Hai Faris,
.
Pada kesempatan kali ini aku memberanikan diri menyapamu. Ya, anggap saja aku sedang bermodus bermaksud ngajak kencan, hihi *muka merah nahan malu*.
.
Faris, mau ngga kencan bareng aku? Kita jalan kemana gitu pake Toyota Agya, kayanya romantis banget. Jalan berdua di mobil yang super duper nyaman. Pastinya kalo kita jalan pake mobil keren itu, kita akan jadi pusat perhatian ketika sampai tempat tujuan. Hmmm, baru membayangkan saja aku sudah bahagia, apalagi kalau kamu benar-benar mau kuajak kencan.
.
Faris, kenapa aku ngajak kamu kencan pake Agya? Soalnya kalau dibandingkan dengan sesama city car hacthback, Toyota Agya sangat hemat bahan bakar karena teknologi mesin baru yang green dan tentunya karena cc lebih kecil. Satu liter bisa untuk 20 Km, irit banget, kan?Kemudian leg room (ruang spasi untuk kaki) lebih luas sehingga lebih nyaman buat kita.
.
Jadi gimana, Faris? Mau kan kencan bareng aku pake Agya?
TULISAN ini bisa jadi AKU ataupun KAMU. Tapi bisa jadi TULISAN ini Bukan AKU ataupun KAMU!!!
Monday, February 17, 2014
Day 13 : Faris, kencan yuk!
Sunday, February 16, 2014
Day 12 : Untuk calon suamiku
Semoga di Kupang kau Baik-baik saja.
Calon suamiku, sudah enam bulan kau berada di Kupang, bagaimana kabarmu sekarang? Kudengar cuaca disana sangat panas. Memang kau selalu mengabariku tentang semua yang terjadi padamu. Tapi, kali ini rasa-rasanya tak salah kalau aku ingin mengirimkan surat cinta padamu.
Kemarin ibu menelponku, dia memintaku untuk segera mau kaujadikan istri. Aku belum bisa menjawab apapun, sesuai kesepakatan antara kau dan aku, aku masih belum mau meninggalkan Bandung. Kamu tahu sulit buatku jauh dari ibu dan keluarga. Apalagi jika aku mengikutimu pindah dan menetap disana, waktu yang bisa mempertemukan aku dengan beliau hanya terjadi satu tahun sekali saja, bukan?
Hal ini masih sering membuatku bingung. Disatu sisi aku tahu kodratku sebagai istri harus mengikuti suaminya. Disisi lain ibu berat melepaskan aku jika harus sampai melintas pulau.
Dulu, ibu merestui kita, tapi, tak pernah bakal ia bayangkan harus melepaskan aku jauh darinya. Aku pun tak berfikir kau akan dipindah tugaskan sejauh itu. Kukira jangkauan area kerjamu masih berada seputaran Bandung-Jakarta saja.
Tapi bukan berarti setelah ini ibu mencabut restunya. Dia masih tetap merestuimu sebagai calon menantunya. Hanya ada rasa keberatan saja jika kau membawaku jauh darinya.
Calon suamiku, maafkan aku, aku memang masih dibayangi sosok ibu. Bagaimana pun, dimata beliau aku masih gadis kecil yang harus dijaga dan dikahawatirkan. Aku pun ingin berada dekat beliau jika aku melahirkan kelak.
Aku paham kau bisa memaklumi. Tapi bagaimana caraku menjelaskan kepada ibumu? Calon suamiku, percayalah, kelak Tuhan pasti mempersatukan kita jika aku adalah jodomu.
Jaga diri baik-baik disana ya? Jaga hatimu juga dan percayalah aku ada disini selalu mencintaimu.
I love you,
Achy
Day 11 : Dear, Superman
Dear, Superman.
Ini adalah hari ke sebelas aku mengikuti project menulis surat cinta selama tiga puluh hari. Otakku buntu kali ini. Aku tak tahu, siapa yang akan kujadikan objeknya. Siapa yang harusnya mendengarkan keluh kesahnya. Aku bingung luar biasa. Akhirnya aku putuskan menulis surat padamu. Sebenarnya bukan pada superman sebenarnya aku menulis surat ini. Tapi lebih tepatnya kepada pria penyuka sosok superman.
Kepada pria itu,
Pada surat hari kesebelas ini, akhirnya aku beranikan diri untuk menyapamu. Aku hanya ingin berteman lagi, meski mungkin kau tak menginginkan itu. Diantara kamu dan aku sudah terjadi banyak kesalahpahaman, sehingga kenangan manis yang sudah terjadi diantara kita seakan tak berarti dan terkesan percuma saja.
Superman,
Kepala kita bukanlah terbuat dari batu. Tapi kenapa kita sama-sama berkeras hati dan seolah enggan saling menyapa lagi. Ego kita seolah menguasai semuanya. Aku enggan menyapa karena takut kau tak meresponku. Sedangkan alasan darimu aku sungguh tak tahu.
Superman,
Aku ingin minta maaf, barangkali ada kata-kata yang sudah menyinggung perasaanmu. Entah itu tentang bola atau mungkin tentang moto GP. Semuanya tak kumaksudkan begitu, bukankah wajar jika sesekali kuselipkan candaan untuk menghangatkan obrolan saja. Agar kau dan aku semakin akrab.
Superman,
Kali ini aku sudah buntu. Aku bingung merangkai kata atau apapun itu. Kalau kau sempat mencerna hatimu, ingatlah bahwa aku adalah perempuan yang sebenarnya memiliki kesamaan juga padamu, sama-sama penyuka superman.
Sudahlah, mmenulis surat tak harus panjang lebar, kan?
Dari aku, perempuan yang pernah kau perkenalkan dengan antrian panjang di kedai ramen itu.
Saturday, February 15, 2014
Day 10 : Untuk Perempuannya lelakiku.
Kepada Perempuannya Lelakiku,
.
.
Kau pasti kaget kenapa tiba-tiba surat ini bisa melenggang bebas tanpa batas ke tanganmu. Dalam benakmu pasti bertanya, siapa orang yang dengan lancangnya menulis dan mengirimkan surat ini padamu.
