu,  saat egoku belum menghancurkan semuanya. Saat aku masih disebutnya sebagai kekasih.

Kriiiiiingggg.

Suara telepon yang nyaring bernyanyi di atas mejaku. Deringnya membangunkanku dari lamunan mengenai Diandra. Langsung saja aku bergerak untuk mengangkatnya, "Ya, kenapa?"

"Baik. Suruh tunggu saja, biar saya yang menemuinya di lobi".

Klik, telepon pun aku tutup. Resepsionis memberitahuku jika Lumongga sudah ada di bawah. Kali ini aku bertugas menemani Lumongga untuk training. Tak banyak yang kuketahui tentangnya, selain hanya dia pengganti Mba Dwita untuk training kali ini.

Tiga hari lalu, Mba Dwita mengabariku, menurutnya wakil dari rumah sakitnya bernama Lumongga Diandra. Siapa dia? Sesungguhnya tak menarik buatku. Yang menarik hanyalah nama akhir dari Diandra itu yang membuatku masuk kembali dengan nostalgia kenangan bersama Diandra.

Hmmm, sudahlah, semoga Diandra masih baik-baik saja dengan siapapun dia saat ini. Namun,  andai Tuhan mengizinkan aku bisa melihat Diandra kembali dengan statusnya yang masih sendiri,  maka aku akan sangat berterima kasih.

Segera saja aku bergegas menemui Lumongga yang sudah menunggu di Lobby,  tak enak juga jika dia harus menunggu terlalu lama, lagipula, pelatihan sebentar lagi akan dimulai.

Aku segera saja pergi menuju tempat dimana Lumongga menunggu. Dari kejauhan, aku melihat sosok perempuan yang sedang terduduk memandangi hujan. Sepintas, perempuan itu memiliki pesona seperti Diandra, bagaimana cara dia duduk sambil menikmati hujan yang turun begitu anggun dan elegan, persis seperti Diandra kala menikmati rintik hujan di Halte waktu itu.

Segera saja aku menghampiri resepsionis dan menanyakan tamu yang sudah menunggu.

"Des, Lumongga Diandra yang mana, ya?"

"Yang menggunakan kemeja pink, dokter".

"Ok, makasih."

Ternyata Lumongga adalah gadis yang sedang menikmati hujan itu, segera saja kuhampiri dia, dan mencoba menyapanya.

"Lumongga Diandra?" Sapaku, ada jeda beberapa saat sebelum dia berdiri dan menoleh kearahku. Dalam hitungan detik saja, "Dokter Byan.....?", nada antusiasnya terdengar menurun ketika mata kami saling bertemu, mungkin kami sama, sama-sama tak menyangka akan dipertemukan kembali.

Astaga, ternyata dia adalah, Diandra. Aku terperanjat, aku terkesiap, benarkah dia adalah Dee. 
"Dee?? Ini kamu?". Dee masih terlihat terkejut juga setelah melihat kemunculanku, belum ada suara yang keluar dari bibir mungilnya. Dia masih terlihat sama, hanya saja kali ini dia sudah lebih bisa berdandan. Rambutnya panjang, masih dengan mata bulatnya yang indah.

"Dee." Aku coba menyadarkannya dengan lambaian tangan di depan wajahnya, tapi gadis ini masih terdiam dengan tatapan kosong. Pikirannya seolah sedang mencerna hal yang tak ia pahami. Melihatnya seperti itu kucoba menyadarkan dia kembali, "Dee.", kali ini sembari menjentikkan jemari, berhasil, dia akhirnya mulai terperanjat sadar dan tersenyum. Ternyata jentikkan jemariku berhasil membawa pikirannya kembali kedunia nyata.

Senyum itu, senyuman yang sama tiga tahun lalu. Luar biasa, getar itu kembali menghampiriku, bahkan lebih kuat. Tuhan, terima kasih untuk anugrah Mu yang luar biasa hari ini, batinku.

(CONTINUED...)

sebelumnya: Part 1

No comments:

Post a Comment