Tak usah risau wahai perempuan, kenalkanlah, aku adalah segumpal hati yang terbalut raga tak berdaya. Bukan maksudku mengusik hari-harimu bersama lelakiku. Aku hanya ingin... ah, anggap saja aku ingin bercengkerama denganmu saja, tidak lebih.
Aku ingin bertanya padamu, jika kau jadi aku, apakah kau akan mengirimkan surat juga padaku? Jawabannya bisa iya dan tidak, ya? Tapi tenanglah, aku tak terlalu merisaukan kau yang akan berbuat sepertiku atau tidak. Sekali lagi kukatakan, aku hanya ingin bercengkerama saja dengan perempuannya lelakiku.
Kau pasti ingin tahu aku, bukan?
Baiklah!
Aku perempuan sama sepertimu. Aku memiliki cinta sama sepertimu. Aku menyayangi lelakimu, sama sepertimu. Lelakimu adalah sama dengan lelakiku. Kalau kau tahu, sebelum mengenalmu dia adalah lelakiku. Hingga saat ini pun (seharusnya) dia masih sebagai lelakiku.
Kenapa aku bahas tentang lelakimu?
Karena lelaki yang saat ini bersamamu, adalah kekasihku. Kau hadir diantara konflik kami yang seharusnya bisa terselesaikan dengan sesuatu yang kami sebut baik-baik saja. Lelakimu adalah pria yang selalu memujaku melalui rangkaian kata yang mengalir mesra melalui tulisannya. Jika kau pernah membaca ceritanya tentang gadis penghujung senja pada blog pribadinya, wanita yang ia sebutkan itu adalah aku.
Lelakimu adalah pria yang menjadi pengisi celah sela jemariku. Lelakimu adalah pelukis terbaik yang sering menggambarkan lengkungan senyum dibibirku. Lelakimu adalah priaku yang hebat. Lelakimu adalah priaku yang luar biasa. Lelakimu adala lelakiku yang sangat kucintai. Lantas kenapa kau tega merebut lelakiku dan menjadikanmu lelakimu.
Dulu kukira kau bisa merasakan jadi aku, wahai perempuan. Kukira kau bisa menahan rasa kagummu agar tak berubah menjadi sebuah rasa cinta yang hebat padanya. Dulu kukira, kau tak akan meraih hatinya dengan semudah itu. Dan kenapa aku harus memberika lelaki berhargaku padamu.
Wanita,
Kuakui kau memang pintar. Kau memerankan peranmu mengambil hati ibu lelakiku. Kau seolah tahu bahwa tak ada restu buatku. Dengan sigap, kau luluhkan hati ibunya, kau tunjukkan diri seolah kau adalaj perempuan paling baik untuk lelakiku. Kau membuat tampilanku semakin buruk, dan memperindah tampilan palsumu. Tak apa! Aku tahu Tuhan tak tidur. Meski kau memiliki ragawi lelakiku, ketahuilah, hati lelakimu masih bersamaku.
Dari; perempuan yang menggenggam hati lelakimu seutuhnya.
Friday, February 14, 2014
Day 9: Dari Logika untuk hati.
Hai Hati,
Aku adalah logika yang selalu mencerna setiap bisikan-bisikanmu. Kamu pasti sedikit kesal denganku, beberapa kali kau memberitahuku tentang apa itu cinta, baik-tidaknya untukku, namun seringkali aku mengabaikanmu.
Hati,
Sesekali aku ingin mendengarkanmu, tapi kadang aku lebih suka berfikir dengan kenyataan yang sudah jelas ada di depan mata. Aku tak suka berkhayal, atau berimajinasi dengan hal yang belum tentu berbuah manis.
Memang tak salah, terkadang imajinasi bisa membuatku bahagia, itu betul. Tapi, untuk apa berimajinasi, karena semua imajinasi ibarat mimpi yang tak akan terjadi. Aku sebenarnya pernah mengikuti bisikanmu, hasilnya adalah aku terluka. Benarkah, kamu adalah sesuatu yang tak pernah salah. Lantas, benarkah kamu tak pernah salah? Ah, barangkali aku mungkin salah mendengarkan. Bukan kamu yang sedang kudengarkan, mungkin fikiranku yang saat itu kudengarkan.
Hati,
Seberapa sering kau kuabaikan, tapi kau selalu memberikan bisikan yang tak pernah kugubris. Mungkin, jika aku lebih bersahabat denganmu aku tak akan seterluka sekarang. Seringkali aku berakhir menyesal karena tak perna mendengarkanmu. Aku pun sering menangis, karena bodoh tak mendengarkanmu.
Ah, hati,
Kuharap kau tak bosan mengingatkanku. Kuharap aku akan lebih menurunkan ego dan bisa bersahabat baik denganmu. Jangan bosan menjadi sahabatku, walau kadang aku sering tak menggubrismu.
Dari aku,
Logika.
Day 9: Dari Logika untuk hati.
Hai Hati,
Aku adalah logika yang selalu mencerna setiap bisikan-bisikanmu. Kamu pasti sedikit kesal denganku, beberapa kali kau memberitahuku tentang apa itu cinta, baik-tidaknya untukku, namun seringkali aku mengabaikanmu.
Hati,
Sesekali aku ingin mendengarkanmu, tapi kadang aku lebih suka berfikir dengan kenyataan yang sudah jelas ada di depan mata. Aku tak suka berkhayal, atau berimajinasi dengan hal yang belum tentu berbuah manis.
Memang tak salah, terkadang imajinasi bisa membuatku bahagia, itu betul. Tapi, untuk apa berimajinasi, karena semua imajinasi ibarat mimpi yang tak akan terjadi. Aku sebenarnya pernah mengikuti bisikanmu, hasilnya adalah aku terluka. Benarkah, kamu adalah sesuatu yang tak pernah salah. Lantas, benarkah kamu tak pernah salah? Ah, barangkali aku mungkin salah mendengarkan. Bukan kamu yang sedang kudengarkan, mungkin fikiranku yang saat itu kudengarkan.
Hati,
Seberapa sering kau kuabaikan, tapi kau selalu memberikan bisikan yang tak pernah kugubris. Mungkin, jika aku lebih bersahabat denganmu aku tak akan seterluka sekarang. Seringkali aku berakhir menyesal karena tak perna mendengarkanmu. Aku pun sering menangis, karena bodoh tak mendengarkanmu.
Ah, hati,
Kuharap kau tak bosan mengingatkanku. Kuharap aku akan lebih menurunkan ego dan bisa bersahabat baik denganmu. Jangan bosan menjadi sahabatku, walau kadang aku sering tak menggubrismu.
Dari aku,
Logika.
Wednesday, February 12, 2014
Day 8: Yang kutemukan, yang menghilang.
Kamu; yang pernah kutemukan, dan akhirnya menghilang.
Pernah tidak kamu berpikir ada seorang perempuan yang mencari kamu dengan luar biasanya?
Menurut kamu perempuan ini waras atau tidak?
Jika jawaban kamu perempuan ini tak waras, maka aku pun berpikir sama sepertimu.
Kenapa dia mau memapah hari-harinya hanya untuk menemukan sosok pria yang tak bisa menghargai perjuangannya? Pada bagian mana dari kamu yang membuatnya bisa jatuh cinta segila itu? Sedangkan diluar kamu, ada pria lain yang juga dengan setianya menanti perempuan ini berbalik mencintainya.
Akan kujelaskan padamu seperti apa dia berjuang menemukan kamu. Dia tak berpikir bahwa kamu akan bisa berbalik merangkaikan sejuta luka dihatinya. Dia hanya ingin kamu tahu, bahwa dia pernah dan masih dengan sangat mencintaimu. Tak ada setitik keinginan dihatinya untuk memilikimu. Dia tahu, kamu dan hati kamu punya kebebasan untuk menentukan arah hidupnya.
Dia mendorong dirinya untuk berani menyapamu, dan kau hanya membalas sekenanya. Dia bersusah payah membuatmu tergerak, dan kau hanya sejengkal mau menoleh. Dia terus maju, karena dia tak mau kehilangan jejakmu lagi untuk kesekian kalinya. Dia hanya tahu, dia mencintai kamu saja, titik.
Dimana kamu yang orang bilang si baik hati itu. Sementara sikapmu padanya berbeda sekali dengan yang orang bilang tentangmu.
Tapi benar juga, kau memang baik. Kerendahan hatimu mendorong kamu menjadi sosok yang menebarkan harapan palsu pada dia. Bukankah kalian pernah menghabiskan malam kalian dengan saling bercerita melalui sambungan telepon? Bukankah kamu dengan bijaknya mengakui ketangguhannya menemukan kamu? Ah, aku rasa kamu memang hanya sekedar melambungkan asa dia saja. Semua ucapanmu itu palsu adanya.
Kamu tahu,
Gadis ini pernah menangis akibatmu. Dia tak pernah lupa membaitkan doa untukmu. Dengan sedikit menyimpan harapan yang kau tawarkan, gadis ini menggenggam namamu dalam cita-citanya. Aku kadang sebal dengannya, padahal aku tahu, kau sedang membuat galian luka hatinya lebih dalam lagi. Tapi aku sungguh tak tega memberitahunya, dia tengah dibutakan cinta padamu. Ya, aku memaklumi, biar bagaimana pun kamu adalah pria yang lima tahun dicarinya tapi tak pernah dimilikinya.
Hmmm, satu lagi yang aku sesalkan, kenapa si gadis gila ini harus AKU!!
Tuesday, February 11, 2014
Day 7: Dibalik senyumanku.
Untuk kamu;
Yang lebih sering melihatku tersenyum.
.
Tahukah kamu,
Dibalik sikapku yang selalu mengumbar senyuman, ada serpihan hati yang tengah kurekatkan perlahan. Dibalik candaan dan gelak tawaku, ada luka yang masih harus kutahan perihnya, harus kuhentikan laju darahnya, agar ia tak berhasil membuatku menangis didepanmu.
Dibalik aku yang kau lihat bahagia, tercipta sajak-sajak sendu yang mengalun sendu melalui jemariku. Kurangkaikan bait-bait kata, mengagumi keindahanmu yang tertahan di selaksa ronggaku.
Dibalik aku yang merindukan pelangi senja, ada aku yang tengah merintih merindukan pertemuan hati dibawah rintik hujan.
Dibalik aku yang melukiskan awan, ada aku yang bersajak sendu menahan keluh kesah merindukanmu.
Kemarilah,
Sejenak arahkan telingamu untuk mendengarkan lantunan syair yang khusus kupersembahkan untukmu.
Sejenak tujukanlah matamu kepadaku da lihatlah aku yang tengah berjibaku menahan sesaknya rindu yang semakin membabi buta untukmu.
Kau melihatku tersenyum, namun sebenarnya aku menangis.
Kau mendengarku bersenandung, namun nyanyianku adalah lagu rindu untukmu.
Kau tertawa bersamaku, tak tahukah kau, bahwa aku ingin memiliki tawamu.
Ini aku!
Perempuan yang menahan gejolak.cintanya dibalik sikap yang terlihat bahagia.
Aku,
Perempuan yang berpura-pura tak terluka, saat tanganmu menggenggam tangan gadis itu.
Aku,
Perempuan yang mengatakan "selamat" kepadamu, dibalik hati yang tengah menjerit berkata "aku mohon tinggalkan wanita itu untukku".
Aku,
Perempuan yang pada akhirnya sedang menangis dibalik senyumanku.
=
=
"Maafkan aku, mataku hanya melihat kamu yang selalu tersenyum tanpa kutahu hatimu sedang menangis."
Ucapanmu ketika tahu aku mencintaimu.
-perih-
Monday, February 10, 2014
Day 6: Pria asing, aku menyukaimu!
Kepada pria yang tak sengaja berjelajah di moment ku.
.
Namamu Bayu, setidaknya itu yang kutahu. Pria berkacamata yang rumahnya berada di daerah Sarijadi, Bandung.Itu yang aku tahu. Lulusan manajemen Universitas Pasundan 2008, itu juga yang aku tahu.
.
Tak usah merasa aneh kenapa aku bisa tahu itu. Karena kamu memperkenalkan dirimu sampai proses itu saja. Gaya bahasamu kaku, menggunakan kata SAYA dan KAMU. Aku memutar otak, apakah orang yang berpendidikan tinggi selalu menggunakan tata bahasa yang sekaku itu, menunjukkan tingkat intelektualitas nya.
.
Ah, sudahlah aku bukan ingin membahas tentang cara bicara atau apapun itu. Bagiku bisa cukup tahu kamu, anugrah rasanya. A Bayu, aku sedikit heran, kita sempat bertukar pin BB, tapi tak sekalipun kita bersua. Padahal aku ingin punya kesempatan lebih bisa mengenalmu. Pertanyaan yang ingin aku tanyakan pertama mungkin berapa jumlah saudaramu. Hahaha, kelihatan sekali kalau aku penuh basa basi. Aish, yang penting kan bagaimana cara aku bisa mengenalmu saja, ya, caranya agak aneh mohon dimaklumi saja.
.
Jujur saja, aku perempuan yang agak sulit mengembangkan cerita. Mungkin orang cepat bosan mengobrol denganku. Tapi sungguh, setiap orang yang dekat terus menjauh, aku hanya bisa pasrah. Ya karena itu tadi, aku tak bisa berbasa basi sehingga sangat sulit mengembangkan cerita.
.
Menulis surat kali ini agak sulit bagiku. Aku harus menulis surat kepada orang asing yang tak terlalu kukenal siapa dia. Tapi aku tak mau menyerah, aku pilih saja kamu jadi objeknya #tertawamalu *kabur*. Pasti kamu bertanya kenapa, bukan?
.
Hmmm, Baiklah aku jawab, deh. Sekali melihat fotomu saja aku jatuh cinta, bagaimana kalau aku lihat aslinya ya. Kamu itu seperti pria yang sering muncul di mimpiku. Atau tepatnya kamu pria idamanku. Tampan, berkaca mata, bentuk wajah yang simetris dengan tulang rahang, dan apalagi ya, cukup dulu deh. Hmmm, klo kamu baca, coba hubungi aku melalui we chat ya, supaya kamu tahu semenyenangkan apa perempuan yang sedang sangat mengagumimu ini.
Achy
Sunday, February 9, 2014
Day 5: Kepada pria yang menggenggam janjinya.
Hai, pria.
Sudah bisakah kau lepaskan KITA? Biarkanlah KITA yang dulu terurai menjadi AKU dan KAMU saja. Tak perlu tangisi yang sudah terjadi kali ini, ya.
.
Pria,
.
Kala surat ini kutulis, barangkali kita masih melakukan kebiasaan gila kita, memandangi langit senja yang berwarna jingga hingga warnanyapun berubah menjadi gelap dan berkelipkan bintang. Atau kau sudah tak melakukannya lagi barangkali? Jujur saja aku masih melakukannya saat hujan tidak turun, karena hingga saat ini kamu dan kenangan bersamamu selalu berhasil membuatku rindu.
.
Pria,
.
Tolong katakan padaku, pada bagian mana cinta menjatuhkan kesalahannya. Bukankah kita tak pernah menginginkan untuk bisa saling mencintai pada akhirnya? Kita hanya mengikuti skenario yang ada. Aku dan kamu bertemu, saling memandang, saling mengagumi, berkenalan, semakin dekat, saling jatuh cinta, hingga akhirnya saling mencinta. Dimana sebenarnya kesalahan cinta?
.
Pria,
.
Untuk sesaat, aku merasakan bagaimana kamu yang meradang saat kuucapkan kata perpisahan. Kamu marah, memakiku, membentak padaku, bahkan tamparan keras tanganmu mendarat di mejaku. Saat itu aku takut. Kau tak pernah semenakutkan itu. Tapi, rasa takutku berubah menjadi kepiluan yang menyakitkan, kau menangis, sedangkan aku tak tahu apa yang harus kuperbuat padamu.
.
Pria,
.
Itulah kali pertama aku melihat seorang lelaki menangis karenaku. Luar biasanya, aku justru merasa menjadi perempuan paling jahat yang sudah menyakitimu sebanyak itu. Kamu, pria yang selalu melengkapi sela jemari tanganku, justru kubuat terluka oleh keputusanku. Kamu, pria yang selalu merangkulku hangat, harus kubuat menangis karena egoku.
.
Pria,
Maafkan aku, janji yang sudah kita ucapkan belum bisa kupenuhi sekarang. Alasannya tak bisa kujelaskan. Namun, bila Tuhan berbaik hati menyatukan kita, aku pasti akan menceritakan dan juga membayar janji padamu.
.
Pria,
.
Aku percaya, kau adalah pria yang akan terus menggenggam janji dengan setianya. Aku mohon kali ini dengarkan aku, jangan kau tulikan telingamu untuk enggan mendengar keinginanku ini. Jangan kau butakan matamu hanya karena enggan melihatku memohon dan mengiba padamu. Aku mohon, berjalanlah terus kedepan, jangan menoleh ke arahku lagi. Biarkan hanya mataku yang melihat punggungmu pergi semakin menjauh dariku. Maafkan aku, kali ini aku ingin putus.
Dari,
Aku!!
Saturday, February 8, 2014
Day4: Please forgive me, Paras
Selamat pagi, Paras.
.
.
.
Seperti apa kotamu disana? Apakah hingar bingarnya masih sama seperti awal perkenalan kita. Melalui surat yang entah keberapa kalinya kutulis ini, aku harap kali ini kau mau membalasnya. Aku harap kali ini suratku bukan hanya mampir ke tanganmu saja, tanpa kaubuka kemudian kau masukkan ke dalam laci meja kerjamu. Aku harap kau mau berbaik hati membaca suratku kali ini. Semoga hatimu terketuk sedikit saja, atau kalau pun ada alasan yang sedikit mainstream, kau terketuk untuk membaca karena jengah terus menerus menerima surat dariku ini.
.
Paras, izinkan aku meminta maaf atas ketidak-pekaanku terhadap hatimu. Benar katamu saat detik terakhir kau akan pergi meninggalkanku, bahwa aku terlalu buta! Yayaya! Kau benar Paras, aku buta, buta hati untuk melihat ke arahmu yang setia menjadi pelengkapku. Kau bisa menjadi kaki kiriku saat aku berdiri dengan kaki kananku. Kau membantuku melihat dunia baru, saat aku hanya tahu tentang dunia yang menyakitiku. Aku memang terlalu bodoh, Paras, sangat bodoh!
.
Maksud aku mengirimkan surat ini, bukan karena aku ingin meminta hatimu kembali. Ataupun berharap kau bisa menjadi kaki kiriku lagi, aku tak ingin itu, Paras. Aku hanya ingin bercerita sedikit saja, bagaimana aku setelah tahu rasa kehilangan kamu itu seperti apa.
.
Kau bertanya padaku, saat itu apa yang sebenarnya aku cari, bukan? Jawabannya adalah aku mencari untuk kehilangan. Kau pasti bertanya, kenapa aku harus mencari kehilangan? Maka akan kujawab kembali padamu, jika saja saat itu aku tak mencari jawaban dari alasan kandasnya hubunganku dengan dia (kau pasti tau siapa), mungkin aku tak akan menemukan kehilangan itu. Karena terlalu sibuknya aku dengan keegoisanku menemukan alasan itu, aku jadi kehilanganmu. Seharusnya saja aku mengikhlaskan kehilangan itu, agar aku tak semakin banyak menanggung kehilangan lagi.
.
Paras, kau yang ada didepanku malah luput dari pandanganku. Sedangkan dia, dia yang dengan kerendahan hatinya membuatku terluka, justru dengan leluasanya mengendalikan hatiku. Ini bodohnya aku, dan karena kebodohanku juga, aku tahu ternyata kehilangan kamu rasanya jauh lebih menyakitkan.
.
Aku tak akan meminta belas kasihan padamu. Namun, andai dalam hatimu masih ada namaku, berikanlah aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Dan jika dalam hatimu sudah ada nama gadis lain selain aku, doaku untuk kebahagiaanmu selalu menyertaimu.
.
Andai saja aku tahu, bahwa kau sudah mencintaiku sejauh yang tak kukira, mungkin aku akan bahagia. Dan inilah aku, gadis bodoh yang sudah menyiakan perasaan pria baik hati yang mencintaiku sepenuh hatinya.
.
Sekarang aku mulai memahami, dibalik hatiku yang tersakiti, aku pun ternyata menorehkan luka yang sama di hatimu. Barangkali, jika bisa kulihat hatimu, aku akan melihat jutaan ukiran luka yang sudah aku buat padamu. Dan hebatnya, kau tak ingin menyalahkanku. Atau seolah ingin memberi tahu seperti apa gejolak rasa sakit yang sudah kuciptakan untukmu.
.
Kenapa kau harus berpura-pura tersenyum padaku, kenapa kau tak pernah mengatakan isi hatimu. Apakah karena aku lebih terlihat mencintai dia, dan bukannya kamu. Kenapa setelah lelah mencintaiku, kau baru mengatakan semuanya dengan kemarahanmu yang meledak-ledak itu. Saat itu aku hanya terdiam, tak tahu kalau kamu sedemikian hebatnya mencintaiku.
.
Tapi Paras, aku berterima kasih padamu. Berkat kemarahanmu, kali ini aku jadi tahu seberharga apa aku di hatimu. Dan betapa berharganya kamu buatku
.
Ah,sudahlah, aku harap kau tetap baik-baik saja dan mau melupakan rasa marahmu padaku. Jika kau hendak pulang ke bumi Paris van java ini, semoga kau ingat, ada aku dibelahan bumi ini.
.
PS:
Perlu kau tahu, saat ini aku sedang jatuh cinta sangat kepadamu, Paras.
Thursday, February 6, 2014
Day 3: UNTUK PRIA YANG SULIT KUGAPAI.
Kamu yang disana.
.
Kamu yang disana, yang enggan kusebutkan namanya. Beberapa kali duniaku seakan di jungkir balikkan oleh keinginanku memilikimu. Bayangkanlah, aku bisa dengan kuat bertahan untuk tetap mencintaimu, namun tak jarang aku ingin menyerah dan segera melupakanmu.
.
Disana, kau mungkin sedang berbahagia ketika aku tertatih menahan gejolak rindu yang membuncah. Barangkali kau sedang mencumbu mesra gadismu, saat aku tengah bersujud dan merangkulmu dengan doa. Dan barangkali juga, kau sedang tertawa bersamanya saat aku menangis memikirkanmu.
.
Kau ingin tau rasanya jadi aku? Akan kujelaskan padamu seperti apa aku ini. Dengan mulut terbungkam, aku mengagumimu. Tak ada kekuatan yang bisa membuatku memiliki nyali yang besar menyukaimu dengan gamblang. Setiap kali kau melewatiku, aku hanya terdiam dengan debaran jantung yang seakan meluluh lantahkan tenagaku. Dengan malu-malu, aku membiarkan mataku mengikuti kemana kamu melangkah. Aku jatuh cinta padamu? Iya sepertinya demikian.
.
Kamu adalah partikel kecil, yang selalu berhasil menarik perhatianku. Gerakan badanmu dan segala yang kau lakukan, menjadi hiburan gratis yang bisa kunikmati dengan leluasa. Apa yang tak kuketahui tentang kebiasanmu, aku tahu semuanya. Kau adalah penyuka warna putih dan abu. Hobimu adalah berjelajah mencari hal baru yang akan kau jadikan objek photografimu. Penyuka komik naruto. Pecinta gadget dan teknologinya. Ah, aku juga tahu, kau penyuka kwetiaw goreng seafood yang berada di sekitaran jalan Pahlawan, Bandung.
.
Tak usah heran kenapa aku tahu semuanya. Tenanglah, aku tak menyewa detektif untuk mengawasimu, karena detektif hebatnya adalah aku dan kecerdasanku. Sudah kukatakan diawal, kau adalah partikel yang sedang kunikmati setiap detailnya.
.
Kamu yang disana, aku berterima kasih banyak padamu, kau sudah mengajarkan aku apa itu arti bersabar dan menyerah. Aku rindu kamu lebih dari apapun. Tapi aku juga ingin menyerah mencintaimu, lebih dari apapun juga
Love is not simple. And love you
Can not be a simple way.
Dari perempuan yang mencintaimu diam-diam.
Tertanda,
Aku!!
Wednesday, February 5, 2014
2nd day: Dear Joan.
Untuk kamu,
Dua bulan ini aku seperti mendapati angin segar di antara teriknya panas masalah yang menggelayutiku. Dan hal itu disebabkan oleh kamu, Joan. Ya memang, kadangkala kamu yang bersikap sok serius sesekali memang luput dari pengawasanku. Aku tak suka wajah seriusmu, kesan dingin terlukis jelas diantara kerutan kening dan wajah tanpa senyuman. Kau menakutkan berwajah seperti itu, bahkan lebih menakutkan daripada seorang wajah pembunuh bayaran.
.
Joan, dunia justru seakan berbalik tiga ratus enam puluh derajat, kau tersenyum dengan menghadirkan deretan gigi yang rapi, dan senyuman itu menghilangkan wajah menakutkanmu. Getaran pertama kurasakan saat itu juga. Seketika matamu yang memang sipit seolah hilang ditelan oleh senyum manismu. Barangkali aku jatuh cinta? Iya sepertinya begitu.
.
Joan, ada yang lucu sebenarnya yang sulit aku ungkapkan. Ketika kamu menawariku sepotong roti manis untuk kita makan berdua. Meski malu, kucubit sedikit roti itu sambil tersenyum padamu. Saat itu aku merasa Tuhan menurunkan seluruh malaikat nya untuk menciptakan suasana manis itu. Langit begitu terlihat lebih biru dari biasanya, karena mungkin jutaan kebahagiaan sedang melingkari hatiku.
.
Joan, sayangnya aku hanya bisa sebatas mengagumimu saja. Realitanya, kita terlalu berbeda. Aku hanyalah si hitam manis dari sunda, dan kau si China keturunan tionghoa. Tuhan kita pun tak sama. Saat doaku bermuara di mesjid, dan doamu bermuara di gereja. Kita terlalu berbeda, meski kadang aku berharap kita bisa sama pada akhirnya kelak.
.
Akhir kata dari ini semua, Joan, aku ingin bilang padamu, Aku suka senyum dengan deretan gigi rapimu yang indah.
Tertanda,
Miss. A.
Tuesday, February 4, 2014
1st Day: Surat Untuk Si Penata Suara.
Untuk kamu Sang Penata Suara.
.
Mungkin sudah cukup lama aku tak menyentuh kamu dan duniamu. Sejak kemarahan tanpa sebabmu padaku. Hanya karena selipan broadcast messeges yang mampir di ponselmu. Saat itu kau begitu marah. Kau terlihat murka. Dan kau menumpahkan kekesalan kepadaku yang sejatinya tak paham penyebab amarahmu.
.
Aku yakin, sebenarnya bukan broadcast messeges yang membuatmu murka kepadaku, melainkan rasa lelahmu yang menjadikan aku alasan sebagai objek pelampiasanmu. Aku yang tak paham sumber masalahmu, hanya bisa diam dan menyimpan gumpalan kekecewaan.
.
Sebenarnya, aku merindukanmu, tuan. Aku rindu kita yang dulu. Aku rindu saat kau dan aku selalu melempar cemas. Aku rindu saat seringkali aku marah padamu karena kau mengabaikan rasa sakitmu. Tak ingatkah kau padaku, saat aku sering mengemis padamu, mengemis keikhlasanmu untuk pergi ke dokter memeriksakan kesehatanmu. Aku rindu, saat kau mengajakku berbincang hangat melalui WhatsApp ataupun we chat. Aku rindu semua yang sempat kulakukan bersamamu.
.
Aku berfikir, apa mungkin kau marah padaku karena tahu aku akhirnya memiliki kekasih. Memang sejak itu aku menjauh darimu. Tapi, demi Tuhan, aku menjauh demi kebahagiaanmu. Meski mungkin yang terfikir olehmu bukan itu.
.
Mungkin bagimu aku terkesan murahan. Karena ketika hubungan cintaku berakhir, aku kembali mendekat padamu. Tapi ketahuilah, yang kulakukan itu tak lebih dari caraku memperbaiki kerenggangan kita. Sama sekali aku tak bermaksud menjadikanmu sebagai pelarianku. Aku tak sejahat itu, Tuan, aku tahu kau orang baik. Aku tak boleh menyakitimu. Karena membuatmu terluka adalah hal terbodoh buatku.
.
Meski tak mengerti, aku akhirnya berusaha memahami hatimu. Tak mudah memang menerima sikap kasarmu padaku itu, tapi aku berusaha berfikir positif, kau sedang lelah oleh pekerjaanmu yang tak tahu waktu. Aku berusaha memahami, kau yang memang seorang penata suara, disibukkan oleh waktu yang terus menguras tenaga dan otakmu. Kau selalu menjadi bagian penting dalam sebuah konser yang di adakan oleh Erwin Gutawa. Dan aku selalu disibukkan dengan memikirkan kondisimu. Walaupun kau tak pernah tahu isi otakku itu.
.
Ah, Tuan, apakah hatimu kini bertanya dimana aku kini? Jika iya, sebenarnya aku ada, ditempat yang sama setiap harinya. Barangkali aku dulu begitu setia menantimu disini, menanti kamu yang pernah berjanji akan menjemputku lain kali. Tapi sudahlah, aku tak pernah menganggap kata-katamu itu sebagai janji. Aku tak mau membebani kamu yang seakan lupa akan janjimu sendiri. Biarlah, kamu dan janji yang tak kuanggap janji itu menguap tak berbekas.
.
Perlu kau tahu, Tuan, aku memang sudah menjauh darimu. Aku sudah tak lagi menyapamu didunia yang sudah memperkenalkan kita. Tapi ketahuilah, aku sebenarnya masih memperhatikanmu. Semua yang terjadi padamu hanya bisa kuperhatikan melalui personal status pada aplikasi Bbm-mu. Kamu tengah sakit, aku tahu. Kamu sedang lelah, aku tahu. Aku tahu semuanya.
.
Hmmm, sudahlah, ada kalanya aku pun lelah berusaha dekat denganmu. Baik-baik ya, aku hanya bisa menjadi orang yang memperhatikanmu diam-diam.
Tertanda,
Miss A.
Monday, February 3, 2014
Mantan Terindah.
Bandung begitu manis saat senja menghampiri. Langit yang berwarna jingga keemasan menambah suasana hangat dalam hatiku. Hmmm, apa kabar kamu, (mantan) kekasihku, sudah sepekan kau tak pernah membalas BlackBerry Messenger ku. Aku tahu, kau masih sangat kesal kepadaku. Kau pasti tak mengira, aku bisa dengan tegas memilih mengakhiri kisah manis kita ini.
(Mantan) kekasihku, maafkan aku yang seolah tak mau lagi berjuang bersamamu. Jangan kaufikir aku telah menemukan penggantimu. Kausalah, aku belum memiliki kekasih apalagi berani bermain api di belakangmu. Semata-mata kulakukan ini karena aku sangat mencintaimu. Tak ingin kau terus menerus menjadi anak pembangkang terhadap ibumu. Aku faham, keberadaanku dalam hidupmu hanya dianggap sebagai benalu saja oleh ibumu. Beliau menganggapku sudah mengkontaminasi otakmu, sehingga kamu begitu memujaku. Beliau mengira aku yang menjadikan putra kesayangannya menjadi anak yang tak patuh lagi dan berani membangkang kepada ibu yang sudah melahirkannya. Padahal, demi Tuhan, aku tak pernah menginginkan kamu bersikap seperti itu pada kedua orang tuamu, terlebih ibumu.
(Mantan ) kekasihku, bukankah ketika restu beliau menghampiriku, beliau akan menjadi ibuku juga. Dan jika restu itu tak kunjung kudapatkan, beliau tetap menjadi ibuku. Itulah penyebab mengapa pada akhirnya aku memutuskan kisah kita. Sebelum kata durhaka keluar dari bibirnya. (Mantan ) kekasihku, aku hanya ingin kau kembali berbakti terhadap beliau. Surga jaminannya, ketika kau bisa membahagiakannya. Dan aku sama sekali tak ingin menjadi penghalang bagimu untuk mendapatkan surgamu.
Jangan berfikir aku tak menangisi semua ini. Kau adalah hal terindah yang sudah Tuhan hadirkan dalam hidupku. Bersamamu aku bisa melewati kerinduan yang berjarak ratusan kilo meter. Bersamamu aku tahu menahan rindu yang membabi buta. Pastinya, aku akan merindukanmu. Pasti sayang!
Kali ini aku harus terbiasa tanpamu. Aku tak akan mendapati suaramu melalui sambungan telepon. Tak ada lagi gurauan khas saat kau menyindirku ketika Arsenal kalah, sedangkan Manchester city menang. Tak ada lagi pria yang duduk menungguku di bangku taman kota dengan setianya. Tak ada lagi pria yang senang mencubit pipiku dengan gemasnya. Tak ada lagi pria yang manis tersenyum dengan deretan gigi rapinya. Tak ada lagi si sipit yang selalu kutemani saat bertanding basket dengan teman-temannya. Tak ada, sayang! Tak ada!
Tiga tahun menjalani itu bersamamu sungguh membuatku merasa berharga. Dan tiga tahun juga, kita terus berjuang mendapatkan restu dari ibumu.
Namun kali ini aku tak ingin banyak bertanya ataupun mengeluh kepada Tuhan. Masih pantaskah aku bertanya ini itu, sedangkan dengan baiknya Tuhan sudah menghadirkan engkau dalam hidupku.
Sudahlah sayang, jodo tak akan salah. Andai pun kau berjodo denganku, semoga perpisahan kita ini menjadi penjembatan restu ibumu untuk hubungan kita. Supaya beliau tahu, aku adalah gadis baik yang pantas menjadi menantunya. Agar beliau paham, bahwa aku tak ingin kau terus berperang dingin dengannya.
Baik-baik, ya, sayang. Tuhan akan menjamin kebahagianmu untukku. Jika kau baca tulisanku ini, kau tahu mengapa alasanku melakukan ini.
With love for you :')
@AchyNova™
Bandung, 03 Februari 2014
Sunday, February 2, 2014
Pria Penebar Harapan.
Beberapa kali kuputar otakku mengingat pada tahap mana diantara kita yang lebih dulu memberi harapan palsu. Dan kembali jawaban yang disajikan oleh kepalaku ini adalah kamu. Ya! Ya! Ya! Bukankah kamu memang yang lebih dulu ingin kupanggil AA, meskipun usia kita sama. Bahkan kamu juga yang lebih dulu memanggilku sayang setiap kali kusapa kamu melalui obrolan singkat BlackBerry Messenger. Kau juga menjanjikan sebuah pertemuan di pertengahan tahun ini. Dan bahkan seingatku juga, bukan aku yang memberikan foto untukmu, tapi kamulah yang memintaku mengirimkan foto untukmu.
Tuan, Demi Tuhan, aku memang menaruh harap padamu. Meskipun kau adalah teman masa kecilku
Saat kita masih disebut bocah ingusan. Saat kita baru merasakan cinta monyet itu seindah apa. Saat itu aku memang sempat mengagumimu. Tapi, kekaguman masa kecilku hanyalah kekaguman gadis remaja kepada pria remaja, tak lebih. Namun, tiba-tiba setelah hampir sebelas tahun kita tak bersua, kau menyapaku lagi melalui social media berbatas seratus lima puluh teman saja.
Saat itu tiba-tiba saja kau menyapaku melalui sapaan pribadi. Saat itu aku masih belum sepenuhnya ingat jika kau adalah sahabat kecilku. Wajahmu memang tak banyak berubah, hanya saja jauh terlihat sangat dewasa. Kaupun demikian, kau jelas tak mengenaliku. Aku yang memang selama tiga belas tahun ini bermetaforsa, pastilah tak mudah kau kenali. Hingga akhirnya kita saling mencoba mengingat kita yang dulu sebagai bocah ingusan.
Ah, tuan, kenapa aku begitu mempercayai kata-katamu. Kenapa aku harus percaya ucapan seorang agronomist seperti kamu? Padahal mungkin saat itu kau sedang menyusun skenario. Kau mungkin sedang membuat bualan yang melambungkan anganku. Sementara kenyataannya, kau sedang memberikan harapan palsu padaku.
Andai kau tahu, aku begitu mendamba pertemuan itu. Pertemuan yang kaujanjikan di akhir Juli tahun ini. Saat kita sama-sama merayakan kemenangan. Kau berjanji akan mengunjungiku. Kau berjanji kita akan bertemu. Kau berjanji akan menjadikan aku objek photografimu. Dan mungkin sebenarnya semua itu adalah janji palsu.
Tuan, sebenarnya aku sempat curiga, saat kau salah menjawab BBm. Sementara aku tak menanyakan keberadaanmu kala itu. Kata-katamu yang manis, dan kau menyebut dirimu sendiri sebagai AA, semakin menjelaskan kau sedang bermain api kini. Sadar ada posisi wanita lain selain aku, aku mencoba bertanya selembut mungkin padamu. Kau menjawab dengan candaan, meskipun aku tahu saat itu kai sedang menutupi kebohongan terhadapku.
Kini, pada akhirnya kau mengakui semuanya. Saat kutanyakan siapa wanita itu sebenarnya. Diluar sangkaku, kau yang sebelumnya mengatakan tak memiliki kekasih, nyatanya tengah merajut asa bersama wanita lain. Tapi, aku tak ingin terlihat lemah. Enggan bagiku meneteskan air mata untuk pria penebar harapan palsu sepertimu. Aku cukup tahu, kamu tak sebaik seperti ucapanmu.
Ah sudahlah, aku hanya menertawakan kebodohanku saat ini. Semoga aku tak kembali terjebak pada kebodohanku oleh pria penebar harapan palsu lainnya.
With love for you :')
@AchyNova™
Bandung, 03 Februari 2014
Saturday, February 1, 2014
Aku Rindu Kamu (Yang dulu)
Sejak insiden makian pada akun path itu, aku masih tak habis pikir; pria macam apa yang sempat kukagumi sosoknya karena keramahannya. Aku sungguh tak menyangka, kau bisa semeradang itu, hanya karena Real madrid kalah oleh Barcelona. Dengan sombongnya kaumengeluarkan kata-kata kasar yang sangat jelas ditujukan buatku. Hanya karena aku mengatakan bahwa pada akhirnya Barcelona memang menang dan bisa dengan hebat mengalahkan madrid. Kau berkelakar hebat, mengatakan bahwa wasitnya curang. Sedangkan beberapa kali kuperhatikan setiap kali Madrid bertanding melawan Barcelona, selalu kalah.
Memang sungguh tak lucu, makianmu berhasil membuatku menangis dan sakit hati. Kau menghujat dan mengatakan jika aku hanya orang yang nyampah di time line, culas, dan aku adalah pendukung barc... *ah sudahlah*. Aku tahu semuanya itu untukku, sayang. Dan demi Tuhan, aku tak ingin membalasnya. Biarlah, yang penting aku cukup tahu, pria macam apa dirimu ini.
Tapi, aku masih tak habis fikir, aku sama sekali tak mengenalimu. Kali ini kau sungguh sombong. Kerogansianmu membuatku bertanya; yang mana dirimu sebenarnya? Apakah pria yang sempat dan selalu menyapaku pada hingar bingar dunia seratus empat puluh karakter itu sama dengan pria yang bercuap-cuap kasar pada akun media sosialnya? Entahlah, tapi kali ini aku sungguh asing melihatmu.
Dimana kamu yang dulu menyenangkan itu? Yang sempat mengajakku berjalan dan berfoto ria. Pria yang pernah mengenalkan aku dengan antrian panjang di kedai ramen itu. Pria yang sungguh manis saat menawarkan jaketnya saat tahu aku sedang kedinginan. Pria yang dengan senyumnya mengulurkan tangan dan membantuku berdiri saat tersungkur jatuh. Aku rindu kamu yang dulu.
Aku mohon sayang, berhentilah menyulut emosiku. Tak perlulah kamu membuat postingan yang berhubungan dengan bola dan team nya. Semua itu justru semakin memperjarak kita. Karena sungguh aku tak peduli sehebat atau seburuk apapun team kesayangan kita, jika hal itu hanyak semakin membuat kita terus salah paham.
Aku sungguh menyayangkan semuanya. Kau bahkan tak mengucapkan selamat ulang tahun padaku, mungkin karena kau masih kesal denganku. Tapi apakah aku membalasnya? Tidak, sayang! Dengan teliti ku kumpulkan foto-fotomu, kurangkai dan kuhias untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Kita yang hanya terpaut lima hari dari tanggal kelahiran kita, membuat otakku merekam sempurna tanggal lahirmu. Aku belajar ikhlas andai pun kau tak melakukan hal yang sama denganku. Di mataku kamu masih superman yang menyenangkan. Bagian itu adalah caraku memperbaiki hubungan denganmu.
Sungguh, tiap kali melihat statusmu, membuatku selalu merindukan sosokmu yang dulu. Sosok yang selalu bercerita padaku siapa wanita yang disukainya. Siapa wanita yang ingin didekatinya. Aku bahagia mendengarkan itu. Meski tanpa kusadari ternyata aku diam-diam menyukaimu.
Aku mohon, sayang, kembalilah seperti dulu. Seperti pertama kali aku mengenalmu yang ramah.
With love for you :')
@AchyNova™
2 Februari 2014